Nadia dan Rachel menyudahi obrolannya dan memutar kepala ke arah sumber suara.
“Sini kalian!" bentak Kenzie yang membuat Nadia dan Rachel saling melempar tatapan. Apa lagi ini? Baru juga mereka masuk di depan dosen baru, malah tercemar namanya karena berbuat aneh di depan kelas.
Nadia dan Rachel pun maju. Mereka berdiri sambil menunduk di depan dosen baru mereka.
“Apa yang tadi kalian bicarakan, hah??” tanya Kenzie dengan suara tegas, tetapi menggoda bagi sebagian mahasiswi.
“Bapak,” sahut Rachel dengan polosnya. Nadia mendelik tajam ke wajah Rachel dan mencubit pinggangnya sedikit keras, membuat Rachel merintih kesakitan.
“Kalian tadi dengar kan aturan ketika saya masuk. Karena kalian membuat keributan, jadi sekarang kalian saya hukum. Kalian berdua bersihkan toilet kampus yang ada di pojok sana. Sebelum toilet itu bersih jangan harap ikut kelas saya!” gertak Kenzie dengan tangan menunjuk ke pintu kelas.
“What? Bersihin toilet?”
“Iya, kenapa? Kamu gak suka? Kalau gak mau, jangan harap ikut ke kelas saya selamanya!”
Nadia dibuat melongo mendengar ucapan dosen baru itu. Galak, tidak berprikemanusiaan, sewenang-wenang. Setidaknya kata itu yang terlintas di pikiran Nadia.
Mau tidak mau Nadia dan Rachel pun keluar dan menuju ke arah toilet dengan muka cemberut.
“Ganteng banget kan tadi, Nad.” Rachel tersenyum mengingat betapa tampannya sosok dosen baru itu. Ya, sekalipun dia harus kena hukuman karena membicarakan ketampanan Kenzie kepada Nadia. Akan tetapi, tidak apa-apa, baginya ini adalah awal yang baik untuk lebih kenal dengan dosen itu. Setidaknya dosen itu ini mengenal mereka berdua karena terkena hukuman darinya.
“Ganteng banget gundulmu! Galak iya, ngeselin iya, songong iya. Baru juga masuk ke kelas udah buat kesel, gimana entar-entar coba, huffth,” gerutu Nadia. Kenapa harus bersihin toilet, bukannya hukuman lain masih banyak bagi mereka. Jika harus memilih, Nadia mending memilih membereskan buku-buku di perpustakaan atau menyapu halaman fakultas ketimbang membersihkan toilet.
Keduanya kini berada di dalam toilet kampus. Dengan sangat terpaksa, Nadia menjalankan hukuman dari dosen menyebalkan itu. Sementara Rachel, malah bersenandung ria sambil sesekali menyebutkan nama dosen bari mereka. Nadia yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala terkadang dia menutup telinganya agar tidak mendengar nyanyian temannya itu.
Setengah jam berlalu, mereka kini sudah selesai membersihkan toilet, keduanya pun membersihkan tangan dan kakinya, kemudian kembali ke dalam kelas. Nadia dan Rachel mengetuk pintu kelas dan mengucap salam. Kenzie pun mempersilakan mereka berdua masuk.
Keduanya mengikuti pelajaran yang tersisa dengan hening. Sesekali Kenzie memperhatikan Nadia yang terlihat cemberut sepanjang mengikuti pelajarannya. Bagaimana dengan Rachel? Jangan ditanya apa yang sedang dia lakukan. Pastinya Rachel mengikuti pelajaran sambil terus memperhatikan wajah sang dosen yang tapannya tidak ketulungan. Mungkin dari sekian dosen yang ada di kamus, Kenzie adalah dosen termuda dan tertampan yang pernah mereka lihat.
***
Jam kuliah pun selesai, Rachel mengajak Nadia untuk pulang bersama. Rachel bilang jika dia akan main ke kosan Nadia sepulang sekolah. Entah mereka ingin menghabiskan waktu bersama, sekedar ingin bercerita satu sama lain atau malah membeli jajanan ke tempat-tempat yang ramah di kantong mahasiswa seperti mereka.
Keduanya kini bersiap menaiki motor Rachel, tetapi belum sempat Nadia naik di boncengan, suara seorang lelaki yang tidak lain adalah dosen baru mereka pun sontak membuat keduanya menoleh.
“P-pak Kenzie.” Nadia berkata dengan gagap. Dia takut kalau Kenzie mengatakan kejadian semalam kepada para mahasiswa.
Kenzie dengan tubuh tegapnya mendekati Nadia, sementara Rachel yang melihatnya hanya bisa terdiam karena terpana dengan ketampanan dosen barunya itu.
“A-ada apa, ya, Pak?” Tanya Nadia sedikit gugup.
“Besok temui saya jam tujuh pagi di ruang dosen!”
“Nggak mau,” tolak Nadia.
“Oh, jadi nggak mau. Yaudah oke, kalau gak mau. Aku pastikan nilai kamu semester ini anjlok!” Kenzie pergi dan berlalu pergi.
“Tunggu, Pak. Tunggu!” Nadia mengejar Kenzie dan merentangkan tangan di depan dosen barunya itu.
“Aku mohon maafkan aku, Pak. Aku akan menurut asalkan bapak tidak membuat nilaiku anjlok,” mohon Nadia dengan menangkupkan kedua tangannya di depan Kenzie.
“Bagus. Temui aku besok jam tujuh teng di ruanganku!” putus Kenzie. Singkat padat dan jelas, tetapi sukses membuat Nadia berdecak esal. Kemudian, dia berlalu meninggalkan Nadia dengan perasaan dongkol setengah mati.
“Nad, lo diminta apa sama Pak Kenzie?” tanya Rachel yang tiba-tiba menghampiri Nadia.
“Dosen aneh itu nyuruh aku buat datang jam tujuh pagi dan menghadap ke ruangannya,” celetuk Nadia.
“Waaah … jangan-jangan dia suka ama kamu, Nad,” tebak Rachel.
“Hush, ngaco kamu. Dah ah, aku mau pulang.”
Saat Nadia akan pulang ke kosan, tiba-tiba ponselnya berdering. Nama di layar menunjukkan nama papanya. Ada apa papanya telepon? Bukankah ini belum jadwalnya untuk pulang? Nadia bertanya-tanya dalam hati sebelum akhirnya dia mengangkat telepon papanya.
“Ya, hallo assalamualaikum,Pa.”
“Waalaikumsalam, Nad.”
“Ada apa, Pa?”
“Lusa kamu pulang, ya. Ada yang mau kami bicarakan denganmu,” kata Feri-papa Nadia.
“Tumben, ada apa, Pa. keknya terdengar serius banget,” tebak Nadia curiga.
“Udah, pokoknya pulang aja. Nanti kita bicarakan di rumah,” putus Feri. Dia tidak mungkin mengatakan perihal perjodohan itu kepada putrinya. Kalau sampai Nadia tau, bisa-bisa dia tidak ingin pulang. Dia dan sang istri sudah memutuskan kalau akan membicarakan dengan Nadia nanti. Dia yakin Nadia nanti akan mengerti.
“Ya, baiklah. Aku akan pulang lusa.” Nadia mengembusan napasnya dengan kasar.
“Kamu mau dijemput atau nggak?” Nggak deh, Pa. aku bisa pulang sendiri.” Nadia memutuskan panggilannya sepihak. Dia rasa cukup pembicaraannya dengan papanya itu. Intinya dia harus pulang lusa, bukan.
“Ada aa, Nad? Kamu disuruh pulang ya sama papa mamamu?” tanya Rachel penasaran. Nadia hanya mengangguk, malas untuk menjawab tentang papa dan mamanya tadi.
“Ada urusan apa, Hel? Apa ada masalah?” tanyanya lagi. Nadia hanya menjawabnya dengan mengedikan bahunya, kemudian naik diatas boncengan Rachel.
“Jalan!” suruh Nadia sambil menepuk pelan punggung Rachel.
“Eh, Nad. Aku nanti aja deh mainnya. Ibuku WA nih katanya mau dianter ke toko mau beli kue.
“Yeh, dasar. Yaudah ati-ati.”
Nadia sudah berada di kos’an, dia asyik dengan ponselnya dan memandangi wajah Arga yang masih tersimpan di gallery.
Seketika dia kembali teringat akan janji-janji manis Arga yang mengatakan akan serius pada dirinya. Namun, kenyataannya malah dia disingkirkan dan memilih yang baru. Kadang lelaki suka begitu, suka menggantung perasaan seorang wanita, menyanjung-nyanjungnya, melambungkan pujian terhadapnya, hingga saat harapan sang wanita sedang di atas, dia akan menjatuhkannya dari ketinggian hingga hatinya hancur berkeping-keping. Penantian Nadia bertahun-tahun akhirnya pupus sudah, dia harus rela melepas Arga. Dia tidak mau terus-menerus merutuki kepergian Arga, toh lelaki masih banyak di dunia ini. Hilang satu, akan tumbuh seribu. Bukankan dia bisa mendapatkan yang jauh lebih dari Arga. Untungnya, Nadia belum memperkenalkan Arga kepada kedua orang tuanya. Jadi, dia tidak butuh menjelaskan kepada siapa pun tentang kepergian Arga. Yang harus dia lakukan sekarang adalah melupakan lelaki sialan itu.
“Liat aja, ya, Ga. Kamu ga bakal bahagia sama tuh cewek. Kamu pikir dia lebih baik dariku? Nggak, aku jamin dia bakal ngecewain kamu,” monolog Nadia. Entah dia mendapat keyakinan dari mana, yang jelas hatinya yakin jika wanita yang saat ini Arga pilih menggantikan dirinya adalah wanita yang tidak akan jauh lebih baik darinya.
Nadia menutup layar Handphone-nya dan memilih memejamkan mata, hingga saat suara pesan masuk di WA membuatnya mengurungkan niat untuk tidur siang.
“Siapa lagi, nih, yang WA. Ganggu orang mau tidur aja,” ucap Nadia lirih. Nadia membuka pesannya dan menemukan sebuah nomor tanpa nama mengiriminya pesan.
“Nomor siapa ini?” tanya Nadia pada dirinya sendiri. Nadia membuka pesan dan mendelik saat membaca pesan itu.
[jangan lupa besok sekalian aku minta tanggung jawabmu pada mobilku!]
Pesan singkat itu membuatnya hampir saja syok. Meskipun tanpa nama, Nadia tau siapa pengirim pesan padanya. Dosen yang menurut teman-temannya tampan itu entah dari mana bisa mendapatkan nomor dirinya, sehingga dia bisa mengirim pesan pada Nadia.
Nadia menepuk dahinya pelan, lalu menenggelamkan wajahnya di bantal.
“Apes banget, sih, aku. Sudah bisa lari dari itu orang, malah ketemu lagi di kampus. Mulai besok aku harus terbiasa dengan wajah dosen menyebalkan itu. bagaimana ini, dia minta tanggung jawab dariku atas mobilnya. Mati aku,” rutuk Nadia.
Sebenarnya Nadia sangat mudah jika mau mengganti kerusakan mobil akibat ulahnya kemarin malam. Dia tinggal gunakan ATM yang diberikan papanya dan menggunakan uang pemberian papanya untuk tanggung jawab pada mobil dosen itu. Namun, Nadia sekali lagi tak ingin memakai uang itu jika bukan sangat darurat. Selama dia masih bisa berhemat dan memakai sedikit saja uang yang diberikan papanya, dia tidak akan menggunakan ATM itu. bisa-bisa papanya akan mengetahui dan menilai kalau dia sudah ingkar janji pada dirinya sendiri.
“Aku gak mungkin pake ATM dari Papah. Yang ada Papah bisa menganggap aku nyerah kalo aku gak bisa mandiri. Huftt. Aku akan pikirin cara lain besok. Semoga aja tuh dosen kagak minta ganti rugi banyak, deh."