Anna di persiapkan dengan begitu luar biasa malam ini karena memang Maxim yang menyuruh mereka merias Anna.
Lihat, berapa cantiknya wanita itu malam ini. Anna bahkan sampai pangling dengan wajahnya sendiri.
"Bagaimana, Nona? apa ada yang anda tidak sukai dengan hasilnya?" tanya salah satu pelayan yang membantu Anna untuk bersiap.
"Ah, aku bahkan sampai lupa jika ini wajahku sendiri." jawab Anna karena memang dia merasa tidak percaya dengan dirinya yang bisa di rias hingga cantik seperti ini.
Saat mereka sedang berbicara, tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dan Maxim masuk dengan penampilannya yang begitu sempurna.
Anna terpukau dengan penampilan pria yang ada di hadapannya saat ini. Maxim terlihat begitu gagah dengan pakaian jas lengkap yang membalut tubuh atletisnya.
"Ready, babe?" tanya Maxim ketika melihat Anna yang sudah siap dengan dirinya.
"Mau kemana?" tanya Anna takut saat matanya bertatapan dengan mata elang milik Maxim.
"Sttt...wanita ku tidak boleh terlalu banyak bertanya, Sayang. Kau hanya harus hidup dan bernafas saja untuk menikmati dunia ini. Selebihnya jangan pernah mempertanyakan apapun yang tidak penting, oke?" kata Maxim sambil menyentuh bibir mungil milik Anna.
Rasanya dia ingin sekali mengecup bibir wanita itu dan melum*tnya sampai habis. Sayangnya dia tidak bisa melakukan semua itu karena ada sesuatu yang lebih penting saat ini.
Maxim akan membawa Anna pergi ke pesta bersamanya. Dia akan mengenalkan wanita itu pada dunia, agar mereka semua tau jika, Anna adalah miliknya.
"Tapi-"
"Sttt ... No ... No ... No, jangan bertanya apapun lagi oke. Aku paling tidak suka dengan wanita yang terlalu banyak bertanya. Jadi ayo kita pergi. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk menjawab semua pertanyaan tidak penting mu itu, Sayang." ucap Maxim pada Anna.
Anna diam dan tidak bisa mengatakan apapun lagi. Tubuhnya menegang kaku seperti patung ketika Maxim menyentuh bibirnya. Di tambah dengan tatapan pria itu padanya membuat Anna semakin tidak bisa berkata-kata lagi.
"Go, babe. Ayo kita berangkat sekarang." kata Maxim.
Dia membawa Anna ikut bersamanya, bahkan dia meminta wanita itu untuk merangkul lengannya. Mereka berdua terlihat seperti pasangan yang sangat serasi.
Terlihat keduanya menuruni anak tangga dengan begitu luar biasanya. Bak pangeran dan tuan putri kerajaan, mereka turun di sambut dengan Julio yang sudah siap di bawah sana untuk mengantarkan sepasang raja dan ratu tadi.
Maxim berhenti tepat di depan Julio, karena dia tau apa yang sedang di pikirkan asisten pribadinya saat ini.
"Jangan pernah berani memberikan tentang diriku jika kau masih ingin menikmati segelas s**u coklat mu di malam hari, Julio!" Maxim memberi peringatan pada Julio untuk tidak memikirkan tentang dirinya.
"Maaf, Tuan. Saya siap, salah." kata Julio yang meminta maaf pada Maxim.
Padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun saat ini. Hanya melihat senyuman bosnya yang merekah begitu sudah membuatnya terkena lahar panas yang keluar dari bibir pria itu.
Begitu juga dengan Anna, dia cukup terkejut kala mendengar suara Maxim dan ekspresi wajahnya yang langsung berubah.
Maxim membawa Anna masuk ke dalam mobil mereka, dan langsung menuju tempat acara di selenggarakan.
"Tuan?" Anna menarik tangannya saat Maxim ingin menggenggamnya.
Bukannya marah, Maxim malah kembali menarik tangan Anna untuk di genggamnya. Tidak taukah wanita ini jika dia tidak menerima penolakan apapun itu.
"You be mine, babe!" Maxim menegaskan pada Anna bahwa mulai sekarang dia adalah miliknya.
"Dimana ponselku?" tanya Anna yang baru sadar bahwa dia sudah tidak melihat ponselnya lagi.
"Ponsel buruk rupa itu? aku sudah membuangnya ke jalanan," ucapnya dengan begitu santai tanpa rasa bersalah sedikitpun saat mengatakan bahwa di telah membuang ponselnya ke jalan.
"What?!" pekik Anna saat mengetahui bahwa ponselnya sudah di buang.
"Apa hak, Anda melakukan hal itu, Tuan? itu ponsel milikku. Lalu bagaimana bisa Anda membuangnya begitu saja?" tanya Anna yang meminta penjelasan pada Maxim tentang ponselnya.
"Aku? kamu bertanya hakku?" tanya Maxim pada Anna.
"Aku Maxim, babe. Aku bisa melakukan apa pun yang aku inginkan tanpa harus meminta persetujuan dari siapapun. Ingat, babe bahwa aku bisa melakukan apa pun. All the time!" lanjut Maxim dengan penuh penekanan hingga membuat Anna terdiam.
Sungguh dia tidak percaya dengan semua ini. Apa dosa yang dia lakukan di masa lalu hingga membuatnya bisa berakhir dengan pria seperti Maxim.
Kini tiba, saatnya mereka sampai di tempat tujuan. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka sampai di pesta yang akan mereka hadiri.
Saat turun dari mobil, kilatan blitz menyerbu mereka dan itu membuat Anna tidak terbiasa, sampai di mana suara maskulin Maxim membubarkan mereka yang sibuk mengambil gambarnya.
"Bubar!" titah Maxim pada mereka yang sibuk mengambil gambar dirinya dan Anna.
Melihat sang penguasa sudah mengeluarkan taringnya membuat semua orang langsung mundur teratur. Mereka mempersilahkan Maxim dan Anna untuk masuk.
"It's oke, babe. Don't worry," ucap Maxim pada Anna.
Dia ingin Anna terbiasa dengan dunianya sekarang. Mereka berdua memasuki ballroom yang sudah di hias degan begitu megahnya. Saat mereka masuk, keduanyaoe jadi pusat perhatian banyak orang di sini. Siapa yang tidak mengenal sosok Maxim. Tidak ada yang tidak mengenal sosok paling berpengaruh di kota besar ini.
Jadi tidak heran jika saat ini banyak orang yang ingin tau siapa wanita yang bersamanya saat ini.
"Ayo, Anna. Aku akan mengenalkan mu dengan rekan kerjaku. Aku ingin mereka mengetahui bahwa saat ini kau adalah milikku, babe. Tidak akan ada yang bisa memilikimu selain aku."
"Apa maksud, Anda, Tuan? aku bukan milik, Anda!"
"Kau milikku Anna. Kau milikku. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa mau milikku, jadi akan ku pastikan bahwa tidak akan ada yang bisa memilikimu selain aku. Jika ada yang berani menyentuhmu, maka aku akan membuatnya menyesal!" ucap Maxim penuh dengan ancaman.
Anna sendiri tidak tau harus menjawab apalagi saat ini. Dia hanya bisa pasrah mengikuti kemana Maxim membawanya. Sampai dimana saat mereka berjalan tiba-tiba saja langkah Maxim terhenti tepat di depan seorang wanita yang menghentikan langkah mereka.
"Max?" panggil wanita itu hingga membuat kedua tangan Maxim terkepal erat saat ada seorang wanita yang memanggil namanya.
Bersambung ...