bc

Mellisa, Adik Ipar Istri Siriku

book_age18+
21
FOLLOW
1K
READ
forbidden
love-triangle
family
confident
drama
tragedy
bxg
city
like
intro-logo
Blurb

Lima tahun menikah, rumah tangga Yuni dan Surya tampak sempurna—hanya satu yang belum datang: seorang anak. Namun kebahagiaan mereka retak ketika Surya terjebak dalam cinta segitiga dengan Mellisa, adik tiri Yuni. Kehamilan Mellisa mengubah segalanya, memicu pengkhianatan, kemarahan, dan rahasia yang menjerat keluarga.

Di tengah badai perselingkuhan dan dilema moral, satu pertanyaan mengintai: bisakah rumah tangga mereka bertahan, ataukah kehancuran sudah tak terelakkan?

chap-preview
Free preview
Mellisa hamil
Mellisa baru saja pulang kuliah hari itu ia tampak pucat dan kurang tenaga..sambil melempar tasnya ke meja belajar lalu membaringkan badannya ke ranjang untuk rehat sejenak. Akhirnya akhir ini tubuhnya cepat lelah dan sering mual dan muntah... Mellisa bangun dan melihat kearah cermin, ia menatap wajahnya dengan cemas... " Kenapa aku kok, tampak pucat terus. Aku sudah make up tebal tapi....masih seperti mayat hidup?" Berkata dalam hatinya sambil memegang tangannya agak dingin. Karena ia kuatir akan keadaannya yang terus makin melemah. Ia memberanikan diri berbicara kepada kakaknya Yuni. Yuni yang sedang berada di dapur sedang mempersiapkan makan malam menoleh kearah Mellisa ketika Mellisa datang yuni pun terkejut kenapa adiknya tampak pucat dan lemas. " Mel! Kenapa kamu kok pucat sekali?" " Iya nih, kak..aku juga ngga tau kenapa? Badan ku makin hari makin lemah" " Kamu sudah makan?" Tanya Yuni kuatir " Sudah kak, tapi...cuma sedikit ngga bisa banyak. Rasanya ingin mau muntah dan mual terus " jawab Mellisa lirih. " Mual? Jangan jangan...kamu hamil kali , Mel" Yuni bergurau. " Ah!, hamil? Ngga mungkin lah, aku tak pernah melakukan hubungan dengan laki laki, kak" jawab Yuni terkejut atas ucapan kakaknya. " Iya kak tahu, kakak hanya bergurau" sambil tersenyum lepas. Karena melihat kondisi Mellisa yang tampak lemah, akhirnya Yuni berkata, “Mel, ayo kita ke dokter aja. Nanti tunggu Mas Surya pulang. Biar Kakak anterin kamu. Gimana?” Mellisa yang sedang duduk di sofa perlahan menjawab, “Iya, Kak…” suaranya lirih, kepala bersandar di sisi sofa dengan tatapan kosong. Yuni yang semakin khawatir segera menelpon Surya agar cepat pulang. Saat itu Surya sedang berada di luar kantor, dalam perjalanan pulang setelah bertemu calon klien. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Di layar muncul nama yang selalu ditunggu: Istriku. Ia segera mengangkat dengan perasaan cemas. Tak biasanya Yuni menelpon kalau tidak penting. “Iya, Yang… ada apa?” Begitu suara Surya terdengar, Yuni langsung bicara cepat tanpa jeda. “Mas, Mellisa lagi nggak enak badan. Dia mual dan muntah terus… aku takut ada apa-apa. Kamu cepat pulang ya, aku mau anterin dia ke dokter.” “Yang, coba pelan-pelan ngomongnya. Maksudnya Mellisa sakit?” tanya Surya, kaget. “Iya, Mas! Kamu cepat pulang!” jawab Yuni singkat dan menutup telepon. Surya terdiam sejenak, matanya menatap lurus ke jalanan. Hatinya dipenuhi tanda tanya. Mellisa sakit? Sakit apa? Biasanya dia sehat-sehat saja, selalu ceria dan manja… Perasaan cemas merayap di d**a Surya. Ada firasat buruk yang membuatnya gelisah, seolah sesuatu yang tak diinginkannya akan segera terjadi. Sesampainya di rumah, Surya tergesa-gesa masuk. Pandangannya langsung tertuju pada Mellisa yang berbaring lemah di kamar. Nafasnya pendek, wajah pucat, membuat Surya panik. “Yang! Cepat bawa Mellisa ke dokter!” serunya. Yuni yang baru keluar dari kamar menoleh dengan wajah sedikit kesal. “Iya, Mas… sabar. Ini juga aku sudah siap, kok. Nggak usah teriak-teriak begitu. Aku nggak tuli.” “Maaf, Yang. A-aku panik, takut ada apa-apa sama Mellisa,” jawab Surya tergesa, langkahnya mendekati ranjang. Ia duduk di sisi Mellisa, tangannya terulur menyentuh dahi adik iparnya itu. “Mel, kamu masih kuat? Kita ke dokter, ya?” tanyanya dengan nada cemas. Mellisa hanya menggeleng lemah, kelopak matanya setengah terpejam. Tubuhnya terlalu lemas untuk bergerak. Tanpa berpikir panjang, Surya meraih tubuh Mellisa dan membopongnya ke pelukan. Yuni sempat terdiam sejenak, menatap suaminya yang begitu panik, namun tak berkata apa-apa. Dengan cepat Surya membawa Mellisa keluar menuju mobil, mendudukkannya di kursi belakang. Yuni ikut menyusul sambil membawa tas kecil berisi dokumen penting dan botol air mineral. Malam itu, mereka bertiga melaju ke rumah sakit. Jantung Yuni berdegup cemas, Surya menahan gelisah, sementara Mellisa bersandar lemah, menutup mata seakan pasrah pada takdir yang menantinya. Perjalanan menuju rumah sakit tidaklah terlalu jauh, kurang lebih lima belas menit. Setibanya di sana, Surya kembali membopong Mellisa yang lemah, membawanya masuk ke ruang praktik setelah registrasi. Mereka menunggu sekitar dua puluh menit, hingga akhirnya dipanggil masuk. Mellisa dibaringkan di ranjang pemeriksaan. Tak lama, dokter masuk dengan senyum ramah. “Selamat ya… Anda suaminya?” tanya dokter sambil menoleh ke Surya yang sejak tadi terlihat paling panik dan perhatian. “Bu-bukan, Dok. Saya… suaminya kakaknya. Saya hanya bantu aja,” jawab Surya tergagap. Tangannya terasa dingin, dadanya berdebar keras. “Maksudnya selamat… apa, Dok?” Dokter menatap Surya dan Yuni bergantian, lalu berkata datar, “Ya, selamat. Adik ini hamil.” Suasana ruangan seketika membeku. Surya kaget, Yuni lebih lagi. Mereka berdua hampir bersamaan berseru, “Hamil!? Apa nggak salah, Dok?” Dokter sedikit tersinggung, suaranya lebih tegas. “Ya, hamil. Hasil pemeriksaan jelas. Di rahimnya sudah ada denyut bayi… usia kandungan beberapa minggu. Makanya dia sering mual.” Surya langsung gelisah. Firasat buruk yang tadi menghantuinya kini nyata. Ia terdiam, tak mampu berkata apa-apa. Rahasia itu tak akan bisa disembunyikan lebih lama. Sementara Yuni, seluruh tubuhnya gemetar. Kata-kata dokter terasa seperti petir di siang bolong. Dalam hati ia menjerit, Adikku hamil? Dengan siapa? Kok bisa Mellisa melakukan ini? Ini aib! Aku gagal menjaga adikku! Di ranjang, Mellisa hanya mendengar samar-samar suara dokter. Kata hamil seolah bergema di kepalanya, membuat tubuhnya semakin lemas. Air matanya menetes, bercampur dengan ketakutan yang belum sanggup ia ungkapkan. Dokter yang memeriksa merasa ada yang aneh. Dari raut wajah Yuni dan Surya terlihat jelas kalau keduanya sama sekali tidak siap menerima kabar ini. Alis dokter perlahan mengernyit, lalu ia menatap tajam bergantian kepada mereka berdua. “Maaf,” ucapnya dengan suara tenang namun penuh selidik. “Kenapa kalian berdua terlihat begitu kaget? Bukankah kehamilan itu seharusnya disyukuri? Apalagi ini usia kandungan masih muda, berarti sebentar lagi keluarga akan bertambah.” Yuni tersentak, wajahnya makin pucat. Ia buru-buru menoleh ke arah Mellisa yang masih lemah di ranjang. Hatinya berkecamuk, ingin bertanya langsung pada adiknya, tapi lidahnya terasa terkunci. Surya yang berdiri di sisi ranjang mulai gelisah, tangannya tak henti mengusap belakang lehernya yang basah oleh keringat. Ia tak berani menatap mata dokter, takut kalau sorot tajam itu mampu membaca rahasia yang berusaha ia sembunyikan. Dalam hening itu, dokter kembali menambahkan dengan nada lebih serius, “Atau… ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari saya?” Surya buru-buru merespons, suaranya terdengar kaku namun dipaksakan tenang. “Tidak, dok… tentu kami senang. Tidak ada yang kami sembunyikan. Kami permisi.” Tanpa menunggu lagi, ia segera membantu Mellisa turun dari ranjang, sementara Yuni hanya bisa terdiam, menahan segala guncangan dalam hatinya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
65.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook