Pertemuan Yang Tidak Disengaja
Axa Sebastian Cole dikenal sebagai seorang pria yang nyaris sempurna. Dia CEO di sebuah perusahaan Startup yang terkenal bahkan sampai keluar negeri. Dia juga putra sulung dari pemilik rumah sakit swasta Well Hospital.
Kesehariannya selalu berakhir di kantor. Ketika sudah merasa lelah dia akan pulang ke apartemennya. Seperti sekarang di dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Axa spontan menginjak rem saat seseorang berhenti di depan mobilnya.
“s**t!” umpat pria itu dengan panik hingga kepalanya nyaris menyentuh dashboard, beruntung ia memakai sabuk pengaman.
Kelopak matanya membelalak, tapi ia kembali lega saat melihat seorang gadis masih berdiri di depan mobilnya.
“Orang sinting!” rutuk Axa dengan ekspresi kesal sekaligus jengkel, lalu ia melepas seat belt dan bergegas turun untuk menghampiri gadis itu.
“Hei—”
“Om tolong saya!”
Axa terlonjak kaget, saat tiba-tiba gadis itu berlari ke arahnya bahkan sampai memeluk lengannya dengan erat.
“Hei apa-apaan kau ini! Lepas!”
“Om plis tolongin saya! Ada orang yang jahat yang mengejar saya Om!” ucap gadis itu dengan wajah memelas. Penampilannya terlihat lusuh dan mungkin juga kelelahan.
“Ha?”
Pandangan Axa mengitari tempat sekitar. Memang, jalanan itu dikenal cukup sepi dan kerap terjadi kejahatan. Tapi tidak menutup kemungkinan, jika gadis itu juga salah satu dari mereka.
“Awas! Dasar orang sinting!” sahut Axa dengan marah, lalu dia menghempaskan gadis itu.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja muncul dan hampir saja dia menabraknya. Pikiran Axa selalu realistis, zaman sekarang ada banyak orang yang menggunakan berbagai cara untuk menipu.
“Om, plis tolong saya—”
Pria itu memilih tidak peduli, dia meraih handle pintu mobil untuk segera pergi dari sana. Namun, tiba-tiba dia mendengar suara dari belakang.
Ia berbalik dan terkejut melihat gadis itu terjatuh tak sadarkan diri. Axa kembali panik, pandangannya mengitari sekitar dan semuanya masih terlihat sangat sepi.
“Hei! Kau pingsan atau hanya pura-pura?” tanyanya. Dalam hati Axa masih berpikir jika gadis itu adalah orang jahat.
Namun, melihat penampilannya yang berantakan tanpa alas kaki. Ia menjadi iba, apalagi ketika menyadari telapak kaki gadis itu terluka dan berdarah.
Seketika dia teringat akan Laura, adik kesayangannya dan mungkin mereka seumuran. Axa mencebikkan bibir dengan kesal, ia tidak punya pilihan lain.
Axa tiba di apartemennya. Dia menggendong gadis itu yang masih belum sadarkan diri. Walau di dalam hati, dia masih ragu apakah gadis itu orang baik atau malah orang jahat.
“Apa aku beritahu Haz saja?” gumamnya sambil menatap ke arah gadis yang masih belum sadarkan diri.
Pria itu mencebikkan bibir. Dia berdiri di bingkai pintu sambil bersandar ke salah satu sisinya, dengan kedua tangan bersedekap di depan d**a.
“Tapi kenapa aku malah membawanya ke sini?” tanyanya yang masih terlihat bingung akan sikapnya sendiri.
“Ah—anggap saja sebagai belas kasihan!” ucapnya lagi lalu pergi, meninggalkan gadis itu istirahat di kamar.
Setelah beberapa jam, Axa kembali ke kamar dan dia mendapati gadis itu sudah bangun bahkan duduk di pinggir kasur.
“Kau sudah bangun?” tanya Axa dengan ekspresi dingin dan flat.
Gadis itu menoleh ke belakang. Dan terkejut mendapati pria tampan memakai kaus tanpa lengan, sehingga otot tubuhnya tercetak jelas.
“Eeh—om? Om menolong saya?” tanya gadis itu dengan gugup.
Axa masih berdiri di ambang pintu. Terus memperhatikannya, entah kenapa dia merasa jika gadis itu mirip dengan seseorang yang dikenalnya.
“Kau sudah sadar, jadi silahkan keluar dari apartemen saya.”
“Ta—tapi Om, sebelum itu saya boleh minta makanan? Saya lapar,” cicit gadis itu dengan pelan sambil meremas perutnya sendiri.
Axa menghela napas kasar. Gadis itu benar-benar terlihat seperti orang kelaparan. Wajahnya pucat dan terlihat lesu.
“Ikut saya.”
Dengan langkah yang sudah lemas, gadis itu mengikuti Axa. Hingga akhirnya, di meja makan ia menikmati satu cup mie yang diseduh Axa.
Ia makan dengan lahap, benar-benar seperti orang kelaparan yang tidak makan selama 3 hari. Bahkan Axa sendiri sampai mengerutkan kening karena merasa risih.
“Pelan-pelan saja, tidak ada yang ingin merebutnya darimu.”
Gadis itu terdiam, lalu dia tersenyum kikuk mendengar teguran. Memang ia makan terlalu lahap, karena sudah benar-benar kelaparan.
“Iya Om, maaf….”
“Siapa namamu?” tanya Axa yang duduk di seberang gadis itu.
“Lyra.”
“Dimana rumahmu? Saya akan mengantarmu pulang.”
Dan sekarang rasa kasihannya semakin bertambah, karena melihat keadaan gadis itu. Dia seperti gelandangan, tapi kulitnya terlihat bersih jika dianggap sebagai homeless.
Tapi sayangnya gadis itu menggelengkan kepala. Dan itu menimbulkan kebingungan di kepala Axa.
“Saya dari luar kota Om. Waktu di bandara saya pesan taksi online, tapi saya dirampok dan diturunkan di pinggir jalan tol. Saya berjalan cukup jauh, sampai bertemu sebuah pondok kecil. Di sana ada orang, dan saya minta tolong. Tapi, mereka malah berniat melecehkan saya.”
Kening Axa mengerut. Dia mendengar ucapan gadis itu dengan serius, dan menyadari jika Lyra memang tidak berbohong.
“Lalu?”
“Saya berlari, memasuki hutan dan tembus ke jalan itu. Saya pikir mereka sudah berhenti, tapi mereka masih mengejar saya.”
Lyra menyeka air matanya yang jatuh. Dia benar-benar terlihat sangat sedih ketika menceritakan kejadian yang dialaminya.
“Jadi, kau benar-benar tidak tahu tujuanmu?”
Dia menggelengkan kepala sambil menunduk. Axa menarik napas pelan, dan pada akhirnya rasa kasihan itu meningkat lebih jauh lagi.
“Darimana asalmu?”
Lyra masih menunduk. Dia terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan itu, karena ia pun tidak tahu harus mengatakan apa.
“Saya dari Timur.”
“Timur? Jauh sekali,” cicit Axa dengan pelan. Tapi penampilan gadis itu tidak menunjukkan jika dia seperti orang Timur.
“Ya sudah, malam ini kau bisa istirahat di sini.”
“Serius Om?” tanya Lyra dengan tiba-tiba dan sungguh mengejutkan Axa.
“Ya!” jawab pria itu dengan cepat, lalu dia berdiri dan pergi menuju kamarnya, “di lemari ada pakaian perempuan. Pakai saja.”
Seketika wajah Lyra berubah menjadi sangat sumringah. Dia benar-benar lega karena malam ini bisa tidur di tempat nyaman, setelah semua barangnya hilang.
“Terima kasih Om!” ucap gadis itu, tapi Axa tampak tak peduli karena sudah masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Axa sudah menghilang di balik kamar, berbeda dengan Lyra yang masih menikmati makannya. Gadis itu benar-benar kelaparan, beruntung dia bertemu dengan Om yang baik hati.