bc

Anacaona Menjelma Menjadi Ratu Mafia

book_age18+
3
FOLLOW
1K
READ
dark
family
mafia
gangster
drama
tragedy
loser
city
office/work place
kingdom building
war
like
intro-logo
Blurb

Ratusan ribu pasang mata tertuju pada satu sosok yang begitu dirindukan. Di atas balkon, berdiri seorang wanita berusia lima puluh tiga tahun dengan jemari yang mencengkeram erat besi pembatas, namun salah satu telunjuk jemarinya sudah menghilang. Sorak kemenangan dan tangisan haru membahana di bawah gemuruh langit yang mencekam, tatkala kilatan petir menyambar di berbagai sudut.Sebuah microphone berukuran kecil yang menempel di pakaiannya menjadi penegas pesatnya kemajuan teknologi masa kini. Dari balik matanya, memancar tatapan hangat—begitu kontras dengan bekas luka goresan senjata tajam yang baru saja mengering di sudut kelopak matanya.​Tanpa pidato panjang lebar, ia hanya menyampaikan satu kalimat yang menggelegar:​"Mournvale akan terbebas!"Waktu berputar cepat, menembus memori ke dua puluh delapan tahun yang lalu.​Di sebuah ruangan remang, seorang pria renta tengah mendudukkan raganya di atas kursi goyang usang. Jemarinya yang gemetar asyik mengutak-atik tombol remote TV tabung, sampai gerakan jarinya mendadak terhenti pada satu siaran langsung berita CNN. Layar kaca itu memperlihatkan ratusan personel kepolisian yang tengah berdiri tegap, memberikan penghormatan terakhir kepada sang jenderal yang terbujur kaku di dalam peti mati sebelum diturunkan ke liang lahat.​Jauh di sudut kota yang lain, di dalam lorong gang sempit yang gelap dan dingin, seorang bocah berusia sebelas tahun berdiri dengan jemarinya yang kaku menyerahkan sebuah neraca kepolisian kepada seorang pria bernuansa serba hitam. Bocah itu mendongak, memecah keheningan di tengah gemuruh langit yang mencekam:​"Setidaknya berikan aku dua puluh Dollar!"​DOR... DOR...!​Dua proyektil timah panas melesat tanpa rasa iba, menyasar tepat ke kepalanya. Seringai mengerikan terukir di wajah pria tersebut yang diringi gelegar petir menyambar di segala sisi—sebuah pemandangan yang sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa busuknya jaringan bawah tanah di kota neraka ini.

chap-preview
Free preview
Bab 1 - Hancurnya Jiwa Dalam Satu Malam
"Baiklah, Astrid. Aku akan pulang duluan," seru Anacaona, sementara jemarinya sibuk merapikan meja kerja serta membereskan tumpukan berkas-berkas kasus gembong mafia yang menguras energi. "Ya... Hati-hati, Caona... setelah sampai di rumah langsung tidur, ya. Kau terlihat begitu lelah seharian ini," jawab Astrid. Ia melempar senyum hangat tatkala melanjutkan perkataannya, "Saat weekend tiba nanti, aku ingin bermain bersama Aegyptia. Malaikat kecilmu itu terlalu lucu!" "Iya, aku juga sedang sangat merindukannya sekarang. Aku berharap dia belum tertidur, walau saat ini waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam," sahut Anacaona seraya menyanggul rambutnya, lalu melangkah beranjak melewati pintu keluar. Suasana malam menyambutnya begitu melangkah keluar dari gedung kantor kepolisian—hiruk-pikuk di antara megah dari gedung-gedung tinggi yang menjulang gagah khas era tahun dua ribuan awal. Anacaona melangkah pelan menyusuri trotoar, terpaan angin malam dari laju kendaraan yang berlalu-lalang, berpadu dengan kepulan asap polusi yang menutup rapat kubah langit. Hawa dingin merangsek masuk dari celah pakaian polisinya hingga menusuk sendi tulang, di tengah riuh lalu-lalang taksi kuning dengan para sopir yang sibuk menekan klakson serta menjentikkan jari guna menawarkan jasa. Namun, Anacaona mendadak tersentak terkejut tatkala sebuah suara klakson keras menggema membelah bisingnya jalanan metropolis yang dikenal luas sebagai kota neraka ini. "Apakah kau bisa ditawar, jalang?" cetus seorang pria bertubuh tinggi yang tengah menepi menghampirinya dari atas sepeda motor berukuran besar. "Aku bukan p*****r, b******n! Enyah dari hadapanku atau kupatahkan lehermu jika kau tidak segera menarik gas motormu!" sahut Anacaona dengan sorot mata mengintimidasi yang menghujam langsung ke manik mata pria itu, sementara jemarinya dengan cekatan merogoh dan mengeluarkan nametape kepolisian dari balik saku jas hitamnya. Seketika tawa pria itu pecah mendengarkan ancaman tersebut. Ia menjeda tawanya sejenak seraya menegaskan dengan nada meremehkan, "Di kota busuk ini, semua wanita tidak lebih dari seorang p*****r!" Hfffttt! Anacaona menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan dari sela-sela bibir tipisnya. Ia bergumam pelan di bawah terpaan angin malam, "Andai aku menjadi Gubernur Mournvale, kota ini akan kuubah menjadi surganya para wanita..." Anacaona menyunggingkan senyuman tipis, hingga tiba-tiba sebuah tawa sunyi mencuat tatkala batinnya berbisik. "Surganya para p*****r!" Matanya tak henti berputar menatap silih berganti gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, sembari kakinya terus melangkah anggun menyusuri trotoar. Di persimpangan jalan empat arah, Anacaona kembali menyeberang untuk masuk ke sebuah toko roti guna membeli Zwieback Toast—roti serbaguna yang bisa dipanggang atau langsung dikunyah, makanan yang sangat cocok untuk Aegyptia karena teksturnya akan berubah sangat lembut begitu terkena air. Begitu jemarinya menggeser pintu toko tersebut, suara lembut langsung menyambutnya. "Aku sudah menduga hari ini kau pasti ke sini, dan aku menyisakan dua Zwieback untukmu, Caona!" "Amelia... Kau seperti cenayang saja," sahut Anacaona dengan tawa khasnya. Setelah sampai di meja kasir, Anacaona langsung menyerahkan uang pas empat dolar, lalu melangkah beranjak keluar pintu. Namun, matanya sedikit terbelalak tepat saat kaki kanannya baru saja melangkah melewati ambang pintu. DOR... DOR... DOR! Seorang pengendara sepeda motor meluncur kilat seraya melepaskan tembakan peluru kaliber 9mm tepat ke arah pria yang baru saja membuka pintu mobilnya. Anacaona, yang sudah kelelahan bekerja sedari pagi, hanya bisa melangkah pelan keluar untuk melanjutkan perjalanan pulangnya—diiringi teriakan Amelia dari dalam toko. "Pulanglah, Caona!" Wanita pemilik toko tersebut menjeda kalimatnya sejenak sembari tertawa datar. "Tidak usah dipedulikan!" Anacaona membalas tawa tersebut seraya menoleh ke arah Amelia dan menjawab, "ya... Amelia, tutuplah tokomu. Aku mengkhawatirkanmu!" Setelah lima belas menit berjalan dari kantor kepolisian tempatnya bekerja, ia sampai di penghujung jalan pembatas menuju sungai Markham. Di sana berdiri kokoh sebuah gedung berbentuk piramida yang dikenal sebagai Transmournvale Pyramid. Anacaona berbelok ke kanan, menyusuri aliran sungai di sisi kirinya, sementara di sebelah kanannya berjejer rapi area perumahan. Matanya langsung tertuju pada rumah bernomor enam ratus empat, di mana pendar cahaya lampu tampak merangsek keluar dari segala celah ventilasi. Dengan girang seolah masih menyimpan sisi kekanak-kanakan, ia berlari kecil sambil melompat-lompat, mengayun-ayunkan kantong kresek berisi roti di tangan kanannya. Rasa lelah bekerja seharian seolah lenyap seketika. Bibirnya bergumam pelan diselingi tawa kecil. "Aegyptia belum tidur!" Ia terus bergumam kecil mengulangi kata yang sama, hingga begitu sampai di depan pintu, ia kembali berteriak riang, "Aegyptia! Mama pulang!" Jemarinya meraih gagang pintu bundar tersebut. Dengan sekali hentakan ke kanan, pintu itu pun terbuka. Ia kembali memanggil nama anaknya dengan suara pelan sembari meletakkan kantong roti di atas meja ruang tamu. Namun bak petir menyambar raganya, betapa terkejutnya Anacaona mendapati genangan darah yang merembes deras dari arah dapur. Tak hanya itu, pada daun pintu terdapat bercak darah bekas jemari seseorang yang menempel jelas di sana. Ia langsung berlari menuju dapur dan mendapati cipratan darah berhamburan di mana-mana, termasuk sebilah pisau dapur yang tergeletak begitu saja di lantai. Sontak ia bergegas menuju kamarnya. Namun, pandangannya mendadak terhenti pada meja rias tempat biasa ia bersiap, mendapati tulisan dari darah tergores di atas kacanya. 'Inilah bayarannya jika mencampuri urusan kami!' Pandangan matanya terkunci seketika, melebar penuh horor tanpa bisa berkedip. Amygdala membajak penuh kesadarannya, mengirim sinyal darurat dalam hitungan milidetik. Pasokan oksigen seolah mendadak terputus, membuat paru-parunya tercekat dalam senyap tatkala mendapati suaminya—seorang investigator—terbujur kaku di atas ranjang tanpa kepala. Anacaona langsung bertolak memaksakan tubuhnya untuk terus bergerak, berlari mengarah ke kamar putrinya. Sekali lagi, hatinya hancur berkeping-keping. Dari ambang pintu kamar, matanya tertuju pada tempat tidur balita—di mana tempat yang seharusnya digantung mainan anak-anak, justru tergantung kepala suaminya yang masih meneteskan darah segar. Seluruh otot tubuhnya meregang kencang, bersiap menghadapi ancaman yang jauh lebih mengerikan. Ia mulai melangkah sangat pelan mendekat. Namun saat jemarinya memegang pembatas tempat tidur tersebut, air mata yang sempat tertahan tak sanggup lagi menggenang di pelupuk matanya. Di dalam sana, ia melihat putri kecilnya yang baru berusia tiga tahun terbujur kaku dengan dua tembakan peluru yang menyasar tepat di kepala dan dadanya. Tanpa membuang waktu lama, Anacaona melangkah menuju ruang kerjanya. Napasnya berembus berat, diiringi getaran hebat pada jemarinya yang mendadak sedingin es. Kakinya yang lemah nyaris tak mampu lagi menopang berat tubuh saat ia mengempaskan raga ke atas kursi kerja. Ia mencoba menekan tombol daya pada mesin CPU di bawah meja. Seketika, monitor komputer tabung yang cembung di hadapannya mendengung rendah, memancarkan pendaran cahaya kebiruan yang menerangi wajahnya yang pias. Dengan tangan yang masih tremor, ia mencengkeram mouse bola, menyeret kursor yang bergerak patah-patah di layar untuk membuka perangkat lunak pemutar digital. Melalui sistem penyimpanan DVR terpusat itu, ia mulai memanggil barisan file rekaman CCTV dari setiap sudut rumahnya, bersiap menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi. Detak jantung Anacaona seolah berhenti seketika. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit—pelaku telah meretas sistem BIOS atau DVR komputer ini. Dengan licik, sang pembunuh memutar mundur waktu sistem hingga beberapa jam lebih lambat. Di layar cembung itu, rekaman manipulatif memperlihatkan sang ayah yang masih hidup, menggendong Aegyptia dengan tenang. Namun, ilusi itu hancur saat waktu digital berkedip memasuki pukul setengah sepuluh malam—layar mendadak hanya menyisakan lorong koridor yang kosong, mati, tanpa tanda-tanda kehidupan. Anacaona menarik laci meja, mengeluarkan sepasang sarung tangan lateks, dan mengenakannya dengan jari-jari yang gemetar. Setelah meraih sebuah lampu forensik khusus—perangkat Alternate Light Source yang terasa berat di tangannya—ia kembali melangkah ke ruang tengah hingga menembus kegelapan dapur. Satu per satu sakelar lampu ia padamkan, menenggelamkan ruangan dalam gelap gulita sebelum akhirnya ia menyalakan senter sinar UV tersebut. Seketika, pendaran cahaya ungu kebiruan memotong kegelapan. Di bawah sorotan radiasi UV, minyak tubuh yang tertinggal membentuk barisan sidik jari berpendar redup di atas permukaan meja makan dan Kitchen counter. Air mata Anacaona kembali mengalir tak terbendung, mengaburkan pandangannya saat ia mulai menempelkan isolatip forensik untuk menyalin pola sidik jari itu satu demi satu. Tatapannya kemudian beralih pada tumpukan gelas dan gagang lemari penyimpanan makanan—di sana, jejak-jejak laten yang sama kembali ia amankan dengan sisa-sisa ketegaran yang ada. Begitu lampu ruangan kembali dinyalakan, sebuah kesimpulan pahit langsung tersusun di kepalanya: suaminya sempat melakukan perlawanan hebat. Pandangan Anacaona terkunci pada pisau dapur yang tergeletak di lantai. Menggunakan pinset dan tabung steril, ia mengambil sampel DNA dari genangan darah segar yang masih pekat menempel di bilah baja tersebut dengan sangat hati-hati. Namun, saat hendak melangkah ke ruang kamarnya seketika matanya menangkap guratan merah pekat—bekas seretan tubuh yang membujur di depan pintu kamarnya, membuat Anacaona tak berani masuk kembali—pertahanan Anacaona runtuh lagi. Isak tangisnya kembali pecah. Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, ia melangkah gontai menuju ruang keluarga dan mengempaskan raganya di atas sofa. Saat ia menunduk demi meredakan tangis, sepasang matanya mendadak menajam, terpaku pada meja bundar di sudut sofa. Ada sebuah gelas di sana. Anacaona mendekat, mengangkat gelas itu dengan tingkat presisi seorang profesional. Pada lingkaran bibir gelas, terdapat bercak darah mengering yang samar—menandakan seseorang sempat menempelkan mulutnya di sana untuk minum. Jemarinya yang bersarung tangan segera meraih kantong plastik Polypropylene klip, memasukkan barang bukti emas itu ke dalamnya. Sambil mendekap plastik tersebut, pandangan Anacaona beralih datar, menatap kosong pada layar TV tabung yang mati memantulkan siluet dirinya. Sebuah bisikan bergetar keluar dari bibirnya yang pias: "Iblis ini... sempat beristirahat sebelum dia meninggalkan rumah."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
15.9K
bc

Orang Ketiga

read
36.8K
bc

NIKAH??? BOHONGAN???!!!

read
3.2K
bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.4K
bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
3.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.2K
bc

Babysitter Canduku

read
20.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook