Maxim mengepalkan kedua tangannya saat melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. Dia adalah Clarista, mantan istrinya. Wanita yang meninggalkannya begitu saja, dan kini dia kembali setelah sekian lamanya.
"Max, apakah ini benar dirimu?" tanya Clarista saat melihat suaminya di sini.
Dia benar-benar tidak percaya bahwa dia bisa kembali bertemu dengan laki-laki itu, setelah sekian lamanya mereka kembali dipertemukan. Ada rasa bahagia di dalam hati Clarista, tapi ada sesuatu pula yang membuatnya merasa sesak.
Ya, dia merasa sesak ketika melihat suaminya menggandeng tangan wanita lain. Sedangkan dia masih berstatus istrinya saat ini.
"Tutup mulutmu!" seru Maxim yang tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari wanita ini.
Cukup! sudah cukup selama ini dia meninggalkannya dan Maxim tidak ingin pernah mencari tahu apa yang terjadi pada wanita itu. Jika wanita itu sudah perlu meninggalkannya, pantang baginya untuk mencari atau memintanya kembali.
Tapi, dengan begitu mudahnya wanita itu memanggil namanya di depan banyak orang seperti ini.
"Max, aku ini-"
Sadar situasi yang sudah tidak mungkin kan, Julio langsung membawa Anna untuk pergi meninggalkan tempat itu. Karena dia tahu apa yang ingin dibicarakan oleh bosnya.
Dia sendiri juga tidak habis pikir, bagaimana bisa tiba-tiba wanita itu kembali setelah sekian lama. Bahkan dia berani memanggil Maxim di depan banyak orang seperti ini.
"Ayo, Nona. Saya akan membawa, Anda berkeliling sekarang!" ajak Julio yang ingin membawa Anna pergi dengannya.
Tapi, Anna masih penasaran dan dia ingin tau ada hubungan apa antara Maxim dengan wanita cantik yang berada di depan mereka saat ini.
"Nona, Anna mari silahkan!" ucap Julio penuh penekanan hingga membuat Anna terpaksa ikut dengan laki-laki itu. Padahal dia masih ingin tahu apa yang terjadi diantara Maxim dan juga wanita cantik itu.
Sedangkan Maxim langsung pergi meninggalkan wanita itu. Clarista tau, jika saat ini Maxim menyuruhnya untuk ikut. Jadi dia mengikuti suaminya, sampai mereka tiba di taman belakang yang terlihat sunyi dan tidak ada orang disana.
"Max, aku-"
"Aku bilang tutup mulutmu Clarista!!" sentak Maxim yang membuat wanita itu terkejut.
Kedua bola matanya membulat sempurna. Maxim terlihat tidak baik-baik saja saat ini. Jantungnya berdebar hebat. Rasanya dia ingin mencabik-cabik wanita yang ada di depannya. Clarista, wanita yang sudah di anggapnya mati, tiba-tiba kembali lagi setelah sekian lama. Bahkan yang membuatnya tidak percaya lagi saat wanita itu terlihat tidak merasa bersalah sedikitpun atas perbuatannya.
"Kenapa, kenapa setelah sekian lama kau kembali lagi. Kenapa?!" teriak Maxim telat di depan wajah Clarista.
"Max, izinkan aku bicara. Aku-"
"No! aku tidak akan membiarkanmu bicara sekarang! kau harus mendengarkan apa yang ingin aku katakan padamu saat ini!" jelas Maxim.
Dia ingin Clarista yang mendengar penjelasannya. Maxim tidak pernah tertarik untuk mendengar penjelasan dari Clarista.
"Kau-" tunjuknya pada Clarista.
Sorot matanya tidak menandakan bahwa saat ini dia sedang tidak baik-baik saja.
"Aku tidak pernah berharap kau kembali setelah apa yang kau lakukan! Aku bahkan tidak pernah ingin mencari tau keberadaanmu walau aku bisa mencarinya! kau tau, aku tidak pernah ingin mencari mu karena menurutku itu tidak penting sama sekali!" jelasnya pada Clarista.
"Max, A-aku minta maaf, A-aku-" Clarista tidak bernai melanjutkan perkataannya saat melihat Maxim berjalan ke arahnya hingga membuat punggungnya membentur dinding bangunan di belakangnya.
"Aku, apa hah? aku apa Clarista?!" teriak Maxim tepat di depan wajah wanita itu.
"Apa kurangnya aku selama ini padamu dan juga keluargamu hah? apa salahku hingga membuat kau pergi meninggalkan ku walau aku tidak ingin tau apa yang terjadi sebenarnya. Aku tidak ingin mengetahui apa pun itu tentang dirimu!" teriaknya lagi hingga membuat air mata Clarista jatuh begitu saja.
Dia sudah tidak lagi melihat cinta di dalam mata suaminya. Laki-laki itu sudah tidak menganggapnya dan rasanya sakit sekali saat mengetahui bahwa suaminya sudah tidak lagi menginginkan dirinya.
"Hahaha..." Maxim tertawa saat melihat Clarista menangis.
Mungkin jika itu dulu, dia tidak akan membiarkan air mata itu jatuh. Tapi tidak dengan saat ini. Maxim sama sekali tidak peduli dengan air mata itu.
"Kau pikir aku akan luluh dengan air mata itu? tidak akan Clarista! air matamu itu hanya berakhir sia-sia saja, karena aku tidak membutuhkan air mata itu! aku membenci air mata itu Clarista, dan aku membencimu!" ucap Maxim sebelum pergi meninggalkan Clarista.
Langkahnya terlihat begitu cepat untuk meninggalkan Clarista. Dia benar-benar tidak ingin lebih lama lagi disana. Darahnya langsung mendidih saat menghadapi Clarista.
Sedangkan Clarista hanya bisa menangisi keadaannya saat ini. Tubuhnya luruh begitu saja di pantai dingin yang kotor itu. Clarista benar-benar menyesali perbuatannya yang pergi meninggalkan Maxim begitu saja, tanpa menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada dirinya.
"Maafkan aku, Max. Maafkan, aku ..." lirih Clarista dengan memegangi dadanya.
Rasanya sesak sekali saat melihat laki-laki yang dicintainya bersikap begitu datar dan terlihat membencinya. Clarista sangat merindukan suaminya. Dia kembali karena ingin memberikan kejutan pada laki-laki itu, karena dia bisa sehat. Ternyata dia yang terkejut saat melihat sikap suaminya yang sudah berubah drastis.
Bersambung...