8. Menemani Makan Malam

1076 Words
Nadia tidak pernah habis pikir kenapa dalam hidupnya sudah mengalami hal yang buruk. Yang pertama dia diputuskan oleh kekasihnya dan yang ke dua dia malah apes harus bertemu dengan dosen yang galak dan juga bersikap seenak hatinya. Kalau bisa memohon, Nadia ingin sekali memohon agar dosen menyebalkan itu hilang dari hadapannya saat ini. Pertemuan dengan Kenzie menambah beban dalam hidupnya. Sudah dia harus hidup mandiri, ditambah lagi dia harus menerima hukuman kenzie selama satu bulan. Nadia berharap jika itu semua hanya mimpi dan cepat terbangun dari tidurnya. "Hei Kenzie, bisa gak sih kamu jangan ganggu hidup aku. Kamu itu bikin hidupku tambah runyam tau nggak!" sungut Nadia. "Lebih runyam mana antara aku sama kamu? Ketemu sama mahasiswi ceroboh sama kamu dan tidak bertanggung jawab!" "Tidak bertanggung jawab dari mana. Aku bertanggung jawab, kok," jawab Nadia dengan kesal. "Oh ya?" Kenzie mendekati Nadia dan wajahnya sangat dekat dengan Nadia. Hingga dengan segera Kenzie mengecup bibir Nadia dan membuat dirinya melongo. 'Ah, suer ini aku dicium ama dosen menyebalkan itu. Astaga … tapi, bibirnya begitu lembut.' Nadia merasakan ciuman Kenzie begitu menuntut dan membuat dirinya membalas ciuman itu. Tikkk Kenzie menyentil dahi Nadia karena gadis itu sedari tadi hanya diam karena melihat sisi lain dari Kenzie yang begitu tampan tanpa mengenakan baju formal untuk mengajar. "Hei Nadia, kamu mikirin apa dari tadi senyam-senyum sambil monyong-monyong? Bisa gak ketuk pintu pelan-pelan jangan pake kekuatan penuh. Wajahku sakit nih," protes Kenzie sambil memegangi hidung yang tadi terkena tangan Nadia saat mengetuk. "Hah, bentar-bentar. Tadi Bapak bilang apa? Aku, monyong-monyong?" Nadia menunjuk ke arah dirinya sendiri dengan telunjuk. Merasa aneh sekaligus malu sepertinya tadi dia hanya melamun. 'Bisa-bisanya aku ngayal dicium ama dosen ini. Astagaaaa. Nadia, ogah banget deh,' gerutu Nadia di dalam hati. "Heh, denger gak kataku? Minta maaf kek, apa? Malah bengong," oceh Kenzie. "Gak salah, Pak? Tapi tadi juga Pak Kenzie mukul dahi aku. Harusnya pak Kenzie juga minta maaf, dong. Kita impas berarti. Ga usah ada maaf-maafan oke. Kaya lebaran aja." Nadia malah memalingkan wajahnya. Nadia hampir lupa kalau tujuannya datang ke rumah Kenzie untuk mengantarkan makan malam untuk duda keren itu. "Oh iya, ini." Nadia mengulurkan tangannya dengan kasar tanpa menoleh pada Kenzie. Dia masih merasa kesal. Sudah dia duga sebelumnya jika bertemu Kenzie hanya akan membuatnya tambah kesal. "Apa ini?" tanya Kenzie melirik ke arah plastik hitam yang dibawa Nadia. "Udah ambil aja. Ini nasi goreng!" kata Nadia dengan nada tinggi. Tangannya meraih tangan dosen itu dan memindahkan plastik itu ke tangan Kenzie. Tanpa pamit, Nadia berbalik badan dan hendak pergi. "Hei, mau ke mana?" panggil Kenzie. Nadia mengembuskan napas kasar kemudian menoleh dengan cepat. "Ya mau pulanglah, masa mau nginep." Nadia menoleh kembali hendak melanjutkan perjalanan pulangnya. "Oooh, jadi gini ngasih makanan ke seorang dosen. Gak sopan banget." "Bodo amat." "Ya udah, bodo amat juga kalo kamu gak lulus di mata kuliahku. Bukan urusanku!" Kenzie sengaja membuat Nadia tidak mempunyai pilihan agar kembali lagi dan mengurungkan niatnya untuk pergi. Meski dengan wajah kesal dan kedua tangan yang mengepal, Nadia kembali menoleh dan mengejar Kenzie dengan langkah dihentakkan. "Pak, jangan gitu, dong." Nadia menghambat langkah Kenzie di depan pintu. Tangannya sengaja menghalangi Kenzie agar tidak masuk. "Minggir," perintah Kenzie. Nadia menggeleng, "Nggak, sebelum Pak Kenzie janji gak ngosongin nilai aku." Wajah Nadia terlihat manis bagi Kenzie saat memelas seperti itu. "Gimana ya?" Kenzie berjalan dan menyingkirkan tangan Nadia secara pelan. Dia masuk ke dalam, disusul oleh Nadia. Gadis itu tidak sadar jika kini dirinya tengah memelas pada Kenzie dan malah masuk ke dalam rumah Kenzie. Jika bukan demi nilai, mustahil Nadia memelas seperti ini. Kenzie duduk di ruang tamu. Sementara Nadia duduk di kursi sebelahnya. "Eh, jangan duduk dulu," cegah Kenzie. Nadia melongo, tidak mengerti apa yang Kenzie maksud. Kenapa dia tidak boleh duduk. Apa Kenzie pikir dirinya begitu kotor hingga sekedar duduk saja tidak boleh. "Ambilkan sendok dulu, dong!" Kenzie nyengir kuda membuat Nadia memutar matanya dengan malas. Kemudian dia berdiri dan menuruti perintah Kenzie. "Eh kok ke sana?" tanya Kenzie. "Ya kan katanya suruh ambil sendok gimana, sih." "Dapurnya bukan di sana, tapi sebelah sana." Kenzie menunjuk ke arah berlawanan dengan Nadia berdiri. Betapa malunya Nadia karena dia sok tahu letak dapur rumah Kenzie. Padahal "Oh, salah ya." Nadia gegas berjalan cepat menuju dapur dan mengambilkan sendok untuk Kenzie. "Udah salah, pede banget lagi," cicit Kenzie. Setelah mengambilkan sendok dan alat makan lainnya, Kenzie menyuruh Nadia menemaninya. Dia tidak mau Nadia pergi begitu saja. Tentu saja dengan ancaman nilai yang tidak akan diberikan pada gadis manis itu. Nadia terus berdecak kesal dengan wajah yang cemberut. Kenzie pikir Nadia orang tuanya yang harus menemani dia makan sampai habis. Ada rasa khawatir dalam diri Nadia mengingat rumah Kenzie sepi tanpa ada seorang asisten rumah tangga pun. Apalagi status Kenzie yang sudah duda menimbulkan spekulasi-spekulasi negatif dalam pikiran Nadia. Nadia tak habis pikir kenapa dosennya itu tidak mempekerjakan saja seorang asisten agar dia bisa dimasakkan setiap hari, jadi Nadia tidak usah membawakan makanan ke rumah dosen yang menyebalkan itu. Setelah selesai, Nadia pun berpamit. Lagi-lagi Kenzie menghentikan dengan memanggil nama Nadia. Nadia memutar matanya malas, mau apa lagi Kenzie menghentikan dirinya? Apa dosen itu tidak cukup puas telah membuat dirinya menunggu selama setengah jam lamanya hingga Kenzie benar-benar menghabiskan makanan. "Mau apalagi sih, Pak? Aku mau pulang!" Kali ini nada bicara Nadia sedikit meninggi dengan kaki yang dihentakkan. Dia sudah lelah, rasa ngantuk juga kini mulai menghinggapinya hingga berkali-kali menguap. "Santai dulu, Jan ngegas mulu. Aku anter kamu pulang." "Hah, apa?" "Udah cepat, udah malam." Kenzie berjalan duluan ke depan gerbang dan meninggalkan Nadia. "Udah cepat udah malam. Aku kemalaman karena kamu. Fiiiuhhh." Nadia menggerutu sambil memajukan bibirnya. Merasa kesal atas sikap Kenzie yang dia pikir mempunyai sisi manja. Bahu Nadia melemah kemudian di segera menyusul Kenzie. Apa boleh buat, yang dikatakan Kenzie memang benar kalau hari ternyata sudah malam dan Nadia baru menyadari itu saat keluar dari rumah Kenzie. Mereka berjalan beriringan, Nadia berharap tidak ada yang melihat dia dan sang dosen berjalan bersama. Kalau tidak, bisa-bisa dia akan menjadi viral di kampus. Udara malam itu terasa menusuk hingga tulang-tulang Nadia. Gadis itu sampai menyilangkan tangannya di depan d**a. Sesekali dia menggosok kedua tangannya agar hawa dingin itu sedikit berkurang. "Pakai ini." Kenzie memakaikan jaketnya di pundak Nadia membuat gadis berwajah cantik itu menoleh sebentar menatap paras tampan nan rupawan, lalu kembali mengarahkan pandangannya lurus ke depan. 'Baik juga ni dosen,' puji Nadia dalam hati. Kenzie dan Nadia berjalan beriringan hingga Nadia pulang ke kosannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD