Bab 1. Jandaku Pergi Membawa Candu
"Apa yang kamu inginkan, Winona?" tanya Ragahdo dengan nada datar sambil meletakkan dua lembar dokumen di atas meja marmer di ruang tamu.
Cahaya dari lampu gantung yang keemasan jatuh di atas surat-surat itu, membuatnya tampak berkilauan — berkilauan seperti berlian bagi Ragahdo, tapi seperti pecahan beling bagi Winona. Itu adalah surat cerai. Di sana tertera nama Winona sebagai pihak yang mengajukan. Tentu saja itu ulah Ragahdo dan pengacaranya.
"Uang? Rumah ini? Apartemen? Mobil? Atau apapun itu, akan aku berikan untukmu."
Mata Ragahdo yang tajam menatap mata indah Winona, bukan tatapan benci, melainkan dengan tatapan khas ketidaksabaran seorang CEO yang ingin segera menyelesaikan laporan akhir tahun.
Ragahdo, pria yang sebentar lagi akan berubah status menjadi duda, adalah seorang CEO muda. Dia tampan dan kaya raya, tetapi hatinya sudah diisi penuh oleh nama wanita lain yang bukan istrinya.
Padahal, Winona telah hidup di bawah atap yang sama dengan Ragahdo selama satu tahun dan tahu bahwa dia hanyalah sebuah kesalahan, sebuah kewajiban yang harus dibayar pria itu karena insiden kecelakaan yang menimpa ayahnya. Sebuah penalti berdurasi 365 hari.
Winona menutup matanya sejenak. Rasa sakit yang selama ini dia pendam mencengkeram lebih erat kali ini. Ingin rasanya dia berteriak, "Aku ingin hatimu!" Tapi jelas saja wanita itu tahu, jika permintaan itu adalah kemustahilan.
Jadi, dia memutuskan untuk meminta sesuatu yang mungkin bisa Ragahdo berikan. Tapi, sesuatu yang dia inginkan itu tidak bisa dibeli dengan uang. Dia berharap, sesuatu itu bisa mengobati sedikit luka hatinya.
Winona akhirnya membuka mata dan senyum tipis dan dingin, terukir di bibirnya. "Saya meminta ...." Dia membiarkan jeda itu memanjang, menikmati saat-saat terakhir di mana dia masih bisa menarik perhatian Ragahdo sepenuhnya. "Tubuh Anda."
Ragahdo terdiam beberapa detik, keningnya berkerut dalam, alisnya yang tebal terangkat. "Apa maksudmu, Winona?" tanyanya pada akhirnya.
"Saya ... saya ingin tidur dengan Anda."
Sebuah dengusan kasar lolos dari bibir Ragahdo. Dia menyandarkan punggung ke sofa. "Kamu pasti bercanda, kan? Bisa-bisanya kamu bercanda di saat seperti ini!"
Pria itu menatap jam mewah di pergelangan tangannya, seolah dia punya janji penting yang lebih berharga daripada percakapan bersama istrinya.
"Saya tidak sedang bercanda, Pak. Saya ... saya tidak mau memiliki status janda, tapi saya masih ... masih perawan." Winona memejamkan mata lagi, mengambil napas panjang, lalu menatap mata Ragahdo dengan tatapan yang memohon. "Semalam saja. Saya mohon semalam saja ... sentuh saya untuk pertama dan terakhir kalinya!"
Ragahdo tercekat, permintaan itu menghantamnya seperti ombak yang tak terduga. Dia memang menikahi Winona, tapi dia tak pernah menyentuhnya. Dia jarang pulang, dan ketika dia pulang, dia memilih tidur di kamar tamu. Perjanjian kontrak itu murni status.
Ragahdo bahkan tak pernah benar-benar menatap wajah cantik Winona.
"Kamu serius? Bukannya justru bagus kalau kamu masih perawan?" tanya Ragahdo, suaranya sedikit serak.
Bagi pria itu, keperawanan di tengah perceraian ini tentulah terdengar seperti tiket emas menuju kehidupan baru.
Winona tersenyum, senyum yang mematikan dan menyimpan ribuan kepedihan. "Bagus untuk saya, tapi tidak bagus untuk Anda, Pak."
"Maksudmu?"
"Jika saya menikah lagi dengan orang lain, orang yang menjadi suami saya tentu akan bertanya kepada saya tentang, mengapa saya masih perawan? Lalu dia pasti mengira Anda, nama yang tertulis di surat cerai saya memiliki penyakit seksual, atau bisa saja mengira impoten, dan yang lebih memalukan lagi, dia bisa saja mengira Anda gay."
Ragahdo terperangah. Alasan itu memang konyol, tapi di dunia sosialita dan bisnis yang dia geluti, rumor itu jelas bisa menjadi racun mematikan. Reputasi bagi seorang CEO adalah segalanya.
Ragahdo memang tidak pernah peduli dengan Winona, tapi dia sangat peduli dengan citranya sebagai pria yang sempurna di mata publik, di mata klien, dan terutama, di mata kekasihnya.
"Ya, ucapan Winona benar," batin Ragahdo sambil mengangguk.
Ragahdo menghela napas panjang dan akhirnya dia berkata, "Baiklah ... malam ini ayo kita lakukan! Setelah itu, berpura-puralah jika kita tidak mengenal!"
"Baik, Pak." Winona berdiri, mengabaikan debar jantungnya yang sudah berpacu gila-gilaan.
Ini adalah kesempatan terakhir bagi Winona, kepingan memori terakhir yang pastinya akan dia bawa sampai ke liang lahat. "Ayo kita ke kamar utama, Pak!"
Ragahdo bangkit, auranya yang dingin mengikuti Winona menaiki tangga menuju kamar utama yang sudah menjadi saksi bisu kesunyian pernikahan suci mereka selama satu tahun berlangsung.
Di dalam kamar yang temaram, hanya diterangi cahaya bulan yang mengintip dari tirai tipis, ketegangan terasa begitu pekat hingga nyaris mencekik.
Ragahdo membuka kemejanya dengan gerakan cepat dan efisien, seperti melepaskan pakaian yang dia benci. Pria itu melakukannya tanpa gairah, hanya menjalankan tugasnya saja.
Winona menatap punggung kekar pria itu. Kini, dia tidak melihat Ragahdo, sebagai seorang CEO sukses. Tapi kini, perempuan yang sudah menikah tapi masih berstatus gadis itu sedang melihat sosok cinta pertamanya yang dia cintai dengan sepenuh hati.
Ragahdo berbalik, tubuh polosnya tampak sempurna, dan Winona refleks menahan napas. Ini adalah kali pertama dia melihat tubuh seorang pria. Wanita itu maju perlahan, dengan langkah yang membawa segala kerinduan, segala malam tanpa tangis, dan segala harapan yang dia kubur dalam-dalam.
Ketika Ragahdo menarik tubuhnya, sentuhan di kulit Winona terasa seperti sengatan listrik.
Ragahdo mencium Winona. Tapi, ciuman itu adalah sebuah perintah, bukan sebuah permohonan. Tidak ada kelembutan di sana, hanya ada penaklukan.
Sementara Winona membalas dengan segenap cinta yang dia miliki. Bibir wanita itu terasa seperti tanah kering yang baru saja menemukan setetes air dingin. Dia menyesap, dia merangkul, dia berusaha menenggelamkan diri dalam aroma maskulin yang sebelumnya hanya dia hirup dari kejauhan.
Lalu, mereka roboh di atas ranjang.
Ragahdo bergerak dengan cepat, sangat mahir, tapi tanpa jiwa. Dia fokus mencari pelepasan, mencari akhir dari kewajibannya memberikan nafkah batin sebagai suami.
Dan, di dalam kungkungan Ragahdo, Winona merasa bahagia. Meski dia merasakan sakit tapi dia juga merasa puas, karena akhirnya bisa merasakan keindahan dunia pernikahan yang selama ini dia impikan.
Ragahdo mencumbu Winona, tapi matanya kosong, pikirannya melayang jauh pada sosok wanita yang sangat pria itu cintai.
Winona memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir di pelipisnya, lalu lenyap di bantal. Dia menggenggam punggung Ragahdo, mencengkeramnya, berusaha menyerap kehangatan yang tak akan pernah menjadi miliknya lagi setelah malam ini. "Tolong, ingatlah aku! Biarkan jejakku sedikit saja tertinggal di ingatanmu!" jeritnya dalam hati.
"Ragahdo ...," bisik Winona, nama pria itu terdengar seperti doa terakhir.
Wanita itu berharap sang suami akan membalas menyebut namanya, tapi ... yang dia dengar hanyalah erangan berat dari Ragahdo, suara yang menunjukkan pelepasan, bukan kasih sayang. Lalu disusul gerakan yang semakin cepat, semakin terburu-buru, seolah ingin segera mencuci tangan dari segala hal yang berhubungan dengan istri sahnya.
Winona hanya bisa pasrah, merasakan, dan membiarkan sensasi itu menjadi penanda yang menyakitkan. "Inilah saat di mana aku sepenuhnya milikmu, dan saat di mana aku kehilanganmu selamanya."
Klimaks itu datang dan pergi, cepat, tanpa kata, tanpa tatapan mata.
Ragahdo terengah, menjatuhkan diri di samping Winona, memunggungi wanita yang sebentar lagi akan berganti status dari istri sah menjadi jandanya.
Keheningan kembali mengambil alih.
Keheningan yang membawa aroma asing, aroma gairah tanpa ikatan.
Winona membuka mata, dia menatap punggung kekar Ragahdo dan berbisik, "Cerita cinta kita telah usai, suamiku. Terimakasih untuk malam ini."
Kini, Winona telah mendapatkan sebuah memori indah satu malam, sebuah pemenuhan kontrak fisik. Dia sudah resmi menjadi wanita dewasa, tapi ternyata, hatinya saat ini malah terasa seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan kesayangannya.