Maxim pulang ke rumahnya, Tapi dia tidak menemui Anna karena saat ini dirinya sedang tidak baik-baik saja. Amarahnya masih memuncak saat melihat istrinya kembali, padahal dia sudah tidak menganggap wanita itu lagi. Bahkan yang membuatnya semakin tidak habis pikir saat wanita itu berani memanggil namanya.
Itu membuat Maxim semakin meradang. Padahal dia merasa baik-baik saja sebelum bertemu dengan wanita itu. Tapi, seketika mood-nya hancur berantakan ketika Clarista datang.
"Kenapa kau kembali? kenapa kau kembali Clarista?!!" teriak Maxim sambil terus memukuli samsak yang ada di depannya saat ini.
Tubuhnya sudah basah oleh keringat. Sejak tadi dia berada disini untuk melampiaskan amarahnya.
Melihat Maxim yang sudah hampir dua jam memukuli benda mati tersebut membuat Julio menghampirinya. Dia menahan samsak yang sejak tadi di pukuli Maxim. "Sudah, cukup!" kata Julio sambil menahan pukulan Maxim.
"Sudah hampir dua jam kau berada disini dan melakukannya. Lalu apa yang kau dapatkan?" tanya Julio pada Maxim.
Saat ini dia bicara sebagai seorang teman. Bukan sebagai bawahan ketika mereka bekerja. Dia hanya ingin Maxim tau bahwa tidak semuanya bisa di selesaikan dengan amarah seperti, ini.
"Pergi!" usirnya pada Julio, karena saat ini dia tidak ingin membicarakan apapun dengan pria itu.
"Lalu, apa kau pikir jika aku pergi masalahmu selesai? aku rasa tidak begitu!" sahut Julio yang membuat Maxim terlihat semakin marah. Bahkan saat ini sorot matanya menandakan bahwa dia sedang marah saat ini.
"Aku bilang pergi!" serunya lagi.
Sayangnya Julio sama sekali tidak menganggap itu sama sekali. Dia hanya ingin membuat Maxim padam dengan semuanya, bahwa tidak semua masalah bisa di selesaikan dengan amarahnya itu.
"Katakan padaku apa yang membuatmu seperti ini? kau sudah bisa hidup tanpanya bukan, bahkan kau bisa menikmati banyak hal semenjak tidak ada dia. Lalu bagaimana bisa sekarang saat bertemu dengannya kau malah seperti ini. Ayolah, Max. Hidupmu sudah jauh lebih baik sekarang. Untuk apa lagi memikirkan dirinya?" tanya Julio yang memang tau bagaimana hidup Maxim.
Dia tau seperti apa perjuangan hidup laki-laki yang bersamanya saat ini. Mereka sudah melewati banyak hal. Jadi tidak sulit baginya hanya untuk mengetahui isi hati Maxim.
"Dia menangis, Julio! kau tidak tau seperti apa hatiku saat melihatnya menangis. Aku paling membenci melihat air matanya jatuh. Aku benci dengan diriku sendiri. Aku benci dengan hatiku yang selalu lemah saat melihat air matanya dan aku benci dengan diriku sendiri yang tidak bisa menahan diriku. Aku ingin membencinya, seperti apa yang ku lakukan selama ini. Tapi, aku tidak bisa! aku tidak tau apa alasan dia pergi meninggalkanku. Aku tidak ingin tau dengan semua itu, karena memang aku tidak ingin mengetahuinya. Namun, kenapa di saat aku sudah bisa hidup tanpanya dia harus kembali lagi?" Maxim terduduk di lantai setelah menceritakan keluh kesah hatinya pada Julio.
Dia hanya ingin hidup lebih baik. Dia lelah dengan hidup yang di jalaninya.
Julio paham dengan apa yang Maxim rasakan, karena dia juga tau seperti apa pria itu menyayangi Clarista dulunya, karena hanya Clarista saja yang bisa membuatnya kembali hidup. Clarista yang menemani hari-hari buruknya.
Tapi, Julio juga kecewa karena kepergian wanita itu untuk mengobati sakitnya. Julio tau semua tentang Clarista, bahkan dia juga tau kepulangan wanita itu ke negara ini. Tapi, dia tidak memberitahukannya pada Maxim. Dia menyimpan semua itu bukan untuk berkhianat padanya. Hanya saja dia tidak ingin membuatnya semakin kecewa jika mengetahui kenyatannya.
"Apa jika aku mengatakan padamu apa yang terjadi sebenarnya kau akan percaya?" tanya Julio yang membuat Maxim langsung menatap tajam ke arahnya.
Dia menatap Julio dengan tatapan mematikan miliknya, hingga membuat sang pemilik raga langsung menghela nafasnya dengan berat.
"Dia pergi untuk mengobati sakitnya. Dia tidak mengatakan apapun padamu, karena tidak ingin membuatmu kecewa. Dia pikir dengan dia pergi kau akan hidup lebih bahagia tanpa dirinya. Dia pikir usianya tidak akan panjang karena penyakit itu. Ternyata dia bisa survive dan di nyatakan sembuh dari kanker rahim yang di deritanya. Dia pikir setelah dia sehat, kau akan-"
"Hah," Maxim mentertawakan kehidupannya saat ini.
"Lelucon apa yang kau jelaskan ini Julio? kau pikir aku percaya? jika memang dia mengindap penyakit itu, aku bisa membawanya ke rumah sakit terbaik di dunia ini. Aku memiliki banyak uang untuk membawanya kemanapun yang di inginkan. Jadi tidak mungkin hanya karena alasan itu dia memilih pergi meninggalkanku begitu saja. Itu sangat tidak masuk akal, untukku!" lanjut Maxim.
Di menganggap apa yang Julio sampaikan padanya itu sebuah lelucon yang tidak masuk akal. Tapi apa yang Julio jelaskan itu memang kenyatannya. Kenyataan dimana Clarista memang mengindap penyakit mengerikan itu dan berhasil sembuh.
Bersambung...