3. Belajar Melupakan

1133 Words
Lelaki itu dengan wajah geram terlihat lebih tampan. Nadia melanjutkan berlari kecilnya hingga semakin jauh dari lelaki itu. untung saja dia bisa kabur dari lelaki sensi itu. Tapi tidak bisa dipungkiri, Nadia yang baru saja diputus secara sepihak, bahkan dikhianati oleh pacarnya, melihat lelaki itu membuatnya kesal tapi merasa lucu karena berhasil membuat lelaki itu marah. Nadia telah sampai di depan kosan miliknya. Jarak kosan dengan kampusnya tidak terlalu jauh, dia bisa menempuhnya hanya dengan berjalan kaki. Di depan gerbang kos-an dia bertemu dengan Rachel, teman satu kosannya dulu yang kini tinggal di seberang kosan Nadia. “Nad, kamu dari mana? Kok murung gitu” tanya Rachel. Nadia pun menghentikan langkah dengan wajah lesu. Rachel adalah orang yang paling tau perjalanan cinta antara Nadia dengan Arga. Saat mereka satu kosan, Nadia sering sekali membagi cerita antara dirinya dengan Arga. Rachel adalah salah satu sahabat Nadia meskipun mereka berbeda kosan, tetapi Nadia dan Rachel berada di kelas yang sama di kampus. Itu sebabnya Nadia selalu membagi ceritanya kepada Rachel. Nadia mengembuskan napas kasar. “Raga, Hel,” ucap Nadia lirih. “Raga kenapa? Kamu udah ketemu Raga tadi di taman? Terus gimana, apa yang kalian lakuin? Secara kan kalian lama gak ketemu, pasti kangen-kangenan, ya,” ledek Rachel menaik-turunkan alisnya. Namun, bukannya ekspresi senang yang Nadia tunjukkan, malah Nadia meloloskan satu-persatu air matanya. Rachel yang bingung pun mengajak Nadia masuk ke dalam kosannya agar dia bisa menginterogasi sahabatnya itu. Di dalam kamar, Nadia duduk lemas masih terisak, membuat Rachel kebingungan. Dia memikirkan hal yang tidak-tidak telah terjadi antara Nadia dengan Raga. “Apa yang Raga lakuin sama kamu?” tanya Rachel penasaran. “Apa dia melakukan hal yang buruk padamu?” lanjutnya. Nadia pun berhambur memeluk Rachel, dia menangis sejadi-jadinya. Meratapi kisah antara dirinya dengaj Raga yang harus diputus begitu saja oleh Raga saat Nadia lagi sayang-sayangnya. Bertahun-tahun Nadia menunggu Arga dan menjaga cintanya hanya untuk lelaki itu, tetapi Raga malah lebih memilih wanita yang dijodohkan dengan dirinya tanpa mempedulikan bagaimana perasaan Nadia. “Buruk, Hel, bahkan sangat buruk.” Mendengar Nadia mengatakan kata-kata itu, Rachel benar-benar menduga jika sahabatnya itu melakukan hal-hal yang pernah dia katakana saat Raga ada di jepang. Nadia pernah mengatakan padanya jika sepulang Raga dari Jepang, Raga memintanya untuk melakukan hubungan badan sebagai penanda jika Nadia hanya miliknya dan tidak akan ada lagi yang berhak memiliki Nadia. “What? Kamu beneran lakuin itu?” tanya Rachel menarik bahu sahabatnya. Rachel memandang Nadia dengan penuh tanya di otaknya. Apakah benar temannya sudah melakukan hal yang dulu dia katakan. “Kamu benar-benar sudah melakukan itu sama dia? Kenapa, sih, kamu nurut aja. Aku kan sudah bilang jangan mau melakukan hubungan itu sebelum kamu menikah,” geram Rachel, dia sangat peduli pada Nadia. Dia tidak mau jika Raga hanya memanfaatkan Nadia dan mengambil keuntungan karena Nadia yang begitu tulus mencintai Raga. Rachel tau seberapa besar cinta Nadia sama Raga. Sementara Raga yang memang terkesan hanya memanfaatkan Nadia dari semenjak mereka SMA. “Apa, sih, maksud kamu, Hel?” tanya Nadia masih terisak. Dia mengambil tisu di atas nakas kamar dan mengusap air matanya. “Tadi kamu bilang buruk, berarti kamu melakukan hal itu dengannya,” tebak Rachel. “Sembarangan, aku gak lakuin itu.” “Terus?” “Raga … Raga mutusin aku,” ucap Nadia pelan. Rachel menatap Nadia seolah tidak percaya dengan apa yang Nadia katakan. Setahunya, Raga berniat serius dengan Nadia dan Nadia pun akan memperkenalkan Raga kepada keluarganya sepulang Raga dari Jepang. Namun, mendengar pengakuan Nadia, dia pun merasa tak menyangka jika Raga melakukan hal itu. “S-serius, kamu. Kok bisa? Kenapa? Bukannya Raga bilang dia akan melamarmu?” tanya Rachel. “Heeum, tapi nyatanya tadi Raga biarin aku nunggu berjam-jam di taman, tapi begitu dia datang. Dia malah membawa seorang wanita yang belum aku kenal. Wanita itu mengaku kalau dia adalah calon istri Raga. Hiks.” Nadia kembali meneteskan air mata. Sekarang Rachel tau jika sahabatnya menangis karena hal itu, ada perasaan lega karena dia pikir Nadia sudah melakukan hal-hal yang dilarang. “Sudahlah, Nad. Mungkin Raga bukan pilihan terbaik buat kamu. Aku yakin kamu bisa move on dari dia. Tenang, laki-laki ganteng masih banyak, di kampus pun banyak laki-laki yang menyukaimu, iya ‘kan,” ledek Rachel. “Kamu ini, bukannya nenangin aku, malah udah nyuruh aku move on,” cebik Nadia. Suasana hatinya kini sedang kalut, lelaki yang ditunggunya bertahun-tahun, diteleponnya berkali-kali, malah mengkhianati dirinya. “Kamu kan tau gimana cinta aku ke dia, kamu malah ledekin aku kaya gitu.” “Come on, Nad. Dia aja bisa lupain kamu gitu aja, masa kamu mau mikirin dia terus.” Nadia berpikir sejenak, dia membenarkan perkataan Rachel dalam hati. Jika Raga saja bisa melupakannya, kenapa dia tidak. Bukankah selama ini dia mempunyai banyak teman lelaki di kampus. Sikapnya yang supel menjadikan dirinya banyak dikenal lelaki. Dia juga sosok yang ceriwis, masa hanya karena putus dengan satu lelaki yang jelas-jelas mengkhianatinya, dunianya menjadi berubah. Tidak, tentu saja tidak. Nadia bukan orang yang lemah, dia juga wanita yang mandiri. Buktinya saja dia mau hidup di kosan biasa saja, padahal orang tuanya adalah orang berada. Nadia adalah anak pemilik butik di kota Cirebon. Semenjak kuliah, dia memutuskan untuk mengekos di salah satu kosan yang dekat dengan kampus di Indramayu. Papa mamanya memfasilitasi Nadia dengan berbagai fasilitas, tetapi Nadia memilih untuk hidup mandiri. Dia ingin mengukur kemampuannya untuk bisa mandiri dan tidak bergantung pada kedua orang tuanya. Orang tua Nadia selalu memberi Nadia jatah uang bulanan yang langsung ditransfer ke rekening Nadia. Namun, Nadia tak pernah menggunakan uang itu dan hanya menggunakan satu ATM lainnya yang dia dapat dari hasil jeri payahnya sendiri. Nadia memang ceriwis, tetapi dia bukan anak yang manja di hadapan orang tuanya. Nadia adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Kakak lelakinya tinggal di kota yang sama dengan orang tuanya dan mengelola salah satu butik milik papa mamanya. Sementara adiknya, saat ini masih bersekolah di bangku kelas XII di salah satu sekolah menengah atas di kota Cirebon. Menjadi satu-satunya anak perempuan di keluarganya, tak menjadikan Nadia menjadi anak yang manja. Awalnya niat Nadia yang ingin mandiri ditolak oleh papanya, tetapi Nadia berhasil meyakinkan papanya dan hidup mandiri di kota Indramayu. “Kata-kata lo bener juga, Hel. Ngapain juga aku menangisi pengkhianat kaya dia, meskipun aku masih cinta sama dia, tetapi pengkhianatan yang dia lakukan sungguh membuatku kecewa. Dia pikir dia doang lelaki di dunia ini. Tenang, stok lelaki masih banyak, aku akan dapetin yang jauh lebih tampan dan keren dari dia. Huufth.” Nadia menyeka air matanya dan mengangkat kedua bibir manisnya. Rachel pun tersenyum melihat sahabatnya tersenyum. “Sekarang kita fokus aja sama kuliah kita, biar IPK kita terus naik,” ujar Rachel. Nadia pun mengacungkan jempol ke arah sahabatnya. Kini dia sudah jauh lebih tenang. Masalah Raga, dia akan segera menemukan penggantinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD