Pohon bambu
Pagi hari yang sejuk, segar nya aroma dari lereng perbukitan di tambah suara daun yang tertepa oleh angin mengisyaratkan sebuah kedamaian yang nyenyejukkan hati.
Duduk seorang anak kecil di sebuah teras yang sederhana yang terbuat dari lembaran papan,
Iya termenung menatap kosong jalanantanah di depan rumah dengan lamunan.
“Giii… sugi..”
Panggi nenek nya yang di panggi uti
“Iyaa tiii”. Jawab sugi.
“Ini hari minggu nggak nyuci sepatu kamu, gi? Tanya utunya.
“ iyaa tii”. Jawab sugiono yang di panggil sugi, seraya bangkit dari lamunanya.
“ pagi pagi kok sudah bengong
Masih kecil kok mikirin apa tho gii gii”
Gerutu uti ya.
“ mamak kok nggak pulang pulang ya ti,
Mana ini mau ujian belom bayar uwang sekolah, nanti aku bayar uwang daftar smp nya gimana ya ti?” Tanya sugi.
Uti nya terdian tak menjawab, hanya menahan kesedihan dan melamun saja menghidup kan api dan meniup bara bara api di luweng( tempat masak)
Perceraian anaknya membuat iya harus mengurus
Sugi cucunya seorang diri.
Kedua orang tau sugi bercerai karena ketahuan selingkuh dengan biduan dari desah sebelah.
Ibu sugi yang marah lantas langsung menceraikannya,
waktu itu sugi masih berusia 5 tahun, setelah peceraian itu sugi dan ibunya
pindah rumah di sebuah desa di lereng gunung lawu.
Keadaan desa tang tertiinggal
jauh dan mengandal kan minyak bumi
terutama sayuran, memaksa ibu sugi untuk merantau ke kota demi memenuhi kebutuhan.
Meninggal kan sugi yang masih berusia 8 tahun,
Kelas 2 dasar bersama nenek nya.
Sudah 4 tahun ibunya pergi merantau dan tak kunjung pulang.
Sekarang sugi sudah kelas 6 sd.
Sugi selalu menanyakan perihal
ibu nya kepada sang nenek,
tapi nenek nya tidak pernah menjawab.
Hanya raut wajah sedih dari nenek nya saja.
Pagi itu sugi yang sedang menjemur sepatunya di atas genting rumah, tiba tiba ia di banggil tetangganya.
“Gi… uti mu ada?” Tanya bude sumi tetangga nya
“ ada bude lagi masak di dapur” jawab nya
“ lagi masak yaa le?”
“ iyaa bude”
“ ini le kasib uti, singkong dari kebun”
“ ohh iyaa makasih bude”
Boleh di bilang keadaan sugi dan nenek nya banyak di bantu dengan warga setempat.
Banyak yang iba dengan keadaan
sugi dan nenek nya, dan tidak sedikit
yang merasa jengkel dan marah kepada ibunnya yang tak kunjung pulang.
Bahkan tidak pernah sekalipun mengirim kan uwang semenjak meninggal kan sugi.
Sugi anak yang sopan sekaligus pemalu penyendiri dan minder.
Hari libur seperti ini biasanya sugi membantu utinya di kebun belakang rumah nya.
Kebun kol sumber pencarian utinya
satu satunya Kalau ada yang
membutuhkan jada pijet itulah kerja sampingan utinya.
Harii mulai sore…
“Gi… udah sore cari kayu bakar sana, abis itu langsung pulang,
uti menyelesaikan ini sebentar”.
Perintah utinya seraya mencabut gulma di sekitaran kebun milik nya.
Sugi langsung menurut perintah utinya.
Langit sore terasa sangat gelap padahal masih sekitaran jam 5 sore.
Sugi langsung naik ke atas lereng bukit.
Ia ingat di sana banyak rumpun pohon bambu,
Pasti banyak ranting yang kering pikir nya.
Kerinbunan rumput pepohonan bambu
membuat suasana di bawah nya jadi gelap.
Sugi yang notabenya takut dengan ular
tidak berani mendekati pohon bambu itu, iya hanya di sekitaran saja.
Dan hanya mengambil yang sudah jatuh. Karena emang dia tidak membawa golok.
Setelah sudah terkumpul banyak,
dia bingung mengikat nya menggunakan apa
, dia menoleh mencari sesuatu untuk mengikat,tetapi ia tidak
menemukan pohon pisang,
lalu ia memberanikan diri untuk mendekati pohon bambu
Untuk mencari mambu kecil yang muda
Untuk mengikat.
Di tengah kerimbunan pohon
Bambu, sugi di kejutkan dengan batang
Bambu yang menyala nyala seperti
Bara api.
“ itu.. apa?” Gumamnya.
“ tidak ada asap kalau memang
itu terbakar,” pikirnya.
Lalu iya teringat dengan cerita
Nenek nya tentang hantu,
Banaspati, apa itu pikir sugi.
Karna takut dia langsung lari bergegas
Meninggal kan pohon bambu tersebut
Dan ranting yang sudah ia kumpulkanya.
Sugi yang orang nya tergolong kurang mampu
Rumah nya sama sekali tidak ada listrik,
Hanya di bantu tetangga nya itupun,
Hanya satu bola lampu di ruang tengah
Rumah nya.
Bukan pelit, hanya saja jarak
rumah ke rumah Cukup jauh dan
daya 900 wat setiap rumahnya.
Jadi kalau menggunakan terlalu banyak
Bisa cepret begitulah katanya.
Walau begitu uti tetap bersyukur
Ada peneranga untuk belakar sugi.
“ Gi.. kamu nggak ngaji?” Tanya utinya
“Gak lah ti takut”
“Takut.. takut kenapa?”
“ tadi pas aku nyari kayu bakar
aku lihat hantu ti”.
“ hantu gimana gi?”.
“ ada pohon bambu yang menyala
Nyala seperti terbakar, tapi nggak
Tapi tidak kebakar ti di atas
Lereng sana!”.
“ salah lihat paling kamu gi”
“ bukannya itu yang uiti bilang banas pati ya”
Tanya sugi.
“ yaa tidak tau bisa jadi iya bisa jadi bukan.
Yaudah beson jangan cari katu di situ lagi”
Tegur utinya.
“Iyaa ti”
Di pagi yang cerah sugi pamit pada
Utinya hendak pergi ke sekolah, sekolah
Nya lumayan jauh 2 kilo meter di bawah bukit.
Bukan masalh bagi sugi karna
jalanan nya yang menurun.
Hanya saja pulang nya yang lelah
harus menaiki bukit
Selama di perjalanan dia terus memandangi
pohon bambu di atas bukit.
“ nanti pulang sekolah saya ke situ lagi
Apa masih kebakar pohon bambu itu yaa?”
Pikirnya.
Setelah sampai di sekolah upacara
Bendera di mulai dan murid murid pun
Berkumpul di lapangan.
Terlihat sugi ada di barisan paling depan
Lapangan itu, karena dia di hukim tidak pakai
Topi dan dasi.
Memang ia tidak punya dan tidak memiliki uwang
Untuk membeli nya.
Seragam nya saat ini pun bekas
Tetangga punya anak nya.
Setelah upacara dia langsung lari
Ke dalam kelas nya.
“Gi kamu nanti daftar smp dimana?”
Tanya tamara teman sekelas.
“ gak tau ra, nggak lanjut paling.”
“ lho kok nggak lanjut, sayang lho
Kamu itu pintar”
Sugi termasuk anak yang yang pintar
Dia masuk 3 besar dari kelas1
“ iyaa mau bagaimana lagi ra walaupun ada dana BOS, ku kira dapat duit nggak taunya
Hanya dapat di potong spp nya saja.
Biyaya sekolah bagaimana? Seragam
Buku, topi aja aku gak punya ra” ujar sugi
Tiara hanya menghela nafas,
Lalu tersengar suara langakah kaki
Masuk ke dalam kelas.
“Assalamualaikum anak anak”
Sapa seorang guru kepa murid nya.
“Walaikumsalam pak guru…”
Jawab murid dengan serentak.
Pagi itu kegiatan belajar pun
Mulai selerti hari biasanya, di
Desa terpencil di gunung lawu bernama
Desa gondosuli kecamatan tewengmangi
Kabupaten karanganyer.
Dengan kabut yang masih terlihat
Dan cuaca yang sangat dingin
Anak anak tetap belajar dengan semangat.