PROLOG
Pergulatan panas tadi malam berhasil mengacaukan seisi ruang kamar. Bantal bercerai-berai, isinya rusak sama sekali dengan serat berbulu putih berserakan sana sini. Alas ranjang juga tidak lagi berbentuk, membentang kusut di sudut dinding yang bersinggungan dengan kasur. Di beberapa bagian, terdapat noktah darah dan noda-noda lain hasil permainan sepasang insan yang telah mengering.
Aroma anyir, disertai bebauan m**i sang pemain pria—mengindikasikan kedua insan itu telah melalui malam yang menggairahkan—terasa mendominasi atmosfer kacau nan senyap dalam ruang kamar tersebut. Hening membelenggu selama beberapa waktu. Hingga fajar datang menjelang, disusul oleh mentari yang mulai mengintip dari peraduan.
“Berengsek!”
Tiba-tiba, erangan dan umpatan terlontar secara kasar dari bibir sang pria.
Ia spontan menarik tangan yang sempat menindih perut bunting sang kekasih, meraba keningnya sendiri selama beberapa detik. Merasakan luka robek tadi malam masih basah, ia lantas menurunkan telapak tangan dan mengamati salah dua jemari kukuhnya.
Pria itu menghela napas, beralih muka menuju sang kekasih yang masih terlelap. Tanpa sehelai pun benang membebat tubuhnya—dan tubuh pria itu—kekasihnya masih saja berkeringat.
Pemandangan itu, merupakan definisi dari dambaan seluruh pria.
Delmar tidak bisa untuk tidak mengakuinya.
Memancang lurus dengan sorot hampa, ia mencondongkan kepala untuk mengecup pelipis kekasihnya selembut mungkin. Delmar tidak mau mengusik tidur gadisnya. Sonara telah melalui banyak hal semenjak malam panas mereka kemarin.
Ia sudah membuang tenaga dengan mencakar, juga membanting benda apa pun kepadanya ketika Delmar menolak bercinta—terlepas dari alasan pria rupawan itu demi keselamatan Sonara dan janin mereka. Delmar mati-matian menahan animo hanya untuk menerima keintiman dan kesakitan di malam-malam panas berikutnya.
Selalu seperti itu. Hidupnya terjebak dalam sirkuit yang rumit. Ia tahu itu salah. Ia tahu itu dosa. Namun, ia tidak bisa melawannya. Ia tidak berdaya. Gadisnya … terlalu sempurna untuk ia yang bersalah—untuk ia yang berdosa.
Kendati demikian, Delmar tetap seorang pria yang mempunyai batas ketegaran. Ia tidak tahu pasti apakah penyesalan akan datang di kemudian hari. Hanya ada satu hal pasti yang kini terlintas dalam benaknya; pergi sejauh mungkin—ke mana pun, membenah mentalnya kembali dari hubungan tidak sehat itu.
Ya, mungkin ia berhasil. Tetapi, ketika ia mulai membina hubungan baru dengan sosok lain, rupanya itu hanya mengungkapkan sebuah fakta yang selama ini ingin ia sangkal kuat-kuat.
Kebenaran akan dirinya yang memang merupakan seorang pendosa, bahkan mungkin sejak awal jantungnya mulai berdetak.[]