Permulaan
Kota bawah tanah. Tampak desainnya menyerupai desain kota koloni semut, berbentuk spiral dengan rongga tak beraturan tempat para penghuninya.
Tepat berada di bawah EHV Transmission Tower. Sebuah bungker besar menghujam jauh hingga ratusan kilo meter kedalamannya.
Arsitekturnya berkesan jauh dari kesan modern, tetapi tetap presisi dan layak huni.
Dindingnya terbuat dari beberapa lapis. Lapisan pertama terisi baja kuat, lapisan berikutnya tanah yang berlapis dengan serabut kayu.
Disana hanya ada dua pintu utama. Pintu sirkulasi udara dan pintu keluar-masuk. Sirkulasi udara disana juga sudah sangat memadai.
Seluruh ruangan terisi oleh anggota keluarga yang berhasil selamat. Diantara tempat itu, terdapat ruang persenjataan.
Sebagaian besar penghuninya di penuhi oleh lelaki dewasa dengan penampilan army. Namun sama sekali jauh dari kesan militer, tanpa atribut militer, sebagaimana yang pernah tergambar di masa lalu.
Tidaklah berpakaian loreng, juga tidak memakai sepatu boots. Melainkan mengenakan pelindung badan yang menutup hampir keseluruhan badannya. Baju perang yang hanya menyisakan celah pada penglihatannya saja. Keseluruhan bahan dasar dari pelindung itu di d******i kayu. Begitu pula dengan penutup kepala yang digunakannya menggunakan berbahan dasar kayu Eusideroxylon zwageri yang kuat dan kokoh.
Pelindung badan yang mampu menangkal zat kimia, serta peredam laser bertekhnologi mutakhir.
Hari itu terlihat pemandangan para pasukan yang sudah berantakan, pasca peperangan besar.
Dari sikap siaga para prajurit perang mengantisipasi serangan mannerX, banyak terdengar raungan suara kesakitan.
Serta nampak petugas medis yang lalu lalang membawa obat- obatan.
Diantara beberapa ruangan yang terisi. Terdapat ruangan kecil, berukuran 4x6 meter persegi, lengkap dengan anyaman dedaunan kering sebagai tempat tidur sang pemilik ruangan.
Di tempat itu duduk seorang lelaki gagah dengan gadis cilik yang terlihat sedang mengamati coretan pada dinding yang terbuat dari tanah liat yang mengeras.
"Itu gambar apa, Papah? Kenapa aku tidak pernah melihat sebelumnya!"
Berkata seorang gadis mungil yang menginjak usia enam tahun.
Dari jemarinya yang lentik, dia elus tiap goresan kapur putih yang melekat di dinding baja perak berwarna karat usang.
"Ini adalah lautan, nah kalau ini adalah ikan lumba-lumba, nak. Dahulu negeri ini tidaklah seperti sekarang ini. Tempat tinggal kita berdekatan dengan lautan. Itu, disana kamu bisa menemukan bintang laut, kerang mutiara, dan bermain di atas pasir halus sehalus kapas." Ucap sang Papah dengan lembut.
Belum lagi selesai menguraikan tiap perkataannya, tiba-tiba terdengar bunyi dentuman yang teramat keras. Spontan sang gadis memeluk erat tubuh papah.
Sirine panggilan siaga itu meraung- raung dengan lantang. Berulangkali tak berhenti sedikit pun.
Lelaki setengah baya itu mengusap dahi gadis ciliknya penuh sayang.
"Tidurlah Nak.. Papah harus menjalankan tugas. Kita aman berada disini."
Diciumnya kening gadis itu penuh cinta sambil bergegas menuju ke arah sumber suara sirene yang memanggil.
"Pah!" Sang papah perlahan hilang dari pandangannya. Membawa berjuta misteri lewat tatapan terahkirnya.
Di permukaan seorang ilmuwan yang bernama Rajendra, berambisi menjadi penguasa tunggal alam semesta, dan berhasil mengambil alih sistem pemerintahan pusat.
Berkat kecerdasannya serta bantuan dari pendukungnya, Rajendra berkuasa penuh atas jalannya kebijakan serta alokasi anggaran pemerintahan.
Di masa kepemimpinan yang sudah berjalan selama lima dekade, Rajendra berhasil membuat dom magnet serta pasukan minnerX lapis baja. Sebuah tank robot bertekhnologi modern.
Rajendra juga banyak menciptakan penemuan, diantaranya adalah cleniX. Manusia setengah zombie yang tercipta dari mutasi virus.
Tak berhenti sampai disana, Rajendra memutus seluruh akses dengan negara lain. Arus komunikasi dunia luar dikendalikan sepenuhnya.
Tak ada yang berhasil keluar, dan juga tidak ada yang berhasil merebut kekuasaannya.
Sayangnya hari itu pemandangan di langit DOM ciptaannya menggangu ketenangannya.
Dari celah teropong yang mengarah ke atas langit, dia melihat ada ratusan roket yang bertubi-tubi meledakkan pertahanan.
Semakin lama semakin dia menempelkan penglihatannya ke teropong itu. Rasa cemas memenuhi pikirannya.