'Bagaimana,ya kabar lelaki itu. Aku harap dia baik-baik saja.' Nimas tersenyum, lesung pipinya jadi terlihat. Ia juga jauh lebih sering melamun ketika Fawaz sudah ada di sini. Nimas kira, hatinya tidak tergerak tapi sepertinya ia telah jatuh cinta. Cinta yang bukan karena tahta maupun harta. Tapi perasaan kasihan, dibalut kekaguman lalu berubah menjadi pengharapan. Suatu saat, lelaki yang mereka tolong mau mempersuntingnya. Sebagai satu-satunya gadis di desa itu yang belum menikah, tentu pikiran Nimas terus ke arah sana. Sungguh seujung kuku pun Nimas tidak mengira bila lelaki itu sudah berkeluarga. Karena Fawaz tidak tampak seperti pria beristri apa lagi memiliki dua anak. Tubuhnya gagah dengan garis wajah masih muda. Nimas pernah diminta Pak Along, juragan ternak untuk jadi ist

