Perkenalan
—2018
Teng … teng … teng …
Bunyi lonceng pertanda istirahat pertama di SMA Budi Bangsa menggema ke seluruh penjuru sekolahan. Siswa-siswi mulai berhamburan keluar kelas, ada yang berlari menuju kantin, ada yang pergi ke perpustakaan, ada juga yang mencari tempat duduk di taman sekolahan untuk sekedar duduk dan makan bekalnya. Seperti yang dilakukan Rayne, siswi yg duduk di kelas 2A yang terkenal pintar itu, berlari kecil dari ruang kelasnya menuju taman samping kelasnya. Matanya mulai mencari dimana tempat duduk yang kosong di bawah pohon yang rindang. Setelah dia duduk, dia mengeluarkan tempat bekalnya. Bau mi goreng menyeruak pelan di taman itu bersamaan dengan angin sepoi-sepoi.
“Mi goreng lagi?”
Seorang laki-laki bertanya dari arah samping Rayne duduk, sambil setengah berteriak.
“Nih, gue bawain s**u coklat kesukaan lo,” laki-laki hidung mancung dengan kulit bersih itu memberikan sebuah s**u kotak pada Rayne.
Rayne menoleh dengan alis berkerut, “Siapa laki-laki ini?” Dia bertanya dalam hati.
“M-maaf, kamu siapa? Apa kita kenal sebelumnya?” Rayne bertanya dengan nada bergetar. Tak seperti laki-laki itu yang bisa berbicara santai, padahal mereka tak mengenal satu sama lain.
Laki-laki itu tersenyum kikuk, sambil menggaruk kepalanya dengan tangan kirinya, “Gue Chan Maureen, kelas 3B,” Chan mengulurkan tangannya, “Salam kenal.”
Sedangkan Rayne, masih terpaku. Dia tak membalas uluran tangan Chan. Dia terkejut dengan laki-laki ini. Baru kali ini dia diajak kenalan dengan laki-laki dengan cara seperti ini.
Melihat Rayne tidak meresponnya, dia meletakkan s**u kotak itu di depan Rayne dan duduk di sebelahnya, “Pasti lo terkejut, kan?” Tanya nya sambil tertawa kecil, mata sepetnya semakin sepet saat itu.
Rayne berdeham.
“Santai. Makan bekal lo seperti biasa,” Chan menyilangkan kakinya dan bersadar pada kursi, sesekali menghisap vape ditangannya.
“Gue selalu perhatiin lo akhir-akhir ini. Lo yang selalu bawa bekal, makan di taman ini, baca buku setiap istirahat terakhir di perpustakaan, dan lo yang selalu minum s**u coklat setiap selesai makan siang. Menurut gue, lo unik. Introvert gitu. Gue suka,” Chan bermonolog sendiri.
Rayne menoleh gugup, “Orang ini gila atau bagaimana?” Fikirnya.
“Maaf, aku harus pergi sekarang,” pamit Rayne pelan sambil mengemas tempat bekalnya.
Dia mulai beranjak dari taman itu.
“Eh, tunggu, ini bawa!” Chan melemparkan s**u coklat kotak sesaat setelah Rayne menoleh ke arahnya.
Hap …
Untungnya Rayne sigap menangkap kotak s**u itu. Kalau tidak, mungkin kotak itu sudah terkena wajahnya.
Rayne tersenyum kikuk, sebelum dia akhirnya melangkah pergi dari taman itu.
——
—2022
“Sayang, are you okay?” Suara berat laki-laki mengagetkan Rayne.
“Eh, astaga, Chan! Kebiasaan deh,” sentak Rayne. Gelas kopi yang tengah dia aduk-aduk hampir tumpah karena Chan mengagetkannya.
“Kamu ngelamunin apa? Awas lo ada yang lewat,” celetuk Chan sambil mengambil duduk di depan Rayne.
Rupanya, Rayne melamun memikirkan ke-absurd-an Chan— yang kini jadi pacarnya, dulu, awal-awal mereka kenalan.
Rayne tersenyum tulus, “Gak apa-apa, cuma ingat kamu dulu, waktu pertama kali nyapa aku itu,” jawabnya.
“Btw, papa kamu telpon kenapa?” sambung Rayne.
Tadi, Chan pergi sebentar untuk mengangkat telpon papanya, yang membuat Rayne melamun itu.
Chan menghela nafasnya, “Papa udah mulai serius sama pacarnya. Aku gak bisa larang papa lagi. Aku fikir lagi, kasihan papa juga, dia masih butuh istri.”
Rayne terdiam mendengar jawaban Chan. Mamanya Chan sudah berpulang 5 tahun yang lalu, sama dengan Rayne yang sudah ditinggal ayahnya 7 tahun yang lalu. Perbedaannya, Chan seorang anak tunggal pemegang saham terbesar di perusahaan minyak dan gas di kota nya, sedangkan Rayne, Rayne anak pertama dan punya adik laki-laki yang masih duduk di kelas 1 SMA. Untuk memenuhi kebutuhan, ibunya membuka toko roti kecil di dekat rumahnya dan Rayne saat ini membantu ibu nya di toko itu dari semenjak lulus SMA. Dulu, ayah Rayne bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan, tapi karena hutang yang menumpuk, semua harta dan pesangon ayahnya sudah habis untuk bayar hutang itu.
“Gimana kabar ibu kamu? Kapan kamu mau ngenalin aku ke ibu? Kita udah pacaran hampir 5 tahun, dan kamu belum pernah ngenalin aku ke ibu kamu,” Chan mendengus kesal, “Mana aku ajak ketemu papa juga gak mau.”
Rayne tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya. Memang selama ini Rayne belum mengenalkan Chan pada ibunya, bahkan dia pun enggan ketemu papa Chan. Alasannya, status mereka berbeda. Rayne takut papa Chan tidak suka dengan dia karena status itu. Itu alasan terkuat Rayne.
Rayne menggenggam tangan Chan, “Tunggu aku dapat kerja dulu, nanti aku kenalin. Aku gak mau ibu berpikir macam-macam. Aku belum kerja udah pacaran aja,” jawab Rayne, ngeles.
Chan menghembuskan nafasnya, “Aku udah gak tahu mau bujuk kamu kayak gimana lagi.”
Rayne tahu Chan sangat sayang padanya. Hanya saja, statusnya berbeda. Rayne juga tahu kalau Chan sangat faham dengan keadaan Rayne, bahkan Chan selalu ingin membantunya, Chan tidak pergi, dia sangat setia dengan Rayne. Tapi, Rayne takut. Banyak hal yang dia takutkan.
Tring … Tring …
Handphone Rayne berbunyi. ‘Ibu’ itu nama yang muncul di layar handphone-nya.
“Sebentar,” ucap Rayne pada Chan lalu pergi untuk mengangkat telepon itu.
“Ya ibu? Kenapa?”
“Rayne, besok malam kamu harus ikut ibu. Ada seseorang yang akan ibu kenalkan padamu,”
“Hah? Siapa, bu?”
“Adalah pokoknya. Besok kita berangkat pukul 8 malam,”
“Baik, bu.”
“Kamu sekarang dimana? Jangan keluyuran terus!”
“Iya bu, sebentar lagi aku pulang.”
Tanpa mendengar jawaban ibunya, Rayne menutup telepon. Dia mendengus pelan, apa ibunya punya pacar baru? Fikirnya.
Rayne kembali ke tempat duduk menghampiri Chan dengan muka sedikit lesu.
“Hei, kenapa? Ada masalah?” tanya Chan khawatir.
Rayne menghembuskan nafasnya, “Biasa, ibu. Aku harus pulang sekarang, Chan. Aku takut ibu marah.”
“Ya sudah, aku antar sekarang. Ayo!” ucap Chan bersemangat.
Rayne menganggukkan kepalanya. Mereka pun berjalan keluar dari cafe menuju mobil Chan.
“Kayak biasa ya, turunin aku di depan gang aja. Gak mau ibu lihat, takut dia marah,” pesan Rayne pada Chan.
Chan menatap sendu pada Rayne, lalu menganggukkan kepalanya pelan.
Chan pun tidak tahu kenapa Rayne begitu takut pada ibunya. Chan kadang berpikir, dia tidak merasa jelek, bahkan dia merasa tampan dan humoris. Bukan menyeramkan seperti preman pasar. Entahlah, Chan harus sabar untuk bisa ketemu ibu Rayne.
———