Awal Mula Segalanya
Bau mesiu masih menghantui indera penciumanku. Pecahan kaca dan selongsong peluru berserakan di lantai.
Pagi hari yang seharusnya sunyi dan damai namun itu hanyalah angan angan ku saja.
Tiga hari sudah kulewati pernikahanku dengannya, pernikahan yang sama sekali tidak kuinginkan dengan seseorang yang dijuluki iblis di dunia bawah.
“Mau sampai kapan kau di sana?”
“Apa kau sudah bosan hidup?”
Kalimat dingin itu keluar dari suamiku, yang duduk bersandar di dinding dekat pintu.
Rentetan peluru satu per satu menembus rumah dari jendela yang telah pecah. Suaranya membangkitkan ingatan masa kecilku, saat aku terpaksa diungsikan ke rumah paman dan bibiku.
Aku hanya bisa terduduk diam di lantai, tepat di samping sofa. Mataku tertuju pada lengan kanan suamiku yang berdarah.
“Kau mau pergi ke lantai dua, atau ingin mati di sini? Pilihlah.”
Ucapannya terdengar dingin.
“Le-lenganmu berdarah,” kataku.
“A-apa kau tidak ingin pergi bersamaku?”
ucapku yang khawatir akan keadaannya.
“Pergi? Apa kau buta?”
“Jika aku pergi bersamamu, untuk apa Uzi di tanganku ini?”
“Kau pikir hanya untuk hiasan?”
“Pergilah. Aku yang akan mengurus mereka.”
Aku hanya terdiam mendengar ucapannya yang semakin dingin.
Aku perlahan merangkak menuju anak tangga dengan tangan yang gemetar hebat.
Perlahan aku menaiki anak tangga satu demi satu, sembari mendengar suara rentetan tembakan dan erangan kesakitan dari luar rumah yang membuat tanganku gemetar semakin hebat.
Setibanya di lantai dua, aku mencoba berdiri namun gemetar di kakiku membuatku kesulitan berjalan menuju kamar.
Suara rentetan peluru dan teriakan orang-orang di luar menyertai setiap langkahku yang berat, membuat jantungku berdegup semakin kencang.
Aku melangkah perlahan menuju pintu kamar, bersandar pada dinding untuk menahan tubuhku yang gemetar hebat.
Tangan ini juga tak kalah gemetar saat kugenggam gagang pintu. Setelah membukanya, aku segera terjatuh duduk di samping kasur.diriku mencoba mengatur napas untuk menghilangkan gemetar di seluruh tubuhku.
Suara keramaian dari ruang tamu terdengar sampai ke kamarku, bergema di setiap sudut.
Langkah kaki dari tangga membuat tubuhku bergetar hebat. Napasku tersengal, tapi percuma—setiap detik langkah itu semakin dekat, semakin menekan.
"Apa ini akhir hidupku?" pikirku, jantungku berdetak seperti ingin lepas dari d**a.
Suara datar terdengar dari depan pintu kamar:
“Eveline Montclair."
"Apa kau bersembunyi di dalam kamar?”
Aku mengenali suaranya.
"Dominic…?" pikirku, gemetar di antara takut dan penasaran.
Pintu terbuka perlahan, dan sosoknya muncul dengan wajah dingin yang membuat udara seakan membeku.
“Kenapa kau hanya diam saja saat aku memanggil namamu?” tanyanya, nada datar tapi memerintah.
Aku tetap terdiam, menatap wajahnya yang dingin, lalu secara refleks menoleh ke lengan kanannya yang terluka.
“Kenapa kau menatap lengan ku seperti itu?” ucap Dominic dengan nada dingin.
Aku kembali menatap wajahnya, gugup.
“A-aku akan menelpon ambulans… agar le-lenganmu—”
Tatapan tajamnya kini menahan kata-kataku.
“Tidak perlu.”
Dominic keluar dari kamar, meninggalkan pintu terbuka.
Aku mencoba berdiri untuk menghampirinya, tapi tepat di ambang pintu aku terdiam. Tangan kanannya terpampang di depan Dominic, dan pemandangan itu membuatku terhenti seketika.
“Mereka sudah membereskan mayat-mayat yang berserakan di luar.”
“Apa kau ingin membalas serangan ini?”
“Aku akan mengumpulkan seluruh anggota.”
Aku hanya bisa terdiam, menelan setiap kata yang keluar dari mulut tangan kanan Dominic.
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi?" tanyaku dalam hati.
Aku hanya terdiam, menunggu apa yang akan dikatakan Dominic selanjutnya.
“Mata dibalas mata. Itulah prinsip yang kupegang.”
Tangan kanan Dominic menatap Dominic dengan tajam.
“Aku akan membereskannya seperti biasa.”
Mendengar semua itu, aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Yang bisa kulakukan hanyalah mencoba menenangkan gemetar di tubuhku.
Tangan kanan Dominic tiba-tiba menoleh ke arahku, lalu membungkuk sedikit sebagai bentuk hormat.
“Maaf aku datang terlambat, Nona Montclair.”
“Anda pasti ketakutan dengan situasi yang terjadi tadi.”
“Namun tenang saja…"
"Aku sudah membalas perbuatan mereka padamu.”
Aku hanya diam terpaku, berpikir, bagaimana mungkin seseorang yang sudah mengambil nyawa orang lain bisa menatap dengan ekspresi datar, seakan tak tersisa rasa bersalah.
Ekspresi tangan kanan Dominic berubah menjadi bingung.
“Kenapa Anda hanya diam saja, Nona?”
"Ahhh."
“Maaf,aku lupa memperkenalkan diriku.”
“Aku—”
Aku membuka mulutku.
“Aku tahu siapa kamu.”
“Cy… Cyrion.”
“Cyrion Veyl.”
"Siapa yang tidak mengenal nama itu di dunia bawah."
“Tangan kanan ayahku memberi tahuku untuk berhati-hati denganmu.”
Wajah Cyrion kembali datar.
“Jadi Anda sudah mengenal diriku, ya.”
“Sebuah kehormatan bagiku.”
Cyrion membungkuk sedikit, menaruh tangan kanannya di d**a.
“Tangan kanan ayahmu?”, ucap Dominic dengan tatapan mengarah padaku.
Dominic mencoba mengingat siapa yang kumaksud, lalu menoleh ke arah Cyrion.
“Ah… aku ingat. Yang pernah berkonflik denganmu setahun yang lalu, bukan?”
Cyrion menoleh ke Dominic.
“Ya.”
“Pertemuan pertamaku dengannya memang tidak menyenangkan,”
“Jadi wajar saja jika dia berkata seperti itu pada Nona Montclair.”
Aku menelan ludahku.
“Me-memangnya apa yang terjadi di masa lalu mu dengannya?” tanyaku, sedikit gemetar.
Cyrion menoleh ke arahku.
“Anda tidak diberi tahu olehnya?”
Keringat mengucur di dahiku.
“Aku ha-hanya diberi tahu kalau kau orang yang sadis dan kejam.”
Cyrion memejamkan matanya sebentar, lalu tersenyum tipis.
“Tangan kanan ayahmu hanyalah seorang pengecut yang lari dari tanggung jawabnya.”
Ekspresiku berubah bingung.
“Lari?”
Cyrion menatap tajam ke arahku.
“Ya."
"Jika dia tidak lari dari tanggung jawabnya, maka ayahmu takkan mungkin menawarkan putrinya—”
Dominic menatap tajam ke Cyrion.
“Bukankah kau kuperintahkan untuk mengurus hal lain?”
Cyrion terdiam, lalu mengangguk sebelum pergi.
Aku tetap terpaku, bingung dengan apa yang barusan terjadi. Kenapa Dominic memotong apa yang ingin dikatakan Cyrion?
Saat aku masih kebingungan dengan apa yang terjadi, Dominic berbicara padaku dengan nada dingin.
“Apa kau mau terus berpenampilan berantakan seperti itu?”
“Lebih baik kau pergi membersihkan diri, selagi aku pergi mengurus hal lain.”
Aku terkejut mendengar ucapannya.
“Kau ingin pergi dengan luka seperti itu?” tanyaku seraya menatap lengannya yang terkena tembakan.
Dominic menatap lengannya yang terluka.
“Aku akan pergi mengobati luka ini, setelah itu aku akan pergi mengurus hal lain,” jawab Dominic datar.
Dominic pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Aku hanya bisa menatap sosoknya yang menjauh dari belakang.
diriku kembali ke kamar, aku menatap diriku sendiri yang sangat berantakan di cermin seraya mencoba mencerna semua yang terjadi hari ini.