Ditatapnya Delmar dan Rey sudah berdiri berhadapan di atas sana. Dalam beberapa hitungan mundur, duel keduanya pun dimulai. Delmar saat itu juga langsung melancarkan bogem pertama ke depan, sedangkan Rey dengan sigap melindungi kepala dan wajahnya dengan menaruh kedua tangan sebagai tameng.
Serangan bertubi-tubi dari Delmar tidak membuat fokus Rey terpecah begitu saja. Pria bernama lengkap Reangga Aditama itu sudah dari kecil mempelajari teknik bela diri, terutama di bidang tinju-meninju. Itulah mengapa kepalanya seperti terbuat dari baja yang seakan-akan tidak berdampak signifikan kala Delmar membogemnya tadi.
Meskipun Delmar mungkin tidak semahir Rey, pria itu tetap memiliki basic yang kuat. Delmar telah terjun ke dunia bela diri ini semenjak SMA bersama Pram—Pramana Dewata—yang juga tidak bisa dikatakan amatir. Jika Rey dan Pram menekuni bidang tersebut karena minat, namun tidak dengan Delmar. Pria itu menekuni bela diri bukan untuk itu, bahkan tidak terpikir sekali pun.
Ada alasan lain di balik ketekunan dan kesediaan Delmar menerjunkan diri ke dunia bela diri—bukan semata-mata karena minat dan kedua kawannya tahu betul tentang itu. Karena itulah, setiap kali Delmar menampakkan batang hidungnya di Martial Arts Point, ada sesuatu dengan itu. Namun, mereka bertingkah seolah-olah tidak tahu dan tidak ingin tahu.
Keduanya paham bila Delmar bukan tipikal orang yang ingin diprihatinkan. Tugas mereka, sebagai kawan terdekat pria itu, cukup membantunya melampiaskan segala emosi yang memuncak di dalam benaknya. Cukup menjadi lawan duel, meski terkadang tingkat agresi Delmar tidak main-main dan mungkin bisa berakhir buruk jika lengah sedikit saja.
Satu hal pasti, pria itu buruk dalam kontrol diri.
Delmar sering kali kalap di tengah-tengah duel. Itu membuatnya tanpa sadar lepas kontrol, menyerang lawan secara membabi buta. Seperti sekarang ini, di mana terlihat Delmar membogem bergantian secara bertubi-tubi dengan dua tangannya, bermaksud untuk menjangkau kepala Rey di balik lengan kawan prianya itu.
Akan tetapi, perilaku buru-burunya ini justru dimanfaatkan baik-baik oleh Rey. Ia membiarkan Delmar terus membabi buta, mencurahkan semua emosinya melalui tenaga fisik, sebelum pria itu akhirnya mendapat celah dan menjadikannya sebagai momentum untuk membogemnya balik.
Rey berjingkat mundur tepat Delmar memberikan balasan. Tanpa menghilangkan senyum sinis dari bibirnya, pria itu perlu mengukuhkan kedua lengannya lagi di depan wajah. Dengan tubuh sedikit merunduk, kala itu juga ia bawa salah satu kepalan tangannya untuk membogem abdomen Delmar dari bawah. Ia berikan entakan kuat dalam serangan kali ini.
Lantaran Delmar sudah menguras secara sia-sia seluruh energi fisiknya dengan tindakan membabi buta tadi, pria itu terlempar ke pinggiran ring semudah menjentikkan jari. Empat baris tali yang tersemat pada setiap sisi persegi ring menghalau Delmar untuk terlempar keluar sana dan justru membuatnya berakhir sedikit terpental maju.
Tidak terima, Delmar lekas bangkit ketika Rey memunggunginya semata-mata mengacungkan ibu jari ke arah Pram yang mengamati dari luar ring. Tanpa ancang-ancang, Delmar melompat dan membawa tubuh mereka ambruk ke belakang. Pria itu menekan paksa leher Rey dengan lingkaran lengannya, membuat orang yang belum mempersiapkan diri itu terkesiap dengan napas terhambat.
“Hei! Hei! Bocah berengsek!” Rey berupaya melepas lengan Delmar dari lehernya, tetapi di luar dugaan, tekanannya begitu keras. “Uhuk! Tidak lucu jika besok ada berita ‘seorang pemegang medali emas ditemukan mati tak bernapas’!”
Mendapati lelucon di ambang mautnya sama sekali tidak dihiraukan, Rey meludahi lengan berurat Delmar. Ia kemudian menggunakan seluruh pengetahuan boxing yang ia miliki untuk membebaskan diri dari kawan prianya yang tidak memiliki akhlak. Maka dari itu, setelah menerapkan ilmunya, ia berhasil lolos dan berakhir membalas Delmar dengan membogem tulang hidung pria itu.
“Cih, makan itu!” ketus Rey, tepat kepala Delmar ambruk tanpa tenaga di permukaan ring.
Rey mengakhiri duel ketika melihat rongga hidung Delmar menguarkan darah segar. Deru napasnya masih memburu kala ia menunduk untuk melihat kondisi memprihatinkan Delmar. Matanya kemudian memandang Pram yang baru saja menaiki ring dengan tampang kewalahan dan kesal.
“Bocah sinting,” umpat Pram, menatap Delmar dengan sorot cemas yang ia tutup dengan olok.
“Aku belum selesai,” gumam Delmar, berusaha untuk bangkit dari posisi terbujurnya.
Namun, ia kesulitan karena seluruh anggota tubuhnya begitu kewalahan dan remuk. Kepala belakang hasil benturan lantai serta tulang hidung yang tampak sedikit bengkok membuat sakit dan lelahnya semakin terasa saja. Belum lagi, bekas amukan kekasihnya malam itu masih membekas di antara memar wajahnya.
Ketika Delmar pikir rasa sakit dan lelahnya akan membuat pria itu terlupa dengan beban persoalan yang menumpuk, mengapa semuanya justru semakin terasa saru?
Delmar menyimpulkan, mekanisme pertahanannya belum cukup. Jadi, ia bergumam lagi, “Belum. Duel ini belum selesai.”
“Tetapi, aku sudah selesai.” Rey mengangkat kedua tangan, setengah kesal meski ia pun tidak bisa menghilangkan perasaan iba untuk kawan prianya tersebut. “Aku tidak sudi membuatmu betul-betul mati dan berakhir di jeruji, bocah.”
Delmar mengetatkan rahang. Ia baru saja ingin melontarkan amarah ketika Pram tiba-tiba memelesat dan membantunya duduk tanpa aba-aba. “Cih! Pelan sedikit, k*****t!”
“Kata seorang bocah yang belum selesai berduel,” cibir Pram. Kemudian, pria itu menolehkan kepala menuju Rey. “Aku akan mengantar bocah ini balik. Mobilnya kaupegang saja. Lelang bila perlu—jangan lupa untuk membagi hasilnya jadi dua.”
“Ide cemerlang,” ujar Rey, cengar-cengir tanpa dosa.
Delmar meringis lagi, kemudian mengumpat kesal, “Berengsek kalian!”
Rey dan Pram merespons pria itu dengan tawa. Selanjutnya, mereka sama-sama membantu Delmar untuk berjalan menuju pelataran parkir. Sesuai perkataan Pram sebelumnya, Delmar diusung menuju kendaraan milik kawan prianya itu, sedangkan Rey mengambil alih sedan Delmar untuk ia sementara bawa pulang.
Dengan kondisi Delmar yang jauh dari kata ‘baik’, sangat tidak memungkinkan bagi pria itu untuk berkendara seorang diri—apalagi di tengah kota metropolitan ini. Kata kedua kawan prianya itu, salah mengerem dan mengegas sedikit saja, entah apa jadinya Delmar.
Mungkin bisa hanya uang saja yang melayang—jika itu terjadi mereka masih bisa mengucapkan syukur—atau justru nyawa pria itulah yang melayang.
Delmar meraih selembar tisu di atas dashboard dan memilin ujungnya sebelum dimasukkan ke rongga hidung. Ia mendongak ke langit-langit mobil, membiarkan udara dari pendingin menampar lehernya telak. Dari sisi jok pengemudi, Pram meliriknya dalam hening. Sepertinya ia tahu apa yang saat ini tengah dialami oleh kawannya satu itu.
Seakan-akan sadar tengah diamati, Delmar menutup sepasang matanya sebelum akhirnya ia berkata lirih, “Kurasa kau benar—aku sungguh harus meninggalkan Sonara.”[]