LAN 1 - Runtuh
“Ahh, tolong aku,” bisik gadis bernama Lyo itu.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya pria itu.
“Tolong. Aku menginginkanmu! Aku butuh kamu,” ujar Lyo masih mengelus dadanya dan membuka satu persatu kancing kemejanya.
“Kamu jangan menyesali ini esok lagi,” kata pria itu lalu mencium bibir Lyo dengan rakus, seolah ia sudah tidak makan berhari-hari.
“Ahh, ouhhh, enak,” desah Lyo penuh dengan gairah perawan.
“Kamu suka?” bisik pria itu.
“Aku suka banget,” ujar Lyo dengan nada serak.
Lyo dan pria yang tak ia kenali itu menjadikan malam itu menjadi malam yang panas, pria itu meremas dua gundukan Lyo dan mencicipinya seolah itu adalah lelehan mayones kesukaannya.
Pria itu menjilat, meremas dan mengisap.
Pria itu menikmatinya, memainkan lembah di bawah sana, lembah kenikmatan yang sudah siap ia masuki seolah dunia akan menjadi indah esok pagi.
“Terus lanjutkan, ahhh, enak,” desah Lyo mengalungkan dua tangannya ke leher pria itu.
Lyo tanpa sadar memberikan tubuhnya pada pria lain yang bukan kekasihnya.
Tubuh dan perawannya direnggut tanpa paksa dengan ia sendiri yang menawarkan diri.
Pria itu seolah sedang kelaparan, menikmati setiap jengkal tubuh Lyo.
***
Flashback ON.
Malam di desa itu biasanya sunyi.
Hanya suara jangkrik yang bersahutan, angin yang menyelinap di antara dedaunan, dan lampu-lampu rumah yang redup seolah ikut beristirahat setelah hari yang panjang.
Tapi malam ini terasa berbeda bagi Lyodra, gadis yang biasa dipanggil Lyo.
Ada sesuatu yang mengganjal.
Lyo berdiri di depan cermin kecil di kamarnya, menatap bayangan dirinya sendiri dengan ragu.
Gaun sederhana berwarna krem yang ia kenakan terasa asing. Terlalu cantik untuk sekedar menemani seorang teman yang sedang patah hati.
“Kenapa aku harus pakai ini sih,” gumamnya pelan.
Tangannya merapikan ujung rambut panjangnya yang tergerai.
Wajahnya memang cantik, bukan cantik yang mencolok, tapi lembut, menenangkan.
Jenis kecantikan yang membuat orang ingin melihat lebih lama tanpa sadar.
Ponselnya bergetar.
Mala calling…
Lyo langsung mengangkat.
‘Lyo, lo udah siap belum?’ suara Mala terdengar sedikit tergesa, tapi juga anehnya, terlalu ceria untuk seseorang yang katanya baru putus cinta.
‘Udah sih, tapi gue masih bingung, Mal. Kita beneran ke bar? Malam-malam begini?’
‘Ya iyalah! Gue butuh hiburan, Lyo. Gue lagi hancur banget, lo tahu itu, kan?’ Nada suara Mala berubah, seolah menahan tangis.
Lyod langsung merasa bersalah.
‘Iya… iya, gue tahu. Gue temenin lo, kok. Gue cuma—’
‘Udah, jangan banyak mikir. Gue jemput sekarang ya.’
Telepon terputus sebelum Lyodra sempat menjawab.
Lion menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu menghela napas panjang.
Mala adalah sahabatnya atau setidaknya, itulah yang selalu ia yakini.
Sejak kecil, mereka selalu bersama. Tertawa bersama, menangis bersama, berbagi cerita, bahkan berbagi mimpi.
Lyodra tidak pernah sekalipun meragukan Mala.
Sampai malam ini, perasaan aneh itu muncul. Tapi ia mengabaikannya.
Karena bagi Lyodra, mempercayai Mala adalah hal yang sudah menjadi kebiasaan.
Tak butuh waktu lama, mobil hitam milik Mala berhenti tepat di depan rumah.
Lyodra keluar dengan langkah ragu, memeluk tas kecilnya.
Saat pintu mobil terbuka, ia langsung melihat Mala, berdandan jauh lebih mencolok dari biasanya.
Bibir merah, riasan tebal, dan gaun hitam yang membentuk tubuhnya dengan sempurna.
“Cantik banget lo, Lyo,” kata Mala sambil tersenyum.
Lyodra tersenyum kecil. “Lo juga.”
Mala menatapnya beberapa detik lebih lama. Senyumnya masih ada, tapi matanya dingin.
“Naik.”
Sepanjang perjalanan, suasana terasa aneh.
Biasanya, Mala akan bercerita panjang lebar tentang apa saja.
Tapi kali ini, ia lebih banyak diam. Sesekali memainkan ponselnya, sesekali tersenyum sendiri.
Lyodra mencoba memulai percakapan.
“Jadi, lo sama dia beneran putus?”
“Hmm.”
“Kenapa?”
“Udah nggak cocok aja,” jawabnya singkat.
Lyo menatap ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai terlihat, semakin ramai, semakin terang.
Jauh berbeda dari ketenangan desa yang ia tinggalkan.
Perasaan tidak nyaman itu kembali muncul. Namun lagi-lagi, ia menelannya.
Bar itu jauh lebih ramai dari yang ia bayangkan.
Lampu berwarna-warni berkelap-kelip, musik berdentum keras, orang-orang tertawa, menari, dan minum tanpa beban.
Dunia yang terasa sangat asing bagi Lyo. Ia melangkah ragu di belakang Mala.
“Mal, gue nggak yakin deh,” bisiknya.
Mala meraih tangannya dan menariknya masuk. “Santai aja, Lyo. Lo kan sama gue.”
Kalimat itu seharusnya menenangkan. Tapi entah kenapa, justru membuat Lyo semakin gelisah.
Mereka duduk di sebuah meja di sudut ruangan.
Tidak terlalu ramai, tapi cukup strategis untuk melihat ke sekitar.
Mala langsung memanggil pelayan.
“Dua minuman ya,” katanya tanpa bertanya pada Lyo.
“Gue yang ringan aja, Mal,” ujar Lyo pelan.
Mala tersenyum. “Tenang, gue tahu.”
Beberapa menit kemudian, dua gelas minuman datang.
Salah satunya didorong ke arah Lyo.
“Minum dulu. Biar lo rileks.”
Lyo menatap gelas itu.
Cairan berwarna cantik, dengan aroma yang tidak terlalu kuat.
Lyo ragu sejenak, tapi melihat Mala yang sudah lebih dulu meneguk minumannya, ia akhirnya ikut mengangkat gelas itu.
Satu tegukan kecil, rasanya hangat.
“Gimana?” tanya Mala.
“Lumayan.”
“Bagus. Minum lagi.”
Lyo menurut.
Mereka mulai berbincang, meski pembicaraan terasa dipaksakan.
Mala lebih banyak mengarahkan, sementara Lyo hanya mengikuti.
Gelasnya perlahan kosong dan tak lama kemudian, sesuatu mulai terasa aneh.
Kepalanya sedikit pusing. Pandangan mulai kabur.
Suara musik terasa semakin jauh, meski sebenarnya semakin keras.
“Mal, gue kok pusing,” suaranya pelan.
Mala menatapnya dan untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya berubah.
Bukan lagi senyum hangat seorang sahabat. Tapi sesuatu yang lain.
“Capek ya?” katanya pelan.
Lyo mengangguk lemah.
“Iya. Gue kayak nggak enak badan.”
“Tenang aja,” bisik Mala, mendekat. “Sebentar lagi lo juga nggak akan ngerasain apa-apa.”
Lyo mengernyit.
“Apa maksud—”
Kalimatnya terputus dan dunia seolah berputar. Tubuhnya terasa berat, ia mencoba berdiri, tapi kakinya goyah.
“Mala, gue mau pulang.”
Mala berdiri, memegang bahunya.
“Tentu, Lyo. Kita pulang.”
Tapi arah langkah mereka, bukan ke pintu keluar.
Di sudut lain kota, seseorang menatap layar ponselnya.
Sebuah pesan masuk.
[Mala: Datang ke sini kalau kamu mau lihat siapa Lyodra sebenarnya.]
Danial mengernyit. Awalnya ia ingin mengabaikan.
Tapi ada sesuatu dalam pesan itu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Beberapa detik kemudian, ia meraih kunci mobilnya.
Sementara itu, Lyo hampir kehilangan kesadaran sepenuhnya, ia tidak tahu ke mana ia dibawa, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Yang ia tahu hanya satu, tangan Mala masih memegangnya dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pegangan itu tidak terasa aman.
Flashback OFF.