Semua terkesan abu-abu bagi sepasang mata hitam pria itu.
Orang-orang itu … temaram lampu … kelap-kelip pencakar langit … pekak tanda peringatan. Semua.
Saking sarunya, Delmar belum juga melajukan kendaraan beroda empat milik pria itu, bahkan ketika lampu lalu lintas telah berubah hijau. Benaknya kusut bukan main, seperti pilinan benang ruwet tak berujung, betul-betul berdampak tidak baik bagi seluruh fungsi indranya.
Nyaring klakson yang beruntun tidak ia hiraukan. Alih-alih, mata hitam itu tetap memandang kosong bentangan bulevar di depan sana. Jalanan ibu kota cukup lengang malam ini, tetapi sepertinya tidak lagi akibat kelalaian Delmar. Geming mobilnya menciptakan antrean kendaraan lain hingga bermeter-meter ke belakang.
Beberapa pemilik mobil sampai rela membuka jendela, semata-mata meloloskan sumpah serapah, amukan, serta cibiran untuk si pemilik sedan hitam itu.
BRAK! “Jika membedakan lampu merah dan hijau saja tidak becus, jangan menggunakan jalur dalam untuk membuat Surat Izin Mengemudi, bocah!”
Delmar tersadar saat pukulan pekak mendera kaca tepat di samping jok pengemudi. Pria itu cepat-cepat menekan salah satu tombol pipih dan kaca mulai tersingkap setengah. Delmar memohon maaf dan menelan mentah-mentah kalimat sinis dari seorang pria paruh baya berwajah lesu namun beringas.
Pria dengan rambut beruban itu menggebrak bodi kendaraan Delmar sekali lagi, baru kembali menuju mobil kedua di belakang miliknya, masih juga dengan bibir bersungut-sungut.
Delmar bersandar singkat pada jok, kemudian menghela napas kasar. Benaknya masih kusut, tetapi ia tidak bisa ceroboh seperti tadi. Jadi tanpa berlama-lama, alas pantofel pria itu lekas menginjak pedal gas dan sedannya pun memelesat dalam kecepatan tinggi di tengah-tengah bulevar ibu kota.
Sesekali ruas-ruas jemari kukuh Delmar memutar setir, melintasi simpangan demi simpangan untuk menjangkau sebuah gedung kaca. Kecepatan roda mobilnya melambat ketika lima meter kedepan terdapat palang pintu parkir. Kaki kanan beralaskan pantofel itu perlahan-lahan menginjak pedal rem.
Memastikan mobil pria itu telah berhenti seutuhnya, Delmar mengeluarkan dompet dari saku celana. Kemudian, slip kartu menggelincir di antara ruas-ruas jemarinya sebelum ia menekan benda pipih di samping pintu yang berfungsi untuk membuka kaca mobil.
Usai kaca terbuka, dalam satu uluran slip kartu di dekat mesin, palang pintu mulai bergerak naik—mempersilakan kendaraan beroda empat itu untuk memasuki kawasan gedung kaca yang tersohor karena multifungsinya. Tanpa berlama-lama, Delmar langsung kembali melajukan kendaraan beroda empat miliknya melintasi palang yang sudah tinggi, mengusungnya semakin dekat dengan gedung kaca.
Martial Arts Point, sebuah spot untuk mereka yang ingin mempelajari bela diri atau mencurahkan segala emosi dalam bentuk kegiatan fisik. Tempat ini menjadi satu dari sekian lokasi yang cukup sering dikunjungi oleh Delmar ketika pria itu kehilangan arah atas hidupnya—ketika semua hal tidak berjalan semestinya.
Seperti saat ini.
Selesai memarkirkan mobil sedannya di salah satu sisi pelataran, Delmar segera turun dari kendaraan dan memasuki bagian dalam gedung kaca sambil menenteng ransel di pundak. Orang-orang tampak berkeliaran dengan tubuh basah akibat berkeringat, terdengar juga napas terengah-engah di sekitar lantai dasar. Pendingin ruangan tidak bekerja maksimal di lantai tersebut saking ramainya.
Delmar cepat-cepat memasuki salah satu lift yang kebetulan terbuka tepat pria itu tiba di Martial Arts Point, menyelipkan diri di antara beberapa orang dalam lift. Lalu, Delmar mengulurkan jemari kukuhnya untuk menekan tombol berangka ‘5’ dan kembali berdiri tegap. Akhirnya, setelah kurang lebih dua menit, ia bisa keluar dari ruang kecil berbau apak dan keringat tersebut.
Beberapa ring boxing berukuran persegi besar langsung memenuhi pandangan Delmar. Sebelum menaiki salah satunya, Delmar lebih dulu menjangkau sudut ruangan di mana terdapat dua kawannya tengah berkumpul. Ia lantas menaruh ranselnya di dekat mereka tanpa berkata apa-apa, kemudian meraih dua buah sarung tangan tinju.
“Lihat, siapa yang datang kemari dengan wajah jelek begitu,” kelakar Rey, terbahak-bahak sambil menunjuk lancang hidung Delmar dari kejauhan.
Delmar meliriknya tajam. Ia tidak menghiraukan suara tawa kawan-kawannya, masih menghunjamkan sorotnya lurus menuju dua tangannya yang kini telah dibebat oleh sarung tinju. Rey bersama kawannya yang lain terus mengolok-olok pria itu tanpa henti. Semakin melunjak saja didiamkan seperti itu.
Jika pada situasi biasa Delmar tidak akan mengacuhkan, kali ini pria itu ingin memberikan pelajaran untuk Rey. Hitung-hitung sekaligus menjadikannya sebagai sasaran emosi Delmar saat ini. Maka dari itu, Delmar tidak berpikir panjang untuk langsung memelesat menuju pria jenaka itu.
BRAK! BRAK! BRAK!
Bogem mentah Delmar terus mendarat tanpa henti di rahang Rey. Tubuh kawan prianya itu terjengkang ke belakang hingga mendarat kasar pada permukaan lantai.
“Del!” Pram menarik kasar tubuh Delmar ke belakang saat pria itu akan kembali mendaratkan bogeman. “Kau gila!”
Rey terbatuk-batuk. “Uhuk, k*****t! Kau ingin aku mati?!”
Delmar tersenyum sinis dengan pundak naik turun. Ia menyentak jauh tangan Pram yang masih menghalau tubuhnya untuk bergerak maju. Deru napas pria itu terdengar terengah-engah, tetapi belum cukup berhasil untuk melampiaskan semua kefrustrasiannya. Jadi, Delmar berbalik memunggungi mereka dan mendekati salah satu ring.
“Duel denganku,” katanya pada Rey.
“Heh?” Rey tertawa mengejek, seakan-akan serangan dari Delmar tadi tidak memberikan dampak apa-apa untuknya. “Baiklah, duel diterima. Kali ini kupastikan kau akan mendekati kematian.”
Ketika kesepakatan itu terjalin dan keduanya menaiki ring dengan atribut tinju masing-masing, Pram tidak bisa untuk tidak berdecak dan menghela napas kewalahan. Orang gila, pikirnya.