Suara burung yang berkicau terdengar nyaring di telinga, membuat suasana pagi begitu indah. Gemericik air dari kamar mandi seakan menjadi aluan musik nan syahdu di pagi hari. Nadia sedang membersihkan dirinya untuk segera menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dia berdoa dengan khusyuk dan memohon kesehatan dan kemudahan dalam setiap perjalanan hidupnya. Setelah beberapa menit, Nadia lekas membersihkan kamar lalu bersantai sejenak sembari menunggu jam berangkat kuliah. Saking enaknya bersantai sambil menjelajah dunia maya, Nadia hampir lupa kalau hari ini dia punya janji dengan dosen baru itu.
“Astaghfirullah … aku lupa kalau hari ini aku ada janji.” Nadia pun segera menyiapkan barang–barang yang akan dia bawa. Dia membereskan tempat tidur, menyapu, mengepel, dan juga mencuci pakaian.
Kini Nadia terburu-buru karena waktu sudah menunjukan pukul enam lima puluh. Itu berarti hanya ada waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus.
Dengan tergesa-gesa Nadia berlari kecil agar cepat sampai tepat waktu. Dia tidak mau kena omel apalagi ini berhubungan dengan dosen baru yang menurut dia galak. Benar saja, saat sampai di kampus, Nadia telat beberapa menit. Nadia kini sudah berada di depan ruangan dosen, dia menghentikan langkah dan menetralkan napasnya yang masih ngos-ngosan akibat lari-lari tadi.
“Tenang, Nad. Dia dosen baru, gak bakal minta yang macem-macem,” gumam Nadia pada dirinya sendiri.
Setelah berhasil menenangkan dirinya, Nadia pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan dosen. Saat itu hanya ada beberapa dosen yang sudah datang, salah satunya adalah Kenzie. Tiga kali mengetuk pintu, akhirnya pintu terbuka dan ternyata yang keluar bukanlah Kenzie, tetapi dosen lain.
“Eh, Nadia. Cari siapa?” tanya Mawar, dosen listening.
“Eh, Bu Mawar. Anu Bu … saya ….” Nadia tidak melanjutkan ucapannya karena dia bingung apa yang harus dia katakan pada dosen listeningnya itu. Masa iya dia mau bilang kalau dia mau ketemu dengan dosen baru itu. Nanti disangka yang bukan-bukan lagi. Baru sehari lelaki itu menjadi dosen di kampusnya, masa iya dia sudah berurusan dengan lelaki itu. Benar-benar sulit bagi Nadia.
Melihat mahasiswinya diam saja, Mawar pun menoleh ke belakang dan melihat ke seluruh ruangan. Yang dia lihat hanya ada dosen tampan yang sedang duduk tenang di balik meja kerjanya.
“Kamu mau ketemu Pak Kenzie?” tanya Mawar seraya memusatkan kembali pandangannya pada Nadia.
“Hmm, i-iya, Bu. Pak Kenzie ada?” tanya Nadia dengan nada ragu.
“Ada, kamu masuk aja.” Setelah mengatakan itu, Mawar meninggalkan Nadia yang masih tampak ragu untuk melangkahkan kakinya menuju ruangan dosen. Gadis itu malah menggigit kecil kuku tangannya karena grogi. Entah kenapa dia malah grogi untuk masuk ke dalam ruangan dosen.
“Masuk gak ya?” Nadia bolak balik ke kanan dan ke kiri tidak karuan.
“Ah, masuk aja lah. Kenapa aku malah nanya masuk enggak.” Nadia menepuk dahinya sendiri dengan pelan.
Nadia pun memutuskan masuk dan dia sedikit terkejut karena di dalam ruangan hanya ada dia dan sang dosen baru yang tampan itu. Ya, dalam hati Nadia memang tidak memungkiri jika dosen baru bernama Kenzie itu memang memiliki ketampanan di atas rata-rata lelaki. Dia pun menyadari hal itu sejak pertama kali melihat Kenzie. Namun, Nadia tidak mau terlihat ikut terpesona seperti layaknya teman-temannya tunjukkan saat bertemu dengan dosen tampan itu.
Entah sebenarnya dosen itu sadar atau tidak dengan kehadiran Nadia karena sepertinya dia sedang asik bermain benda pipih nan lebar di mejanya.
“Permisi, Pak,” sapa Nadia dengan menganggukkan kepalanya sebagai rasa hormat.
‘Kalau bukan karena kuliah dan nilaiku ke depannya, masa bodo deh sama dosen ini. Ganteng tapi menyebalkan,’ rutuk Nadia dalam hati.
Kenzie berpura-pura tidak mendengar sapaan Nadia. Tidak sedikitpun pandangannya beralih dari laptop di depannya. Sepertinya dia memang sengaja menguji kesabaran mahasiswi yang sudah dia kenal dari kecil itu.
Nadia yang merasa tidak digubris pun mulai mengubah ekspresi yang tadinya berusaha semanis mungkin sekarang menekuk bibirnya ke bawah.
“Pak, denger gak sih aku ngomong?” tanya Nadia mengayun-ayunkan tangannya di depan laptop sang dosen.
Kalian tau apa yang dilakukan oleh Kenzie? Bukannya menanggapi Nadia, lelaki itu malah cuek bukan kepalang. Seolah-olah dia tidak menganggap kalau Nadia ada di ruangan bersama dirinya.
“Anda ini budeg atau apa sih, Pak? Kalau tau begini, aku gak bakal memenuhi panggilan anda ke sini. uang-buang energi aja!” omel Nadia dengan dua tangan yang sudah mengepal dan bibir yang bergumam seolah mengeluarkan kata-kata tidak enak untuk sang dosen.
Nadia pun berbalik dan hendak meninggalkan ruangan, tetapi suara Kenzie sontak membuat dirinya menghentikan langkah dan berpikir kembali untuk pergi.
“Silakan pergi kalau mau nilai kamu jelek di mata kuliahku!”
Kenzie perlahan melempar pandangannya ke arah Nadia yang masih membelakangi dirinya. Ingin rasanya Nadia meninju lelaki yang saat ini ada di ruangan bersama dirinya, kalau saja dia tidak ingat kalau dia harus lulus kuliah dengan nilai yang baik. Akhirnya, dengan berat hati Nadia membalikkan wajah dan dia pasang senyum kepura-puraannya agar terlihat baik di depan dosennya itu.
“Iya, Pak. Jangan begitu, dong,” rayu Nadia seraya memperlihatkan baris gigi putihnya ke sang dosen. Jauh di lubuk hatinya, dia ingin sekali berlari dan menerjang lelaki itu dengan kaki kanannya sekeras mungkin.
“Duduk!” titah Kenzie menunjuk dengan dagunya ke arah kursi yang ada di depan meja kerjanya. Dengan sikap yang berusaha baik, Nadia pun menuruti perintah dosennya.
“Kamu ingat kamu mau apa ke sini?” tanya Kenzie dengan nada datar. Kedua tangannya sengaja dilipat ke atas bahu dan punggungnya kini bersandar di kursi putar yang dia duduki.
“I-iya, Pak. Aku ingat. Aku ke sini karena mau bertanggung jawab mengganti rugi kerusakan atas mobil Bapak,” ucap Nadia dengan lancar. Meski gugup, dia cukup lancar mengutarakan apa yang menjadi janjinya kemarin pada sang dosen.
“Good.”
“Rusak dikit aja, pake lebay segala,” ucap Nadia lirih sambil menoleh ke samping.
“Apa kamu bilang?” tanya Kenzie dengan nada meninggi.
“Eh, apa, Pak. Aku gak bilang apa-apa, kok,” tangkis Nadia dengan meringis.
“Kamu pikir aku budek apa, aku dengar kalau tadi kamu bilang cuma rusak dikit, iya ‘kan?” desak Kenzie menyudutkan Nadia.
Kali ini Nadia tidak bisa mengelak karena ternyata dosen itu mendengar ucapannya.
“Maaf, Pak.” Nadia menggaruk leher bagian belakangnya yang sebenarnya tidak gatal.
“Oke, sekarang langsung saja ke pokok pembahasan kita. Aku mau kamu mengganti rugi mobilku dengan cara ….” Kenzie sengaja menghentikan kata-katanya. Sementara Nadia hanya diam dan mendengarkan dengan baik setiap ucapan dosen barunya itu.
“Cara apa, Pak?” tanya Nadia penasaran.
‘Moga aja nih dosen kagak minta aku ganti yang aneh-aneh. Kalau dia minta ganti rugi banyak gimana, dong?’
“Mudah saja. Kamu cukup menggantinya dengan membawakan aku makan malam selama sebulan!”
“Apa? Makan malam sebulan?” Nadia saking terkejutnya, dia sampai berdiri dari posisinya.
“Kenapa? Kamu terkejut? Gak setuju? Mau nolak? Iya?”