Gadis Sewaan
"Kamu akan tahu jawabannya di sana!"
Pemuda yang cukup tampan itu berhenti di salah satu kamar hotel, dengan cepat Kevin menarik lengan Selina dan memasukkan gadis cantik itu ke sebuah kamar yang dipesan.
Brak!
Selina terlempar masuk ke dalam kamar dengan pencahayaan minim, hingga suara pintu dikunci membuat gadis itu sedikit panik. Selina segera menggedor pintu dari dalam secara berulang, suaranya memenuhi ruangan.
Brak, brak, brak!
"Tuan Kevin, buka pintunya! Saya gak dibayar buat menemani di kamar. Buka pintunya!"
Selina terus berupaya membuka kamar tersebut, hingga suara bariton seorang pria membuatnya tersentak kaget.
"Percuma!"
Selina membalikkan badan, bersandar pada pintu yang tertutup rapat. "An-Anda siapa?" tanyanya terbata.
Seorang pemuda terlihat duduk membelakanginya di ujung ruangan, Selina berusaha menajamkan padangan. Berharap bisa melihat sosok pria yang ada di depan jendela besar kamar hotel.
"Aku klienmu yang sebenarnya," ungkap pria itu bernada dingin.
"Kenapa Anda membawa saya ke kamar hotel? Saya gadis sewaan, bukan panggilan!" tegas Selina sedikit membentak.
Pemuda itu memutar kursinya dan menatap tajam Selina yang masih berdiri di depan pintu, jarak keduanya cukup jauh, sehingga mereka pun belum jelas wajah masing-masing.
Selina yang mulai ketakutan meremas ujung roknya. Pemuda berperawakan tinggi itu mulai beranjak dari duduknya. Suara sepatu yang semakin mendekat membuat Selina semakin takut.
"Ya Tuhan, apa ini p****************g yang dimaksud Tuan Kevin tadi?" batin Selina ketar ketir.
***
Tap, tap, tap!
Langkah kaki seorang gadis cantik mengenakan gaun midi dress dengan potongan a-line berwarna abu-abu muda, lapisan ruffle di bagian bawah rok membuatnya terlihat elegan dan menawan.
Gadis cantik itu bernama Selina, ia menghampiri sebuah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di depan kantor tempat ia bekerja. Pintu mobil dibuka perlahan oleh sang empunya, keduanya saling melempar pandang dengan senyuman ramah.
"Anda Tuan Kevin, kan?" tanya Selina sebelum memasuki mobil.
Pemuda berpenampilan kantoran berusia sekitar 30 tahunan itu mengangguk dan menjawab, "Ya ... saya yang order kamu di aplikasi Call Me Aja."
Setelah memastikan itu memang kliennya, tanpa ragu Selina duduk di sisi kemudi mobil, kali ini orang yang menyewa jasanya bisa dibilang kaya, karena ia menggunakan mobil limited edition berwarna hitam yang sangat mewah.
"Dalam aplikasi Anda meminta saya untuk menemani makan malam, apa Anda baru tinggal di kota ini?" tanya Selina yang mulai merasa penasaran, karena dari banyaknya pelanggan, ia merasa inilah yang paling kaya.
Pemuda itu mengangguk lemah seraya tersenyum tipis, ia pun langsung melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota menuju tujuan.
Sejenak suasana menjadi hening, Selina lebih sibuk mengamati beberapa fitur mobil canggih yang dinaiki. Sementara Kevin sibuk menyetir, hingga pemuda itu mulai membuka obrolan sehingga memecah keheningan yang tercipta. "Sudah lama bekerja sebagai gadis sewaan?"
"Lumayanlah. Sekitar dua tahunan," jawab Selina santai.
"Kenapa memilih profesi ini, gak takut ada orang jahat yang bakal mencelakaimu?" tanya Kevin.
"Kenapa mesti takut? keamanan kita dijamin perusahaan." Selina menjawab pertanyaan dengan tegas.
"Apa selama dua tahun bekerja, kamu gak pernah dipertemukan dengan p****************g?" tanya Kevin yang semakin penasaran.
"Alhamdulillah, belum nemu dan jangan sampai ketemu," sahut Selina tersenyum manis.
Kevin terkekeh mendengarnya, ia kemudian kembali bertanya, "Kamu gak malu jadi gadis sewaan?"
"Heh ... Tuan Kevin yang terhormat, asal Anda tahu ya, perusahaan kami bersih. Seleksinya ketat banget sebelum menjadikan klien untuk kami para pekerjanya. Kenapa musti malu, toh kami cuman jual jasa," cerocos Selina mulai kesal dengan sikap Kevin yang seolah meremehkan.
"Owh ya ... jual jasa, ya. Tapi aku sarankan berhati-hatilah!" ujar Kevin yang masih sibuk mengemudikan mobil.
"Itu sudah pasti," dengkus Selina. "Asal Tuan Kevin tau, klien kami semuanya kalangan Borjuis yang bermasalah dengan gaya hidup sosialnya. Benar-benar murni tentang pekerjaan jasa, bukan yang lain," lanjutnya menjelaskan.
"Pengalaman berkesan apa selama kamu bekerja sebagai gadis sewaan?" tanya Kevin yang semakin penasaran dengan kehidupan Selina.
"Owh, saya pernah disewa menjadi Princess Anna, adiknya Elsa Frozen untuk acara ulang tahun. Dan Tuan Kevin tahu? Anaknya seneng banget sampai aku gak boleh pulang dan disuruh nikah sama papanya tu anak," jelas Selina antusias disertai tertawa terbahak.
"Terus, kenapa gak mau?" lagi-lagi Kevin yang penasaran melontarkan pertanyaan.
"Ogah, aku kan dah punya pacar," sahut Selina enteng.
"Pacarmu gak keberatan kamu bekerja seperti ini?
"Lah, saya bekerja seperti ini juga buat biayain dia kuliah," ungkap Selina.
"Ada ya cowok gak punya harga diri seperti itu." Sindiran Kevin langsung membuat Selina bungkam.
Selina yang tersinggung memalingkan wajahnya, ia lebih memilih diam dan menikmati pemandangan dari balik jendela mobil. Suasana menjadi sangat hening tak ada obrolan sampai di tempat tujuan. Hingga mobil itu terparkir di sebuah hotel bintang lima ternama.
Keduanya turun dari mobil mewah dan memasuki lobby hotel mewah. Kevin melangkahkan kakinya cepat, Selina pun mengimbangi. Hingga keduanya mulai masuk dalam lift. Pemuda yang cukup tampan itu menekan tombol lantai 20.
"Bukannya restoran hotel ini ada di lantai 15?" tanya Selina yang merasa janggal.
"Kau sudah pernah ke sini sebelumnya?" kali ini suara Kevin terdengar dingin.
"Tentu saja, banyak klien saya yang sering mengajak makan malam di sini." Selina menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
"Kalau boleh jujur klien yang sebenarnya bukan aku," ungkap Kevin.
***
Ingatan Selina seketika membuyar mendengar suara seorang pria.
"Kenapa diam? Kau Selina 'kan? Gadis sewaan dari aplikasi Call Me Aja?"
Selina mengangguk perlahan, "Saya memang Selina, tetapi di aplikasi Tuan Kevin menyewa saya hanya untuk makan malam."
Arjuna tersenyum simpul. "Makan malam ... bulshit!"
"Lantas, Tuan mau apa pada saya?" sentak Selina kesal.
"Aku sudah membayarmu, dan aku bebas melakukan apa pun padamu!" ujar Arjuna bernada dingin.
Dengan senyuman tipis, pemuda itu mendekati Selina dan meraih dagunya erat.
"Kenapa? kau takut?"
Deg, deg, deg!
Jantung Selina berdegup kencang. Ia mulai memejamkan mata erat.
"Ya Allah, lindungilah aku. Aku gak mau pecah perawan malam ini, kesucianku hanya untuk suamiku." Bibir Selina komat-kamit, tetapi ucapan lirih itu mampu terdengar di telinga pria yang sudah ada di hadapannya.
Selina memberanikan diri membuka mata dan menatap sosok pria yang ada di hadapannya. Pemuda tampan berkulit putih dengan rambut lurus, hidung mancung dan rahang tegas.
"Alamak, cakep banget. Apa dia artis?" batin Selina terpana menatap ketampanan pria yang saat ini sangat dekat dengan wajahnya.
"Kenapa bengong?" tanya pemuda tampan itu bernada dingin.
"Jangan lengah Selina, dia ini pria hidung belang." Bisikan aneh mengisi telinga gadis cantik itu. Dengan sigap, ia mendorong tubuh tegap pemuda itu.
"Saya gadis sewaan, bukan gadis panggilan!" bentak Selina.
"Sewaan dan panggilan, apa bedanya?" tanya pemuda tampan bernama Arjuna.
"Aku gak dibayar untuk menemani di kamar!" sentak Selina kesal.