“Hie, apa kau benar-benar harus pergi?” tanya Nenek Carla dengan air mata yang sudah menggenang di kedua matanya. Hie tersenyum kecil, dia sudah bisa menduga neneknya akan bersikap seperti ini setelah mendengar berita kepergiannya. Tanpa kata dia memeluk neneknya, mengusap punggung neneknya yang mulai bungkuk dengan penuh sayang. “Iya, Nek. Aku harus pergi.” jawab Hie. “Tapi kau masih anak-anak, seharusnya kau disini saja bersama kami.” Hie melepaskan pelukannya, dia menatap neneknya yang masih setia terisak. Dia terharu melihat betapa tulusnya sang nenek menyayanginya padahal dirinya bukan cucu kandungnya. “Aku sudah dewasa Nek, usiaku sudah 18 tahun. Sudah saatnya aku bekerja dan membalas kebaikan kalian padaku selama ini.” “Tapi kau belum pernah pergi jauh dari rumah.” “ Nenek t

