PAMERAN LUKISAN 1

1003 Words
Mal terlihat ramai akan pengunjung yang rata-rata berusia muda. Bethari menatap sana sini dengan penuh minat. Ia sesekali meminta Delmar untuk memasuki beberapa toko pakaian dan sepatu. Semenjak memasuki kawasan pusat perbelanjaan, di antara mereka sudah tidak ada lagi kecanggungan. Delmar menyanggupi semua permintaan Bethari untuk memasuki toko dengan baik, bahkan terus mendesaknya untuk membeli sesuatu. Seperti saat ini, Bethari sedang berada di salah satu bilik ruang coba atas desakan Delmar karena ia tidak mau membeli apa-apa. Bethari mengangkat tangan kanan untuk meraba bahan pakaian pilihan Delmar. Ia langsung merasakan kelembutan dan ketebalan satin yang terasa nyaman untuk tangannya, sekalipun di kediaman Batara, ia terbiasa hanya mengenakan kaus sederhana. Setelah meraba bahan satin tersebut, Bethari mulai melucutkan pakaian yang ia kenakan dengan tetap berada di kursi roda—tidak seperti ia dapat beranjak dari kursi roda seorang diri. Dengan cekatan, ia pun mengenakan baju satin tersebut hingga tubuh mungilnya terbalut sempurna oleh itu. Lantaran pakaian ini dapat dibilang sedikit pendek di bagian paha, serta potongan V yang cukup rendah, Bethari bisa merasakan turunnya suhu ruangan. Ia sedikit menggigil, tetapi dirinya tetap menatap pantulan tubuhnya pada cermin datar yang berada tepat di hadapan gadis itu. Tampak seorang gadis berkulit putih—nyaris menuju pucat—dengan rambut hitam dibiarkan tersanggul. Hanya ada beberapa anak rambut yang dibiarkan terurai pada sisi kanan dan kiri wajahnya. Ia tengah duduk di sebuah kursi roda, tidak seperti dirinya dapat terpisahkan oleh benda itu. Terusan satin berwarna maroon yang terjuntai sampai atas paha terlihat solid untuk raganya yang ringkih. Bethari hampir tidak mengenal siapa gadis di depannya saat ini. Itu bukan dirinya, tentu saja. Yah, mungkin itu merupakan pantulan dirinya. Akan tetapi, dari penataan rambut, riasan natural, dan cara berpakaiannya, itu bukan kemauan pribadi Bethari. Delmar memintanya untuk itu—dan lucunya, Bethari baru mengetahui hal tersebut setelah ia melihat isi dari koleksi foto yang tersimpan di dalam album tadi. Sebuah album usang yang berisikan potret sahabatnya dengan seorang gadis berpenampilan nyaris selaras dengan pantulan dirinya sekarang ini. Merasakan matanya memanas, Bethari menengadahkan kepala. Ia berpejam sebentar, berharap air mata itu akan meresap kembali sehingga tidak akan mengalir keluar dari pelupuk. Kebenaran tentang Delmar memandangnya bukan sebagai dirinya, melainkan sosok lain, membuat gadis itu tidak mampu menahan gejolak rasa sedih. Jadi, selama ini kau mendesakku untuk mengubah penampilanku menjadi lebih ‘baik’, hanya karena kau melihatku sebagai gadis itu, Del? batin Bethari, meringis miris. Beruntung, Bethari mampu menguasai dirinya kembali ketika suara maskulin Delmar memanggil namanya dari balik tirai bilik. Bethari menghela napas sebentar, sebelum akhirnya menjawab dengan gumaman singkat. Kemudian, menggunakan dua tangan, Bethari mulai memutari roda hingga kursi rodanya bergerak mundur dan menjamah tirai di belakang punggungnya. “Biar aku lihat,” tutur Delmar, nada yang tidak sabaran membuat sesak kian berkecambah dalam d**a Bethari. Tanpa menunggu jawaban Bethari, Delmar segera mengambil alih kendali kursi roda dengan menghadapkan kursi roda gadis itu menuju ke depannya. Pupil hitam Delmar kontan membesar, disertai dengan diamnya pria itu yang cukup lama. Pandangan Delmar mulai menjelajahi penampilan sahabatnya dari bawah sampai atas. Persis seperti dalam bayangannya, Bethari mirip dengan dia. “Beth, kau cocok sekali—” “Aku tidak merasa demikian,” Bethari melempar pandangan ke arah lain, “boleh aku mengganti kembali pakaianku sekarang?” “Kau … tidak suka baju ini?” Ada tebersit sedikit kekecewaan dalam nada Delmar, membuat Bethari tidak bisa untuk menolak. “Aku hanya merasa tidak cocok karena tak terbiasa, tetapi jika kau ingin membelikanku ini, yah … mengapa tidak?” balas Bethari, mati-matian untuk tidak terlihat dirinya sedang tidak baik-baik saja. “Kau sangat cocok, Beth. Aku akan tetap membelikanmu ini, oke?” Delmar memutarkan kursi roda Bethari untuk kembali memasuki bilik. “Aku menunggumu di luar,” imbuhnya, setelah itu menutup kembali tirai bilik, memberi sang sahabat privasi untuk mengganti pakaian utamanya. Sedikit Delmar tahu, ia justru memberikan Bethari privasi bukan semata-mata untuk itu saja—melainkan untuk Bethari mampu mengekspresikan kesedihan mendalam terkait perspektif Delmar atas dirinya yang entah sejak kapan telah berlangsung tanpa sepengetahuannya itu. Sementara itu, Delmar mulai melangkahkan kaki keluar dari jajaran bilik. Ia lalu mendatangi kasir dan meminta stok baru pakaian satin pilihannya untuk Bethari tadi. Sang petugas kasir segera menyanggupi permintaan Delmar. Tidak lama, ia menjajakan beberapa stok dan membiarkan Delmar untuk memilih satu di antaranya. “Itu saja,” ujar Delmar ketika dirinya telah menemukan busana paling sempurna, “dan tolong totalkan dengan kalung tadi.” “Baik, Tuan.” Selagi menunggu proses pembayaran, Delmar menyisipkan jari ke saku celananya untuk merenggut sebuah card holder. Ia mengambil salah satu kartu hitam, kemudian mengulurkannya kepada sang petugas kasir. Melihat warna dari kartu tersebut membuat petugas wanita itu nyaris tersedak. Dengan sedikit tremor, diterimanya kartu tersebut dan segera mencolokkannya ke sebuah mesin debit, kemudian menghadapkan alat pembayaran tersebut di hadapan Delmar. Pria itu lekas menekan enam digit yang sangat ia ingat dalam benaknya, yakni gabungan angka dari tanggal ulang tahun dan kematian seorang gadis yang begitu dicintainya—setidaknya sampai hari ini. “Terima kasih, Tuan Delmar. Kami tunggu kedatangan Anda kembali di lain waktu,” ujar sang petugas, sorot kekaguman teramat kentara di sana. Delmar hanya menanggapi dengan anggukan singkat, sebelum akhirnya berbalik memunggungi kasir. Bertepatan ia telah menuntaskan pembayaran, Bethari rupanya sudah keluar dari ruang coba dengan kursi roda miliknya. Delmar datang mendekat, merogoh paper bag berlogo salah satu brand terkenal di kalangan keluarga tingkat atas dan mengeluarkan sebuah kalung berinisial D&B. Bethari menatap lama kalung tersebut dalam diam, sebelum akhirnya mengulaskan senyum paksa. “Terima kasih, Del,” ucapnya, begitu Delmar mengatakan kalung ini adalah untuknya. Alih-alih bahagia, Bethari merasa semakin kewalahan untuk berpura-pura lebih lama. Ia mungkin terbiasa hidup dengan kepura-puraan, tetapi tidak sebelum ia mengenal sahabatnya. Namun, detik ini, ia lelah berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja disikapi demikian oleh Delmar, sahabat satu-satunya dia. Bethari tidak bodoh. Ia tentu tahu, kalung ini pernah diberikan juga untuk gadis itu—hanya saja dalam inisial yang berbeda. Apa lagi selain sebuah kalung D&S yang masih melingkar di leher sang sahabat hingga detik ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD