BETHARI KAMALA 1

916 Words
Delmar setengah sadar menyeret telapak kakinya ke depan salah satu pintu mahoni di lorong mansion kediamannya. Sembari berjalan, ia membuka paksa tiga kancing kemeja putih teratasnya, menampakkan sebuah kalung berbandul D&S terlingkar di antara lehernya yang menekuk. Aroma anggur dengan kadar alkohol yang tinggi begitu melekat pada pakaian dan tubuh Delmar. Rasa hangat bercokol di dalam lambungnya, membuat pria itu tidak mampu berdiri tegap atau sekadar menggulung lengan kemejanya ke atas. Keringat tampak mencuat dari ubun-ubun dan membasuh seluruh wajahnya. Tidak lama kemudian, Delmar menaruh keningnya di permukaan pintu mahoni, mulai memukul-mukul papan tersebut seiring visualnya semakin mengabur. Gedoran itu cukup berhasil membuat sang pemilik kamar keluar dari dalam ruangan dengan tangan tergesa-gesa memutari roda besar dari kursi roda. “Delmar, ada apa?” Bethari Kamala terkejut bukan main saat pintu ia buka dan tubuh Delmar tumbang ke pangkuan pahanya, akan tetapi pria itu masih cukup sadar untuk menahan kursi roda agar tidak terdorong ke belakang. Delmar lekas menaruh kepalanya di pundak Bethari. Saking dekatnya posisi mereka sekarang, gadis di atas kursi roda itu mengenali aroma ini—aroma bekas anggur dan asap dari rokok elektrik. Aroma yang tidak pernah ia suka. Sebab setiap kali aromanya datang bersama Delmar, pria itu selalu dalam kondisi memprihatinkan seperti ini. “Delmar,” panggil Bethari, mengatur suaranya sehalus mungkin. Jemari lentiknya tidak pernah absen untuk mengusap rambut hitam pria itu. “Tidak apa, aku di sini.” Mendengar itu, Delmar menarik tubuhnya dari Bethari. Telapak tangan besarnya kemudian meraup pipi Bethari, mengamati mata hitam bulat itu lamat-lamat dan berakhir memeluknya lagi. “Aku kacau, Beth,” gumam pria itu, mengeratkan rengkuhan mereka seiring mengekspresikan emosinya. Sekali lagi, ia bergumam nanar, “Aku kacau ….” Bethari menutup matanya sejenak. Ada rasa sakit tak terkatakan setiap kali mendapati Delmar pulang dalam keadaan setengah sadar. Delmar selama ini tidak pernah terbuka kepadanya. Ia hanya akan mendatangi Bethari seperti ini; mengucapkan kata-kata yang tidak pernah berubah, kemudian tidur di dalam kamar gadis itu hingga pagi tiba—dan bangun seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. “Beth ….” “Iya, Del. Aku di sini, berbicaralah.” Yang dipanggil masih mengusap lembut rambut dan tengkuk Delmar. Bethari kembali membuka matanya, menatap lurus dinding lorong di balik pundak pria itu. Dapat ia rasakan tubuh Delmar bergetar, seolah-olah tengah menampung beban berat yang bisa saja meledak dalam waktu dekat. Isak tangis pria berambut hitam itu tidak lama lolos dari mulutnya. “Aku berengsek, Beth.” Ada amarah dan kekecewaan yang berusaha ia tahan di tengah kesadarannya. “Aku berengsek sampai-sampai Tuhan tidak mengizinkan aku bertemu lagi dengannya. Apa yang harus kulakukan, Bethari? Apa yang harus ….” Brak! Tubuh Delmar tumbang seutuhnya. Kursi roda Bethari terdorong ke belakang, tetapi secepatnya satu tangan gadis itu menahan roda, sedangkan tangannya yang lain menahan tubuh Delmar agar tidak ambruk ke lantai yang dingin. Seulas senyum nanar terpatri dalam paras elok gadis itu. Siapa yang selama ini kaumaksud, Del? batinnya, tidak mengerti. Kenapa … dunia di luar sana terdengar menyakitkan? Ia biarkan rasa penasaran itu memudar. Keinginan untuk membantu Delmar duduk di atas ranjangnya lebih penting untuk sekarang. Akan tetapi, dengan fungsi sepasang kakinya yang tidak becus itu, mustahil untuk Bethari membantu Delmar ke sana. Mencoba menepis segala kemungkinan terburuk jika ia menggerakkan tungkainya berlebih, Bethari mulai menurunkan satu demi satu kakinya ke permukaan lantai dengan begitu hati-hati. Tumit kanan Bethari perlahan-lahan menyentuh lantai dengan sedikit tremor. Ia mulai mendorong tubuhnya sendiri ke depan sekadar meratakan telapak kaki gadis itu dengan permukaan bidang lantai. Begitu kaki kirinya berhasil memijak lantai seutuhnya, tiba-tiba saja ia jatuh limbung ke belakang. Ia gagal menopang tungkainya sendiri. Lantaran satu tangan masih menahan kepala Delmar, tangan satunya tidak lagi berhasil menjamah roda. Alhasil, Bethari lantas terjatuh dengan punggung dan kepala membentur lantai yang terasa dingin. “Sakit …,” rintihnya, spontan. Jantungnya berdebar keras. Bethari bisa merasakan tubuhnya gemetaran tak karuan. Bahkan, saking paniknya, Bethari tidak mampu merasakan tubuh Delmar menindih kakinya. Mati rasa, kaki gadis itu sedikit pun tidak dapat digerakkan. Bethari menggeleng keras. Tidak, ia harus bisa. Ia tidak boleh ‘kambuh’ di hadapan Delmar. Bethari terus-terusan meyakini dirinya sendiri. Berusaha mengambil kontrol atas kecemasannya terhadap segala kemungkinan terburuk, Bethari mengulurkan tangannya ke belakang, mengibas-ngibas udara sekadar menjamah kursi roda yang terdorong terlalu jauh untuk mampu ia jamah. Pada akhirnya, gadis itu segera menata rambutnya yang terurai menjadi satu cepol di belakang kepala. Ia menyeka keringat dingin yang membasuh wajahnya. Lantas dengan tangan kanan, ia mulai menyeret tubuhnya dan milik Delmar mundur untuk menjangkau ranjang. Segala cara Bethari coba agar Delmar dapat mengisi hari buruknya dengan tidur yang tenang. Setelah beberapa kali berusaha, akhirnya Bethari mampu membawa tubuh Delmar ke atas ranjangnya. Deru napas Bethari terengah-engah selagi ia menyelimuti Delmar dengan selimut beludru putihnya. Begitu Bethari siap menaikkan selimut hingga ke leher, gerakan sepasang tangannya terhenti di udara. Pandangan Bethari mendapati goresan cukup dalam yang melingkari leher sahabatnya. Di luar kendali, Bethari ikut menyentuh lehernya sendiri bagaikan luka itu juga ada pada miliknya. Di balik pandangan Bethari yang perlahan-lahan mengabur dan sesak yang tiba-tiba saja mendera dadanya, sorot mata gadis itu mendarat kepada kalung berbandul D&S milik Delmar. Di sekitar rantai kalung itu, terdapat jejak-jejak darah yang sudah mengering dan berbau seperti karat. Goresan tersebut pasti berasal dari bekas tarikan paksa kalung. Apakah itu ulah Delmar? Bethari cepat-cepat memejamkan matanya sebelum kecemasan itu benar-benar mengambil alih kewarasannya. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa sakit itu tidak pernah ada—tetapi semakin ia mencoba, mengapa sumber kecemasannya itu justru terasa semakin nyata?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD