bc

I love You My OG

book_age18+
68.5K
FOLLOW
189.7K
READ
family
fated
mate
arrogant
drama
sweet
like
intro-logo
Blurb

Percintaan seorang CEO dengan Sekretarisnya itu sudah biasa, tapi bagaimana jika seorang CEO jatuh cinta pada seorang Office Girl ?

Bermodalkan sebuah rekaman, Aina Zahra memberanikan diri mengajak Andra Prayoga, Bos di tempat ia bekerja untuk berkencan dengannya selama 15 hari. Hingga akhirnya mereka terjebak dalam perasaan saling mencintai. Namun, tidak bisa saling memiliki.

Dapatkah mereka menyatukan cinta mereka?

Apa saja rintangan yang mereka hadapi?

Lalu Apakah status sosial jadi penghalang untuk hubungan mereka?

Ikuti kisah Andra, si Bos posesif dan pencemburu berat dengan Aina Zahra, gadis polos dan lembut yang banyak dekat dengan teman pria.

Cover by: PicsArt

Font: Milania circa

https://picsart.com/i/368501518042203?edit_history=1

chap-preview
Free preview
Undangan

    Pagi ini, Aina berangkat bekerja seperti hari-hari biasanya, penuh senyuman dan harapan hari ini lebih baik dari hari kemarin.

   Aina mengiringi langkahnya dengan sedikit nyanyian yang dilantunkan dari bibir tipisnya. Sejak dia keluar dari kost-annya sampai ia menaiki metromini, mulutnya tak henti bersenandung.

   Saat baru menaiki metromini Aina bertemu dengan Adi—teman satu perjuangan di kantor tempat mereka bekerja. Adi dan Aina sama-sama bekerja sebagai Office Boy dan Office Girl di Prayoga Grup (PG). Karena mereka sama-sama hanya lulusan SMA. Mereka melamar kerja bersama dan sama-sama diterima pula di tempat mereka bekerja sekarang. Sudah satu tahun pertemanan mereka terjalin. Tempat kost mereka pun tidak jauh, hanya berbeda gang saja.

   “Hai, Na. kayanya lagi happy, nih,” tebak Adi karena melihat senyum yang selalu merekah di wajah manis Aina.

    “Ya harus happy dong, ‘kan nanti sore mau gajian,” balas Aina dengan tetap menunjukkan keceriaan.

    “Oh, iya, sampe lupa gue, nanti malam kita makan, yuk!” ajak Adi

    “Yah, enggak bisa, Di!” tolak Aina dengan wajah yang dibuat memelas

    “Kenapa?”

    “Kan, nanti pulang kerja gue mau langsung tancap gas lagi ke Cafe. Masa iya, baru 2 minggu kerja di sana, gue ngebolos,” balas Aina dengan ekspresi tidak enak hati.

     “Oh, iya, ya. Sekarang, ‘kan, lo udah punya kerjaan sambilan. Lupa gue," balas Adi sambil menepuk jidatnya.

      “Gimana kalo besok siang aja kita makan bareng?” usul Aina

      “Di mana?”

      “Di kantin kantor.“

      “Boleh juga. Oh, iya! Bantuin gue cari kerjaan tambahan dong, di Cafe kaya lo. Gue pengen kredit motor, nih.”

      “Dih! bosen banget gue ketemu lo terus,” canda Aina pada Adi sambil menujukan raut wajah jijik.

    “Ya elah, ‘kan biar kita makin tak terpisahkan.” Adi mengedipkan matanya beberapa kali sambil menujukan senyum terbaiknya.

     “Ogah! Yang ada gue kaga laku-laku kalo deket sama lo terus.”

     “Biar orang tahu kalo kita ini sahabat sejati,” goda Adi lagi dengan menaik-turunkan alisnya.

    “Yang ada gue malah bosen, Di, sahabatan sama lo terus. Kaga ada faedahnya.”

   “Dih, awas lo, ya, pulang kerja minta bareng sama gue.”

   Aina terkekeh mendengar ancaman Adi. “Gitu aja ngambek. Perawan ganteng jangan gampang ngambek, nanti jodohnya lama,\" bujuk Aina sambil menyentuh dagu Adi. ”Ya udah, nanti coba gue tanya sama manajer Cafenya, ya!”

  Adi langsung kembali tersenyum mendengar ucapan Aina.

   “Lo emang sahabat gue yang paling baik,” rayu Adi.

    Setelah itu kedua terus bergurau hingga tanpa terasa metromini yang mereka naiki sudah tiba di halte tak jauh dari gedung tempat mereka bekerja. kemudian keduanya berjalan bersama menuju ruangan khusus OB.

    Saat mereka tiba di kantor, suasana kantor masih sepi karena memang jam masuk kantor masih lama. Para OB memang harus datang lebih dulu dari para pegawai kantor untuk bersih-bersih kubikel para pegawai serta menyiapkan minuman seperti kopi dan teh untuk pegawai yang meminta dibuatkan. Rutinitas seperti ini sudah biasa dilakukan Adi dan Aina selama mereka bekerja di Prayoga Grup.

    Adi dan Aina dikenal sebagai sahabat se-iya se-kata. Karena, di mana pun ada Adi, di situ ada Aina. Terkadang ada juga yang menganggap mereka menjalin hubungan, karena tidak hanya di kantor mereka bersama, di luar kantor pun mereka sering menghabiskan waktu bersama. Tetapi baik Adi maupun Aina tidak pernah ambil pusing tentang anggapan orang kepada mereka berdua, walaupun Aina memang menyukai Adi.

    “Aina, cepat ke ruangan Pak Andra. sekarang! tidak lama lagi beliau akan datang,“ perintah Pak Darwin, kepala OB pada Aina untuk segera membersihkan ruangan bos mereka.

    “Baik, Pak!” balas Aina.

    Aina langsung bergegas mengambil alat-alat yang diperlukan untuk bersih-bersih di ruangan pujaannya itu.

    “Dadah, Adi. Gue mau ke ruangan pacar gue dulu, ya,“ ucap Aina pada Adi Sambil melambaikan tangannya, kemudian pergi dari ruangan.

     Adi hanya menggelengkan kepala dan tersenyum mendengar ucapan Aina yang mengatakan CEO mereka adalah kekasihnya. Ya! Hanya Adi yang tahu perasaan kekaguman Aina pada Sang CEO tampan mereka.

    Sebenarnya bukan Cuma Aina yang mengagumi ketampanan Pak Andra, hampir semua pegawai wanita di setiap divisi mengagumi ketampanan bos mereka itu. Menurut Adi, wajar saja semua wanita di kantor ini mengagumi Pak Andra selain tampan dan mapan, dia juga tidak pernah terlihat sekalipun menggandeng wanita selain sekretarisnya. Entah karena terlalu sibuk bekerja hingga tidak ada waktu mencari tambatan hati atau karena bosnya tidak tertarik pada wanita.

   Saat memasuki ruangan yang Aina anggap pangerannya, ia tersenyum sendiri lalu mengucapkan salam dengan halusinasinya.

   “Pagi, sayang. Kamu sudah sarapan?“ ucap Aina sambil menghadap meja kerja bosnya walaupun Sang Bos jelas-jelas belum tiba di kantor.

    “Kamu tetap duduk saja di situ sambil memperhatikan aku bekerja, ya!” guraunya lagi sambil memukul kepala sendiri. “Halu tingkat tinggi” akunya.

   Setelah setengah jam Aina membersihkan ruangan, ia bergegas untuk keluar yang bertepatan dengan kedatangan Sang Bos. Ia langsung membungkukkan badan sebagai tanda hormat sambil mengucapkan salam.

   “Selamat pagi, Pak“ sapanya, meskipun ia tahu tidak mendapatkan balasan apa pun dari pangerannya itu.

Setelah Andra melewati Aina dan menuju meja kerjanya, ia segera keluar dari ruangan untuk mengerjakan pekerjaan lainnya di ruangan lain.

    Sebelum Andra memulai aktivitas bekerja, Fina Sang Sekretaris terlebih dahulu memberitahukan kegiatan Andra untuk hari ini. hal yang pertama mereka lakukan setiap hari.

    “Selamat pagi, Pak, semoga hari-hari Anda selalu menyenangkan," sapa Fina sebelum mulai membacakan kegiatan Andra.

   “Pagi, “ balas Andra.

   “Baik, Pak, untuk pagi ini Bapak hanya menandatangani dokumen sebagai persetujuan untuk beberapa proyek. Dilanjutkan dengan rapat untuk pembukaan cabang jam sepuluh nanti sampai jam makan siang. Untuk makan siang hari ini, Bapak tidak ada pertemuan dengan siapa pun, jadi Bapak bisa menentukan sendiri kegiatan makan siang nanti. Pukul 14:30 Bapak ada pertemuan dengan client di ruang temu, untuk membahas kontrak yang akan ditandatangani, dan untuk malam nanti, Bapak ada makan malam dengan investor dari Cina di Malaya Hotel. Terima kasih,” papar Fina panjang lebar diakhiri dengan membungkukkan hormat.

   “Baiklah, siapkan semua berkas untuk rapat nanti. Untuk persetujuan kontrak nanti, apa kau sudah mengecek kembali poin-poin yang aku minta?”

    “Sudah, Pak!“

    “Baiklah kalau begitu.”

   Fina kembali membungkukkan badan tanda izin untuk meninggalkan ruangan Andra. Tetapi, sebelum Fina pergi ia mendekati meja Andra untuk memberikan selembar kertas yang diikat rapi dengan pita hijau muda dan dibungkus plastik transparan.

Andra sedikit heran melihat pemberian sekretarisnya itu. “Apa ini?” tanyanya.

    “Ini undangan pernikahan saya, Pak, Minggu depan, dan saya juga ingin mengajukan cuti untuk beberapa hari, Pak,” jawab Fina.

    “Oh, apa kau sudah membuat surat permohonannya sekarang?”

    “Belum, Pak, baru setelah ini saya akan membuatnya.”

    “Ya sudah, buat permohonannya dan lanjutkan pekerjaanmu.”

    “Baik, Pak, terima kasih. Saya permisi," pamit Fina kemudian berlalu meninggalkan ruang Andra.

    “Akhirnya, yang kutakutkan terjadi juga,” gumam Andra saat melihat undangan dengan hati kecewa.

   Andra sudah dua tahun lebih memendam perasaannya pada Sang Sekretaris. Ia terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaannya pada Fina. Ia takut jika Fina menolaknya akan mempengaruhi profesionalitas kerja mereka, maka ia lebih memilih untuk memendam perasaannya. Ditambah lagi ketika ia mengetahui pertunangan sekretarisnya enam bulan lalu yang membuat dirinya semakin tidak berani mengungkapkan kecintaannya.

   Andra menaruh undangan ke laci meja kerjanya dan mulai menandatangani setumpuk berkas yang sudah menunggu di depan mata.

      *****

    “Aina udah jam makan siang, nih. Lo mau makan di mana?” tanya Adi pada Aina mengenai kegiatan makan siang mereka.

    “Duh, Di! kayanya gue enggak makan, deh.”

    “Kenapa?“

    “Gue masih kenyang banget. Dari tadi mulut gue enggak berhenti ngemil.“

     “Iya, perut gue juga enggak lapar, sih.”

    “Ya udah, kita tidur aja, yuk, di atas!" ajak Aina untuk ke tempat favorit mereka di rooftop gedung.

   Sebenarnya bukan tempat favorit mereka saja, tapi juga tempat favorit para OB ketika mereka tidak ada kegiatan saat makan siang. Apa lagi ditanggal tua seperti ini.

    “Ya udah, ayo! Lumayan satu jam bisa tidur," balas Adi.

    “Eh, tunggu, Di! Gue mau nitip beli minuman dulu sama Tari, lo duluan aja ke atas sekalian siapin buat tempat tidur kita.”

   “Ok, gue ke atas duluan. Lo jangan lama-lama, ya! Jangan lupa titip salam buat Tari.”

Aina langsung mengacungkan ibu jarinya pada Adi dan Adi balas tersenyum lalu meninggalkan Aina menuju tempat yang mereka sepakati.

    begitu Aina tiba di rooftop, Adi sudah merapikan kardus-kardus yang tidak terpakai untuk alas tidur mereka.

    “Cepet banget rapihinnya, Di,” puji Aina

    “Iya, Na, gue udah mulai ngantuk," balas Adi.

   “Ya udah, ayo, kita langsung tidur!"

    “Ok, gue pasang alarm dulu biar kita enggak kebablasan tidurnya.”

   Dan tidak butuh waktu lama untuk mereka masuk ke alam mimpi masing-masing dengan posisi miring saling menghadap dan menjadikan salah satu tangan sebagai pengganti bantal.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
115.6K
bc

Tentang Cinta Kita

read
137.1K
bc

Imperfect Marriage

read
270.2K
bc

My husband (Ex) bad boy (BAHASA INDONESIA)

read
218.2K
bc

Kali kedua

read
185.3K
bc

Obsessive Cruel Husband

read
6.0K
bc

Single Man vs Single Mom

read
86.5K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play