Penawaran Sang Iblis
"Berhenti! Kalian tidak punya hak untuk menghancurkan tempat ini tanpa surat putusan pengadilan yang sah!" teriak Maya sekuat tenaga.
Suaranya nyaris tenggelam oleh tawa kasar salah seorang operator alat berat di depannya. Pria berseragam proyek itu hanya menunjuk ke arah barisan mobil mewah yang baru saja berhenti.
Sebuah sedan hitam mengkilap berhenti tepat di tengah kerumunan, membelah kepulan debu dengan angkuh. Pintu belakang terbuka, menampakkan sepasang sepatu pantofel mahal yang menginjak tanah kering dengan mantap.
Maya menahan napas saat sosok pria tinggi menjulang keluar dari mobil tersebut. Pria itu mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna arang yang tampak sangat kontras dengan lingkungan kumuh panti.
Itu adalah Dirga Arlangga, CEO muda Arlangga Group yang wajahnya sering menghiasi sampul majalah bisnis. Ia dikenal sebagai "Iblis Tak Berperasaan" karena rekam jejaknya yang tak pernah gagal dalam akuisisi paksa.
Dirga melepas kacamata hitamnya, menampakkan sepasang mata elang yang dingin dan menusuk. Ia melangkah mendekat ke arah Maya dengan langkah yang tenang namun penuh intimidasi.
"Nona Maya, kau membuang-buang bensin alat beratku dengan drama picisan ini," ucap Dirga tanpa ekspresi.
Maya melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia bisa menghirup aroma parfum kayu yang mahal dari tubuh pria itu. "Bagi Anda ini drama, tapi bagi anak-anak di dalam, ini adalah seluruh hidup mereka."
Dirga hanya melirik arloji di pergelangan tangannya seolah waktu Maya sangatlah murah. Ia tidak sedikit pun terlihat tersentuh oleh nada bicara Maya yang penuh emosi.
"Tanah ini sudah resmi menjadi milik Arlangga Group sejak dua jam yang lalu. Aku tidak butuh drama, aku butuh lahan ini bersih sebelum matahari terbenam," tegas Dirga.
Maya mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih karena menahan amarah yang membuncah. Ia tahu bahwa berdebat tentang hukum dengan orang sekaya Dirga adalah kesia-siaan belaka.
"Setidaknya beri kami waktu satu minggu untuk mencari tempat penampungan baru bagi anak-anak," mohon Maya dengan suara yang mulai serak.
Dirga menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang lebih terasa seperti ancaman daripada sebuah keramahan. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Maya, membuat gadis itu refleks mundur selangkah.
"Waktu adalah uang dalam kamusku, dan kau tidak punya cukup uang untuk membelinya dariku," bisik Dirga dengan nada rendah.
Tiba-tiba, seorang pria tua berpakaian rapi setengah berlari mendekati mereka dengan wajah yang pucat pasi. Itu adalah asisten pribadi Dirga yang tampak sedang membawa sebuah tablet dengan panik.
"Tuan Dirga, Eyang Wiryo baru saja menelepon dan menanyakan kesiapan acara pertunangan besok malam," lapor asisten tersebut dengan suara bergetar.
Rahang Dirga mengeras seketika, dan sinar kemarahan terpancar dari matanya yang semula dingin. Ia tampak sangat terganggu dengan kabar tentang kakeknya yang otoriter itu.
"Katakan padanya aku akan menyelesaikannya tepat waktu," jawab Dirga dengan nada yang sangat tajam.
Asisten itu tampak ragu, lalu membisikkan sesuatu yang membuat Dirga terdiam cukup lama. Mata pria itu kemudian kembali menatap Maya dengan cara yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Dirga memindai penampilan Maya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan sangat teliti. Ia seolah sedang menilai sebuah komoditas baru yang menarik untuk ditukarkan dengan sesuatu.
"Nona Maya, sepertinya nasib sedang ingin bermain-main dengan kita berdua hari ini," ucap Dirga tiba-tiba dengan nada yang penuh teka-teki.
Maya mengerutkan kening, merasa ada yang salah dengan perubahan sikap pria di depannya ini. Firasatnya mengatakan bahwa badai yang lebih besar akan segera menerjang hidupnya.
"Apa maksud Anda? Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan dari masalah penggusuran ini," tantang Maya dengan berani.
Dirga memberi isyarat kepada asistennya untuk menjauh, memberikan ruang privasi di tengah kebisingan alat berat. Ia melipat tangan di d**a, menunjukkan otoritasnya yang mutlak atas situasi tersebut.
"Eyang Wiryo memaksaku menikah dalam waktu tiga hari jika aku ingin tetap memegang kendali perusahaan," ungkap Dirga tanpa basa-basi.
Maya terperangah, tidak menyangka bahwa pria sekuat Dirga juga memiliki masalah pribadi yang serumit itu. Namun, ia tidak mengerti apa hubungannya masalah keluarga Arlangga dengan panti asuhannya.
"Itu urusan pribadi Anda, Tuan Dirga. Saya hanya peduli pada keselamatan panti asuhan ini," sahut Maya ketus.
Dirga tertawa pendek, sebuah tawa yang terdengar sangat hambar dan tanpa emosi sedikit pun. Ia menunjuk ke arah panti asuhan yang bangunannya sudah mulai miring dan lapuk dimakan usia.
"Aku akan memberimu kesepakatan yang tidak akan mungkin bisa kau tolak oleh akal sehatmu," tawar Dirga dengan mata yang menyipit.
"Menikahlah denganku selama satu tahun, dan aku akan menghibahkan tanah ini atas namamu selamanya," ucap Dirga dengan tenang.
Kata-kata itu menghantam Maya lebih keras daripada hantaman alat berat yang sedang menunggu di belakangnya. Ia merasa dunianya baru saja berhenti berputar akibat tawaran gila tersebut.
"Anda gila! Anda pikir pernikahan adalah sebuah transaksi jual beli tanah?" teriak Maya tidak percaya.
Dirga tidak bergeming, ia justru mengeluarkan sebuah map dari asistennya dan menyodorkannya kepada Maya. Di dalamnya terdapat surat kepemilikan tanah yang sudah dipalsukan tanggalnya.
"Pilihannya mudah, Maya. Kau menjadi istriku selama dua belas bulan, atau anak-anak itu tidur di trotoar malam ini," ancam Dirga tanpa ampun.
Maya menatap ke arah jendela panti, di mana anak-anak kecil sedang mengintip dengan wajah ketakutan. Ia bisa melihat Alex kecil yang sedang memeluk boneka beruangnya yang sudah sobek.
Hati Maya hancur berkeping-keping membayangkan masa depan anak-anak itu jika rumah mereka dihancurkan. Ia menarik napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya yang sedang kacau balau.
"Kenapa harus aku? Anda bisa membeli model atau artis mana pun untuk menjadi istri kontrak Anda," tanya Maya dengan curiga.
Dirga melangkah maju hingga tubuh mereka hampir bersentuhan, membuat Maya bisa merasakan hawa panas dari tubuh pria itu. Mata Dirga menatap tepat ke dalam mata Maya dengan intensitas tinggi.
"Karena kau tidak punya apa-apa, dan kau sangat putus asa untuk menyelamatkan panti ini," jawab Dirga dengan jujur yang menyakitkan.
Ia tahu bahwa wanita dari kelas atas akan lebih sulit dikendalikan dan akan meminta lebih banyak tuntutan. Maya adalah bidak yang sempurna karena latar belakangnya yang bersih dan kelemahannya yang nyata.
"Aku butuh istri yang tidak akan jatuh cinta padaku dan tidak punya koneksi untuk menusukku dari belakang," tambah Dirga lagi.
Maya memejamkan mata, merasakan air mata yang hampir jatuh namun ia tahan dengan sekuat tenaga. Ia merasa seperti sedang menjual jiwanya kepada iblis demi menyelamatkan surga kecilnya.
"Baik, aku setuju dengan kontrak gila ini. Tapi tarik semua alat beratmu dari sini sekarang juga," tegas Maya.
Dirga menyeringai puas, seolah ia baru saja memenangkan sebuah negosiasi bisnis bernilai triliunan rupiah. Ia menjentikkan jarinya, dan seketika itu juga mesin-mesin raksasa itu dimatikan oleh operatornya.
"Pilihan yang cerdas, Nyonya Arlangga. Sekarang, ikut aku ke mobil untuk menandatangani dokumen yang sebenarnya," ajak Dirga.
Maya melangkah lunglai mengikuti Dirga menuju mobil mewah yang terasa seperti penjara berjalan baginya. Di dalam mobil, suhu pendingin yang sangat dingin langsung menyergap kulitnya yang berkeringat.
Dirga menyodorkan sebuah dokumen tebal dengan sampul kulit berwarna hitam yang sangat elegan. "Baca setiap poinnya, jangan sampai kau menyesal di tengah jalan nanti."
"Kita akan tinggal dalam satu atap, tapi jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu," ucap Dirga seolah bisa membaca pikiran Maya.
Maya mendengus, merasa sedikit lega namun juga terhina dengan pernyataan pria yang sangat sombong itu. Ia segera menandatangani dokumen tersebut dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Tugas pertamamu dimulai besok malam di pesta ulang tahun Eyang Wiryo. Jangan membuatku malu dengan pakaian kumuhmu itu," sindir Dirga.
Mobil itu mulai melaju, meninggalkan panti asuhan yang kini tampak aman namun menyisakan luka di hati Maya. Ia tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak ini, ada rahasia besar tentang kecelakaan orang tuanya yang tersimpan rapat. Dan ia juga tidak tahu bahwa Dirga Arlangga bukanlah sekadar CEO dingin, melainkan kunci dari masa lalunya yang hilang.
Sesampainya di sebuah butik kelas atas di pusat kota, Dirga memerintahkan sopirnya untuk berhenti tepat di depan pintu utama. Beberapa pelayan butik langsung keluar menyambut kedatangan sang konglomerat tersebut.
"Ubah gadis ini menjadi wanita yang layak berdiri di sampingku dalam waktu dua jam," perintah Dirga kepada pemilik butik.
Maya hanya bisa pasrah saat tubuhnya ditarik oleh para penata busana ke dalam ruang ganti yang sangat mewah. Ia merasa seperti boneka yang sedang didandani untuk sebuah pertunjukan teater besar.
Sementara itu di luar, Dirga tampak menelepon seseorang dengan nada bicara yang sangat rahasia dan penuh kewaspadaan. "Pastikan semua dokumen masa lalu itu sudah dihancurkan sebelum dia pindah ke mansion."
Dua jam kemudian, tirai ruang ganti terbuka, menampakkan sosok Maya yang telah bertransformasi total dengan gaun satin berwarna biru dongker. Gaun itu memeluk tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan kecantikan alaminya yang selama ini tertutup baju lusuh.
Dirga sempat terdiam selama beberapa detik saat melihat penampilan baru "istrinya" tersebut. Namun, ia dengan cepat menguasai dirinya kembali dan memasang wajah datarnya yang semula.
"Lumayan, setidaknya kau tidak akan membuat Eyang Wiryo curiga dalam sekali lihat," komentar Dirga dengan nada yang masih meremehkan.
"Ayo pergi, aku tidak suka membuang waktu untuk mengagumi hal-hal yang tidak nyata," ajak Dirga sambil berjalan keluar butik.
Maya mengikuti langkah pria itu dengan dagu yang terangkat, mencoba membangun benteng pertahanan di dalam hatinya. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan ia harus bertahan hidup di sarang ular keluarga Arlangga.
***