39

1841 Words

"Eh iya bener! Gila sih gue kasihan sama Pak Alfa, dia rela tertabrak demi Vanya. Gadis urakan yang gak jelas ini." Vanya tetap diam. Dia tetap berjalan menuju kelasnya. Bisikan-bisikan itu sama sekali tidak mengganggu dirinya. Karena jika saja dia melawan, dia pasti akan menyebabkan masalah baru nantinya. Langkah kaki Vanya terhenti tepat di depan pintu kelas XI MIPA 3, Vanya segera memasuki kelas itu. Kelas Vanya tak begitu ramai karena beberapa siswanya sedang berada di kantin. Vanya berjalan menuju bangku miliknya dan Dinda. Disana ada Dinda yang sedang sibuk mengetik di laptop kesayangannya. "Nih surat izin gue, nanti tolong lo kasih ke sekretaris kelas," ucap Vanya seraya meletakkan sebuah amplop putih di depan Dinda. Dinda mendongak, dia menatap kehadiran Vanya dengan sedikit ib

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD