Lima Ratus Juta Rupiah!
Balai Lelang Kota Yun.
Lampu-lampu di dalam balai lelang berkilauan memesona, kursi barisan depan satu per satu terisi penuh.
Sania Wulandari memandang ke kejauhan, melihat suami hasil perjodohannya yang sedang mengaitkan lengannya dengan seorang gadis muda, sementara ia perlahan mengayunkan gelas anggur di tangannya.
“Sania, kenapa kamu belum masuk juga?”
Seorang gadis berkebaya cheongsam sederhana menepuk bahu Sania Wulandari.
Sania Wulandari menunjuk ke arah pemandangan di depannya, anggur merah di tangannya sedikit dimiringkan.
Luna Ayu menatap ke arah Surya Baskara yang tersenyum, tangannya menggenggam gadis di sampingnya, Putri Pana, yang lima tahun lebih muda darinya.
Keduanya tersenyum, berbincang santai dengan para tokoh dalam industri.
Senyum Putri Pana tampak cerah, dan tatapan matanya ke arah Surya Baskara penuh dengan cinta yang begitu jelas terlihat oleh siapa pun.
Surya Baskara secara refleks melirik ke arah tatapan tajam dari kejauhan, dan sorot matanya seketika bergetar.
Sania Wulandari tampil berbeda dari biasanya. Busananya sangat mencolok, hingga di aula lelang yang dipenuhi ratusan orang, keberadaannya langsung terlihat.
Surya Baskara menatap Sania Wulandari lama sekali, merasakan tatapan orang-orang di sekitarnya mulai mengarah padanya.
Tubuhnya menegang. Istrinya yang biasa terlihat biasa saja, entah sejak kapan memancarkan pesona yang tak terduga.
Riasan Sania Wulandari tampak tebal, menutupi kelelahan yang dulu melekat di wajahnya. Seluruh auranya terlihat segar dan bersemangat.
“Kamu cantik sekali malam ini.”
Pandangan Sania Wulandari tertegun. Menyadari tatapan samar di sekelilingnya, matanya perlahan membesar.
Ia menyentuh anting di telinganya, tatapannya dipenuhi kewaspadaan.
“Sania, kamu tidak apa-apa kan?”
Luna Ayu yang berada di sampingnya segera menopangnya saat melihat wajahnya berubah.
Sania Wulandari menyentuh lengan Luna Ayu dengan lembut.
“Tidak apa-apa.”
“Ayo kita masuk.”
Ia mengangkat sedikit ujung gaunnya, sepatu hak tingginya melangkah di atas karpet merah, rambutnya bergoyang mengikuti langkahnya.
Setiap helai rambut yang berayun, setiap bingkai seolah foto—terlihat begitu sempurna, seakan semuanya telah dirancang dengan cermat.
“Tok, tok, tok—”
Juru lelang berdiri di atas panggung sambil memegang buku acara, menatap para tamu yang memenuhi aula.
“Selamat datang di Balai Lelang Kota Yun.”
Wajah para tamu tetap datar.
Surya Baskara terus menatap punggung Sania Wulandari di depan. Putri Pana yang berada di sampingnya telah menyadari perubahan sikapnya, dan untuk pertama kalinya benar-benar memandang wanita itu.
Putri Pana menatap tajam sosok Sania Wulandari, jemarinya tanpa sadar mencengkeram tali tas.
Dengan nada lembut, Putri Pana mengaitkan lengan Surya Baskara.
“Bang Surya, itu bukannya Kak Sania, ya?”
“ Kak Sania juga datang ke lelang hari ini? Undangannya dari kamu, ya?”
Surya Baskara seperti teringat sesuatu. Alisnya semakin berkerut saat menatap Sania Wulandari lama sekali.
“Tok—”
“Batu permata berbentuk bulan ini jatuh kepada tamu nomor enam.”
“Selanjutnya, kita masuk ke barang lelang kedua.”
Seiring kata-kata juru lelang, sebuah kalung bertatahkan berlian biru perlahan terangkat ke atas panggung.
“Yang ada di hadapan Anda adalah karya maestro dari Kota F, berjudul Ciuman Biru.”
Permata biru itu berkilauan di bawah cahaya lampu, baki penyangga kalung berputar perlahan.
Cahaya warna-warni menyapu wajah para tamu.
Satu sorot cahaya berhenti tepat di wajah Sania Wulandari, membuat rambutnya pun tampak berkilau.
Ia sedikit mengangkat kepala, menatap kalung di atas panggung, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Harga awal satu ratus juta!”
Pergelangan tangan Sania Wulandari terangkat tegas.
“Seratus juta setengah!”
Juru lelang menunjuk ke arahnya.
“Seratus juta setengah, sekali!”
Putri Pana menggoyangkan lengan Surya Baskara dengan manja.
“Bang, aku juga mau.”
Surya Baskara terdiam sejenak, menatap Sania Wulandari, lalu tetap mengangkat tangan.
“Seratus juta delapan!”
“Seratus juta delapan, sekali!”
Mendengar suara yang begitu dikenalnya dari belakang, jari Sania Wulandari yang menggenggam pegangan kursi sedikit berhenti.
“Dua ratus juta!”
Tatapan Sania Wulandari tertuju mantap ke arah kalung.
“Tiga ratus juta!”
Surya Baskara terus mengejar harga.
Dengan tidak sabar, Sania Wulandari menoleh ke belakang. Seketika itu, rantai di dadanya memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata Surya Baskara.
“Tiga ratu juta setengah!”
Suara Sania Wulandari terdengar cepat dan tegas. Menunggu sejenak tanpa balasan, ia akhirnya menghembuskan napas lega.
“Lima ratus juta!”
Sania Wulandari menatap sekeliling dengan terkejut, jemarinya terus membolak-balik kalung di dadanya.
“Jangan cari aku lagi.”
Suara yang begitu familiar kembali terdengar di telinganya—dalam, magnetis, terus bergema di benaknya.
“Lima ratus juta, sekali!”
“Lima ratus juta, dua kali!”
“Lima ratus juta, tiga kali!”
“Selamat kepada tamu terhormat di ruang VIP nomor satu, berhasil mendapatkan barang impiannya.”
Sania Wulandari menatap ke arah ruang VIP yang lampunya mulai menyala.
Pria di dalam ruangan itu menunduk, bertatapan dengannya, memiringkan kepala sambil santai menggenggam kalung yang ia incar.
Wajah Sania Wulandari tampak tidak senang, menatap pria di lantai atas dengan penuh rasa muak.
“Jangan menatapku seperti itu.”
“Mau kejutan?”
Suaranya kembali terdengar di telinganya, seolah pria itu berdiri tepat di belakangnya.
Sania Wulandari tak bisa menebak apa yang sebenarnya diinginkan pria itu, dan memilih diam seakan tak mendengar apa pun.
“Tunggu aku.”
Ia tetap tak menggubris, pandangannya kembali tertuju pada barang-barang lelang.
“Baik, sekarang kita istirahat sejenak. Selanjutnya akan ada penampilan dari Orkestra Huanle.”
Juru lelang mengetuk palu kecil, lalu perlahan turun dari panggung.
Sania Wulandari akhirnya sedikit mengendurkan tubuhnya. Kata-kata pria tadi membuatnya benar-benar bingung.
Apa sebenarnya maksudnya…
“Itu Tuan Zio!!”
“Tuan Zio ganteng sekali!!!”
Keributan mulai memenuhi telinganya. Mendengar sebutan yang begitu familiar itu, ekspresi Sania Wulandari membeku.
Tanpa sadar, ia menoleh ke belakang.
Melihat sosok yang dikenalnya berjalan ke arahnya, hanya satu hal yang terlintas di benaknya, lari! Sejauh mungkin!
Ia langsung berdiri hendak meninggalkan kursinya.
“Mau ke mana?”
Suara pria itu terdengar tepat di telinganya.
Sania Wulandari terkejut hebat, kakinya melemas dan ia jatuh kembali ke kursi.
Sepasang sepatu datar merah muncul dalam pandangannya yang setengah menyipit. Aroma parfum kayu yang lembut dan familiar menyelimuti dirinya.
Ia mengangkat kepala, menatap sosok di hadapannya, tertegun pelan.
Benar-benar dia…
Zio Pratama memiringkan kepala, berjongkok di hadapannya sambil tersenyum tipis.
“Sudah lama tak bertemu, mantan pacarku.”