1. Putus
Seorang gadis tengah duduk di bangku taman sendirian. Melihat lalu lalang orang-orang yang berjalan lewat di depannya. Sesekali dia menoleh ke arah jam di tangannya. Satu jam sudah dia menunggu seseorang yang membuat janji dengannya, tetapi orang tersebut tak kunjung datang. Beberapa kali dia sudah mencoba menelepon untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi hingga orang itu membiarkannya menunggu satu jam lamanya.
Dia tetap menunggu meski hari kini tak lagi cerah, matahari perlahan tertutup awan. Embusan angin terasa semakin menusuk, membuat kulitnya terasa dingin. Daun-daun beterbangan karena terpaan angin. Orang-orang yang lalu-lalang pun berangsur menghilang. Kini, tinggal dia seorang berada di taman itu. Masih terduduk, berharap seseorang yang ditunggunya segera datang. Gadis itu bernama Nadia. Nadia tengah menunggu kekasihnya yang baru satu minggu datang dari jepang. Dia berjanji akan menemui Nadia di taman ini, taman dimana pertama kali Nadia dan Raga dipertemukan.
Nadia tak mau bernegatif thinking dulu karena Raga tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Dia akan mencoba menghubungi Raga satu kali lagi. Jika satu kali lagi dia tidak mengangkatnya, maka Nadia memutuskan untuk beranjak dari sana dan meninggalkan mimpinya untuk bertemu dengan Raga.
Tuuut
Terdengar suara deringan dari seberang telepon berkali-kali, Nadia hanya mengerutkan kening. Pikirannya mulai tak karuan menerka-nerka apa sebenarnya yang terjadi dan di mana kekasihnya kini berada. Kenapa dia tega membiarkan Nadia menunggu begitu lama. Nadia menaruh kembali ponselnya di dalam tas. Dia mengembuskan napas kasar. Nadia Aryasa Hanin, biasa dipanggil Nadia di kesehariannya atau biasa dipanggil Hanin di kampus. Dia gadis yang cantik, pintar, berperawakan tinggi sekitar 165 cm dengan berat badan 50 kilo. Nadia adalah mahasiswi semester akhir yang sedang mengajukan judul skripsi di kampusnya. Dia terkenal ceriwis dan suka bercanda di kalangan teman-temannya.
Selama tiga tahun lebih kuliah, Nadia jarang sekali terlihat dengan lelaki. Kalaupun ada lelaki yang dekat dengannya, itu hanya teman-temannya saja. Banyak lelaki yang mengatakan terang-terangan tentang perasaan mereka, tetapi Nadia tak sedikit pun menggubris keinginan mereka untuk menjadikan Nadia kekasih. Baginya, hanya ada satu nama yang akan terus mengisi ruang hatinya. Nama yang selalu dia jaga dari semenjak sekolah menengah hingga saat ini dia hampir menyelesaikan studinya di kampus. Nama itu tidak lain adalah Raga Wisesa, lelaki yang dikenalnya saat sekolah menengah. Dia merupakan kakak kelas Nadia yang bersekolah di seberang sekolah Nadia.
Nadia dan Raga menjalin kasih saat Raga akan lulus sekolah, sementara Nadia masih di kelas sebelas. Raga bukan cinta pertama bagi Nadia karena sebelumnya pun Nadia pernah menjalin kasih dengan teman sekelasnya saat kelas sepuluh. Namun, hubungan keduanya kandas karena Nadia tidak suka kekasihnya selalu datang ke rumahnya untuk bermalam minggu. Nadia merasa risih dan tidak ingin kekasihnya selalu datang dan menjemput dirinya untuk berangkat ke sekolah.
Dua tahun menjalin kasih dengan Raga, Nadia merasakan jika cintanya kepada Raga benar-benar sangat dalam. Hingga saat Raga memutuskan untuk kuliah ke luar negeri pun Nadia bersedia menunggunya dan berjanji tidak akan berpaling dari Raga. Saat di luar negeri, Raga sering menghubungi Nadia. Nadia selalu menyempatkan diri untuk ber-video call di tengah banyaknya tugas kuliahnya. Kini, seminggu sudah Arga berada di rumah. Nadia pernah ingin datang ke rumahnya, tetapi Arga tak mengizinkan dan membuat janji dengannya untuk bertemu sore ini di taman kota. Namun, harapannya sia-sia, orang yang dia tunggu tak kunjung datang.
Rintik hujan mulai turun saat dua jam sudah dia menunggu. Dengan berat hati dia pun berdiri dan hendak pergi dari tempat itu. Saat Nadia berjalan, tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam mengkilap memberi klakson dan berhenti di depan Nadia. Nadia pun menghentikan langkahnya dan berusaha melihat siapa orang yang akan keluar dari dalam mobil. Nadia menangkupkan tangannya di pelipis, menahan air hujan agar tak menetes ke mata dan menghalangi pandangannya.
Pintu mobil terbuka dan keluarlah seorang lelaki yang kedatangannya sangat ditunggu-tunggu oleh Nadia. Lelaki itu menoleh ke belakang, seketika wajah Nadia berubah menjadi sumringah. Wajah yang tadinya lesu, kini berubah mengembangkan senyuman merekah. Wajah Nadia terlihat begitu cantik dibawah guyuran air hujan. Lelaki itu mengeluarkan payung dan berjalan menghampiri Nadia. Langkahnya pasti, tubuh itu sudah Nadia rindukan beberapa tahun belakangan ini. Tubuh itu yang selalu dia nantikan kehadirannya. Kini dia ada di hadapan Nadia. Takkan ada yang mampu melukiskan kebahagiaannya saat ini. Begitu lelaki itu ada di hadapan Nadia, dia pun tak mau membuang waktu dan langsung menyergap Raga. Menghadiahinya ciuman di pipi, serta belaian lembut di pipi kanan dan kiri Raga.
“Raga, kenapa lama sekali datangnya? Aku sudah menunggumu dua jam lebih. Kamu tak kasihan ya membuatku menunggu hingga kehujanan begini,” celoteh Nadia tiada henti. Raga hanya menatap Nadia dalam. Nadia mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan sikap Raga yang biasanya hangat kini dia bersikap datar. Harusnya ini adalah hari membahagiakan bagi Raga dan Nadia dimana mereka baru dipertemukan lagi setelah sekian tahun tidak bertemu, tetapi kekasihnya malah bersikap biasa saja.
“Nad, ada yang mau aku sampaikan,” ucap Raga lirih. Nadia memiringkan kepalanya. Menebak apa yang mau Raga sampaikan.
“Aku tau apa yang mau kamu sampaikan. Kamu pasti mau bilang kalau kamu kangen kan sama aku. Sama seperti yang kamu katakan setiap kali kamu vicall aku, iya, kan?” tanya Nadia dengan mata yang berbinar. Dia tau kalau itu pasti yang akan kekasihnya sampaikan. Nadia memeluk Raga, mengeratkan pelukannya di tubuh kekasihnya. Saat Nadia memandang mobil Raga, Nadia melihat seorang wanita keluar dari dalam mobil kekasihnya seraya membawa payung dan melihat ke arah Nadia dan Raga.
Nadia melepas pelukannya dan melihat ke wajah Raga. Nadia menuding perempuan itu seraya bertanya, “Ga, dia siapa? Kenapa ada di dalam mobilmu?” tanya Nadia. Raga terlihat mengeratkan rahang kemudian menoleh ke arah Nadia.
Belum sempat Raga menjawab, wanita itu lebih dulu menghampiri keduanya.
“Kenalin ... aku Karin, calon istri Raga.”
Deggh
Terasa tertimpa bebatuan besar dari atas gunung begitu mendengar penuturan wanita yang ada di depannya. Nadia menatap dengan tatapan kosong, seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan wanita yang ada di hadapannya. Wanita itu melingkarkan tangannya di lengan Raga. Nadia menoleh dan tanpa terasa air mata tak bisa dia bendung hingga menetes membasahi pipinya dan bercampur dengan air hujan.
“Apa maksudnya, Ga?” Kenapa dia bilang kaya gitu? Calon istri? S-sejak kapan dia jadi calon istrimu sementara saat kamu di jepang, ada aku yang setia menunggumu di sini. Tolong jelasin semuanya, Ga. Ini pasti lelucon, kan?"
“Aku mau kita putus.”