Kartu Tanda Pengenal Yang tertinggal
Pukul 05:00 pagi. Langit Jakarta masih berwarna biru gelap. Udara subuh terasa dingin,membangunkan jiwa jiwa yang tengah berisitirahat untuk kembali bertarung dengan kesibukan kota yang akan segera dimulai, hal itu sangat kontras dengan kekacauan yang terjadi di sebuah kamar hotel akibat aksi brutal semalam. Di kamar mewah suite hotel The Metropolitan itu, Nara tersentak dari tidurnya dengan napas tersengal. Kepala Nara berdenyut nyeri seolah dipukul berkali kali. Aroma linen yang mahal menusuk hidungnya, dekorasi kamar yang asing, dan yang paling mengerikan, Ia mendapati tubuhnya yang bertelanjang hanya tertutup selimut kain sutra lembut yang terasa dingin di kulitnya yang memanas. Spontan ia menarik selimut itu hingga menutupi dagunya, seolah mencari perlindungan.
Semua ingatan dari malam pesta yang kabur seketika menjadi jelas, namun hanya sampai ia berhadapan dengan pria asing itu di parkiran. Selebihnya, ia hanya ingat rasa sakit yang menusuk, sentuhan yang kasar, dan suara desahan yang bukan miliknya. Rasa sakit fisik itu jauh lebih nyata daripada sakit hati yang ia coba lupakan. Kenyataan pahit bahwa dirinya sudah tidak lagi suci seolah mengoyak harga dirinya.
Bodoh! Bodoh Nara! Lihat dirimu kini telah kotor.
Nara merutuki kebodohannya saat ini. Ia terdiam cukup lama hingga akhirnya ia mengerjap dan mencoba fokus. Ia menoleh perlahan ke sampingnya. Rayyan masih terlelap, wajahnya tertutup selimut. Hanya menyisakan rambut hitam tebalnya. Aroma maskulin yang kuat bercampur sisa alkohol menyelimuti kamar. Nara tidak bisa mengingat jelas bagaimana wajah pria itu, ia hanya ingat kekuatan cengkeramannya dan desakan gairahnya. Rasa ngeri dan penyesalan yang mendalam kembali menyerangnya. Ia telah melakukan tindakan gila, cinta satu malam, dengan seorang pria asing yang ia temui di bawah pengaruh alkohol, semua demi melarikan diri dari luka hati. Rasa malu dan jijik kini telah melekat di hatinya.
Aku harus pergi.Sekarang.Sebelum dia bangun. Aku tidak ingin dia mengingat apapun tentangku, biarkan dia menilaiku sama seperti perempuan lainnya.
Nara bergerak cepat, dengan gerakan yang nyaris tanpa suara. Ia melompat dari ranjang, menahan rasa sakit dan perih yang tak tertahankan di seluruh tubuhnya, terutama di area kewanitaannya. Kakinya terasa lemas,namun keadaan memaksanya untuk terus bergerak. Sambil memunguti pakaiannya yang berserakan, ia bahkan tak berani menoleh untuk melihat wajah Rayyan. Prioritasnya adalah menghilangkan jejak, seolah semua ini hanya mimpi buruk yang harus dilupakan. Ia panik, bergerak dengan terburu-buru, jantungnya berdetak kencang terasa memekakkan telinga.
Ia berhasil membersihkan diri secepat kilat di kamar mandi, hanya membersihkan noda yang paling jelas. Noda yang merupakan bukti dari kebodohannya. Ia mengenakan kembali kemeja dan rok kerjanya yang kini terasa kusut dan berbau alkohol. Saat ia bergegas menuju pintu, dompet dan tasnya ia tenteng erat-erat. Ia tidak menyadari, kartu pengenal plastiknya terlepas dari tali lanyard yang longgar dan jatuh di bawah keset kamar, tersembunyi dari pandangan. Kartu itu jatuh tepat di samping ranjang, seperti pengakuan yang ditinggalkan secara tidak sengaja.
Nara bahkan tidak sempat mengambil high heels-nya yang tergeletak di sudut kamar. Ia tidak peduli, sepatu itu tidak penting walau harganya dapat menguras seluruh gajinya.Yang ia pikirkan hanya keluar dari tempat ini secepat mungkin.Ia berlari keluar dari kamar, menahan air mata dan rasa perih di tubuhnya, dan meninggalkan hotel itu. Di lobi, ia memanggil taksi, merasa jijik pada dirinya sendiri, berjanji untuk mengubur malam itu di bagian paling gelap ingatannya.
Pukul 06:00 pagi. Rayyan terbangun, otaknya yang dipenuhi alkohol perlahan mulai bekerja. Ia merasakan sensasi nyeri yang samar di kepalanya, namun lebih dominan adalah sensasi dingin di tempat tidur. Ia meraba sampingnya, kosong. Wanita itu sudah pergi. Ia tersenyum sinis. Tentu saja, mereka selalu pergi setelah puas.
Ia menarik selimut. Seketika, matanya menangkap sesuatu yang membuat dia terdiam. Noda merah gelap di sprei putih yang mewah. Noda itu tidak bisa disangkal.
Rayyan, yang memiliki banyak pengalaman dengan wanita, tahu apa artinya noda itu. Wanita yang bersamanya semalam, wanita yang datang sendiri ke parkiran dan menggodanya, adalah seorang virgin. Hal itu menimbulkan sensasi aneh yang kuat di dadaa Rayyan, campuran kejutan, penyesalan, dan rasa memiliki yang mendalam. Ia merasa telah melanggar batas, namun pada saat yang sama, ia merasakan ikatan yang tidak terpisahkan. Keangkuhannya melunak, digantikan oleh rasa tanggung jawab yang tak terduga. Ia merasa terikat pada wanita itu, dan yang paling penting, pada benih yang mungkin telah ia tanam. Sebagai pewaris Dirgantara, ia harus bertanggung jawab atas tindakannya, seburuk apapun awalnya.
Ia bangkit, tubuhnya telanjang. Saat ia melangkah menuju kamar mandi, matanya menangkap sepotong plastik yang berkilauan di bawah keset samping ranjang.
Kartu pengenal.
Rayyan mengambil kartu itu.Matanya membaca tulisan di atasnya.
Nara. Kepala Administrasi. Dirgantara Grup.
Mata Rayyan membulat sempurna. Ia tidak terkejut karena wanita itu karyawannya, ia memang sudah tertarik padanya saat pengamatan rahasia. Ia terkejut karena Nara, wanita yang selalu terlihat profesional dan dingin, adalah wanita yang ia tiduri. Rayyan tersenyum tipis, senyum yang mengandung bahaya sekaligus tekad mutlak. Ini bukan hanya cinta satu malam, ini adalah masalah pewaris Dirgantara. Ia tidak akan membiarkan anak pewaris perusahaannya lahir tanpa nama dan tanpa kendalinya.
Ia segera meraih ponselnya. Tidak ada waktu untuk penyesalan. Sekarang, ini adalah masalah bisnis dan harga diri.
“Leo,” panggilnya, suaranya serak namun tegas, mencerminkan otoritasnya yang baru. “Datang ke kantor sekarang. Dan aku ingin kamu menyelidiki Nara. Semua tentang dia. Riwayat kesehatan, keluarga, dan pastikan dia tidak membuat ulah aneh. Awasi dia diam-diam, tanpa diketahui siapa pun. Aku ingin laporan lengkap di mejaku sebelum siang. Jika gadis itu hamil, itu pasti anakku. Dan aku tidak akan membiarkan pewaris Dirgantara lahir di luar kendaliku. Pastikan tidak ada yang tahu tentang malam ini,” perintah Rayyan mutlak.
Di waktu yang sama, Nara baru saja tiba di kosnya, melemparkan tas dan pakaiannya yang kusut. Ia ambruk di kasur, rasa sakit dan mual menyerangnya secara bersamaan. Ia hanya ingin tidur untuk menenangkan hatinya. Belum sempat ia menarik napas, telepon dari kantor berdering. Ia mengangkatnya dengan enggan. "Nara, segera datang ke kantor. Ada rapat mendadak yang harus kau hadiri di Divisi Keuangan!" seru Sekretaris Direktur Keuangan. Sebagai Kepala Administrasi, Nara terpaksa bergegas untuk bersiap, dengan tubuh yang masih sakit dan pikiran yang kacau. Niat untuk cuti satu hari ini ia urungkan. Ia harus tampil seolah tak terjadi apa-apa, padahal hatinya sedang berteriak.