Awal Pertemuan yang Membara
Kota itu tidak pernah tidur. Gedung-gedung pencakar langit berjejer angkuh, lampu-lampu jalan berkelip bagaikan bintang di bumi, dan arus kendaraan terus mengalir, seolah-olah waktu enggan berhenti. Di tengah hiruk pikuk metropolitan yang tak kenal lelah ini, dua nama besar menguasai panggung bisnis Fandi Corp dan Arsya Group. Persaingan keduanya bagaikan bara api yang selalu siap meledak kapan saja, saling menjatuhkan, saling merebut peluang, dan saling mengintai kelemahan.
Di balik ketegangan itu, berdirilah seorang pria bernama Arfan. Usianya baru 27 tahun, namun wajah tampannya, kepintarannya, serta sikap tegas dan dinginnya telah membuatnya disegani banyak orang. Dalam dunia bisnis yang penuh intrik, ia adalah tangan kanan yang paling dipercaya oleh Fandi. Sebagai orang kepercayaan, Arfan tidak hanya menjadi eksekutor di lapangan, tetapi juga sosok yang menjaga agar langkah Fandi selalu selangkah di depan lawan. Namun di balik aura dingin dan profesionalisme yang sempurna itu, Arfan menyimpan rahasia besar sebuah cinta yang terlarang.
Rahasia itu bernama Anya. Gadis berusia 23 tahun itu bukan sekadar perempuan biasa. Wajah cantiknya dengan mata yang selalu berkilau penuh semangat mampu meluluhkan hati siapa pun yang menatapnya. Namun kecantikannya bukan satu-satunya daya tarik. Anya cerdas, rajin, dan penuh ambisi. Ia masih duduk di bangku kuliah, tapi juga bekerja sebagai sekretaris di Arsya Group Perusahaan yang menjadi rival utama Fandi. Tidak ada yang tahu, kecuali takdir, bahwa hati Arfan jatuh padanya. Hubungan mereka terjalin diam-diam, tersembunyi dari dunia luar, bagai api kecil yang berusaha bertahan di tengah badai.
Malam itu Arfan duduk di sebuah restoran mewah di pusat kota, mengenakan jas hitam elegan yang membingkai tubuh tegapnya. Di hadapannya, Anya tersenyum malu-malu sambil menunduk, bermain dengan sendok kecil di tangannya.
“Kamu tahu kan kalau kita ketahuan, ini bisa jadi masalah besar” ucapnya.
Arfan menatapnya dengan sorot mata tegas namun lembut, sesuatu yang jarang sekali ia tunjukkan pada siapa pun selain Anya.
“Aku tahu tapi aku tidak peduli Dunia boleh melawan kita, tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu, Anya” ucap Arfan.
Anya menghela napas panjang, wajahnya tampak cemas.
“Kamu tangan kanan Fandi dan aku sekretaris di perusahaan saingan Fandi. Kalau dia tahu, atau kalau atasanku tahu, bisa-bisa karier kita hancur. Lebih dari itu, aku takut kamu akan kehilangan segalanya.” ujar Anya.
Arfan terdiam sejenak. Ia tahu kata-kata Anya benar. Fandi bukanlah orang yang bisa ditentang. Bosnya yang berusia 30 tahun itu dikenal berwibawa, karismatik, dan memiliki jaringan yang luas. Namun di balik karisma itu, Fandi adalah sosok yang keras, emosional, dan berbahaya. Ia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan, baik melalui negosiasi, kekuasaan, maupun ancaman. Setiap orang yang pernah mencoba menentangnya akan berakhir hancur.
Tapi justru itulah yang membuat rahasia cinta ini semakin berbahaya. Karena jika suatu hari Fandi mengetahui bahwa Arfan orang kepercayaannya sendiri menyimpan hubungan terlarang dengan gadis dari pihak lawan, bukan hanya karier Arfan yang akan hancur, melainkan juga hidupnya.
“Aku sudah terbiasa menghadapi risiko, Anya” jawab Arfan akhirnya, suaranya dalam dan penuh ketegasan. “Tapi kehilanganmu adalah risiko yang tidak bisa kuterima. Kau satu-satunya alasan aku tetap bertahan dalam dunia yang penuh kegelapan ini.”
Anya terdiam, hatinya bergetar mendengar pengakuan itu. Ia tahu Arfan bukan pria sembarangan. Di balik dinginnya sikap, ia memiliki hati yang tulus. Namun rasa takut tetap menghantui dirinya. Bukan hanya karena Fandi, tetapi juga karena dunia tempat Arfan berada dunia bisnis yang penuh tipu daya, di mana setiap langkah bisa berarti hidup atau mati.
Suasana romantis mereka mendadak terhenti ketika ponsel Arfan bergetar di meja. Layar menampilkan nama yang membuat darahnya berdesir Fandi. Dengan cepat ia mengangkatnya, menjaga nada suaranya tetap tenang.
“Halo Bos”
“Di mana kau?” suara Fandi terdengar tajam, meski samar oleh kebisingan di seberang.
“Sedang menyelesaikan sesuatu di luar Bos” jawab Arfan singkat.
“Aku butuh kau di kantorku sekarang juga. Ada hal penting” Suara Fandi tidak memberi ruang untuk penolakan.
“Baik Bos. Saya segera ke sana” Arfan menutup telepon, lalu menatap Anya dengan sorot mata yang sulit ditebak.
“Aku harus pergi. Fandi memanggil”
Anya menggigit bibir, menahan cemas. “Hati-hati Arfan. Jangan sampai dia tahu”
Arfan mengangguk, lalu menggenggam tangan Anya erat-erat.
“Aku janji, aku akan melindungi kita” Dengan itu, ia bangkit dan meninggalkan restoran, melangkah ke dalam malam kota yang penuh cahaya namun menyembunyikan bayangan kelam di baliknya.
Di lantai teratas gedung megah Fandi Corp, suasana kantor berbeda jauh dengan restoran romantis yang baru saja ditinggalkan Arfan. Dinding kaca besar menampilkan pemandangan kota yang berkilauan, sementara meja kayu besar dengan ukiran mahal menjadi pusat ruangan. Fandi duduk di kursinya, mengenakan setelan abu-abu yang membuat karismanya semakin terpancar. Wajah tampannya serius, matanya menyala penuh ambisi.
Arfan masuk dengan langkah tenang, wajahnya kembali mengenakan topeng dingin yang biasa ia tunjukkan pada dunia.
“Bos ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
Fandi menatapnya tajam. “Aku mendapatkan laporan bahwa Arsya Group mulai bergerak agresif di sektor properti. Mereka sedang merencanakan proyek besar di pusat kota. Aku ingin kau menyelidiki, siapa saja yang terlibat, dan bagaimana kita bisa menjatuhkan mereka sebelum mereka bergerak lebih jauh”
Arfan mengangguk. “Baik Bos. Saya akan segera mengurusnya”
Fandi menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu menyipitkan mata. “Aku percaya padamu, Arfan. Kau adalah orang yang selalu bisa kuandalkan. Ingat, jangan pernah mengecewakanku”
Kata-kata itu terdengar seperti pujian tapi juga peringatan. Arfan menunduk, menyembunyikan gejolak di hatinya. Ia tahu, di balik kalimat sederhana itu, Fandi menyimpan insting tajam yang bisa mencium pengkhianatan sekecil apa pun.
“Baik Bos” jawab Arfan singkat lalu berpamitan untuk keluar. Namun sebelum ia benar-benar melangkah pergi, Fandi menambahkan kalimat yang membuat langkah Arfan terhenti.
“Oh iya, Arfan. Aku sempat bertemu dengan seorang gadis di gala minggu lalu. Cantik, pintar, dan punya tatapan yang berbeda. Namanya Anya. Pernahkah kau mendengarnya?”
Pertanyaan itu menusuk d**a Arfan bagai belati. Ia menjaga ekspresinya tetap tenang, meski jantungnya berdetak kencang.
“Saya tidak mengenalnya, Bos” jawabnya dingin.
Fandi tersenyum samar, namun tatapannya penuh arti. “Begitu, ya? Hmm menarik sekali. Aku rasa gadis itu akan sering muncul di hadapan kita nanti”
Arfan membalas dengan anggukan singkat, lalu keluar dari ruangan dengan langkah cepat. Namun di dalam hatinya, ia tahu badai besar baru saja mulai terbentuk.
Malam semakin larut ketika Arfan kembali ke apartemennya. Anya sudah menunggu dengan wajah cemas.
“Bagaimana?” tanyanya begitu Arfan masuk.
Arfan menutup pintu, lalu menarik Anya ke dalam pelukannya. “Fandi mulai mencurigai sesuatu. Dia menyebut namamu”
Anya terkejut, tubuhnya bergetar. “Apa yang akan kita lakukan?”
Arfan menatapnya dalam-dalam, sorot matanya penuh tekad. “Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan dia merebutmu. Kita akan melawan, meski seluruh dunia menentang"
Dan di balik jendela apartemen itu, kota terus berdenyut, lampu-lampunya bersinar terang. Tidak ada yang tahu, di balik gemerlap itu, sebuah kisah cinta terlarang baru saja menyalakan api perang yang akan mengubah segalanya.