PAMERAN LUKISAN 2

1089 Words
Di samping karena mereka sudah lama tidak berkeliling pusat perbelanjaan—itu pun perlu dipaksa terlebih dahulu oleh sahabatnya, tujuan utama Bethari akhirnya bersedia datang ialah untuk mampir ke sebuah pameran lukisan yang diadakan oleh Artland Museum. Bagi Bethari, ini bukan pameran biasa, melainkan sebuah pameran paling istimewa yang akan ia kunjungi sepanjang hidupnya. Pada season kali ini, Artland Museum memamerkan lukisan para mahasiswa dan mahasiswi jurusan Desain Komunikasi Visual dari beberapa universitas ternama yang berpusat di ibu kota. Universitas Tritayasa—kampus Delmar dan calon kampus Bethari sebentar lagi—merupakan salah satunya yang terkenal mempunyai mahasiswa-mahasiswi unggul dan berprestasi dalam bidang ekonomi maupun seni. Jadi, bukan keanehan lagi bila universitas tersebut dapat bekerja sama dengan Artland Museum. Melihat antusiasme Bethari, Delmar segera saja mendorong kursi roda sahabatnya untuk mendekati meja penerimaan tamu. Pria itu melambaikan singkat layar ponselnya kepada sang pengurus, memberikan tanda bila mereka telah melakukan pembelian tiket secara online. “Silakan Tuan menuliskan nama, nomor kontak, dan asal instansi, ya,” ucap sang pengurus selagi mulai mengambil gelang kertas penanda masuk. Delmar kemudian menuruti instruksi tersebut. Ia setengah merunduk untuk menuliskan identitasnya dan Bethari pada selembar kertas yang tersedia di atas meja. Selagi pria itu sibuk mengisinya, sang pengurus mulai melingkarkan gelang kertas ke pergelangan tangan kanan Bethari, kemudian disusul oleh pemakaian gelang pada tangan Delmar. Lalu, keduanya dipersilakan memasuki lorong masuk pameran. Mereka lekas disambut dengan keberadaan sebuah lukisan beraliran Renaisans di dinding hitam. Lukisan tersebut digambarkan dengan potret seorang wanita Italia berpakaian hijau dan berlengan panjang. Rambut cokelat kepang satunya dibiarkan terjuntai, menutup sebagian lehernya. Usai mengagumi keindahan lukisan itu, Bethari menolehkan kepala menuju Delmar. Seolah-olah tatapannya dapat dimengerti dengan jelas oleh sang sahabat, pria itu kembali melajukan kursi roda Bethari. Mereka pun berbelok ke arah kanan. Kali ini, keduanya sudah diarahkan kepada lorong lebar yang penuh dengan jajaran lukisan karya para mahasiswa-mahasiswi. Redupan mata Bethari berganti terang. Untuk sementara, ia sudah berhasil melupakan kewalahan batinnya atas Delmar tadi. Gadis itu meminta Delmar untuk mengantarnya melihat lukisan itu satu per satu. Dengan penuh sabar, pria itu lantas menyanggupi, bahkan ketika ia sendiri sebetulnya tidak pernah menaruh minat pada lukisan apa pun, kecuali karya Bethari yang tersimpan dan terawat di mansion. “Oi, Del!” seru sebuah suara maskulin, tiba-tiba. Itu terdengar tidak jauh dari mereka. Merasa terpanggil, Delmar lantas menoleh ke arah sumber suara. Detik itu juga, ia bisa melihat seorang pria tengah melambaikan kedua tangan ke arah Delmar. Di samping pria itu, berdiri juga seorang gadis sepantar temannya dan Delmar. Mereka sama-sama mengenakan atribut seragam yang sama dengan para pengurus tadi—pengurus yang bertugas menjadi penerima tamu, tak lupa juga terlingkar name tag masing-masing di leher pria dan gadis itu. Dalam sekali lihat, tanpa perlu menyipitkan mata untuk menangkap nama mereka, Delmar langsung bisa mengenali siapa keduanya. Mereka ialah teman kampus Delmar di Universitas Tirtayasa, salah dua dari sekian volunteer untuk mengurusi pameran dari Artland Museum. “Siapa?” tanya Bethari, melirik heran sosok-sosok yang kelihatannya mempunyai hubungan akrab dengan Delmar saat ini. “Teman kampusku,” jawab Delmar. “Aku tinggal sebentar, tidak apa?” Bethari mengangguk, kemudian mengulaskan senyum tulus. “Tidak usah buru-buru, Del,” balas gadis itu. “Aku bisa melihat-lihat seorang diri.” Delmar tertawa singkat. Menepuk sebentar puncak kepala Bethari, ia berkata, “Baiklah, panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu.” Usai berkata demikian, Delmar lantas beranjak dari sisi Bethari untuk menjamah kedua teman kampusnya, Rehan dan Citra. Pria itu mengangkat sebelah tangan guna menyapa balik temannya tersebut. Ketika ia sudah tiba di dekat Rehan dan Citra, Delmar berhenti dan berdiri menghadap kedua orang itu. “Siapa itu, Del? Gadismu yang baru?” tanya Rehan, melirik sejenak Bethari yang telah sibuk dengan ‘dunia’nya—Dunia Seni. “Anak mana?” Delmar mendengkus, menanggapi pertanyaan lelucon dari Rehan itu. “Bukan, dia sahabatku. Bethari. Sebentar lagi akan masuk kampus kita,” balas pria itu, sekenanya. Kemudian, ia menoleh ke arah Citra. “Calon adik tingkatmu, Cit.” Mata Citra berbinar-binar. “Oh ya?” tanyanya, antusias. “Ah, kalau begitu, aku ke dia dulu. Tadi namanya siapa? Bethari?” Delmar mengangguk. Di luar perkiraan Delmar, kepergian gadis ramah itu ternyata lebih cepat dari dugaannya. Membuat Delmar dan Rehan sama-sama menggelengkan kepala setelah Citra berlari cepat mendekati Bethari. Memutuskan untuk tidak acuh, kedua pria itu mulai memperbincangkan berbagai hal terkait urusan organisasi Dewan Perwakilan Mahasiswa dan sesekali membicarakan suka duka Rehan sepanjang menjadi volunteer untuk beberapa waktu. Di sisi lain, Bethari tengah mengagumi salah satu karya ketika tahu-tahu saja seseorang menepuk pundaknya. Ketibaan Citra yang terlalu tiba-tiba membuat jantung Bethari berdetak cepat dalam keterkejutan. Bethari siap memutari roda dengan kedua tangannya, bermaksud melarikan diri, tetapi Citra dengan cekatan memegang cengkeraman kursi roda. “Kau ingin ke lukisan mana, Bethari? Sini, kuantar!” tawar Citra dengan sikap ramah-tamahnya. Bethari terkesiap. Ia menatap Citra cukup lama, sebelum akhirnya berkata, “T-Tidak, di sini saja.” Citra mengulaskan senyum manis hingga kedua mata gadis itu menyipit seperti bulan sabit. Gelagat tidak nyaman dari Bethari tak ia hiraukan. Citra justru bertelut di sisi kursi roda dan menjorokkan kepalanya ke hadapan Bethari, membuat tangan Bethari terkepal sekaligus mencengkeram erat pakaiannya. “Aku Citra. Salam kenal, ya, Beth.” “Uh, iya. Salam kenal juga, Kak Citra.” “Cukup panggil aku Citra saja, Beth.” Gadis beratribut pengurus itu tertawa merdu. “Yah, mungkin secara teknis, kau akan menjadi adik tingkatku, tetapi aku tidak pernah mempersalahkan itu, kok.” Anggukan kepala Bethari terlihat kikuk, tetapi ia akhirnya memberanikan diri dengan bertanya, “J-Jurusan DKV?” Kendati hanya dua kata, maksud dari pertanyaan itu cukup dimengerti oleh Citra. Alhasil, gadis itu merespons dengan anggukan semangat, “Iya, benar! Nanti jika kau ingin menanyakan sesuatu terkait mata kuliah DKV atau hal-hal lain, bisa hubungi aku, ya! Delmar punya nomorku, kok.” Bethari terhenyak dengan keterbukaan Citra atas dirinya. Rasanya, sudah lama sekali ia disambut sebaik ini oleh orang asing dan Bethari tidak bisa untuk tidak merasa aneh. Yang ia tahu, tidak ada manusia lain yang bisa bersikap demikian selain Delmar, kedua orangtua Delmar, dan para pengurus Batara. Yang lain selalu menatapnya kecil, menundukkan kepala bukan dalam artian santun, tetapi tunduk karena ia terlalu remeh. Ia terlampau kucil dengan tubuh dan mental yang seperti ini. Oleh sebab itu, Bethari selalu mengisi sekolah menengah atasnya dengan sistem homeschooling. Jika Citra berbeda, apakah teman-temannya nanti juga sama seperti calon kakak tingkatnya satu itu? Ini membuat Bethari mulai bertanya-tanya. Akankah keputusan gadis itu untuk menempuh pendidikan secara tatap muka merupakan pilihan paling tepat?[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD