bc

My Crazy Cousin

book_age16+
2
FOLLOW
1K
READ
family
age gap
fated
friends to lovers
stepfather
heir/heiress
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
city
like
intro-logo
Blurb

Setelah kematian ibunya, Niva mengira hidupnya sebatang kara. Namun, Ezkar datang membawa deru motor dan sebuah pengakuan: ia adalah sepupu Niva yang telah lama mencarinya. Ezkar membawa Niva ke apartemen mungilnya, bukan untuk dimanja, melainkan untuk "ditatar" habis-habisan.​ Ezkar punya misi besar: membuat Niva bersinar di depan keluarga besar yang dulu membuangnya. Masalahnya, Ezkar adalah mentor paling menyebalkan sedunia. Niva dipaksa mengikuti sederet kursus absurd yang berakhir bencana. Mulai dari melukis dengan hasil masterpiece menyerupai tumpahan kecap, hingga pelajaran coding yang membuat kepala Niva migrain karena angka-angka yang tampak seperti bahasa alien.​ Di tengah omelan tengil Ezkar dan apartemen yang terasa semakin sempit karena tensi yang sering kali "menyerempet" bahaya, Ezkar terus menekan Niva untuk menemukan bakat aslinya. Ia percaya Niva punya kartu AS untuk meruntuhkan kekuasaan istri baru kakek mereka yang licik.​ Mampukah Niva menemukan kilau terpendamnya di bawah asuhan tangan besi Ezkar? Ataukah ia justru akan lebih dulu melempar Ezkar keluar dari lantai belasan apartemen sebelum misi mereka berhasil?

chap-preview
Free preview
Prolog
Luar jendela, langit Jakarta seperti sedang tumpah. Bunyi hujan yang menghantam kaca apartemen lantai belasan itu menciptakan irama statis yang mengisolasi dunia luar, menyisakan ruang mungil ini sebagai satu-satunya semesta yang tersisa. Apartemen itu sebenarnya apik—bergaya modern dengan sentuhan kayu hangat, namun kali ini setiap sudutnya terasa terlalu sesak. ​Hanya ada dua kamar tidur yang pintunya tertutup rapat, mengapit ruang tengah yang kini temaram. Cahaya hanya berasal dari lampu dapur yang menguning, membiaskan bayangan panjang di atas sofa abu-abu tempat mereka berada sekarang. ​Udara di ruangan itu terasa berat, seolah ketegangan sudah menghabiskan semua oksigen. ​Niva bisa merasakan dinginnya tetesan air yang masih tertinggal di ujung rambutnya, namun anehnya, kulitnya terasa terbakar. Di depannya, Ezkar mengurungnya. Pria itu tidak menyentuhnya, namun keberadaannya yang begitu masif membuat Niva merasa tidak punya jalan keluar. ​Mereka begitu dekat. Begitu intim. ​Niva bisa melihat bulir keringat yang turun dari pelipis Ezkar, meluncur melewati rahang tegasnya yang mengeras, lalu hilang di balik kerah kemeja yang sudah berantakan. Separuh kancing kemeja itu sudah terlepas, menampakkan bidang d**a yang kekar dan kulit yang tampak berkilat di bawah lampu kuning. Napas Ezkar berat, pendek-pendek, dan setiap kali cowok itu mengembuskan udara, aromanya yang jantan merusak pertahanan Niva. ​Niva gemetar. Eskalasi detak jantungnya sudah di luar kendali, berdegup kencang hingga terasa sampai ke kerongkongan. Ia merasa seperti mangsa yang sedang disudutkan oleh predator yang sangat lapar. ​"Lo... mau apa...?" suara Niva nyaris hilang, tertelan oleh deru hujan di luar. ​Mata Ezkar yang biasanya tajam dan sinis, kini meredup. Ada tatapan sendu yang sarat akan damba di sana, membuat Niva merasa seolah dirinya adalah satu-satunya hal yang paling diinginkan pria itu di dunia. Ezkar menelan ludah kasar, jakunnya bergerak naik-turun dengan begitu nyata di depan mata Niva. ​"Gue... Nggak tahan lagi..." gumam Ezkar pelan, serak, penuh penderitaan yang tertahan. ​Tubuh Niva bergelora. Ada sengatan aneh yang menjalar dari ujung kaki hingga ke puncak kepalanya. Logikanya mencoba berteriak, mengingatkannya pada hubungan mereka yang baru saja terjalin, namun suasana ini terlalu kuat untuk dilawan. ​"Apa kita boleh begini...?" bisik Niva dengan napas yang memburu, matanya membalas tatapan Ezkar dengan pasrah. "Kita kan... sepupu." ​Jarak di antara mereka menipis, hingga uap panas dari tubuh Ezkar terasa menyengat kulit Niva. Udara semakin memanas, membakar sisa-sisa keraguan yang ada. Saat wajah Ezkar turun, perlahan namun pasti menuju ceruk lehernya, Niva mencengkeram sofa hingga jemarinya memutih. ​Inilah saatnya. Pikirannya sudah melayang jauh ke arah yang tidak seharusnya. "Boleh," bisik Ezkar tepat di depan bibirnya. Suara itu begitu rendah, bergetar di udara yang seolah siap meledak. "Selama lo bisa kasih apa yang gue mau sekarang, Niv." ​Tangan Ezkar bergerak pelan, merayap naik dari lengan Niva menuju tengkuknya. Sentuhannya panas, seolah meninggalkan jejak api di kulit Niva yang lembap. Niva memejamkan mata, kepalanya sedikit mendongak, pasrah pada tarikan magnet yang selama ini mereka coba lawan. Ia sudah bisa merasakan ujung hidung Ezkar yang bersentuhan dengan miliknya. ​Sedetik lagi. Hanya butuh satu gerakan kecil lagi, dan— ​"GUE MAU LO JAWAB JUJUR!" Ezkar tiba-tiba menjauhkan wajahnya dengan sentakan kasar, matanya melotot. "LO PAKAI RAGI APAAN?! KENAPA ADONANNYA BAU KAOS KAKI?!" ​Niva terlonjak kaget sampai hampir terjungkal dari sofa. "Hah?!" ​Ezkar sudah berdiri tegak, menyambar sebuah mangkuk stainless steel dari atas meja kopi dengan gerakan dramatis. Dia mengendus isinya dengan ekspresi jijik yang luar biasa, seolah mangkuk itu berisi limbah nuklir. ​"Nih! Cium!" Ezkar menyodorkan mangkuk itu tepat di bawah hidung Niva. "Ini bukan adonan croissant, Niva! Ini bencana alam! Gue sampai buka kancing baju karena dapur lo panasnya kayak neraka, gue udah nggak tahan nahan sabar dari tadi, dan lo malah ngasih gue adonan yang teksturnya mirip semen basah begini?!" ​Seketika, "kebakaran" di tubuh Niva padam, digantikan oleh rasa malu yang berubah jadi amarah. "Lo... lo tadi itu... cuma mau nanya ragi?!" ​"Iyalah! Emang mau nanya apa? Alamat rumah Pak RT?!" Ezkar berkacak pinggang, kemejanya yang setengah terbuka berkibar tertiup angin AC, membuatnya terlihat seperti model katalog yang sedang marah-marah. "Kita ini lagi dalam misi, Niv! Kalau lo nggak bisa bikin adonan yang bener dalam waktu satu jam, gue bakal seret lo ke toko roti di ujung jalan buat magang dan gue bakal bilang ke Kakek kalau lo itu gagal total!" ​Niva meraup wajahnya dengan frustrasi. Napasnya masih belum stabil, tapi bukan karena gairah—melainkan karena ingin mencekik sepupu "gadungan"-nya ini. "Gue pikir lo tadi mau... tau ah!" ​"Mau apa? Oh..." Ezkar menyeringai, sebuah ekspresi nakal yang jauh lebih menyebalkan muncul di wajahnya. Ia membungkuk lagi, mendekatkan wajahnya ke Niva yang masih terduduk lemas di sofa. "Lo pikir abang lo yang ganteng ini mau macam-macam? Sorry ya, Bocil. Standar gue tinggi. Sebelum lo bisa bedain mana unsalted butter mana margarin murah, jangan harap gue bakal ngelirik lo lebih dari sekadar sepupu yang payah." ​Ezkar menyentil dahi Niva dengan keras. Plak! ​"Sekarang, bangun! Cuci muka lo yang udah kayak adonan gagal itu. Kita mulai lagi dari awal. Dan kali ini, jangan pakai perasaan, pakai timbangan!" ​Ezkar berbalik, berjalan menuju dapur dengan gaya angkuhnya, meninggalkan Niva yang sibuk menyumpah-nyumpah sambil melempar bantal sofa ke arah punggung cowok itu. ​"EZKAR! GUE BENCI BANGET SAMA LO!" ​"Gue juga sayang sama lo, Niv! Tapi gue lebih sayang sama investasi gue! Buruan ke dapur!" Seketika, imajinasi liar Niva hancur berkeping-keping. ​Niva mengira kedatangan Ezkar adalah jawaban atas doa-doanya setelah kematian sang ibu. Ezkar tampan, bisa diandalkan, dan mengaku ingin membantunya menuntut keadilan dari keluarga besar yang dulu membuang orang tuanya. Tapi nyatanya, tinggal bersama Ezkar di apartemen mungil itu adalah ujian kesabaran tingkat dewa. ​Ezkar adalah instruktur paling kejam, kritikus paling pedas, dan sepupu paling tengil yang pernah ada. Di bawah pengawasan ketat Ezkar, Niva dipaksa mengasah bakatnya, bergulat dengan tepung dan oven, demi sebuah misi: membuktikan pada sang Kakek bahwa pendapatnya bukanlah kebenaran yang absolute. Agar dia bisa menentukan sendiri jalan hidupnya dan lepas dari bayang-bayang kendali Kakeknya. ​Di antara aroma adonan, suhu dapur yang memanas, dan taruhan rahasia yang disembunyikan Ezkar, Niva harus bertahan. Bukan hanya dari sabotase istri baru Sang Kakek, tapi juga dari tingkah mengesalkan Ezkar yang sering kali membuat Niva ingin melemparnya dari lantai 15 apartemen. ​Satu apartemen, dua kamar, sejuta rencana gagal, dan sebuah rahasia yang siap meledak. Siapa yang akan menyerah lebih dulu?

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Stuck With You

read
76.7K
bc

Pernikahan Wasiat

read
243.8K
bc

Happier Then Ever

read
95.4K
bc

Nikah Lagi Aja, Yuk!

read
11.5K
bc

23 VS 38

read
305.0K
bc

Hidden Love

read
141.1K
bc

Bukan Cinta Pertama

read
59.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook