“Lelucon macam apa ini, Ga?” Nadia seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
Raga memegang bahu Nadia dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegang payung dan lengan wanita itu masih ada di sana.
“Maafin aku, Nad. Aku dan dia … memang sudah bertunangan,” aku Raga seketika membuat tubuh Nadia mematung.
Air mata tak henti mengalir, napasnya semakin memburu. Dia tak menyangka Raga kekasihnya tega melakukan hal ini kepadanya setelah penantian panjang yang dia lakukan. Arga tak lebih menganggapnya hanya sebuah boneka, ya boneka yang sewaktu-waktu bisa dia tinggalkan.
“Kenapa kamu lakukan semua ini, Ga?” tanya Nadia dengan marah dan tersedu-sedu. Dia memukul bahu Raga membuat lelaki itu sedikit mundur.
“Maafin aku, Nad. Aku dan dia sudah dijodohkan. Aku tidak bisa menolak keinginan orang tuaku. Aku menyayangimu,” ucap Raga. Dia pun memperlihatkan mata yang berlinang seolah tak tega dengan apa yang dilakukannya kepada Nadia.
“Dasar b******k kamu, Ga. Aku benci sama kamu, aku benci,” geram Nadia. Dia segera berlari meninggalkan Nadia dan wanita yang bersamanya.
“Nad,” teriak Raga. Raga hendak mengejar Nadia, tetapi wanita yang bersamanya menahan langkah Raga sehingga dia mengurungkan niatnya dan berbalik ke dalam mobil. Seketika Raga melesat bersama dengan tunangannya.
Sementara Nadia, dia sambil sesenggukan terus berlari menyusuri jalan di bawah guyuran hujan. Dia tak peduli akan hujan yang semakin deras membasahi tubuhnya. Nadia begitu kecewa dengan lelaki yang selama ini sudah dia tunggu, tetapi begitu saja dia meninggalkan Nadia yang benar-benar tulus mencintainya. Di mana hati nuraninya? Kenapa dia tega meninggalkan Nadia setelah Nadia mengunci hati dan pikirannya hanya untuk Raga. Apakah lelaki bisa seenaknya meninggalkan perempuan dan mematahkan hatinya. Jika memang Raga tidak mencintai Nadia, kenapa Raga membiarkan Nadia menunggu dan selalu mengucapkan kata-kata cinta setiap kali berkomunikasi dengan dirinya. Setiap kali video call, Raga juga meminta dirinya memperlihatkan bagian membusung di dadanya dengan alasan rindu dengan Nadia. Nadia yang memang pernah merasakan bagian dadanya dipegang oleh Raga pun mengiyakan kemauan kekasihnya. Raga juga berjanji akan menikahi Nadia sepulang dirinya dari jepang. Dia pikir Raga akan benar-benar serius dengan hubungannya dan Nadia.
Puas berlari, dia pun berhenti. Napasnya masih tersengal-sengal, dia menunduk, menekuk kedua kakinya dan menenggelamkan kepala di kedua kakinya sambil menangis tersedu-sedu.
“Kenapa kamu lakuin ini, Ga. Kenapa?” tanya Nadia sambil menangis tersedu-sedu. Dia menengadahkan kepalanya ke atas. Membiarkan air hujan menerpa wajahnya, sakit memang. Namun, sakitnya tidak melebihi sakit hatinya karena dikhianati oleh Raga. Beberapa waktu Nadia terdiam dengan posisi yang sama. Hingga akhirnya, dia pun sadar dia tidak mungkin terus-menerus terpuruk dan meratapi kepergian Raga dengan wanita lain.
Dia pun berdiri dan melanjutkan perjalanannya berjalan kaki dengan baju yang basah kuyup. Hujan mulai reda, suara binatang yang keluar saat hujan terdengar di sana sini. Petang berubah menjadi malam, Nadia tak sedikit pun takut akan suasana malam yang sepi setelah hujan mengguyur. Saat berjalan, dia menemukan kaleng bekas minuman di kakinya. Dengan penuh napsu, Nadia pun menendang kaleng itu sangat keras tanpa dia sadari mobil sedan mewah lewat.
Prak
Mengetahui kaleng yang ditendangnya mengenai mobil merah itu, Nadia pun terkejut dan melihat mobil itu seketika berhenti beberapa meter di depannya. Nadia tersenyum kecut sambil menggaruk kepala yang tak gatal, dia tak menyangka kalau aksi marahnya itu malah akan menyebabkan dirinya berada dalam masalah. Mau berlari Nadia kepalang tanggung, jadi dia putuskan untuk diam dan menghadapi semuanya.
Pintu mobil terbuka, seorang laki-laki bertubuh tegap terlihat dari bagian belakang. Nadia memelototkan matanya melihat tubuh tegap lelaki itu. seketika dia terlena dengan hanya melihatnya dari belakang, apalagi nanti saat lelaki itu berbalik. Ternyata benar, saat lelaki itu membalikkan wajah dan menatap Nadia, dia lebih terkejut lagi karena wajah lelaki itu begitu tampan. Dia memakai kaca mata hitam, rahangnya ditumbuhi bulu-bulu halus. Dia terlihat begitu membuat Nadia terpesona, tetapi sekali lagi Nadia sadar kalau lelaki di hadapannya datang bukan sebagai pangeran, tetapi dia akan menuntut ganti rugi atas apa yang dilakukan Nadia terhadap mobilnya.
Lelaki itu dengan langkah panjang berjalan menghampiri Nadia, sesekali sepatunya menginjak genangan air di jalan. Jikalau Nadia tidak ingat bahwa lelaki itu hanya akan menuntutnya, dia pasti sudah meminta tumpangan kepadanya. Semakin mendekat Nadia semakin dibuat terpesona oleh lelaki itu, roti sobek di dadanya terlihat tercetak dari luar kaos putih yang dipakainya. Nadia menelan salivanya berkali-kali sambil berkedip sesekali.
‘Tuh orang ganteng banget, aku mau cowok kaya gitu. Maco, keren, type aku banget,’ bathin Nadia. Dia terlena sehingga tak menyadari jika lelaki itu sudah berada di hadapannya. Melihat gadis di hadapannya terpaku, lelaki itu pun menggoyang-goyangkan telapak tangannya di hadapan wajah Nadia.
“Hei,” sapa lelaki itu dengan suara bariton khas lelaki. Seketika Nadia tersadar dan menggelengkan kepalanya.
Nadia memperlihatkan deretan gigi putihnya berharap lelaki itu bersikap baik setelah apa yang dia lakukan kepada mobil milik lelaki itu.
“Maafkan aku, Pak. Aku gak sengaja,” ujar Nadia. Dia pikir orang di depannya akan dengan begitu saja memaafkan kesalahannya yang tanpa disengaja itu.
“Maaf? Maafmu tak bisa mengembalikan mobilku ke bentuk semula.” Mendengar perkataan lelaki itu, Nadia melongo.
“Iya, aku tau itu, Pak. Aku gak sengaja melakukannya, aku lagi kesel banget jadilah aku menendang kaleng itu sebagai pelampiasan.”
“Aku tidak mau tau, kamu harus tanggung jawab!” geram lelaki di hadapannya. Nadia yang awalnya memuja lelaki tampan di hadapannya pun seketika merubah penilaiannya dan menilai kalau lelaki itu lelaki keras.
“Tanggung jawab?” ucapnya melihat ke arah lain, lalu memandang lelaki itu lagi seraya berkata, “Come on, Pak. Bagaimana aku harus mengganti rugi mobilmu sementara aku tak punya uang untuk mengganti ruginya. Lagian nih, ya. Itu cuma kegores dikit doang, kok. Masa iya aku harus tanggung jawab,” ketus Nadia. Dia tersenyum sinis. Bukannya ingin lari dari tanggung jawab, tetapi lelaki di hadapannya ini sungguh keterlaluan jika harus menuntutnya mengganti rugi.
“Lagian suruh siapa lewat saat aku marah, salah bapak sendiri itu mah.” Nadia tidak meladeni lelaki itu dan memilih untuk pergi.
“Hei, kau harus tanggung jawab. Aku belum selesai bicara,” teriak lelaki ber-jas hitam itu. dia berusaha mengejar. Namun, deringan telepon di saku celananya membuatnya mengurungkan niat. Nadia menoleh dan memandang ke arah lelaki itu dengan menjulurkan lidah.
"Sial!"