BAB 1
Malam itu udara Soreang terasa lebih dingin dari biasanya, meski bulan Maret sudah mulai menghangatkan tanah Jawa Barat. Angin malam menyusup melalui celah-celah jendela kayu rumah sederhana di pinggir kampung, membawa bau tanah basah setelah hujan sore tadi. Larasati Pramudya berdiri di dapur kecil yang hanya diterangi lampu neon kuning redup, tangannya yang halus sibuk mencuci piring-piring bekas makan malam. Air keran yang mengalir pelan seolah ikut menangis bersama hatinya yang berat.
“Laras! Cepetan dong, Mbak! Piringnya udah berapa lama lo cuci? Kayak gak ada kerjaan lain aja!” suara Viona, sepupunya yang berusia dua puluh tiga tahun, memecah keheningan. Viona muncul di ambang pintu dapur dengan gaun ketat berwarna merah menyala yang baru dibeli kemarin, rambutnya yang dicat pirang tergerai acak-acakan. Wajahnya yang cantik tapi penuh riasan tebal itu terlihat kesal.
Laras menoleh pelan, senyum lembutnya tak pernah pudar meski tubuhnya sudah lelah seharian. “Maaf, Vi. Tadi banyak banget piringnya. Sebentar lagi selesai kok.”
Viona mendengus, bersandar di kusen pintu sambil memainkan ponselnya yang layarnya penuh stiker glitter. “Lo tuh emang bener-bener pembantu di rumah ini. Untung aja Mama sama Papa masih mau nerima lo tinggal di sini setelah orang tua lo mati kecelakaan itu. Kalau enggak, lo udah ngemis di jalan.”
Kata-kata itu seperti pisau kecil yang menusuk pelan. Laras menunduk, menggigit bibir bawahnya yang pucat. Sudah tujuh tahun sejak kecelakaan yang merenggut nyawa ayah dan ibunya. Mobil mereka tergelincir di jalan tol saat pulang dari acara keluarga, dan sejak itu Laras hanya tinggal bersama Bibi Rina, Paman Budi, dan Viona. Mereka bukan keluarga yang hangat. Mereka adalah penjara berlapis sutra yang perlahan mencekiknya.
Dari ruang tamu, suara Bibi Rina terdengar lantang. “Viona! Jangan ganggu Laras! Dia lagi siap-siap buat kerja malam ini!”
Laras mengerutkan kening. Kerja malam? Sejak kapan ia punya pekerjaan malam? Ia hanya bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko kelontong di ujung kampung, itu pun gajinya langsung diambil Bibi untuk “biaya hidup”.
Paman Budi muncul di belakang Bibi Rina. Tubuhnya yang gemuk dan berkeringat terlihat tegang di balik kemeja batik yang sudah kusut. “Iya, Laras. Malam ini lo ikut kami ke kota. Ada tawaran kerja bagus dari teman Paman. Gajinya gede, Laras. Bisa buat bayar hutang-hutang kita yang numpuk.”
Laras meletakkan spons cuci piringnya perlahan, menyeka tangan di celemek usang yang sudah bolong di pinggir. “Kerja apa, Paman? Kenapa tiba-tiba? Biasanya Bibi bilang Laras cuma boleh kerja di kampung.”
Bibi Rina mendekat, tangannya yang penuh cincin emas palsu merangkul bahu Laras dengan lembut palsu. Bau parfum murah Bibi yang menyengat langsung menyerbu hidung Laras. “Ini kesempatan emas, Nak. Teman Paman punya klub mewah di pusat kota. Katanya butuh pelayan cantik yang sopan dan lemah lembut kayak kamu. Gaji bulan pertama langsung dibayar dua puluh juta, Laras! Bayangin, dua puluh juta! Bisa buat beli obat Paman yang sakit jantung, bayar sekolah Viona yang telat, dan… ya, lo juga bisa dapat jatah.”
Viona tertawa kecil dari belakang, suaranya manis tapi beracun. “Iya, Laras. Lo kan cantik alami gitu. Muka polos, kulit putih, rambut hitam panjang. Pasti banyak yang suka. Kerja pelayan kok, bukan yang aneh-aneh. Paman janji, aman.”
Laras merasa ada yang tidak beres. Matanya yang bulat dan lembut menatap wajah Bibi Rina satu per satu. “Tapi… Laras nggak pernah kerja malam, Bi. Laras takut. Kalau cuma pelayan, kenapa harus malam ini juga? Besok pagi aja gimana?”
Paman Budi langsung memasang wajah tegas, suaranya meninggi sedikit. “Laras, jangan bikin susah! Ini udah dijanjiin sama teman Paman. Kalau lo nolak, kita semua bisa bangkrut. Rumah ini bisa disita bank besok pagi. Lo mau kita semua tidur di jalan? Lo mau Bibi sama Paman mati kelaparan gara-gara lo egois?”
Air mata Laras hampir jatuh, tapi ia tahan. Ia selalu begitu — lemah lembut, penyabar. Sejak kecil, ia diajarkan untuk tidak membantah. “Baiklah… Laras ikut. Tapi Laras cuma pelayan ya, Paman? Nggak ada yang lain?”
Bibi Rina tersenyum lebar, memeluk Laras lebih erat. “Iya, Sayang. Cuma pelayan. Sekarang ganti baju yang bagus. Yang putih yang lo punya itu, yang sederhana tapi sopan. Jangan lama-lama, mobilnya udah nunggu di depan.”
Laras mengangguk pelan dan berjalan menuju kamar kecilnya di belakang rumah — kamar bekas gudang yang hanya ada kasur tipis dan lemari reyot. Ia mengganti baju kaus lusuhnya dengan dress putih sederhana yang panjang sampai lutut, rambutnya disisir rapi. Cermin kecil di dinding menunjukkan wajahnya yang pucat tapi cantik alami: mata besar berbulu mata lentik, hidung kecil, bibir tipis yang selalu tersenyum meski hatinya hancur.
Di luar, mobil Avanza hitam tua Paman Budi sudah menyala. Viona duduk di depan, Bibi Rina di tengah, dan Paman Budi menyetir. Laras masuk ke belakang, tangannya gemetar saat memegang sabuk pengaman. Jalan kampung yang berlubang-lubang membuat mobil bergoyang-goyang. Lampu-lampu jalan kuning samar-samar menerangi wajah-wajah mereka.
Sepanjang perjalanan ke kota, dialog terus mengalir.
“Lo harus sopan banget ya, Laras,” kata Bibi Rina sambil menoleh ke belakang, suaranya manis berlebihan. “Kalau ada tamu yang ngobrol, jawab pelan-pelan. Senyum terus. Itu kuncinya biar dapet tip gede.”
Viona menambahkan sambil bermain ponsel, “Iya, dan jangan sok suci. Di sana banyak cewek-cewek cantik, tapi lo yang paling fresh. Pasti langsung disukai.”
Paman Budi tertawa pelan dari balik kemudi. “Betul. Teman Paman bilang, klub ini eksklusif. Hanya untuk orang-orang kaya. Lo beruntung banget dipilih.”
Laras mengangguk lagi, tapi dadanya sesak. “Laras janji bakal kerja keras, Paman. Biar semua hutang cepet lunas.”
Perjalanan hampir satu jam terasa seperti selamanya. Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah bangunan mewah di pinggir jalan tol menuju pusat kota Bandung. Gedung itu tinggi, dindingnya hitam mengkilap dengan lampu neon merah dan emas yang menyala terang. Tulisan “Velvet Rose Club” berkelap-kelip di atas pintu masuk yang dijaga dua pria bertubuh besar berpakaian hitam. Bau parfum mahal dan musik pelan yang menggema samar-samar keluar dari dalam.
“Sudah sampai,” kata Paman Budi sambil mematikan mesin. “Turun, Laras.”
Mereka masuk melalui pintu samping yang sepi. Lorong panjang dengan karpet merah tebal menyambut mereka. Dindingnya dilapisi kertas dinding emas dengan motif mawar, lampu kristal gantung memantulkan cahaya hangat yang anehnya terasa dingin bagi Laras. Di ujung lorong, seorang wanita paruh baya dengan gaun ketat hitam dan rambut disanggul tinggi menyambut mereka. Wajahnya tebal riasan, bibirnya merah menyala.
“Pak Budi? Ini yang dimaksud?” tanya wanita itu sambil menatap Laras dari atas ke bawah, matanya seperti menilai barang dagangan.
“Iya, Bu Madam. Ini Larasati. Sopan, pendiam, dan masih suci,” jawab Paman Budi cepat, suaranya penuh harap.
Madam tersenyum tipis. “Bagus. Kulitnya bersih, matanya polos. Cocok banget buat klien VIP malam ini.” Ia menjentikkan jari, dan dua pria berpakaian hitam muncul dari belakang. “Bawa dia ke kamar persiapan. Dokumen sudah siap.”
Laras mundur selangkah, tangannya mencengkeram lengan Bibi Rina. “Bi… ini klub apa? Kok ada pria-pria gini? Laras cuma pelayan kan?”
Bibi Rina melepaskan tangan Laras dengan lembut tapi tegas. “Iya, Sayang. Tenang aja. Ini bagian dari kerjanya. Sekarang ikut mereka ya. Bibi, Paman, dan Viona nunggu di luar sambil urus kontrak.”
Viona mendekat, memeluk Laras singkat sambil berbisik di telinganya, “Jangan bikin ribut, Laras. Ini buat kebaikan kita semua. Kalau lo nurut, besok kita bisa pindah ke rumah baru.”
Laras merasa dunia berputar. “Tapi… Bi, Paman… Laras nggak ngerti…”
Paman Budi sudah membalikkan badan, suaranya dingin. “Cukup, Laras. Jangan bikin malu. Ini sudah deal. Dua ratus juta untuk kami, dan lo dapat tempat tinggal gratis di sini. Selamanya.”
Kata-kata itu seperti petir. Laras membeku. Dua ratus juta? Bukan dua puluh juta seperti janji tadi. Matanya melebar ketakutan saat dua pria itu menarik lengannya dengan kuat tapi sopan.
“Tidak! Paman! Bibi! Jangan tinggalkan Laras!” jeritnya pelan, suaranya gemetar. Ia berusaha menarik tangan, tapi tubuhnya yang ringan tak berdaya.
Bibi Rina hanya tersenyum sambil melambai. “Selamat bekerja, Laras. Kami pulang dulu. Besok pagi Bibi telepon.”
Viona tertawa kecil. “Bye, Kak Laras. Jangan nakal ya.”
Pintu lorong tertutup di belakang mereka. Laras diseret masuk ke sebuah ruangan kecil yang harum bunga mawar dan pewangi mahal. Di dalamnya ada cermin besar, meja rias penuh kosmetik, dan gaun-gaun tipis tergantung di rak. Musik pelan dari klub utama terdengar samar, campur tawa wanita-wanita lain yang sudah siap “bekerja”.
Salah satu pria itu berkata datar, “Ganti baju ini. Madam bilang klien spesial sudah nunggu di lantai VIP. Jangan buat dia lama.”
Laras menangis tanpa suara, air matanya jatuh ke dress putihnya. “Ini… ini bukan klub pelayan… ini… rumah bordil…” bisiknya pada diri sendiri.
Ia mencoba lari ke pintu, tapi pria itu menghadang. “Jangan bikin susah, Nona. Keluarga lo sudah terima uangnya. Kalau lo kabur, mereka yang kena masalah.”
Laras ambruk ke lantai, lututnya lemas. Ruangan itu terasa sempit, dindingnya seolah mendekat. Bau parfum yang manis terlalu menyengat, lampu kuning membuat bayangannya di cermin terlihat seperti orang asing yang ketakutan.
Di luar ruangan, di lobi VIP yang mewah dengan sofa kulit hitam dan meja marmer, seorang pria tua berpakaian jas hitam mahal duduk tenang. Wajahnya dingin, kerutannya dalam, matanya tajam seperti elang. Di sampingnya berdiri seorang pria muda berwajah misterius, cuek, dan setia — Damian Voss.
Kakek Alexander Wiratama menatap arloji emasnya. “Sudah siap gadisnya?”
Madam membungkuk hormat. “Sudah, Tuan. Masih murni, seperti permintaan Tuan.”
Kakek Alexander mengangguk pelan. “Bagus. Bawa dia ke sini. Malam ini aku butuh yang spesial.”
Di ruang persiapan, Laras masih menangis pelan saat pintu terbuka lagi. Dua pria menariknya berdiri, memaksanya berjalan keluar lorong menuju lobi VIP.
Malam itu, Laras dijual. Bukan oleh orang asing, tapi oleh darah dagingnya sendiri.
Dan di ujung lorong yang mewah itu, takdirnya baru saja dimulai — sebuah pertemuan yang akan mengubah segalanya.
Laras melangkah pelan, kakinya gemetar di karpet merah tebal. Cahaya lampu kristal di atas kepalanya memantul di air matanya yang masih menggenang. Ia tidak tahu, bahwa di depan sana, seorang kakek tua yang dingin dan tegas sedang menunggunya — dan bahwa malam ini hanyalah awal dari penjualan yang lebih besar lagi.