CHAPTER 1
Tawuran antara SMA Harapan dan SMA Bunga Bangsa berakhir di kantor polisi. Pemimipin penyerangan dari SMA Harapan yang tidak lain adalah Akmal Malik diseret ke kantor polisi dengan beberapa anteknya, dan juga beberapa murid Bunga Bangsa juga diseret kesana.
Penyerangan itu terjadih ketika salah satu murid SMA Harapan yang hampir dilecehkan oleh murid Bunga Bangsa. Untungnya tawuran itu berhasil diredam kepolisian, karena seorang gadis yang menelepon salah satu anggota kenalannya.
"Kalau sampai kalian kesini lagi, saya tahan seminggu disini. Dan kamu," ujar pria berseragam coklat itu menentang Akmal. "Kalau bukan karena cewek itu sudah mati dikeroyok mereka."
"Dia pacar saya. Awas saja bapak polisi suka," sinis Akmal.
"Kamu berani ancam saya?"
"Nggak pak! Cuma mau memastikkan," bela Akmal.
"Sekarang kalian semua pulang," ujar pria itu.
"Terima kasih, pak." Balas mereka semua, kecuali Akmal.
***
Seorang gadis yang lengkap dengan seragam putih abu berjalan menghampiri kekasihnya yang baru saja keluar dari dalam kantor polisi. Guratan panik pada wajah itu terlihat dengan jelas.
PLAK !
"Apaan sih Helsa?" Akmal meringis ketika lebamnya ditampar Helsa tanpa permisi.
"Kamu tuh pantes ya, seharian hilang di sekolah."
"Nggak usah disini juga ceramahnya," tegur Akmal. "Ayo, pulang!"
"Nggak! Aku pulang sendiri," sergah Helsa.
"Kamu mau pulang, atau aku gendong naik ke motor?"
"Nggak!"
"Ok!"
Karena kesal dan merasa ditantang, Akmal menggendong Helsa menuju vespanya. Riuh parkiran kantor polisi dengan sorakan teman-teman Akmal membuat salah satu polisi disana menuju kesana.
"Kalau mau bucin, jangan disini. Mau saya bawah kalian ke dalam lagi? Cepat bubar!"
"Siap pak!" Jawab mereka semua, dan berlalu meninggalkan parkiran sekolah. Mereka harus kembali ke sekolah, karena motor diparkir disana. Sedangkan Akmal, motornya dipakai Helsa kesini. Laki-laki itu tidak akan terkena hukuman tambahan dari sekolah, karena dia langsung pulang.
"Pak, bisa minta bantuan?" tanya Akmal pada polis itu.
"Apa lagi?"
"Bilangin ke pacar saya, biar naik ke motor." Ujar Akmal dengan senduh.
"Nggak usah repot-repot pak," tolak Helsa dan menaiki vespa itu.
"Makasih pak. Nanti kapan-kapan saya kunjung lagi," celetuk Akmal.
"Kami penjarakan kamu sampai berjenggot," ujar polisi itu meladeni Akmal.
Motor kemudian meninggalkan parkiran polsek, dengan Helsa yang memasang wajah masam. Acara ceramahnya belum selesai sampai disini, lihat saja kalau sudah sampai di rumah. Akmal akan habis dimaki-maki Helsa.
Tiga puluh menit waktu yang ditempuh dari polsek ke rumah Akmal. Pemuda itu hanya senyum-senyum melihat wajah cuek Helsa, pikirnya pasti kekasihnya itu begitu kesal.
Biarkan saja. Akmal suka jika Helsa memarahinya, Akmal suka saat Helsa posesif padanya.
Sesampainya didalam rumah, gadis itu langsung menuju dapur, dan kembali dengan satu baskom air untuk mengompres wajah lebam kekasihnya yang badung itu.
Mereka duduk diatas karpet bulu yang ada di ruang tengah, dengan Akmal yang sengaja mencondongkan wajahnya agar Helsa bisa mengobati lukanya.
"Sayang banget sama Helsa. Biar marah, tapi tetap ladenin lukanya Akmal." Sarkas laki-laki itu dengan mata yang terpejam dan senyum yang menggoda.
Helsa tidak menggubris sarkasnya, dia terus menekan dengan pelan wajah lebam Akmal. Belum aja galaknya keluar.
"Sa ... Aku dikacangin dari tadi," keluh Akmal. "Kamu nggak mau lanjut marah aku?"
"Helsa Septian binti Yuda Andrean, tolong keluarkan jiwa ustazah-nya dong. Akmal haus akan ceramahnya nih," kelakar Akmal mencoba untuk memancing amarah Helsa.
"Akmal Malik bin Andriano, saya kutuk kamu jadi suami Helsa."
"Kok jadinya gitu, Sa? Aku kan maunya kamu ceramah, bukan kutuk." Protes Akmal, wajahnya ditekuk.
"Anda tidak ingin menjadi suami Helsa? Ya sudah, saya cabut kutukannya."
Akmal menahan tawanya, ternyata Helsa sudah tidak memarahinya. Gadis itu diam karena tidak membuat suasana semakin panas, kalau Helsa marah, berarti akan panjang ceritanya.
"Maaf, Sa. Aku membelah kebenaran untuk hari ini. Itu baru cewek lain yang kena, kalau sampai kamu, sekolahnya aku ratain."
Akmal hanya ingin membelah, tapi caranya salah. Dia hampir saja mengantar nyawa untuk anak Bunga Bangsa, kalau bukan karena Helsa, mungkin laki-laki itu sudah tinggal nama.
Bagaimana tidak? Anak Bunga Bangsa membawa peralatan praktek dari setiap jurusan, misalkan anak otomotif yang membawah peralatan bengkel. Bisa kalian bayangkan itu semua terbuat dari apa, tentu saja bukan dari plastik.
"Al, kamu benar. Tapi bukan gitu caranya. Belum aja besok kamu ke sekolah, ketemu pak Darwin dan lainnya. Coba kamu hitung, berapa banyak masalah yang kamu buat?"
"Palingan di skors," jawab Akmal.
"Syukur cuma di skors ... Kamu kan udah masuk blacklist, kamu lupa?"
"Nggak usah panik. Yang penting kan aku tetap sayang kamu," goda Akmal.
Helsa menatap kesal pada kekasihnya, bisa-bisanya laki-laki ini tampak santai dengan apa yang baru saja dia lakukan. Semoga mereka semua diberi keringanan.
***
"KELUAR!"
Itu suara guru olahraga SMA Harapan, pak Darwin. Guru paling kejam disana, tidak ada yang berani menentangnya sekalipun itu kepala sekolah. Wajahnya tampan, terlihat baik, tapi jangan salah jika sudah marah.
"MAU NGAPAIN KALIAN?" tunjuknya pada Arjun.
"Bapak suruh kami keluar. Ya kami keluar," jawab Akmal
"MERAYAP DARI SINI!"
"KALIAN SEMUA!" teriaknya sekali lagi.
Suasana sekolah begitu ramai, pagi itu semua kegiatan pembelajaran dihentikkan. Semua yang terlibat tawuran kemarin diturunkan ke lapangan dengan cara yang berbedah, yaitu merayap. Akmal sendiri yang mendahui, lalu diikuti oleh teman-temannya.
Dari kejauhan Helsa menatap ibah pada kekasihnya, dengan Bella yang setia disampingnya. Helsa tahu bahwa akan ada hukuman berat yang dilakukan pak Darwin. Akmal sudah berulang kali seperti itu.
"Sa, mau kemana?" tanya Bella saat melihat gadis itu memutar haluan.
"Kantin," jawabnya.
"Gue tunggu disini," ucap Bella.
Helsa melangkah pergi meninggalkan Bella sendiri disana. Bukannya Helsa malu, dia tidak tegah menyaksikan kekasihnya disiksa habis-habisan oleh pak Darwin. Kasihan Akmal.
***
Akmal menyekah keringat yang bercucuran pada pelipisnya. Wajahnya tampak lelah, bayangkan merayap dari lantai dua hingga ke tengah lapangan. Untung saja dia sempat sarapan.
Dia duduk pada bangku panjang dekat loker, hanya sendiri tanpa teman-temannya.
Sebotol air mineral dingin mendarat pelan pada pipinya, Akmal mendongak mendapati kekasihnya yang berdiri disamping.
"Sa ... Aku capek," adu laki-laki itu pada kekasihnya, dia lalu mengambil botol air dari tangan Helsa.
"Cengeng banget sih," cibir gadis itu.
"Kamu bukannya semangatin aku tadi, malah pergi gitu aja. Aku lihat."
Helsa mendengus kesal. "Kamu nggak lagi ada pertandingan footsal yang harus aku semangatin."
Akmal berdecak, lalu meneguk satu botol air tanpa henti. Dia tertegun saat Helsa menghapus peluh keringatnya, gadis itu selalu disampingnya saat-saat seperti sekarang.
"Kata pak Darwin, kita bakal di skors aja. Tapi belum tahu, lagi ada rapat."
"Al, ini yang terakhir. Bisa kan?"
"Aku nggak janji, Sa."
"Ya udah, nggak usah pulang bareng. Aku pulang sama Bella aja, atau nggak pakai taxi."
"Sok ngancam. Emang duit janjannya masih ada?" tanya Akmal. Laki-laki itu tahu betul jika Helsa tidak pernah membawa uang lebih untuk taxi, dia hanya membawa uang sekedar untuk jajannya saja.
"Ih, Akmal ..."
"Sini peluk. Aku capek, pengen bersandar sama pujaan hati." Ucapnya dramatis, dengan tangan yang direntangkan ke depan.
"Bucin teros ...." sindir Ando yang tidak sengaja turun dari rooftop sekolah. Loker memang tidak jauh dari tangga rooftop.
"Jomblo teross ..." balas Akmal.
"Dih, ngelunjak." Ujar Ando yang menghampiri keduanya. "Awas lo berdua, biasanya orang ketiganya setan."
"Eh, bentar ... Gue dong setannya," kata Ando menyadari posisi.
"Ya iya ... Mending lo cabut, sebelum uwuphobia lo kambuh," ketus Akmal yang tiba-tiba saja memeluk Helsa.
"Gue doain putus," celetuk Ando.
"Gue doain lo keluar dari sekolah," balas Akmal tak mau kalah.
"Akmal, kok gitu sih sama ando. Dia itu moodboster aku di kelas," kata Helsa membelah sahabatnya.
"Nah loh, tarik kata-katanya Malik."
"Oh, jadi selama ini aku nggak ada apa-apanya dibanding si ceking satu ini?" todong Akmal berpura-pura marah.
"Ya nggak gitu ... Dia cuma pelarian," bisik gadis itu.
Akmal tertawa. "Kasihan banget, An. Sekalinya punya temen cewek, dianggap pelarian doang. Makanya punya cewek."
"Bener-bener gue dibully. Udah, mending gue cabut. Bisa stres ladenin elu berdua."
"Bye bye, An. Selamat sampai tujuan," ucap Helsa sambil melambaikan tangannya pada pemuda itu.
Akmal terus memeluk Helsa. Capeknya perlahan menghilang, keduanya kembali duduk di bangku itu. Sekeliling mereka sepih, tidak ada murid yang melintas disana. Akmal akan lebih leluasa dengan aksi bucinnya. Dibalik Akmal yang selalu memamerkan kemesraannya bersama Helsa, akan dirinya yang selalu ingin berduaan bersama gadis itu tanpa ada mengusik. Tidak heran jika mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama di rumah laki-laki itu.
"Jangan pergi, Sa. Aku cuma mau kamu. Disini terus sama aku."
***