"Helsa ... Maaf!"
Air muka Helsa mendadak berubah saat mendengar kabar bahwa Akmal akan di drop out dari SMA Harapan saat kenaikan kelas nanti. Hukuman skors tiga minggu mendadak diubah menjadi drop out. Hal itu terjadi ketika guru BK memberi catatan hitam miliknya. Benar-benar menyebalkan.
Dan lebih parahnya, hanya Akmal yang dikeluarkan dari sekolah. Seperti pada part kemarin yang sempat aku jelaskan, Akmal mengorban dirinya untuk dikeluarkan dari sekolah itu, asal bukan dengan teman-temannya. Ando dan Arjun sangat beruntung. Semuanya dilakukan atas dasar perjanjian hitam diatas putih.
"Aku janji nggak bakal macam-macam lagi. Yang kemarin itu terakhir. Nggak ada lagi tawuran."
Helsa berdecak kesal. "Aku selalu bilang, kalau mau ngelakuin sesuatu itu harus mikir."
"Iya sayang, iya. Mau gimana lagi?! Nasi udah jadi bubur."
"Aku kecewa," ucap Helsa dengan kekesalannya dan berlalu meninggalkan pemuda itu sendiri di lapangan footsal.
Akmal mencekal pergelangan tangan gadisnya, sehingga Helsa harus menahan langkahnya. "Sa, kalau kamu kayak gini, gimana aku mau semangat tepatin janjinya?! Aku serius, aku nggak akan terlibat lagi."
"Kasih janji terus, tapi nggak ada yang ditepati," sarkas Helsa. "Kamu serius sekolah nggak sih?"
"Seriuslah. Kita kan harus satu kampus, lulus bareng, kerja harus bareng, nikah dan punya anak."
"Apaan sih, Al? Aku serius."
"Itu Amin paling serius dari aku," sebut Akmal.
"Aku mau pulang," kata Helsa. "Mau ke rumah tante Dilah."
"Dia nggak lagi di Jakarta. Semalam flight ke Jogja."
Helsa menghelah nafas, kembali duduk pada tribun lapangan itu dengan Akmal yang masih setia memegang tangannya.
Akmal mau meyakinkan bahwa dia tidak akan terlibat hal-hal kriminal seperti kemarin. Dia akan lebih serius menghadapi satu tahun terakhirnya menuju universitas. Pemuda itu akan mengambil jurusan Teknik Sipil.
***
"Akmal ... Kita udah lama banget nggak ke sini."
Hembusan angin laut menerpah surai panjang gadis yang baru saja turun dari vespa matic kekasihnya. Helsa begitu antusias dengan suasana pantai, sudah lama sekali mereka tidak kesini. Biasanya setiap akhir pekan, mereka selalu mengunjungi tempat ini.
"Kangen, kan?" tebak Akmal.
"BANGET!!!"
Akmal menggenggam jemari gadisnya, membawa Helsa menuju pinggir pantai. Masih mengenakan seragam putih abu-abu, Akmal ingin mengulang momen yang sudah lama tidak pernah mereka lakukan. Kejar-kejaran di pantai sampai basah, duh jadi pengen pacaran lagi ini authornya.
"Sa, mata kamu merah," kata Akmal. "Coba aku lihat."
Cup ..
Satu ciuman mendarat dengan mulus pada matanya, lalu berlanjut pada pipinya. Akmal genit banget sih.
"Modus ih," Helsa mencubit pinggang Akmal.
"Sakit, sayang. Kamu kebiasaan banget, kalau nggak pinggang ya lengan aku yang kamu gigit."
"Kamu ganjen sih," balas Helsa.
"Nggak apa-apa ganjeng sama kamu, dari pada sama orang lain," sarkasnya.
"Awas aja sampai kejadian, aku tinggalin kamu."
Akmal memeluk Helsa begitu erat. "Mau kamu lari kemana pun, aku bisa ketemu lagi."
"Kalau sekarang?" tantang Helsa. Gadis itu melepas diri dari kekasihnya, berlari menghindari Akmal.
"Kalau bisa tangkap aku, malam ini aku nginap di rumah," ujar Helsa yang sudah jauh.
"Tepatin ya?!" teriak Akmal dan berlari menyusul Helsa.
Suasana siang itu terlihat begitu cerah, dua anak manusia itu berlarian dipinggir pantai dengan suara tawaan yang terbawa angin laut. Wajah bahagia tercetak jelas dari keduanya. Untuk sejenak Helsa melupakan kesedihannya akan kekasihnya yang harus pindah sekolah.
"Akmal, udah ... Aku capek," pinta Helsa.
"Yang penting, bentar nginap di rumah, nggak terima banyak alasan."
"Iya, Malik."
"Peluk dulu," Akmal merentangkan kedua tangannya, menyambut tubuh kekasihnya yang berhambur ke pelukannya.
"Makasih," ucap Helsa. "Terus kayak gini, Akmal. Aku maunya kamu."
***
Akmal mengendus-ngendus kulit leher kekasihnya. Aroma tubuh Helsa paling digemarinya, apalagi jika gadis itu baru selesai mandi. Saatnya bermanja ria, itulah Akmal.
Malam ini Helsa nginap di rumahnya, menempati janjinya siang tadi.
"Aku keringin rambut kamu, ya? Nggak nyaman banget rambut kamu basah," tawar Akmal.
"Biar aja kering sendiri," kata Helsa.
"Nggak ah, nggak enak."
"Emang kamu mau apa sih?" selidik Helsa.
Akmal tersenyum jahil, "mau buat anak."
"Akmal ..."
Pemuda itu tertawa kencang, wajah Helsa memerah saat Akmal mengatakan akan membuat anak bersamanya. Padahal cuma candaan.
Mereka belum melakukan diluar batas, hanya sekedar ciuman bibir biasa.
"Kalau aku mau beneran gimana?" tanya Akmal dengan wajah serius.
"Al, jangan becanda."
"Aku serius. Aku mau punya anak dari kamu, tapi tidak sekarang. Dan itu pasti, kamu bakal jadi milik aku."
Helsa mengalungkan tangannya pada leher kekasihnya. "Kalau nanti, aku juga mau."
"Sekarang aja deh," goda Akmal.
"Ogah," tolak Helsa.
"Kan prinsipnya, masuk kampus bareng, lulus bareng, kerja juga bareng, nikah dan punya anak bareng." Ucap keduanya secara bersamaan.
Akmal mengecup kening Helsa begitu mesrah, lalu disusul ciuman pada puncak kepala gadis itu.
"Buat aku, bisa hidup sama kamu udah lebih dari sempurna. I love you so much," ucap Akmal.
Ciuman itu beralih pada bibir Helsa, diikuti lumatan-lumatan kecil disana. Kedua benda kenyal itu saling bertautan, menumpahkan segala rasa sayang yang menjalari tubuh mereka.
"Sa, nikah sama aku nanti. Jangan sama orang lain, aku udah terlalu bergantung sama kamu sayang."
"Iya Al. Aku mau."
Akmal mencintai Helsa, begitu pun juga Helsa yang mencintai kekasihnya itu.