Ayam Geprek

2337 Words
Waktu sudah menunjukkan pukul 18:50. Andra semakin bingung untuk datang atau tidak di kencan pertama ini. Selain itu ia juga sangat enggan harus bersikap lembut pada Aina karena tidak mungkin berkencan dengan penuh amarah. Yang ada Aina akan langsung menyebarkan videonya tanpa aba-aba. Sungguh, Andra benar-benar tidak ingin berkencan, tetapi takut jika Aina benar-benar melakukan ancamannya. Dan dengan amat sangat terpaksa, ia bergegas dari ruangan menuju halte yang dijanjikan. Begitu keluar dari pekarangan kantor, Andra berdiri untuk memperhatikan Aina dari kejauhan dengan satu tangan ia masukkan ke saku celana. “Benar-benar penampilan kelas bawah,” celetuk Andra sambil menggelengkan kepala saat melihat penampilan Aina yang amat sangat sederhana menurutnya. Kemudian Andra melanjutkan langkahnya untuk menghampiri Aina. “Sudah lama kau menunggu?” tanya Andra. “Belum, Pak, baru sepuluh menit saya di sini.” “Ya sudah, kita akan ke mana sekarang?” “Bapak yakin, akan pergi dengan pakaian seperti ini?” tanya Aina melihat Andra masih menggunakan pakaian kerja lengkap dengan dasi dan jas yang masih melekat di tubuhnya. “Apa ada yang salah dengan penampilanku?” Andra balik bertanya. “Sebenarnya tidak ada yang salah, tapi apa tidak terlalu rapi, Pak? Kita hanya makan di pinggir jalan, bukan di restoran mahal. kalau Bapak pakai pakaian seperti ini, nanti jika ada pengamen, mereka tidak akan terima jika diberi uang sedikit karena tahu Bapak banyak uang." “Apa? pengamen? Kau juga menyediakan alunan musik untuk kencan kita?! Apa kau ingin melamarku?” selidik Andra, konyol. “Astaga, nih orang!” batin Aina. "Tidak, Pak, tapi tanpa saya mengundang pun, pasti akan ada pengamen yang mendatangi kita nanti!" “Baiklah, lalu aku harus berpakaian seperti apa? Apa kita harus membeli baju dulu di mall?” “tidak usah, Pak, buang-buang waktu. Mungkin Bapak bisa melepas jas dan dasi. Bapak juga bisa menaruh tas Bapak dulu." “Baiklah. Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan menaruh tas, dasi, dan jasku di mobil!” “Baik, Pak!” Kemudian Andra pergi menuju mobilnya yang ada di basement kantor. Hingga empat menit kemudian iasudah kembali lagi ke halte tempat Aina menunggu. “Apa seperti ini?” tanya Andra sambil merentangkan kedua tangan meminta pendapat Aina atas penampilannya. “Ada satu lagi yang kurang, Pak!” “Apa?!" Aina langsung mendekati Andra dan menggulung lengan bajunya hingga ke siku. “Ini baru pas, Pak“ ujarnya setelah menggulung kedua lengan baju Andra. “Ya sudah, kita akan ke mana?” “Kita akan makan nasi kucing, Pak! ” “Apa itu?” tanya Andra heran. “Nanti juga Bapak akan tahu.” Mereka langsung pergi menaiki metromini yang berhenti tepat di depan mereka. Saat akan menaiki mikrolet, Aina memegang tangan Andra karena ia yakin, Andra pasti belum pernah menaiki angkutan umum, dan sialnya, mereka tak mendapat tempat duduk dan penumpang cukup banya yang berdiri. Mau tak mau mereka juga ikut berdiri dan berdekatan. Saat Aina melepaskan tangan Andra dan menyarankannya untuk berpegangan pada besi yang ada di atas kepalannya, Andra langsung menuruti dengan patuh karena ia sendiri takut jatuh jika tidak berpegang. “Pegangan yang kuat, Pak, karena mobil ini akan beberapa kali berhenti dan mengerem mendadak untuk menaikkan penumpang." “Baiklah," jawab Andra, patuh. Benar saja, tak lama kemudian mobil berhenti secara mendadak untuk menaiki penumpang. Andra yang berada di belakang Aina tanpa sengaja maju hingga wajahnya berada di bahu kanan Aina. “Maaf,“ ucap Andra. “Tidak apa-apa, Pak, ini sudah biasa," balas Aina sambil tersenyum agar Andra tidak merasa bersalah. Selama dua puluh menit menaiki kendaraan umum, mereka akhirnya tiba di sebuah taman kecil di pinggir jalan. Aina langsung berjalan menuju sebuah tenda dengan banyaknya tikar terjajar rapi yang memang disediakan untuk para pembeli agar bisa bersantai saat makan. “Bapak tunggu di sini, biar saya yang akan mengambil makanannya!” "Hmm." Hanya butuh waktu empat menit untuk Aina memilih makanan yang akan ia bawa dan datang dengan nampan yang penuh berisi beberapa tusuk makanan beserta satu mangkuk kecil berisi sambal. Andra yang tidak pernah melihat menu makanan seperti itu langsung merasa heran dengan warna dari makanan yang disuguhkan Aina. “Kenapa warna makanannya agak hitam?” tanya Andra, penasaran. “Itu campuran dari air rebusan yang sudah dicampur rempah, Pak," jawab Aina. “Lalu ini, setahuku warna tempe itu putih?" “Ini namanya tempe bacem, Pak. sebelum digoreng tempe direbus dulu dengan air yang sudah dicampur rempah juga.” “Telur kecil ini juga?” tanya Andra melihat beberapa telur puyuh yang ditusuk berwarna gelap. “Benar, Pak!" “Lalu, kenapa namanya nasi kucing?” “Karena ini, Pak!” Aina menunjukkan bungkusan kecil yang berisi nasi. “Karena kucing kalau makan tidak pernah banyak, maka nasi ini dibungkus kecil-kecil dan orang menyebutnya dengan nasi kucing,” papar Aina menjelaskan sejarah nasi kucing. "Cukup unik." “Kita bisa mengambilnya beberapa bungkus sesuai selera, Pak.” “Lalu sendok dan garpu untuk makan, mana?” “Tidak perlu, Pak. Makannya pakai tangan seperti ini.“ Aina langsung menyatukan nasi, telur puyuh, tempe dan juga lalapan yang tadi Aina bawa. Tak lupa ia menuangkan sambal ke piringnya dan menyuapkan makanan ke mulut Andra menggunakan tangannya. Beberapa detik Aina menatap Andra dan menunggu reaksi. “Bagaimana rasanya, Pak?” “ Hmm ... lumayan!" jawab Andra sambil mengunyah. Aina tersenyum lebar melihat Andra suka dengan makanannya. "Mau saya suapi lagi?” “Tidak apa-apa?” tanya Andra ragu atas tawaran Aina. “ Tidak, Pak." “Ya sudah.” Hingga akhirnya Aina dan Andra menghabiskan semua makanan yang Aina bawa tadi dengan tangan dan piring yang sama bahkan mereka beberapa kali menambah sambal dan nasi. “Apa Bapak mau tambah lagi?” tawar Aina. “Tidak! ini sudah melebihi kapasitas perutku,” tolak Andra. Setelah merasa kenyang, keduanya langsung minum teh pahit hangat yang tadi diantarkan ibu penjual saat mereka makan tadi Ketika selesai makan dan ingin bersantai sejenak, datang beberapa anak muda sambil memainkan gitar tepat di depan mereka. Saat melihat beberapa anak muda mulai bernyanyi, Andra mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang pecahan lima puluh ribu untuk diberikan kepada pengamen di depannya. Aina yang melihat jumlah uang yang akan diberikan Andra, langsung mencegahnya dan mengganti dengan uang pecahan sepuluh ribu dari dompetnya. “Jangan, Pak!” cegah Aina menahan tangan Andra. “Kenapa?!" tanya Andra heran. “Yang ini saja!" Aina langsung memberikan uang pada para pengamen di depan mereka. “Kenapa aku tidak boleh memberi mereka uang?" tanya Andra ketika para pengamen itu sudah pergi. “Jumlah yang Bapak berikan terlalu besar.” “Memangnya kenapa? bukankah itu Bagus, sebagai tanda menghargai suara mereka.” “Saya yang mengajak Bapak kencan, jadi saya yang harus mengeluarkan uang," jawab Aina. "Apa Bapak masih ingin di sini?” “Memang, kita mau ke mana lagi?” Andra balik bertanya. Bukannya menjawab, Aina malah menarik tangan Andra. “Mari ikut saya, Pak!" Andra pun mengikuti ajakan Aina tanpa tahu ke mana ia akan dibawa dan tidak berniat bertanya. Setelah lima menit berjalan, Aina mengajak Andra duduk di sudut taman, tempat biasa beberapa pasangan berpacaran. "Kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Andra. “Di sini tempat khusus pasangan, Pak. Coba lihat.” Aina menunjukkan situasi sekitar dengan dagunya. “Pasangan?” “Iya!” “Apa kau ingin menyatakan cinta padaku?” Aina langsung melirik sinis ke arah Andra. "Hadeeeh ... nih, orang. Pantes aja ditinggal nikah!" keluhnya saat lagi-lagi mendapat tuduhan konyol dari Andra. “Tidak, Pak. Menurut saya di sini tempat yang tepat untuk berbincang.” “Oh ...,” balas Andra sambil mengangguk. “Apa kau sering ke tempat ini bersama kekasihmu?” “Saya tidak punya kekasih, Pak." “Kenapa?” “Tidak ada waktu untuk mencarinya.” “Bukankah pria yang bersamamu di rooftop adalah kekasihmu?" “Bukan, Pak, dia teman saya. Jujur, ini kencan pertama saya dengan seorang pria, Pak." “Kenapa? Apa tidak ada pria yang mau denganmu?” “Saya tidak sejelek itu, Pak!" Aina langsung menunjukkan wajah cemberutnya mendengar pertanyaan yang mengarah ke pernyataan dari Andra. Aina dan Andra saling bercerita tentang kejadian saat Andra mabuk. Dari mulai jatuh di samping mobil sampai dibawa ke hotel yang dibantu oleh security klub dan sopir angkot. Ketika Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Aina memutuskan untuk pulang karena merasa malam sudah larut. Ditambah lagi Andra juga perlu istirahat setelah pulang bekerja. Mereka pulang menaiki metromini sampai ke halte depan kantor tempat tadi mereka bertemu. Lalu mereka pulang ke kediaman masing-masing. Andra sempat menawarkan untuk mengantar Aina pulang, tapi Aina menolak dengan halus, dan ia menunggu sampai Aina menaiki metromini untuk pulang, baru kemudian ke mobilnya dan segera kembali ke apartemennya. Keduanya pun melanjutkan kegiatan masing-masing di kediaman masing-masing pula. ****** Selama berada di kantor, baik Andra maupun Aina tetap tidak saling sapa. Bahkan, saat Andra tiba di ruangannya, dan melihat Aina selesai membersihkan ruangan, Andra tetap tidak membalas sapaan selamat pagi dari Aina. Bahkan, sampai Aina ke luar dari ruangan, Andra tetap tidak menoleh sedikit pun. Mungkin mereka benar-benar ingin merahasiakan kencan mereka dari siapa pun. sudah sejak dua hari ini Adi tidak pernah makan siang bersama Aina, karena Adi sibuk dengan aksinya mendekati Tari. Bahkan, saat Aina sedang membersihkan meja, salah satu pegawai ada yang melaporkan jika Adi sedang berselingkuh dengan Tari di rooftop. Aina hanya membalasnya dengan senyuman, dan menjelaskan bahwa dia dan Adi hanya teman. Sebenarnya, ada rasa kecewa di hati Aina mendengar Adi dan Tari semakin dekat. Tapi Aina tidak mungkin menunjukkannya, karena Adi sendiri pun tidak tahu perasaan ia padanya. Tari memang baru beberapa bulan bekerja di PG. Sejak pertama Tari masuk, Adi sudah menyukainya. Dan sejak mengetahui Tari baru putus dari kekasihnya satu Minggu yang lalu, Adi langsung melakukan gencatan senjata mendekati Tari, hingga melupakan Aina. Saat waktu pulang pun, Adi biasanya menunggu Aina untuk keluar bersama, tapi sudah dua hari ini Adi tidak lagi menunggu “Dasar lelaki, begitu ada yang baru yang lama dilupakan!" gerutu Aina melihat Adi langsung tancap gas menuju loker Tari. **** Saat ini, Aina sedang merias diri dengan polesan make-up yang natural perpaduan celana jeans dan tanktop yang dilapisi sweater pink menjadi outfit pilihan Aina di hari kedua ini. Ia memilih memakai sweater agar ia tidak kedinginan karena melihat cuaca yang agak mendung dan dingin. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit, Aina bergegas menuju jalan raya untuk menaiki kendaraan. Saat tiba di halte, lagi-lagi Andra masih belum datang, hingga sepuluh menit kemudian dia baru muncul. "Bapak akan membawa jas?” tanya Aina saat melihat jas yang digenggaman Andra. “Iya, aku sedang ingin membawanya." “Kalau begitu sini, biar saya yang bawa, Pak," pinta Aina. "Tidak usah, biar aku saja," tolak Andra halus. “kita akan ke mana malam ini?” “Apa Bapak suka makan ayam goreng?” “Suka! Kenapa?” “Ayo, Pak, kita makan ayam geprek di tempat langgannan saya!" ajak Aina. “Baiklah.” Lima menit kemudian mereka pergi menaiki kendaraan yang berhenti di depan mereka. Kali ini Andra yang lebih dulu masuk dan menggenggam tangan Aina. Seperti kemarin, kali ini pun mereka tidak mendapat duduk. Ketika sampai di dalam metromini, Andra langsung melepas tangan Aina untuk berpegangan pada besi di atas kepala mereka. Kali ini posisi mereka saling berhadapan. Andra sengaja berdiri menghadap Aina karena di belakang ada wanita yang sengaja malah menghadapnya. Ia khawatir, jika mobil berhenti mendadak akan berpandangan dengan wanita yang tidak dikenal itu, atau mungkin lebih dari sekedar berpandangan. Jadi, ia lebih memilih menghadap Aina saja. Misalkan mobil harus berhenti mendadak, setidaknya dia tidak terlalu risih jika harus berhadapan dengan orang yang ia kenal. Tetapi berhadapan seperti ini, justru Aina yang merasa risih karena masih cukup canggung untuk berhadapan jarak dekat. “Duh, kenapa Pak Andra harus menghadap kesini, sih?" keluh Aina membatin. Sepuluh menit kemudian keduanya tiba di tempat tujuan. Mereka duduk dan langsung memesan menu yang mereka inginkan begitu memasuki kedai. “Bapak suka pedas?" “Tidak terlalu. Kenapa?” “Bapak mau level berapa?" “Eee ... level empat saja aku tidak mau terlalu pedas," jawab Andra setelah beberapa detik berpikir. “Baiklah,” ucap Aina menyetujui dan langsung memanggil Bapak penjual untuk memesan makanan. "Mang!" teriaknya sambil melambaikan tangan. “Eh, Neng Aina baru datang lagi," sapa Mang Didi pemilik warung yang sudah akrab dengan Aina. “Iya, Mang, Aina baru ada waktu lagi bisa mampir ke warung Amang." “Loh, Neng Aina enggak bareng sama Mas Adi?” “Enggak Mang, Adi lagi sibuk." “Sibuk apa, Neng?” “Sibuk mengejar cinta, Mang!” Mang Didi pun tertawa mendengar perkataan Aina, sedangkan Andra hanya bisa memperhatikan keduanya. Setelah itu Aina langsung memesan makanan yang tadi ia dan Andra pilih. Didi—pemilik kedai bernuansa lesehan ini, langsung bergegas menyiapkan pesanan Aina. “Kau kenal sama bapak penjualnya?” tanya Andra setelah Didi pergi. “Iya, Pak. Saya dan sahabat saya Adi, sering ke sini setiap gajian dan saat libur, tetapi semenjak saya bekerja di cafe, saya jadi tidak ada waktu lagi untuk makan di sini." “Kau bekerja di cafe?" “iya, Pak, tapi sekarang sudah tidak lagi." “Kapan kau bekerja di cafe?" “Setelah pulang dari kantor." “Pulang dari kantor? Apa kau tidak lelah?" “Pasti lelah, Pak, tapi saya butuh dan saya harus mengesampingkan rasa lelah demi ibu saya." “Ibu?!" “Iya!" “Di mana ibumu?" “Di kampung, Pak!” “Apa ayahmu tidak bekerja?" “Ayah saya sudah tidak ada, Pak." “Oh, maaf." tiba-tiba Andra merasa tidak enak dengan pertanyaannya. “Tidak apa-apa, Pak.” Aina membalasnya sambil tersenyum. "Sebenarnya Bapak saya masih hidup, tapi sudah lama sekali tidak kembali.” “Apa kau tidak mencarinya?” “Untuk apa mencari? Jika dia masih mengingat kami, dia harusnya kembali, tidak perlu kami yang mencarinya.” Asyik bercerita, makanan yang mereka pesan pun tiba. Andra dan Aina langsung menyantap makanan di depan mereka. Saat sedang makan, Aina beberapa kali memperhatikan Andra makan dengan sangat lahap seperti sudah beberapa hari tidak makan. “Apa dia tidak pernah makan ayam geprek dari kecil?" batin Aina saat melihat cara makan Andra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD