1.Perjodohan
Alisha POV.
“NIKAH!!!!” jeritku di depan kedua orang tuaku.
Bisa bisanya mereka berdua mengangguk. Kok bisa bisanya tiba tiba menyuruhku nikah??. Jadi wajar gak sih kalo aku akhirnya tertawa menanggapi.
“Nikah sama siapa pah?” tanyaku pada papaku yang tiba tiba suruh aku nikah.
“Ada. Nanti kamu bisa kenalan” jawab papa santai sekali, seakan permintaan untuk aku nikah sebagai hal yang biasa saja.
“Ya aku tau, pasti ada lelaki yang akan nikahin aku. Tapi siapa?” tanyaku lagi karena sudah pasti papa dan mamaku tidak akan setuju aku menikah dengan Dennis pacarku.
“Yang pasti papa dan mama tidak akan merestui kalo kamu menikah dengan si Dennis” jawab papa.
Aku langsung cemberut menatap papaku. Sudah sejak lama jadi masalah antaraku dan papa. Mungkin dengan mama juga, karena mereka satu suara kalo urusan ini.
“Apa yang bisa kamu harapkan dari lelaki bermental MOKONDO seperti si Dennis itu?” tanya papa lagi malah menyulut rasa kesalku.
“Mokondo dari mana sih pah?. Dia calon pengacara dan sedang magang untuk dapat surat izin jadi laywer. Dennis juga sedang siap siap buka kantor jasa pengacara” protesku.
“Kantor pengacara, dari uangmu, atau uang papa?” jawab papa.
Aku diam kali ini. Memang kenapa sih kalo aku bantu pacarku sendiri?. Nanti juga di ganti. Lagian kalo udah sukses jadi pengacara, pasti buat aku juga. Yakan kami bakalan nikah setelah Dennis jadi pengacara. Dan aku aslian tidak masalah menemani pacarku berjuang dari nol.
“Sayang…papamu cuma mau kamu menikah dengan lelaki yang sepadan” mama bersuara juga.
Aku diam menyimak juga akhirnya sambil menatap kedua orang tuaku. Aku tau mereka sayang aku sekali. Selain karena aku anak satu satunya, juga karena aku anak perempuan. Tapi...masa maksa aku nikah dengan lelaki yang tidak aku kenal?.
“Sepadan apanya maksud mama?. Yang kaya juga?” tebakku mencari tau.
Soalnya mama papaku memang kaya raya, kalo punya usaha jaringan mini market yang franchisenya di mana mana di seluruh Indonesia Raya. Gak usah aku sebut brandnya ya?. Pokoknya di mana aja ada dengan logo berwarna merah biru. Udah bisa nebakkan?. Pokoknya nyebar gitu deh di seluruh Indonesia, sampai ke pelosok pelosok karena memang konsepnya macam warung sembako tapi versi modern.
“Papa lagi kenapa sih?. Usaha papa bangkrut?. Terus papa punya utang gitu?” tebakku lagi karena kedua orang tuaku cuma menghela nafas menanggapi.
Jadi bingungkan akunya.
“Kok bisa kamu malah bilang usaha papa bangkrut?. Seperti tidak menghargai papa membangun bisnis papa selama ini. Apa kamu lupa dari mana uang yang selama ini untuk membuat kamu hidup enak layaknya putri raja?” jawab papa.
“Ya lagian papa tiba tiba suruh aku nikah sama laki yang aku gak kenal. Wajar kalo aku tanya seperti tadi. Bisa ajakan papa bangkrut terus punya utang di mana mana. Trus jalan keluarnya dengan nikahin aku sama laki yang bersedia bayar semua utang papa” kataku menjawab.
“Astaga….” desis papaku menanggapi.
Habisnya alasan apalagi yang buat papaku tiba tiba menyuruhku nikah dengan lelaki asing yang tidak aku kenal?.
“Kalo memang begitu keadaannya seperti yang kamu simpulkan, apa kamu akhirnya bersedia untuk menikah dengan lelaki yang papa pilihkan?” tanya papa kemudian.
Aku bertahan diam kali ini?. Untuk berpikir tentunya. Kalo papaku beneran bangkrut terus punya utang sana sini, lalu menikah dengan lelaki yang bersedia membayar semua hutang papaku, apa mungkin aku lakukan?.
“Jawab Alisha!!” kerja papa menjeda diamku.
“Ya gak tau juga. Kalo lakinya tua, terus punya istri pula, terus aku bakalan jadi istri kedua, atau istri nomor sekian, tentu aku gak mau” jawabku memilih aman.
Tentu kedua orang tuaku tidak mungkin menjodohkan aku dengan lelaki yang sudah beristri sekalipun keadaan mereka kepepet. Menurutku sih, bisa jadi salah.
“Astaga…anakmu kenapa pikirannya terlalu jauh….” keluh papa sampai menarik nafas panjang lalu bersandar di sofa dengan wajah lelah. Hal yang biasa dia tunjukkan kalo aku membuatnya kesal.
Soalnya tidak pernah benar benar marah sekalipun buat dirinya kesal. Tapi mungkin bukan karena kelakuanku bener benar kesal kali ya, karena aku termasuk yang terlalu nakal. Hal ternekat yang aku pinta dan lakukan adalah tinggal sendiri di aparteman selama aku kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di pusat kota. Habisnya jarak rumah orang tuaku jauh sekali dari kampus. Terus aku minta fasilitas mobil pada papa untuk kuliah setelah selalu di antar jemput supir. Dan aku paksa papa mamaku setuju dengan permintaanku. Akhirnya mereka setuju karena aku mengancam tidak akan kuliah.
“Suatu saat kamu akan mengerti kenapa kamu mesti menikah dengan lelaki yang sepadan baik secara materi, latar belakang dan lingkungan sosialnya. Supaya tidak merasa saling di manfaatkan dan merasa saling di hargai” kata papa lagi.
Aku belum ngerti sih soal ini. Maksud papaku tuh, soal bibit, bebet dan bobot bukan sih?.
“Pah…” tegur mamaku karena papa bangkit dari duduknya lalu hanya menghela nafas menanggapi sebelum akhirnya berlalu pergi.
Ya aku diam saja melihatnya karena masih ada mamaku juga yang bertahan menemaniku.
“Temui dulu orangnya, baru kamu putuskan. Papa dan mama tidak akan memaksa, hanya berusaha memperbaiki hidup dan bantu kamu menata masa depanmu, sayang” kata mama padaku.
“Emang hidupku seberantakan yang di pikir mama dan papa” komenku.
Mama lalu menghela nafas.
“Kamu mungkin merasa hidupmu sudah benar, semua karena kamu kurang pengalaman hidup. Mama bisa maklum. Tapi kamu mikir deh, sebagai orang tua, kami kurang apa padamu. Kamu gak harus kerja hanya untuk hidup enak, kamu bisa melakukan apa pun dan kami biarkan. Kamu mau liburan, belanja, sampai bersenang senang terus dengan teman temanmu, tetap kami biarkan. Mungkin salah kami juga sebagai orang tua, karena rasa sayang kami buat kami jadi memanjakanmu. Tapi tentu tidak bisa terus menerus begitu Alisha. Umurmu sudah mau 25 tahun. Kamu mesti mulai menentukan arah hidupmu ke depan seperti apa. Dan kami sebagai orang tua harus bantu kamu. Jadi jangan pikir papa dan mama berhenti sayang kamu hanya karena kami menyuruhmu menikah dengan lelaki pilihan kami” jelas mama lebih tenang sih kalo mama.
Aku jadi diam, sambil mikir semua perkataan mama benar. Apa sih yang benar benar aku lakukan semenjak aku lulus kuliah?. Memang tidak ada sih. Aku bahkan menolak pulang ke rumah dan bertahan di apartemanku tanpa punya pekerjaan pula. Mau bantu papa di perusahaannya pun, gak guna, kalo papa aja kelihatan gak punya kerjaan kalo hanya menghabiskan waktu berdua mama. Paling ke kantor semau gue. Soalnya sudah ada system dan managemen perusahaan. Waktu membangun usaha itu mungkin ya butuh kerja keras. Tapi kalo sekarang, udah tinggal ongkang ongkang kaki doang. Jadi secara garis besar, aku pantas di sebut pewaris. Soalnya gak perlu susah payah kerja dan membangun usaha, karena sudah pasti mewarisi usaha orang tuaku. Aku bisa bebas juga nantinya bersantai, belanja, liburan, atau party party dengan teman temanku. Apa akhirnya hidupku berantakan kalo aku akhirnya menolak menikah dengan lelaki pilihan papa mamaku?.
“Coba temui dulu ya. Nanti mama kasih tau kapan kamu mesti temui lelaki ini. Sekalian mama kirim fotonya padamu” kata mama lagi.
“Siapa sih mah orangnya?” tanyaku dulu.
“Anak teman papamu, tapi memang kamu tidak akan kenal. Tapi baik kok orangnya” jawab mama.
Akhirnya aku mengangguk saja. Biar mama dan papaku tenang, kan tidak di paksa juga aku bersedia menikah dengan tuh lelaki.
“Ya sudah, temui papamu. Kamu kan paling bisa rayu papamu. Biar papamu gak stress terus darah tingginya kumat. Kamu gak maukan papamu terkena stroke?” kata mama.
Amit amit sih kalo sampai papaku kenapa kenapa. Jadi aku menurut mencari papaku. Jelek bagus tetap orang tuaku juga. Dan sudah baik banget sebagai orang tua. Aku gak mungkin juga jadi anak yang tidak tau terima kasih. Walaupun papa tidak lagi bahas soal obrolan kami sebelumnya, tapi aku yakin papa tau, kalo aku bersedia menemui lelaki itu.
Sampai lupa memperkenalkan diriku, aku itu ALISHA AURELIE SANJAYA, putri satu satunya dari pengusaha FATUR RAHMAN SANJAYA dan IRMAWATI SANJAYA. Umurku mau 25 tahun dan aku penganguran. Keluargaku berdarah sunda BOGOR, dari papa dan mamaku. Udah sih itu doang yang bisa aku jelaskan. Selebihnya ya biasa aja sih. Soalnya aku memang merasa biasa aja. Cantik sekali gak, tapi jelek banget juga gak. Secara personality juga gak ada yang menonjol. Aku bisa introvert banget karena betah sendirian di apartemanku, tapi bisa jadi ekstrovert banget saat aku kumpul dengan teman temanku yang banyak bicara dan bercanda. Apalagi ya??. Udah itu doang.
Jadi kira kira, tuh laki gak akan suka deh sama aku. Aku gak kelebihan apa pun sebagai perempuan. Bukan aku tidak percaya diri, tapi terlalu percaya diri juga gak bagus. Makanya aku agak ragu menemui lelaki yang akan di jodohkan denganku, sampai aku malas melihat fotonya yang di kirim mama ke handphoneku. Aku malah menemui lelaki yang jadi pacarku. Namanya Dennis.
“Serius kamu di jodohin?” tanya Dennis tentu kaget mendengar aduanku.
Gak mungkin aku tidak ceritakan??.
“Terus kamu mau?” tanyanya lagi setelah aku mengangguk.
Aku berdecak menanggapi.
“Gak tau deh. Pusing “ jawabku.
Dennis lalu menghela nafas.
“Jangan tinggalin aku dong Yang…” rengeknya sampai pegang tanganku.
Aku diam kali ini.
“Kalo tuh laki lebih kaya dari aku, aku kan lagi usaha buat diriku mapan. Kalo kamu tinggalin aku dan milih lelaki itu, lalu apa yang aku bangun sekarang buat siapa?” keluhnya kemudian.
Gantian aku menghela nafas sekarang. Benar juga sih, sudah separuh jalan. Dan aku kasih tau ya, Dennis itu lulusan fakultas hukum yang sedang magang di kantor pengacara untuk dapat lisensi jadi pengacara sambil bangun kantor pengacara sendiri. Kami satu universitas dan satu angkatan, hanya beda jurusan, makanya kami sudah pacaran dari masih sama sama kuliah tingkat akhir. Ya udah sekitar mau 3 tahun gitu deh.
“Yang…ngomong dong, jangan diam aja kamunya. Aku jadi takut nih” rengeknya menjeda diamku.
“Udah tenang aja. Aku gak mungkin tinggalin kamu” jawabku.
“Beneran?” tanyanya.
Aku mengangguk membenarkan.
“Makasih Yang…Aku sayang banget sama kamu” jawabnya lalu memeluk tubuhku.
Aku balas dong, dan happy karena dia bersedia mendengar ceritaku.
“BTW, kamu ada uang gak yang bisa aku pinjam?. Kita kan udah bayar sewa ruko untuk kantorku nantinya tapikan masih kosong melompong. Belum ada furniturenya. Gak mungkinkan kantor gak ada meja kursi kantor gitu. Jadi aku niatnya mau sewa jasa interior design gitu. Tapi uangku gak cukup deh. Mahal ternyata Yang” katanya kemudian.
Aku menarik nafas kali ini. Belum lama baru aku kasih pinjem uang sekitar 100 juta untuk sewa ruko selama 2 tahun. Terus sekarang lagi gitu?.
“Ya bisa sih beli yang udah jadi, tapi kaya kurang bonafite deh. Namanya kantor pengacara, tetap yang di lihat eksklusif gaknya dari penampilan kantornya. Kamu tau sendiri kantor tempat aku magang, keren bangetkan?. Di SCBD pula, emangnya kantorku nanti, cuma ruko doang. Jadi aku pikir mesti pakai jasa interior design gitu biar keliatan mahal” katanya lagi.
Benar lagi…
“Tapi kalo kamu gak bisa bantu aku lagi, ya gak apa. Aku gak maksa kok” jedanya pada diamku.
“Butuh berapa duit sih?” tanyaku menyerah juga.
Baru aku lihat wajahnya yang perlahan tersenyum.
“100 juta lagi…” jawabnya sambil meringis menatapku.
“Okey” jawabku karena kayanya uang tabunganku masih ada segitu deh.
Uang papaku sih, yang sisanya selalu mengendap di rekeningku setelah aku pakai untuk biaya hidupku sehari hari. Papa kasih aku juga kartu kredit soalnya, jadi uang sakuku selalu ada sisanya dan kadang banyak kalo aku tidak belanja macam macam atau pergi liburan dengan teman temanku.
“Makasih sayang…aku janji bakalan aku kembalikan semua uang yang aku pinjam. Doakan aku sukses ya jadi pengacara terus lamar kamu jadi istri aku” katanya lagi lalu memelukku.
Aku mengangguk saja. Pikiranku sudah penuh dengan masalahku sendiri. Yang aku hadapi papa dan mamaku soalnya, dan permasalahku tidak segampang yang di pikir orang. Aku mesti menimbang, apa keputusanku akan di terima atau tidak oleh papa mamaku, kalo akhirnya menolak di jodohkan oleh lelaki itu.