bc

Hening di Balik Pintu

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
heir/heiress
drama
high-tech world
surrender
like
intro-logo
Blurb

Satu tahun sejak kecelakaan itu, Liana terkunci di kamarnya bersama suara-suara yang tak seharusnya ada. Namun, di sebuah Unit Apartemen, batas antara korban dan pemangsa mulai memudar. Siapa yang sebenarnya sedang terkurung?

chap-preview
Free preview
Bab 1-Apartemen 402
Liana sudah berhenti menghitung hari. Bukan karena ia tidak mau, tapi karena hitungan itu tidak pernah konsisten. Kadang satu hari terasa seperti tiga. Kadang tiga hari berlalu tanpa meninggalkan jejak apa pun di kepalanya, seperti bagian waktu yang terhapus begitu saja. Ia pernah mencoba mencatat—menandai kalender di ponsel, memberi warna berbeda untuk setiap hari. Tapi lama-lama tanda itu berubah jadi deretan simbol yang tidak lagi terhubung dengan pengalaman nyata. Angka tetap bergerak. Tapi tidak ada yang berubah. Apartemen 402 tidak memberi petunjuk waktu. Lampu bisa menyala sepanjang hari atau mati berjam-jam tanpa memengaruhi apa pun. Tirai jarang dibuka penuh; cahaya dari luar hanya masuk sebagai lapisan abu-abu tipis yang tidak pernah benar-benar pagi atau sore. Udara di dalam selalu sama—dingin ringan bercampur bau furnitur, kain lama, dan sesuatu yang menyerupai debu yang terlalu lama mengendap. Bukan bau busuk. Hanya bau yang menetap. Seperti ruangan yang tidak punya alasan untuk segar. Liana duduk di lantai ruang tamu, punggungnya bersandar pada sofa. Posisi itu terasa lebih aman daripada duduk di atasnya, entah kenapa. Layar ponsel di tangannya mati. Baterainya sebenarnya masih cukup, tapi ia sudah lama berhenti menyalakannya tanpa alasan yang bisa ia jelaskan. Tidak ada yang perlu dicek. Tidak ada pesan yang ditunggu. Ia menurunkan ponsel ke lantai dan membiarkannya tergeletak begitu saja. Pandangan Liana bergeser ke arah pintu depan. Pintu itu tertutup. Selalu tertutup. Catnya putih gading, dengan satu goresan kecil di dekat gagang—bekas lama yang tidak pernah ia ingat asalnya. Di samping pintu, kunci tergantung rapi di pengait kecil. Tidak pernah berpindah tempat. Tidak pernah jatuh. Seolah posisinya dikunci oleh kebiasaan yang sudah terlalu lama ada. Liana tahu pintu itu bisa dibuka. Ia hanya tidak tahu apa artinya lagi. “Jam berapa sekarang?” gumamnya pelan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Seperti suara yang jarang dipakai. Ia tidak sering berbicara. Tidak ada kebutuhan untuk itu. Ia menoleh ke jam dinding di atas televisi. 16.10. Jarum detiknya bergerak normal. Satu langkah. Satu langkah. Tidak tersendat. Tidak berhenti. Tapi Liana merasa jam itu tidak jujur. Perasaan itu muncul begitu saja, tanpa alasan logis, seperti intuisi yang berasal dari tempat gelap di d**a. “Harusnya lebih sore,” katanya. Atau lebih pagi. Ia tidak yakin. Ia berdiri perlahan dan berjalan ke dapur kecil. Langkahnya otomatis, tubuhnya hafal jalur ini tanpa perlu dipikirkan. Lemari atas dibuka. Botol kecil berlabel putih diambil. Obat. Ia tidak membaca nama yang tertulis di sana. Sudah lama tidak. Tulisan itu terasa seperti informasi asing, tidak relevan dengan apa yang ia rasakan setiap hari. Jumlah pil di dalam botol berkurang, tapi tidak pernah benar-benar habis. Entah karena ia minum dengan teratur, atau karena selalu ada botol baru yang menggantikan tanpa ia ingat kapan datangnya. Satu pil di telapak tangan. Air dari keran. Telan. Liana menyandarkan pinggulnya ke meja dapur, menunggu sensasi itu datang. Biasanya terasa seperti tekanan di kepala yang sedikit longgar. Seperti seseorang memutar knop volume di dalam otaknya, menurunkannya satu tingkat. Kadang berhasil. Kadang tidak. Hari ini, efeknya datang setengah-setengah. Kepalanya terasa lebih ringan, tapi pikirannya tetap keruh. Ia kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa. Bantal di sampingnya jatuh ke lantai sejak entah kapan. Ia tidak mengambilnya. Tidak ada urgensi. Televisi di depannya mati. Layar hitamnya memantulkan bayangan samar ruangan. Liana melihat siluet dirinya sendiri disana—kepala sedikit menunduk, bahu jatuh, tubuh yang tampak lebih kecil dari yang ia ingat. “Jangan mikir aneh-aneh,” katanya pada pantulan itu. Televisi menyala. Tidak ada suara tombol ditekan. Tidak ada gerakan dari tangannya. Layar hitam berubah menjadi bintik-bintik putih yang bergerak cepat, disertai desis halus yang memenuhi ruangan. Liana menegang. “Matikan,” katanya refleks, meski tahu itu konyol. Ia meraih remote di meja kopi dan menekan tombol daya. Tidak terjadi apa-apa. Desis itu terus berjalan, seperti hujan digital yang jatuh tanpa tujuan. Lalu gambar berubah. Bukan salju. Sebuah ruangan muncul di layar. Sudut pandangnya tinggi, sedikit miring. Hitam putih. Tanpa suara. Ruang tamu. Liana mengenalinya seketika. Posisi sofa. Meja. Tirai. Bahkan bantal yang jatuh ke lantai. Dan di tengah ruangan itu, ada seorang perempuan duduk di sofa. Dirinya. Liana berdiri terlalu cepat. Remote terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai, suaranya terdengar keras di apartemen yang sunyi. Di layar, perempuan itu berdiri—sedikit terlambat. Perut Liana mengeras. Napasnya tersangkut di d**a. Televisi mati. Sunyi datang terlalu cepat, seperti seseorang mematikan dunia dengan satu gerakan singkat. “Bukan,” katanya cepat. “Bukan.” Ia berdiri di tengah ruang tamu, napasnya pendek. Matanya terpaku pada layar hitam televisi, menunggu pantulan itu muncul lagi. Tidak ada apa-apa selain bayangannya sendiri yang samar dan terdistorsi. Ia menoleh ke jam dinding. 16.12. Dua menit. Normal. Masuk akal. “Halusinasi,” katanya. “Efek obat.” Kata-kata itu terdengar seperti skrip yang sudah dihafal. Ia pernah mengucapkannya sebelumnya. Berkali-kali. Liana berjalan ke kamar tidur. Pintu kamar terbuka setengah, tidak pernah ditutup penuh. Ia berhenti di depan lemari pakaian yang pintunya dilapisi cermin. Refleksinya menatap balik. Ia mengangkat tangan kanan. Refleksi itu mengikutinya—dengan jeda kecil. Sangat kecil. Hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk membuat tengkuknya merinding. “Sinkron,” bisiknya. Ia menggerakkan jari. Refleksi itu mengikuti. Terlambat lagi. Liana mendekat sampai wajahnya hampir menyentuh permukaan cermin. Ia mencari tanda distorsi, kesalahan optik, apa pun yang bisa memberi penjelasan rasional. “Ini aku,” katanya pelan. Refleksi itu tidak menjawab. Tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Liana mundur setengah langkah. Dari arah langit-langit, terdengar bunyi bip pendek. Liana tersentak dan menengadah. Di sudut plafon, dekat ventilasi udara, ada titik kecil berwarna gelap. Ia tidak ingat kapan pertama kali melihatnya. Ia juga tidak yakin titik itu pernah ada sebelumnya. “Lampu?” gumamnya. Ia mengambil kursi dan berdiri di atasnya, mencoba melihat lebih dekat. Titik itu tidak menyala lagi. Tidak bergerak. Tidak ada tanda apa pun. Ia turun dan duduk di ranjang. Efek obat kini terasa lebih jelas—pikirannya melambat, tubuhnya berat. Tapi rasa tidak nyaman itu tidak pergi. Dari arah pintu depan, terdengar suara elektronik pendek. Bukan ketukan. Bukan bel. Lebih seperti sinyal yang meminta perhatian. Liana berdiri perlahan dan berjalan ke arah pintu. Di dinding dekat sana, panel kecil dengan layar sederhana menyala. Ia menelan ludah. “Siapa?” tanyanya. Hening beberapa detik. Lalu suara itu keluar. Jernih. Tenang. Terlalu dekat. “Liana.” Namanya diucapkan dengan cara yang tidak asing. “Apa maumu?” tanyanya. Ada jeda singkat. Seperti seseorang berpikir sebelum bicara. “Bukakan pintunya.” Liana tidak bergerak. “Aku nggak kenal kamu.” “Kamu tahu,” jawab suara itu ringan. Panel mati. Apartemen kembali sunyi. Liana berdiri terpaku. Jam dinding terus berdetak. Titik gelap di langit-langit diam. Cermin di kamar memantulkan ruangan kosong. Ia menatap pintu depan. Untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, ia bertanya pada dirinya sendiri—bukan dengan panik, tapi dengan rasa ingin tahu yang dingin. Sejak kapan dunia berhenti di sini?

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Coração Sombrio- Estefano

read
3.4M
bc

Chosen By The Cursed Alpha King

read
314.7K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
558.6K
bc

The Rejected Mate

read
926.3K
bc

Too Late for Regret

read
422.9K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
109.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook