CHAPTER 3

1302 Words
Sudah satu hari lebih Akmal tidak menghubunginya. Helsa khawatir dengan keadaan kekasihnya. Tidak biasanya seperti ini. Dering panggilan dari handphonenya mengalihkan pandangannya, Helsa segera meraih benda pipih itu dari nakas. Dari layar, nama Ando terpampang dengan jelas. Tumben sekali Ando menghubunginya. "Hallo, An." "Bawa pulang cowok lu sekarang, reseh banget." "Hah? Gue nggak ngerti, maksudnya gimana?" "Akmal mabuk berat di rumah gue. Nggak tahu punya masalah apa lagi." "Sial banget sih, pantesan dari sore nggak ada kabar. Gue siap-siap kesana." "Ok, kita tunggu." Helsa memutuskan panggilan itu, dan beranjak dari ranjangnya. Gadis itu mengambil dompet, hoodie, dan keluar dari kamar. "Mbak Ana, Echa keluar bentar. Ada urusan," lapornya pada mbak Ana yang masih sibuk di dapur. "Iya non, tapi bawah kunci rumah kan?" "Iya. Echa berangkat," katanya dan berlalu meninggalkan mbak Ana. Ini sudah pukul delapan malam, jalanan masih cukup ramai. Helsa berdiri di gerbang rumah menunggu taxi online yang dia pesan. Kenapa malam ini Helsa tidak mencurigainya? Jika tanpa kabar, kekasihnya selalu yang berbuat aneh-aneh, misalkan minum sampai mabuk seperti ini. Helsa tidak melarangnya, tapi harus tahu batasan. Tapi, malam ini pemuda itu membuat Helsa ingin mencekiknya. "Mbak Helsa Septian, ya?" tanya supir online yang dioesan Helsa. "Iya, pak." Bapak itu tersenyum ramah padanya, segera Helsa memasuki mobil avanza putih tersebut. Mobil meninggalkan pelataran rumah. Waktu yang ditempuh menuju rumah Ando biasanya tiga puluh menit, kalau saja tidak macet. Helsa tampaknya gelisah. Sekali lagi dia mencari list panggilan Ando, dia menghubungi sahabatnya lagi. "Hallo, An. Akmal masih disana, kan? Gue udah di jalan." "Masih. Sebelum lo datang, dia nggak akan berhenti minum. Cepatan lo kesini, cerain sekalian." "Iya, iya. Gue matiin." Sambungan telepon terputus, Helsa menggeram saat tahu kekasihnya masih terus menyentuh barang haram itu. Ada masalah apa sih dia? *** Mobil avanza putih itu berhenti tepat pada gerbang rumah bercat biru, Helsa segera membayar tagihan perjalanannya. Gadis itu cepat-cepat turun dari mobil, membuka gerbang dan berjalan cepat memasuki rumah Ando. Pekarangan rumah Ando begitu padat diisi dengan motor milik anak-anak SMA Harapan, lebih tepatnya teman-temannya Akmal. Di ruang tamu, Helsa bisa melihat begitu banyaknya mereka melingkari meja yang diatasnya banyak minuman beralkohol. Mata gadis itu jatuh pada sosok pemuda yang sedang meneguk satu gelas minuman tersebut. Gadis itu berdehem, membuat banyak mata menatapnya penuh. "Eh, ibu negara datang. Mau jemput, ya?" goda Paskal, salah satu dari mereka. Akmal belum menyadari kehadiran kekasihnya. Bagimana bisa, sedangkan dia mabuk berat. "Sa, cepat lo bawah pulang. Bisa bolong lambungnya kalau dibiarin terus," sambung Ando. "Gawat, Sa, kalau dia pulang sendirian." Lanjut Arjun, pemuda itu bahkan tidak menyentuh minuman haram disana. Helsa berjalan mendekati Akmal yang masih asyik dengam minumannya. Matanya berkaca-kaca mendapati Akmal yang terlihat berantakan. Helsa sudah tahu jika seperti ini, Akmal punya masalah lagi dengan orangtuanya. Meskipun jauh, papa dan mamanya bisa perang mulut dengan dia. "Al ... Pulang," tutur Helsa dengan lembut. Akmal mendongak. "Sayang... Ngapain kesini?" "Kamu yang ngapain disini? Ayo, pulang!" Helsa masih bisa menahan amarahnya, padahal sejak tadi emosi sudah menggebu. Akmal merengek seperti anak kecil, mengguncang-guncang tangan kekasihnya. "Aku masih lanjut, kamu pulang aja. Nggak enak sama yang lain." "Lo pulang aja, Al. Helsa udah jemput," ujar Ando. "Nggak! Kamu pulang aja, aku disini." Helsa kesal. Kesabarannya sudah diambang batas. Gadis itu meraih gelas berisi amer yang hendak diteguk kekasihnya dan membanting ke lantai. "AKMAL MALIK!!" Semua mata tertuju pada Helsa. Suara teriakan itu membuat semuanya hening, tidak pernah Helsa semarah ini pada kekasihya. "Hmm," gumamnya. "Pulang sekarang!" teriak Helsa. "Iya, iya ... Bawel banget sih. Kunci vespa sama dompet mana?" "Udah aku kantongin, sekarang pulang." Jika Helsa sudah berteriak namanya secara lengkap, dalam kondisi mabuk sekalipun Akmal akan mengiyakan permintaan kekasih bawelnya itu. "Guys, gue pamit. Ibu negara udah jemput," ujarnya dalam kondisi setengah sadar. "Hati-hati lo berdua. Helsa, lo aja yang bawa vespanya, bahaya Akmal mabuk." "Kita pakai taxi. An, titip vespa di rumah lo dulu. Besok dia bawa pulang." Ando mengangguk patuh, lagian anak-anak ini pasti nginap di rumahnya. Akmal berjalan disamping Helsa, dengan langkah gontai pemuda itu memeluk erat pinggang kekasihnya.. Sembari menunggu taxi yang sudah dipesannya, gadis itu merapihkan kondisi kekasihnya yang terlihat berantakan. "Kita pulang pakai vespa aja, lama banget taxinya." "Kamu mau bunuh aku?" tanya Helsa. "Bunuh? Bisa gila aku tanpa kamu," kekehnya. Helsa tahu Akmal mabuk, biarkan saja dia berbicara semaunya. "Mbak Helsa, yah?" tanya supir taxi yang baru saja tiba. "Bapak mau goda pacar saya? Jangan main-main sama saya pak," ancamnya pada supir taxi tersebut. "Jangan didengarin, pak. Orangnya lagi mabuk," ucap Helsa. "Nggak apa-apa, mbak." Helsa menuntun Akmal masuk ke mobil, lalu duduk disampingnya membiarkan Akmal tidur pada pahanya. "Jalan, pak." Mobil kemudian meninggalkan pelataran rumah Ando, bersama dengan Akmal yang terus meracau tak jelas. "Pacarnya punya masalah, mbak?" tanya supir tersebut. Sebut saja pak Bambang. "Nggak, pak. Ada acara di rumah temannya, jadi dia minum kebanyakan." Helsa mengalibi, dia sendiri belum tahu kenapa Akmal minum sebanyak ini. Pak Bambang mengangguk paham. Anak muda memang selalu seperti itu, apalagi mereka punya masalah. "Sa, mereka jahat banget. Mereka nggak ngerti perasaan aku." Akmal teruus meracau, pelukannya semakin erat pada Helsa. "Mereka hanya pentingin keluarga baru, nggak ingat sama anaknya disini." Sudah jelas. Akmal seperti ini karena orangtuanya. Lagi dan lagi. "Cuma kamu dan tante Dilah yang ngertiin aku, mereka itu orang asing." "Kamu beruntung, sayang. Kamu beruntung punya keluarga yang utuh." Helsa tidak banyak bicara, biarkan Akmal mengeluarkan semua kekesalannya. Beberapa saat kemudia taxi berhenti tepat di gerbang rumah Akmal, seperti sebelumnya Helsa membayar tagihan perjalanan mereka dan turun bersama Akmal. Helsa memapah kekasihnya masuk ke rumah. Kunci rumah bertautan dengan kunci vespa, Helsa membiarkan Akmal duduk di sofa teras agar dia dengan leluasa bisa membuka pintu rumah. "Al, ayo bangun. Pintu udah kebuka," ajak Helsa. Akmal mengangguk. Kesadarannya sudah hilang 60%. "Sa ..." panggilnya. "Kenapa? Ayo kita masuk!" "Dekat sini, aku mau ngomong." "Kan bisa dari sini," balas Helsa. Akmal berdecak. Dia berdiri berhadapan dengan Helsa, lalu dengan cepat menggendong Helsa seperti koala dan masuk ke rumahnya. "Akmal ... turunin aku!" pekik Helsa. "Pintu rumah belum ditutup," kata Helsa. Akmal segera membalikkan badannya, masih dengan menggendong kekasihnya, pemuda itu kembali ke pintu depan dan menutupnya. "Akmal, turunin aku." Pinta Helsa, namun pemuda itu seolah tidak mendengarnya, dia terus menaiki anak tangga menuju kamarnya. "Temenin aku tidur," bisiknya. Akmal menurunkan Helsa pada sofa yang ada di kamarnya. Dia duduk disamping kekasihnya, menatap Helsa penuh. "Kamu mabuk, aku takut." "Aku nggak mabuk, Sa." Akmal berjalan menuju pintu, dan menutupnya dengan rapat. "Al, kamu jangan becanda." "Aku bisa kontrol diri," sanggahnya. Suasana menjadi hening. Akmal kembali duduk disamping Helsa, dengan mata yang terlihat merah akibat alkohol, pemuda itu memeluk Helsa begitu kencang. "Sa, kalau nanti kita punya anak, kita jangan seperti mereka. Jangan egois," ucapnya. "Aku nggak mau nasib anak aku sama seperti papanya, nggak dapat kasih sayang dari orangtua. Cukup aku, jangan dia." "Nangis aja. Jangan ditahan, Al. Tumpahin semua kekasalan kamu, aku disini." "Ini aku, Helsa. Anak laki-laki yang tumbuh dengan kerasnya kehidupan tanpa orangtua. Ini aku, Helsa. Akmal Malik dengan semua kekurangannya." Pemuda itu menangis sejadi-jadinya dipelukan Helsa, menumpahkan semua isi hatinya. "Kamu punya aku, dan tante Dilah." "Mereka emang nggak pernah peduli sama aku. Kalau mereka peduli, nggak mungkin mereka tinggalin aku dari kecil." "Al, nggak ada orangtua yang nggak sayang anaknya. Ini cuma masalah jarak dan waktu," kata Helsa. "Kamu jangan pergi, disini terus sama aku." Pinta Akmal. "Iya, aku disiini." "Ayo tidur," ajaknya. "Aku bisa kontrol diri, sayang." "Serius, kan?" Helsa harus memastikan tidak terjadi sesuatu. Akmal mabuk, bisa saja dia hilang kendali. "Hmm," gumamnya sebagai jawaban. Keduanya beranjak dari sofa, dan merebahkan tubuh diatas ranjang king size milik Akmal. Pemuda itu mendekap kekasihnya, menyalurkan seluruh rasa sayangnya. Biarkan seperti ini selamanya, Akmal ingin Helsa selalu disampingnya, menjalani hidup bersama. ***  Vote dan komentar. Terima kasih sudah baca cerita Akmal dan Helsa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD