Keesokan harinya, Nadia berjalan ke kampus. Dia berjalan seorang diri. Jarak kosan yang tidak terlalu jauh, membuat dia lebih memilih berjalan kaki ketimbang naik motor ataupun angkot. Di pintu gerbang, dia bertemu dengan Rachel yang mengendarai sepeda motor. Mengingat jarak rumah Rachel yang cukup jauh, maka dia pun memutuskan mengendarai sepeda motor.
“Hei, Nad. Mau bareng, gak?” tanya Rachel menghentikan motornya dan menepuk jok bagian belakang motor. Nadia tidak langsung naik begitu saja, dia melihat dulu ke wajah temannya dan melihat jok bergantian. Kenapa tidak dari tadi Rachel datang dan bertemu dirinya saat dirinya masih berada di jalan raya. Ini mah Rachel datang saat sudah sampai gerbang. Jarak dari gerbang dengan parkiran FKIP sekitar lima puluh meter saja. Namun, daripada Nadia sendirian, lebih baik dia nebeng dengan Rachel. Lumayan, dia bisa menghemat energinya walau hanya beberapa detik saja. Ide yang bagus, bukan.
“Yeeeh, malah diem. Mau ikut gak, buru. Kalo gak ya udah aku tinggal, nih,” ancam Rachel.
Dengan sigap Nadia langsung melompat dan duduk di boncengan belakang. Dia menepuk bahu Rachel dengan agak keras.
“Jalan, Hel.” Rachel memegang bahunya yang ditepuk oleh Nadia. Temannya ini terkadang aneh sekali. Sudah diajak bonceng, malah menyakiti dirinya.
“Lain kali sekalian nyamper ke kosanku ya, Hel,” pinta Nadia sambil terkekeh. Sementara Rachel hanya mengangkat kedua sudut bibirnya malas.
Rachel dan Nadia adalah mahasiswi jurusan pendidikan bahasa Inggris. Saat ini mereka menginjak semester tujuh.
“Hel, mam yuk,” ajak Nadia.
Rachel melihat ke arah jam tangan yang melekat di tangannya. Waktu sudah menunjukkan kalau jam pertama akan segera dimulai.
“Gila … liat udah jam berapa, nih, Nad. Ntar kita bisa telat. Ntar aja makannya kalo istirahat. Lagian abis ini juga ga ada dosen, kita bisa gunain waktu buat makan. Ayo ke kelas sekarang.” Rachel menarik tangan Nadia, sementara Nadia yang merasakan perutnya sudah keroncongan pun harus rela menunggu sampai jam pertama habis. Rasanya cacing di perutnya terus-terusan berdemo sambil menabuh genderang perang di dalam sana.
Jam pertama pun dimulai, tetapi dosen belum datang. “Eh, denger-denger ada dosen baru, loh,” kata Yuni, salah satu teman sekelas Nadia.
“Serius?”
“Huum. Katanya sih ya, dosennya tuh cowo. Duh ga sabar pen liat mukanya kaya apa.”
“Uh dasar, gile tampang lu.”
“Ya gapapa lagi, kali aja kan dosennya kaya artis korea,” ujar Yuni yang posisi duduknya di belakang Nadia.
“Mimpi!” teriak salah satu teman yang lain.
“Eh, Nad, beneran dosennya baru?” tanya Rachel mendekatkan wajahnya ke wajah Nadia.
“Mana gue tau! Emang kenapa kalo baru?”
“Ya kali aja ganteng, biar belajarnya tambah semanget, ‘kan,” celetuk Rachel.
“Huh, dasar mata gantengan lo. Mau ganteng mau kagak, apa bedanya coba. Yang namanya dosen mah ya tetep aja gak pernah kasian ama mahasiswa.” Rachel mencebik ke arah Nadia.
Tidak lama kemudian, suara derap langkah semakin mendekat. Semua mahasiswa bungkam, mereka tidak mau terdengar berisik.
“Selamat pagi semuanya.”
“Pagi, Bu,” koor mahasiswa.
“Ibu mau menyampaikan sesuatu. Dimulai hari ini sampai ke depan. Ibu sudah tidak bisa mengajar lagi karena ibu Ibu mau ambil cuti melahirkan. Nanti ke depan kalian akan dibimbing oleh dosen baru. Ibu harap kalian bisa beradaptasi dengan beliau, ya.”
“Silakan masuk, Pak.”
Semua mata mahasiswa tertuju ke arah pintu. Mereka menantikan bagaimana rupa dosen baru mereka. Ganteng kah, cantik kah? Entahlah, yang jelas semuanya dibuat penasaran tidak ketulungan.
“Assalamualaikum,” sapa dosen baru itu.
Semua mata mahasiswi tiba-tiba terpesona tatkala mereka melihat tampang dosen baru mereka. Ekspresi Mereka begitu berbinar seolah melihat sosok Cha Eun Woo di hadapan mereka. Tampan, bibir merah tipis nan menggoda, hidung yang mancung, kulit putih bersih, mata memanjang nan indah, juga bulu mata dan alis yang tebal. Siapa yang tidak terpesona dengan lelaki itu, bahkan dosen yang akan cuti melahirkan itu pun melebarkan senyuman kepada dosen baru itu.
Dari sekian banyak mahasiswi, hanya Nadia yang tidak tertarik melihat ke arah depan. Dia hanya fokus dengan ponselnya yang dia taruh di bawah kursi agar tidak kelihatan oleh dosen.
“Ya ampun, Nad … ganteng banget dosennya,” kata Rachel yang kini sudah dibuat melted oleh pesona sang dosen baru.
“Jan lebay, deh,” tegur Nadia tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel. Dia sama sekali belum melihat sosok sang dosen yang digadang-gadang akan menjadi idola baru di kampus mereka.
Mendengar riuh dari belakang tempat duduknya yang seolah semuanya terpana dengan dosen itu pun mau tidak mau, akhirnya membuat Nadia menaruh ponsel kemudian mengangkat kepalanya menghadap ke depan.
Mata Nadia tiba-tiba terbelalak membuat sempurna saat melihat dosen baru itu.
“Kamu ….”
Mata Nadia tidak bisa beralih dari lelaki di depan mejanya. Untuk sesaat Nadia menahan napasnya, jantungnya bertalu-talu saat bertemu lagi dengan lelaki itu. Dia tak habis pikir kenapa harus bertemu lagi dengan lelaki yang semalam itu. Jika semalam dia bisa kabur dari lelaki itu, kali ini dia tidak akan bisa kabur lagi. Yang lebih parahnya, lelaki yang barusan memperkenalkan diri dengan nama Kenzie itu akan menjadi dosen baru pada salah satu mata pelajaran di kelasnya
‘Mati aku, kenapa harus lelaki ini yang jadi dosen pengganti Bu Tania. Aku bisa mati diajar sama dia,’ batin Nadia.
Nadia menyunggingkan senyum terpaksa pada lelaki itu dan segera menurunkan tangannya yang terkesan tidak sopan menunjuk wajah dosen baru itu.
“Nadia, jaga sikapmu!" bentak Tania. "Beliau ini adalah Pak Kenzie. Pak Kenzie ini dosen baru yang nanti juga menggantikan Ibu selama Ibu cuti. Jadi Ibu harap kalian menuruti perintahnya dengan baik, ya. Oh iya, ternyata Pak Kenzie dan Nadia sudah saling kenal, ya?” tanya Tania dengan tatapan menanti sebuah jawaban. Dia hanya penasaran bagaimana dua orang itu bisa saling kenal.
“Tentu, Bu. Tadi malam aku tak sengaja bertemu dengannya di jalanan,” sahut Kenzie. Nadia memejamkan mata, dia takut Kenzie akan mengatakan hal konyol yang semalam dia lakukan pada mobil Kenzie.
“Ooh, pantesan kalian ternyata memang sudah bertemu. Ya sudah kalo begitu. Ibu permisi, ya. Silakan dilanjutkan, Pak.” Tania pun pergi dan membiarkan Kenzie melancarkan niatnya untuk mengajar di dalam kelas.
Nadia mengembuskan napas kasar, dia mengikuti kelas Kenzie dengan wajah masam. Siapa yang membayangkan jika dia akhirnya bertemu lagi dengan lelaki itu, bahkan lelaki itu kini menjadi dosen baru di kampusnya. Mau tidak mau, Nadia pasti akan sering bertemu dengan dosen itu.
“Ganteng banget ya, Nad,” celetuk Rachel di sela-sela Kenzie menjelaskan. Dia terus memperhatikan dosen baru yang ganteng itu. Sementara bagi Nadia, tidak ada yang istimewa pada dosen itu. Meskipun dia pernah bilang jika lelaki itu memang type dia banget, rasanya Nadia ingin menarik ucapannya kemarin itu dan tidak akan mengatakan hal itu.
“Apaan. B aja tau, Hel,” sahut Nadia mendekatkan mulutnya ke telinga temannya itu.
“Segitu gantengnya masa dibilang B aja, matamu ditaruh di mana?” Rachel menggelengkan kepalanya tidak mengerti akan patokan cantik seperti apa lagi yang dia mau, jika lelaki tampan di hadapan kelas itu belum juga membuat dirinya tertarik.
“Au ah,” ketus Nadia.
“Eh, btw … kamu sama Pak dosen udah saling kenal, kenal di mana? Kok kamu gak cerita sama aku.” Protes Rachel yang sengaja bibirnya dimonyongin.
“Jadi tuh ya, semalam kamu tau, ‘kan kalo aku habis ketemu lalu diputusin sama Arga. Nah, abis itu aku pulang jalan kaki, saking keselnya aku nemu kaleng bekas minuman gitu, terus aku tendang deh sekuat tenaga. Eh … gak taunya malah ada sebuah mobil lewat dan kaleng itu kena ke mobil itu,” beber Nadia dengan berbisik agar suaranya tidak didengar oleh dosen baru ganteng itu.
“Terus-terus, penyok gak tuh mobil?” tanya Rachel penasaran sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Nadia.
“Penyok gak, ya. Ya penyok lah, masa nggak,” jawab Nadia. Mendengar perkataan Nadia, Rachel malah tertawa kecil, dia merasa lucu dengan ekspresi Nadia.
“Terus apa hubungannya dengan pak dosen?” sela Rachel menyandarkan bahunya di kursi dan menatap sahabatnya lebih dalam.
“Makanya dengerin dulu sampe selesai, maen potong-potong aja kek gunting.”
“Hihi, iya-iya, sorry, deh.”
“Lelaki itu tuh adalah lelaki yang punya mobil yang gue tendang pake kaleng itu. Ya, dosen itu” Nadia menunjuk dosen itu dengan telunjuknya. Untung saja dosen itu masih asyik dengan menulis beberapa poin penting yang sedang dijelaskan oleh Kenzie.
“Serius, lho? Kemaren malam kamu kabur apa ganti rugi?” tanya Rachel lagi. Dia semakin penasaran dengan cerita dari Nadia.
“Kabur,” jawab Nadia datar.
“What? Kamu kabur dan sekarang ketemu lagi sama lelaki yang sekarang jadi dosen kita.” Nadia mengangguk, dia mengusap wajahnya, situasinya ke depan sepertinya akan terasa sulit kalau sampai dosen baru itu mempermasalahkan kejadian semalam.
“Parah, sih, ini. Tapi ya moga aja dosen itu gak mempermasalahkan kelakuan kamu semalam, kalau enggak, bisa-bisa nilai kamu dipersulit.”
“Jangan, dong. Aku ‘kan pen cepet lulus, Hel. Kamu jangan doa yang macem-macem, sih,” omel Nadia.
“Eh, siapa yang doa macem-macem. Aku ‘kan cuma nebak aja, Nad,” bela Rachel tak terima dibilang berdoa yang macam-macam pada Nadia.
Tidak lama mereka masih berbincang, tiba-tiba lelaki yang diperbincangkan itu pun menyadari jika sedari tadi ada dua mahasiswi yang tidak memperhatikan pelajarannya dan asyik mengobrol.
“Kalian berdua!”