Napas Nadia terlihat kembang kempis. Kenzie dapat melihat jika gadis di hadapannya itu terlihat menahan emosinya karena kata-kata yang dia ucapkan.
“Kenapa harus sebulan? Kenapa gak seminggu aja?” kata Nadia berusaha bernegosiasi dengan Kenzie. Meski emosinya masih meletup-letup, tetapi Nadia berusaha menahan nada suaranya agar tidak terlalu tinggi.
“Enak aja seminggu. Kamu pikir kerusakan mobilku biasa aja. Kamu tau nggak, aku harus membayar mahal atas apa yang kamu lakukan. Dasar ceroboh!” umpat Kenzie dengan mata membulat.
Kedua mata mereka bertatapan, tetapi jangan bayangkan akan ada adegan romantis setelah ini karena nyatanya saat ini keduanya bukan pasangan kekasih.
Dengan membuang napas kasar, Nadia pun akhirnya menyetujui kemauan dosen itu dengan berat hati. Tentunya dengan pertimbangan nilai yang akan dipertaruhkan dalam semester ini.
“Baiklah. Puas?” Nadia membuang muka, kemudian dia pergi meninggalkan ruangan dosen. Di ruang dosen, Kenzie malah tersenyum bahagia mengetahui kemauannya disetujui oleh Nadia. Dia pun mengembuskan napas lega dan kembali duduk di kursi putar yang akan menjadi kebanggannya mulai saat ini.
Entah seperti sedang menyimpan sesuatu hal, Kenzie merasa hari ini akan berlalu sangat menyenangkan, apalagi malam nanti dimana dia akan mendapatkan jatah makan malam dari Nadia. Sebagai seorang duda, tentunya dia hanya hidup sendiri di rumah yang dia beli dari hasil kerja kerasnya selama ini. Setelah resmi bercerai dengan istrinya, dia memutuskan untuk meninggalkan semua yang dia punya di kota pendidikan dan dia pindah ke kota Bandung dan menjadi dosen di sana. Namun, setelah beberapa bulan dia memutuskan untuk pindah ke kota Indramayu. Tentunya bukan tanpa alasan, tetapi ada sebuah rencana yang sedang dia pikirkan. Selain itu, ada seseorang yang memang memintanya agar pindah dan lebih dekat dengan kota kelahirannya sendiri.
Hari ini Kenzie memang ada jadwal di kelas Nadia. Sepanjang mata kuliah Kenzie, Nadia tidak sekalipun melempar senyuman kepada dosen tampan itu. Malahan sebaliknya, Nadia rasanya ogah jika harus melihat wajah dosen menyebalkan yang memberi pilihan yang sangat tidak dia suka. Bagaimana tidak, Nadia memang anak orang kaya, tetapi Nadia tidak mau bergantung kepada kekayaan papanya. Dia lebih memilih berhemat dan menggunakan uang seperlunya. Namun, dengan tanggung jawab barunya yang harus memberikan makanan kepada dosennya itu tentu membuat pengeluarannya akan dua kali lipat lebih banyak.
Apa boleh buat, menolak pun dia takkan mampu karena ini akan berhubungan dengan nilai di mata kuliahnya. Melihat Nadia yang tidak memperhatikan dan lebih memilih menunduk dengan ekspresi yang menurutnya cemberut, kenzie pun memanggil namanya.
“Nad, kamu dipanggil tuh.” Rachel menyenggol bahu Nadia.
“Kamu gak perhatiin saya?” tanya Kenzie sambil menepukkan spidol di tangannya.
“Ngapain perhatiin Bapak, kan saya ke sini buat belajar,” celetuk Nadia. Rachel langsung menoleh ke wajah temannya. Rachel tau kalau Nadia memang mempunyai riwayat yang tidak baik dengan dosen itu, tetapi sepertinya kali ini Nadia akan mendapatkan masalah lagi karena ceplas-ceplosnya itu.
“Maksud saya perhatiin pelajaran saya, Nadia. Jangan bercanda!!!”
“Siapa juga yang bercanda, orang dari tadi saya dengerin, kok.”
“mata kamu lihat ke sini, jangan nunduk terus.”
“Ih, kenapa sih Bapak protes mulu. Mau saya nunduk mau saya gak nunduk itu urusan saya.” Teman-teman Nadia yang lain hanya mendengarkan perdebatan mereka. Yang lain tidak habis pikir kenapa Nadia seperti terlihat tidak suka dengan dosen bernama Kenzie itu.
“Saya ngajar pake media dan itu perlu diperhatikan Nadia!” bentak Kenzie. Dadanya kini ikut kembang kempis. Kalau saja dia tidak ingat kalau wanita yang sedang dia ajak bicara itu adalah seseorang yang spesial, dia mungkin tidak akan mau berurusan dengannya. Namun, entah kenapa semakin Nadia marah, wanita itu semakin terlihat cantik.
“Iya, iya. Saya ngalah. Dilihat, nih.” Mata Nadia sengaja dibuka lebar-lebar agar sang dosen merasa senang.
“Good.” Kenzie mengangkat kedua jempolnya dan kembali melanjutkan penjelasan kepada mahasiswa lain.
“Dasar dosen menyebalkan!” gerutu Nadia dengan suaranya yang masih cukup terdengar di telinga Kenzie.
Kenzie pun berbalik. “Ngomong apa kamu, Nad?”
Nadia menahan napasnya dalam-dalam dan membulatkan matanya. Dia pikir dosennya sudah tidak mendengar ucapan darinya. Namun, Kenzie malah dengan sigap menaggapi ucapan Nadia.
“Ng-ngak, Pa. Aku gak ngomong apa-apa,” elak Nadia. Sudah jelas-jelas ucapannya tadi begitu jelas terdengar di telinga Kenzie, tetapi wanita itu malah mengelak dari tuduhan Kenzie.
“Kamu pikir aku tidak dengar ucapan kamu tadi. Sekali lagi aku dengar yang macam-macam, kamu tidak boleh ikut ke mata kuliahku lagi!” ancam Kenzie membuat telinga Nadia semakin panas. Entah kenapa dia harus dipertemukan dengan lelaki yang membuat dirinya merasa kesal. Hari-harinya di kampus tidak seindah dulu. Ditambah lagi dengan hal yang paling menyebalkan yang harus dia penuhi selama satu bulan.
Waktu terus berjalan hingga kini sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Nadia segera keluar dari kosan untuk membeli makan malam. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk sang dosen yang menyebalkan bagi dirinya. Jika bukan demi kuliahnya, Nadia tidak akan mau bersusah payah untuk membelikan makan malam apalagi selama sebulan penuh. Kali ini dia mengenakan sweater dipadu dengan celana jeans berwarna biru dongker. Nadia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Hawa dingin mulai menusuk, itu sebabnya dia menggunakan baju yang tebal agar tidak terlalu kedinginan. Nadia tidak kuat dengan dingin, di kosan pun dia hanya ada kipas angin. Nadia sengaja memilih kosan yang dengan kipas angin.
“Dasar dosen menyebalkan. Nambahin aku kegiatan aja. Harusnya aku lagi asyik nonton drakor di kosan. Lah ini malah nyari makan malem,” rutuk Nadia mencebikkan bibirnya.
Nadia berjalan kaki dan membeli nasi goreng tidak jauh dari kosannya. Tidak susah Nadia mendapatkan makanan karena di depan gang kosannya cukup ramai dengan orang jualan. Banyak makanan yang dapat dijumpai di sana. Ada nasi goreng, pecel lele, Martabak telor, pedesan ayam/entog, dan masih banyak yang lainnya.
Usai membeli nasi goreng, Nadia segera menuju alamat rumah yang di share oleh Kenzie. Kebetulan jarak dari kosannya tidak terlalu jauh. Nadia tidak habis pikir kenapa dosennya itu sangat malas. Bukannya dia bisa pergi mencari makan sendiri setiap malam. Kenapa harus menyusahkan Nadia dengan menyuruhnya mengirim makanan setiap malam.
Sesampainya di depan sebuah gerbang berwarna hitam dan rumah ber-cat biru muda, Nadia memandangi rumah itu.
“Ini rumahnya?” Nadia kembali mencocokkan alamat yang tertera di gerbang dan juga yang diberikan di chat dari dosennya.
Setelah memastikan kebenaran rumahnya, Gadis berambut panjang itu melangkah dengan pasti mendekati gerbang dan bertanya pada satpam.
“Permisi, Pak. Apa benar ini rumahnya Pak Kenzie?” tanya Nadia pada security rumah besar ber-cat biru muda itu.
“Iya, Mba. Mba ini siapa?” tanya security.
“Aku Nadia, Pak.”
“Apa sebelumnya sudah ada janji dengan Bapak?” tanyanya lagi.
“Sudaqh, Pak.”
“Ya sudah kalau begitu silakan masuk.” Security bernama Maman itu langsung membuka gerbang dan menyuruh Nadia masuk.
Nadia menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih. Dia langsung berjalan menuju pintu rumah Kenzie. Rumah yang cukup besar dengan sebuah taman mini di bagian depan. Beberapa tanaman bunga bisa dilihat di sana. Di sebelah kiri taman itu terdapat sebuah saung kecil yang terbuat dari bambu yang membuat rumah itu terlihat sejuk. Sementara itu, Nadia tidak langsung mengetuk pintu.
Nadia lebih dulu melihat beberapa bunga yang ada di sana. Salah satunya adalah bunga yang dia suka, yaitu mawar merah. Nadia menciumnya, menghirup aromanya yang semerbak mewangi. Entah kenapa dia begitu menyukai bunga itu. Menurutnya bung mawar itu bunga yang mahal karena meski cantik, dia melindungi dirinya dengan duri yang ada di tangkainya. Jadi siapapun yang akan memetiknya akan berhati-hati. Jika tidak, dia akan terluka karena durinya.
Dari dalam rumah, Kenzie sudah tau keberadaan Nadia dengan melihat dari balik gorden dekat pintu masuk. Bibirnya menyimpulkan senyum melihat gadis cantik itu membawa sebuah kresek berwarna hitam. Perutnya yang sudah keroncongan akan segera terisi dan cacing-cacing di perutnya tidak akan lagi memberontak. Sebenarnya bukan karena makanan, kalau soal makanan Kenzie bisa membeli sendiri ke luar rumah. Namun, ada alasan lain kenapa dia memberi Nadia hukuman itu.
Usai menikmati pemandangan asri di halaman rumah Kenzie, Nadia memencet bel rumah dosennya. Ada perasaan campur aduk di dalam hatinya. Rasa kesal dan juga rasa takut bercampur menjadi satu. Dia tau jika Kenzie adalah seorang duda. Pikirannya melayang ke dunia antah berantah.
“Kok aku jadi deg-degan ya. Aku dengar-dengar Pak Kenzie itu seorang duda. Kalau duda-duda di drakor yang aku lihat sih gak apa-apa deket-deket mereka, lah ini … duda tapi menyebalkan. Gimana kalo dia mau apa-apain aku?” nadia menepuk pelan dahinya sendiri. “Jangan pikir macem-macem, Nad,” gumanya.
Dua kali memencet bel, Sang dosen tak kunjung keluar. AKhirnya, Nadia pun berganti dengan mengetuk pintu. Matanya sambil mengarah ke kanan dan ke kiri memperhatikan sekeliling rumah kenzie. udara yang semakin malam semakin menusuk hingga menembus sweater yang Nadia pakai.
Saat Nadia akan mengetuk pintu lagi, tiba-tiba Kenzie keluar tanpa Nadia ketahui.
Pukk
“Awww.”