Mata Bethari setengah menyipit ketika pintu mahoni mansion dibuka oleh asisten rumah tangga kediaman Batara. Sinar terik langsung memenuhi dan menusuk pandangan. Bethari sedikit melenguh, setelahnya ia tanpa sadar menoleh ke belakang untuk menghindar dari terik menyengat tersebut. Saat itu juga, matanya berserobok dengan milik Delmar.
“Panas?” Pria itu memiringkan posisi kursi roda Bethari agar terik matahari tidak langsung menempa wajah sahabatnya.
Bethari mengangguk. Delmar mulai menyingkap sampiran jaket di pundaknya untuk menutup kepala Bethari, sebelum mendorong kembali kursi roda ke luar serambi mansion. Pria itu menatap lurus arah depan, sedikit mengerutkan kening kala ia tidak menemukan kendaraannya di depan. Padahal, ia sudah memastikan sang sopir tahu dirinya ingin pergi hari ini.
Kekesalan Delmar mereda saat ia menunduk untuk meraba-raba sakunya, berniat menghubungi sopir, tetapi justru mendapati kepala Bethari masih tertutup seutuhnya oleh jaket. Bethari tidak bisa diam, kepalanya bergerak sana sini dengan maksud memperhatikan sekitar, sekalipun gadis itu tahu tindakannya percuma.
“Di mana Paman Su?” Bethari mempertanyakan keberadaan Paman Su, sopir kediaman Batara yang sudah mengabdi lama sekali dengan mereka, bahkan sebelum Delmar lahir.
“Hm … sebentar, biar kutele—”
Baru saja jemarinya bergerak untuk mulai mengetik nomor Paman Su, deru mobil terdengar mendekat. Delmar dan Bethari—yang sudah menanggalkan jaket dari atas kepalanya—secara serentak menoleh. Sebuah kendaraan beroda empat berwarna titanium terlihat datang mendekat dan baru berhenti saat sudah berada tepat di depan kedua orang itu.
Pintu pengemudi membuka, tampak seorang pria paruh baya dengan rambut hampir memutih. Ia mengenakan kemeja seragam kerja ala sopir elit keluarga Batara yang memang sengaja dipesan untuk memperlihatkan identitas para pengurus kediaman. Salah satu dari sekian privilese terbaik bagi pengurus keluarganya Delmar.
“Delmar, Tuan barusan memberi kabar kepada Paman,” Paman Su menjeda sebentar selagi menampakkan layar ponselnya yang hitam, seperti akan berguna saja untuk dipamerkan, “beliau mengatakan bahwa malam ini, Tuan dan Nyonya akan pulang. Mereka mengajak kalian untuk bertemu di Haven State Resort.”
“Kenapa tiba-tiba sekali?” monolog Delmar, tetapi pada akhirnya tetap mengangguk. “Baiklah, Paman. Terima kasih informasinya. Kalau begitu, tolong hubungi pihak restoran untuk reservasi malam ini.”
“Siap, Del.” Paman Su meletakkan tangan kanan ke sisi pelipisnya, kemudian mendekati kedua remaja dewasa yang telah ia anggap sebagai keponakan sendiri. “Hati-hati di jalan, Nak.”
Bethari tersenyum manis, hingga matanya sedikit menyipit. “Terima kasih, Paman Su. Mau titip apa lagi hari ini?”
Pria berusia senja itu meringis sejenak, kemudian menyengir. “Nak Beth memang terbaik. Paman mau boba.”
Delmar langsung saja mendelik tak setuju. “Ingat umur, Paman!”
Paman Su terbahak-bahak. Delmar mendengkus, lalu mulai mendorong kursi roda Bethari tanpa menyia-nyiakan waktu setelah keduanya berpamitan dengan Paman Su. Delmar membantu Bethari untuk memasuki kendaraan dan duduk di jok penumpang, setelahnya pria itu segera melipat kursi roda. Setelah menaruh kursi roda Bethari ke bagasi, Delmar memutari mobil untuk duduk di kursi kemudi.
Delmar terdiam sejenak saat mendapati laci depan kendaraannya dalam kondisi terbuka. Garis bibir Delmar semakin tertekan ke dalam begitu pandangannya melihat Bethari tengah memegang sebuah album. Mata Bethari terfokus pada koleksi foto itu sampai ia tidak sadar dirinya tengah ditatap muram oleh sang sahabat.
Dalam secepat kilat, tangan Delmar merenggut kasar album tersebut dari tangan Bethari. Bethari langsung terkesiap, apalagi ketika album itu sudah dibuang ke arah bagasi hingga membentur kaca belakang. Gadis itu sedikit tersekat dalam keterkejutan, tetapi ia urung berbicara saat mendapati binar tak biasa dari sepasang mata Delmar begitu mobil sudah mulai melaju dengan kecepatan lebih dari biasanya.
“Lain kali, izin lebih dulu, Beth.” Delmar melirik sekilas Bethari, mendapati sahabatnya tertunduk dalam-dalam. Pria itu menghela napas dan bergumam, “Jangan ulangi lagi.”
*
Sepanjang perjalanan, situasi dalam kendaraan berwarna titanium itu terisi oleh kesenjangan, kecanggungan, dan keheningan. Delmar sesekali mencengkeram erat setir saat dirinya mengingat sikap bobroknya tadi.
Pada satu sisi, ia kesal karena Bethari lancang melihat album itu. Namun, pada sisi lain, Delmar tahu Bethari tidak berhak ia salahkan. Secara, Bethari secuil pun tidak pernah tahu betapa pentingnya album itu, dan juga di waktu yang sama, betapa hancurnya album itu untuk hidup Delmar.
Ketika mobil sudah terparkir sempurna di sebuah basement pusat perbelanjaan, Delmar memiringkan sedikit tubuhnya untuk mengacak lembut rambut hitam legam sang sahabat. “Beth, kita sudah sampai. Aku akan mengambil kursi rodamu dulu, oke?” gumam pria itu, matanya memancarkan secercah kebersalahan.
Bethari mengangguk lesu, membuat Delmar terhenyak. Sudah berapa kali ia membuat situasi menjadi seperti ini hanya karena ego dan masalah pribadinya? Ini bukan satu atau dua kali saja, tetapi berkali-kali. Delmar telah membuat Bethari merasa salah terlalu banyak. Namun, pria itu tidak mengatakan lebih. Ia tidak sanggup—egonya meledak-ledak.
Jadi, detik itu juga, Delmar lekas keluar dari kendaraan dan menuju bagasi. Ketika pintu bagasi telah terangkat sepenuhnya, pandangan Delmar langsung menjumpai album tadi yang tergeletak di dekat kursi roda lipat Bethari. Ia menoleh sejenak ke sudut kiri basement. Ada sebuah tong pembakaran sampah dengan api menyala-nyala.
Merasa ini waktu yang tepat untuk melepasnya, pria itu meluangkan waktu untuk menghampiri tong pembakaran sampah. Ia tidak berpikir panjang melempar album itu ke dalam. Lidah api langsung menjilat-jilat album tersebut. Ia mengisi waktu dengan menunduk, melihat bagaimana album cokelat itu mulai melebur dan berubah warna hingga hitam sama sekali.
Tanpa sadar, bibirnya mengukir senyum miris—sebelum akhirnya mengulum garis lurus sempurna. Seusai membenah separuh hatinya yang hampa, lantas ia berbalik untuk menuju bagasi mobilnya dan membuka lipatan kursi roda. Setelah menutup kembali pintu bagasi, Delmar menggiring kursi roda ke dekat pintu jok penumpang, tempat di mana Bethari masih duduk dan menanti ketibaannya.
“Sini, kubantu,” ujar Delmar, mengalungkan lengan kiri Bethari untuk membantu gadis itu keluar dan duduk di kursi roda.
Saat Bethari telah duduk sempurna di sana, gadis itu bertanya, “Del, kenapa membakarnya? Apa karena aku?”
Mendengar pertanyaan itu, Delmar bersimpuh tepat di depan kursi roda Bethari. “Tidak, bukan karenamu.” Tetapi karena diriku sendiri, Beth. Yang ingin melepasnya sebelum berakhir menyakitimu dan siapa pun dengan egoku, lanjutnya membatin.
“Lantas, kenapa kau membakarnya? Di dalam sana, potretmu bersama gadis itu benar-benar—”
“Tidak ada alasan,” selat Delmar. “Aku hanya tidak ingin mengenang sampah.”
Bethari merasakan jantungnya mencelus mendengar penuturan itu. Ia lalu menatap Delmar lamat-lamat, menemukan sorot tidak main-main di sana.
“Del—”
“Bisakah kita lupakan kejadian tadi?” Delmar menatap Bethari dengan pancaran frustrasi. “Aku hanya ingin kita bersenang-senang hari ini, Beth—melihat pameran lukisan itu. Lagi pula, kau sudah lama tidak ke sini, bukan? Ayo, kita masuk.”
Delmar tidak mengizinkan Bethari untuk kembali berbicara, karena detik itu juga ia sudah mulai mendorong kursi roda gadis itu. Selama Bethari duduk dan mengamati situasi basement sekitar yang mulai ramai di dekat pintu masuk, Bethari tanpa sadar telah mengukir senyum paksa.
Ada persamaan buruk di antara ia dan Delmar; mereka sama-sama ‘andal’ melarikan diri dari masalah.[]