“Bapak mau tambah lagi?” tanya Aina saat melihat piring Andra kosong dengan cepat.
“Tidak, aku sudah sangat kenyang. Ayamnya enak sekali!"
Mendengar ucapan Andra, Aina tersenyum kegirangan karena sudah dua kali Andra puas dengan makanan yang ia rekomendasikan.
Setelah selesai makan, mereka segera pergi meninggalkan kedai Didi. Aina ingin berjalan-jalan dulu sebelum berpisah dengan Andra, tetapi setelah lumayan jauh mereka berjalan, hujan tiba-tiba turun.
“Pak! Hujan, bagaimana ini?”
“Sini!” perintah Andra sambil menarik Aina mendekat untuk berlindung di bawah jas yang sejak tadi ia bawa. "Kapan lagi kau memakai payung seharga Rp, 27,5 juta, “ ucapnya membanggakan jas mahalnya.
“Hadeeh ... narsisnya gak ilang-ilang, nih orang!” batin Aina.
Saat Andra menarik tangan Aina, ada perasaan nyaman yang ia rasakan. Apa lagi Andra menariknya untuk melindungi agar tidak terkena hujan. Ia merasa jika Andra mulai peduli padanya. Sikapnya saat ini sangat berbeda jauh dengan sikap saat berada di kantor. Jangankan melindungi, peduli saja tidak, apalagi menjaga.
Hujan yang semakin lama semakin deras, membuat fungsi jas Andra jadi sia-sia, karena jas yang Andra gunakan untuk melindung mereka sudah basah kuyup hingga membuat mereka sedikit berlari untuk mencari tempat berteduh tidak jauh dari mereka berdiri.
Begitu mereka tiba di bawah pohon yang lumayan rindang di pinggir trotoar, tanpa sengaja Andra melihat bagian dalam Aina yang terlihat dari balik baju basahnya.
Saat Aina menyadari Arah tatapan Andra, ia langsung buru-buru menaikkan resleting sweaternya.
“Maaf,“ ucap Andra sambil menoleh ke arah lain saat dipergoki Aina.
“Tidak apa-apa," balas Aina, kaku.
“Bagaimana ini, Pak, hujannya makin deras?” tanya Aina memulai pembicaraan setelah beberapa menit saling terdiam.
“Mau bagaimana lagi? kita tunggu saja sampai reda."
“Bagaimana kalau hujannya tidak reda?”
“Terpaksa kita harus tetap di sini!"
“Eee ... apa bapak mau ke losmen di ujung jalan sana?" tawar Aina sambil menunjuk arah jalan di belakang Andra.
“Losmen?!" tanya Andra keheranan.
“Tidak untuk menginap, Pak. Kita menyewa hanya untuk beberapa jam saja," usul Aina.
“Bukankah kau yang mengatakan tidak akan menyewa hotel ataupun losmen?” Andra mengingatkan kesepakatan mereka.
“Iya, tapi hujan ini di luar ekspetasi saya, Pak!”
“Kau tidak akan berbuat macam-macam padaku, 'kan?” tanya Andra karena merasa tidak yakin dengan ajakan Aina.
“Saya janji, saya tidak akan menyentuh Anda, Pak," balas Aina, sedikit kesal. "Apa semesum itu aku di matanya?” keluhnya membatin.
“Baiklah, ayo!”
Baru saja ingin melangkah, tiba-tiba suara petir terdengar begitu kencang, hingga membuat Aina yang memang takut petir langsung ketakutan mendengar bunyi yang menggelegar.
“Ibuuu ...!" teriak Aina berlari ke arah Andra untuk memeluknya dengan sangat, sangat erat.
Andra yang tidak siap mendapat dorongan, tak bisa menyeimbangkan tubuh hingga terjatuh ke trotoar dengan Aina ada di atasnya.
“Hei, tenang, ada aku di sini," ucap Andra berusaha menenangkan Aina.
Suara petir kembali terdengar lebih keras dari yang sebelumnya hingga membuat Aina semakin mengeratkan pelukannya.
“Aina takut, Bu ...,” lirihnya menahan tangis hingga menganggap Andra adalah ibunya.
“Sudah, tenang saja, aku akan menjagamu," ucap Andra sambil mengelus kepala Aina yang ada di bahunya.
Ada sedikit rasa khawatir di hati Andra, melihat Aina yang benar-benar ketakutan saat ini hingga memeluk sangat erat.
Saat Andra merasa Aina sudah mulai tenang, ia berusaha bergerak untuk bangun hingga akhirnya Aina mau melepaskan pelukannya. Ia langsung menggenggam tangan Aina setelah sama-sama berdiri untuk menuju losmen di ujung jalan dengan menerobos hujan yang masih deras.
Begitu sampai losmen, Andra langsung memesan kamar untuk dua jam saja. Karena setelah hujan berhenti, mereka akan pulang ke tempat tinggal masing-masing.
Setelah tiba di kamar yang ditunjukkan pegawai losmen, Andra langsung melepas kemejanya dan mengeringkan di depan kipas angin.
Aina yang melihat Andra bertelanjang d**a, merasa agak risih karena ini pertama kalinya ia berada satu ruangan dengan seorang pria dan tanpa pakaian lengkap.
“Apa kau tidak mau membuka bajumu?” tanya Andra melihat Aina duduk kedinginan di tepi kasur membelakanginya.
“Tidak, Pak!” balas Aina yang cukup terkejut dengan pertanyaan Andra dan langsung menggenggam erat resleting sweaternya.
Melihat reaksi Aina yang sepertinya sedang was-was dengan situasi, di kepala Andra mulai terlintas ide untuk menggoda. Andra langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Aina.
“Apa kau yakin tidak ingin membuka bajumu?” ucap Andra tepat di depan Aina.
Mendengar suara Andra yang terlalu dekat, Aina langsung mendongakkan wajah ke arah Andra. Dengan refleks, Aina langsung berdiri hingga mereka saling bertatapan.
“Eee ... ma-maksud Bapak, apa?" tanya Aina, gugup.
“Apa kau yakin tidak mau memanfaatkan kesempatan seperti ini?” tanya Andra dengan mencondongkan wajahnya ke wajah Aina hingga membuat dia duduk kembali di tepi ranjang.
“Ma-maaf, Pak, sa-saya tidak mengerti maksud Bapak,” jawab Aina semakin gugup dengan posisi yang hampir terlentang sedangkan satu lutut Andra sudah naik di atas kasur.
“Kalau kau tidak mau memanfaatkan kesempatan ini, bagaimana jika aku yang memanfaatkanmu?” Andra makin menunjukkan wajah gairahnya melihat Aina yang sudah terlentang sempurna di bawahnya sambil memegang erat resleting sweaternya.
“Ba-bapak mau apa?” Aina makin ketakutan saat melihat satu tangan Andra meraih tangannya, lalu menurunkan resleting sweater dan satunya lagi menahan tubuhnya agar tidak menindih langsung.
“Jangan, Pak ...," lirih Aina melihat resleting sweater sudah turun di bawah d**a.
Ketakutan Aina semakin bertambah hingga membuat napasnya tersengal cepat saat Andra memegang dan menahan kedua tangan di atas kepalanya, lalu memajukan wajah hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
Saat melihat Aina memejamkan matanya rapat-rapat, Andra sedikit memiringkan wajahnya dan menyunggingkan senyum licik kemudian ....
BRAAAAAK ...
Aina dan Andra menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba dibuka oleh beberapa orang karena mereka berdua lupa mengunci tadi hingga akhirnya beberapa orang itu melihat posisi yang cukup intim dengan Andra yang bertelanjang d**a.
“Mohon maaf, apa kami bisa melihat kartu identitas kalian?” tanya salah satu petugas tanpa basa-basi.
Aina dan Andra langsung bangkit dari posisi intim mereka dan segera menyerahkan kartu identitas masing-masing.
“kalian bukan suami-istri?” tanya si Petugas saat melihat keterangan status mereka.
“Bukan, Pak,” jawab Andra dan Aina bersamaan.
“Mari ikut kami ke kantor polisi!”
“Kantor polisi? Untuk apa?" tanya Andra heran.
“Untuk mendata kalian dan memberikan pengarahan.”
“Pengarahan untuk apa?” tanya Andra.
“Pengarahan agar tidak menggunakan jasa wanita penghibur dan bahayanya jika kalian bergonta-ganti pasangan!” jawab salah satu petugas.
“Tapi kami bukan pasangan messum, Pak. Dia bos saya. Kami di sini hanya berteduh saja karena masih hujan di luar,“ ujar Aina sambil bersembunyi di belakang Andra memegang erat tangan Andra karena takut.
“Itu alasan yang sudah sering kami dengar dari pasangan messum seperti kalian!"
“Tapi, memang dia pegawaiku!“ sanggah Andra tak terima dibilang pasangan messum.
“Sudah, ayo ikut kami saja ke kantor polisi!” ujar salah satu petugas sambil menarik tangan Aina.
Aina makin ketakutan ketika tangannya ditarik paksa. Ia mengeratkan genggamannya pada lengan Andra agar mereka tidak berjauhan.
Petugas yang mulai emosi dengan tingkah Aina langsung menarik dengan satu hentakan hingga Aina hampir tersungkur.
Beruntung Andra sigap dan langsung menarik Aina ke pelukannya. “Pak, tolong, jangan kasar pada wanita!” hardiknya dengan emosi saat melihat Aina ditarik secara paksa.
Aina yang merasa dilindungi, langsung mengeratkan kedua tangannya di pinggang Andra dan membenamkan wajahnya di d**a bosnya itu.
Andra pun balas mengeratkan pelukannya karena ia tahu Aina ketakutan.
“Jika kalian menuruti kami, kami tidak akan bertindak kasar!" bentak salah satu petugas.
“Baiklah kami akan ikut ke kantor polisi, tapi sebelumnya aku akan telepon pengacaraku dulu," ucap Andra.
“Apa? Pengacara? Kalian saja menyewa tempat murahan, bagaimana bisa menyewa pengacara?” ejek petugas lainnya.
Andra diam dan membenarkan ucapan Si Petugas karena ia berada di tempat yang terbilang sangat murah dan tidak akan ada yang percaya jika dia menunjukkan kekayaannya. Ditambah lagi para petugas itu tidak tahu siapa dirinya dan nama besar keluarganya.
“Baiklah kami akan ikut ke kantor polisi, tapi gadis ini tetap berjalan bersamaku!” pinta Andra.
“Sepertinya Anda benar-benar menyukai pelayanan gadis ini," ledek Si Petugas yang langsung mendapat tatapan sinis dari Andra.
“Ya sudah, ayo ikut kami!” ajak petugas lainnya.
“Pak, bagaimana ini? saya takut ....” lirih Aina sambil mendongakkan wajahnya menatap Andra.
“Tidak apa-apa. Ada aku, semua akan baik-baik saja,” ucap Andra meyakinkan diakhiri dengan sebuah kecupan di puncak kepala Aina agar sedikit mengurangi rasa paniknya.
Andra langsung melepaskan pelukan mereka untuk memakai kemeja yang baru dua puluh menit dikeringkan di depan kipas angin. Kemudian mengambil jasnya yang digantungkan dinding.
“Kenapa harus mencium kepalaku segala? Bagaimana kalau aku jatuh cinta padanya?” keluh Aina.
setelah itu, mereka pergi menggunakan mobil petugas bersama dengan pasangan messum lainnya yang juga sedang berada di losmen.
Begitu tiba di kantor polisi, mereka langsung dimasukan ke sel tahanan tak terkecuali Andra dan Aina. Saat mereka di dalam, waktu menunjukkan pukul dua belas malam dan sudah tiga jam mereka ditahan, hingga Andra yang sejak tadi memakai baju basah, kini mulai mengigil kedinginan.
Aina yang berada di samping Andra, khawatir melihat Andra duduk meringkuk dengan wajah dibenamkan di antara dua lutut. Ia mencoba memanggil Andra untuk menanyakan kondisi tubuhnya. Namun, baru menyentuh tangan Andra, ia langsung merasa tangannya cukup hangat hingga membuat terkejut dan panik seketika.
“Ya Tuhan, Bapak demam?” ujar Aina sambil menyentuh wajah Andra dengan punggung tangannya.
“Sini, Pak!” pinta Aina sambil menepuk kedua pahanya yang sudah diluruskan lalu melebarkan jas untuk menyelimuti sebagian tubuh Andra.
Andra yang sedang tidak fit langsung menuruti perintah Aina walaupun beralaskan lantai sel dan berselimut jas basah.
“Maafkan saya, Pak, karena saya Bapak jadi begini,” batin Aina, prihatin.
“Lollipopnya kenapa, Mbak?” tanya seorang wanita yang berpakaian cukup seksi dengan make-up tebal.
“Maaf, Lollipop itu apa, ya, Mbak?” tanya Aina polos hingga mengundang kekehan orang-orang yang sama-sama ditangkap di losmen.
“Masa enggak tahu, Mbak? Bukanya si Mas ini yang menyewa jasa Mbak!” ucap si Ibu yang usianya sekitar empat puluhan.
“Apa aku terlihat seperti wanita panggilan?” pikir Aina. “Bukan, Bu, dia bos saya,” jawabnya dengan senyum ragu
“Ah ... sama kita enggak usah bohong, Mbak, kita bukan petugas, kok,” kata wanita yang ada disampingnya.
Andra sebenarnya kesal mendengar tuduhan orang-orang itu pada mereka berdua. Tapi saat ini ia sedang benar-benar lemas dan tidak ada tenaga untuk marah. Sedangkan Aina hanya membalas dengan senyuman terpaksa mendengar tuduhan itu.
Satu jam kemudian, khusus Aina dan Andra dibebaskan lebih dulu karena mereka tidak ada catatan buruk sebelumnya. Berbeda dengan orang-orang yang ditahan bersama mereka.
Saat mereka keluar dari kantor polisi, waktu menunjukkan pukul empat pagi. Aina berjalan memapah Andra yang demamnya semakin tinggi. Kemudian ia memesan taksi Online melalui ponsel Andra dan segera melaju ke apartemennya
Begitu tiba di apartemen, Aina langsung menyuruh Andra ganti baju dan istirahat di kamar. Sambil menunggu Andra ganti baju, ia membuat teh hangat untuk Andra di dapur yang menurutnya sangat mewah.
Saat Aina mengantarkan minuman yang ia buat barusan, Andra sudah mengganti baju dan berbaring di tempat tidurnya.
“Minum dulu tehnya, Pak,” ucap Aina lembut.
“Hmm ...," balas Andra singkat sambil melirik ke arah Aina.