Memberi Untuk Mempertahankan

2052 Words
“Benar! Itupun anak buah ibuku tidak ada yang tahu aku menyukainya. Mungkin jika mereka tahu, mereka akan mengatakannya pada ibu. Karena sejak ayahku meninggal, aku minta ibuku tidak perlu mengawasi lagi. Lalu kenapa kau ingin berkencan denganku?” tanya Andra setelah bicara panjang lebar “Saya hanya ingin menghibur Bapak,” jawabnya dengan sedikit kekehan. “Menghiburku?! Memangnya ada apa denganku?” tanya Andra heran. “Waktu saya menolong Bapak saat mabuk dan menyebutkan nama Bu Fina, saya melihat kekecewaan yang begitu besar yang Bapak rasakan, dan saya merasa nasib kita sama.” “Maksudmu, apa kau juga mencintai Fina?” “Tidak mungkin! Saya masih normal, Pak!” sanggah Aina sinis. “Lalu?!" “Saya juga sama, mencintai seseorang yang tidak bisa dimiliki, tapi juga tidak bisa dijauhi." “Siapa?” “Saya menyukai Adi sahabat saya, Pak, tetapi dia mencintai gadis lain.” “Ternyata benar dia tidak tertarik padaku,” batin Andra. “Jadi, saya pikir dua orang yang sedang patah hati tidak ada salahnya saling menghibur." “Benar juga!” ucap Andra. “Kalau saya boleh tahu, kenapa Bapak mencintai Bu Fina?" “Karena hanya dia yang bisa mengurusi keperluanku, dia tahu segalanya tentangku. Sebelum Fina tunangan, hampir semua hidupku bergantung padanya. Semua dia yang menyiapkan selain kebutuhan pribadiku dan aku takut jika Fina pergi dariku, aku tidak bisa apa-apa." “Menurut saya, itu bukan cinta, Pak," celetuk Aina. Andra mengerutkan dahinya mendengar ucapan Aina. "Lalu apa? Aku takut kehilangan dia apa itu bukan cinta?" “Bapak hanya takut kehilangan pelayanannya, bukan takut kehilangan Bu Fina. Menurut saya, cinta itu memberikan untuk mempertahankan dan juga kenyamanan, sedangkan yang Bapak rasakan hanya selalu diberi tidak untuk mempertahankan apa lagi membuat nyaman." “Lalu kenapa kau tidak memberi untuk mempertahankan cintamu pada sahabatmu?” “Untuk apa saya memberi dan mempertahankan. Jelas-jelas cintanya bukan untuk saya," balas Aina dengan senyum kecutnya. Andra melihat sedikit kekecewaan di mata Aina saat menatapnya. "Bagaimana jika aku mencintaimu. Apa kau mau?” batin Andra. "Pak, seharusnya tadi saya membeli kembang api agar makan malam kita ini makin romantis!" ujar Aina dengan mengalihkan pembicaraan karena tidak mau membahas cintanya. Andra mendengus mendengar ucapan Aina tanpa berniat membalas dan semakin dalam memperhatikan, walau yang diperhatikan tak menoleh sedikitpun. “Sepertinya malam mulai larut, Pak. Bagaimana kita akan tidur?” tanya Aina dan baru menoleh menatap Andra. “Apa kau ingin tidur sekarang?” tanya Andra sambil berdiri di depan Aina. “I-ya, Pak!” jawab Aina mulai waspada dengan sikap Andra. “Bukankah ini makan malam romantis?” tanya Andra terus menghimpit tubuh Aina ke pintu. “I-iya, Pak." Aina gugup karena sudah tidak bisa bergerak lagi. “Apa kau mau melakukan sesuatu di atas ketinggian dan ditemani bintang-bintang?” “Pak, apa Bapak bisa mundur sedikit?” pinta Aina tanpa menjawab pertanyaan Andra. “Jika aku tidak mau bagaimana?” “Ya-ya sudah, biar saya saja ke depan, Pak.” Aina berusaha melepaskan diri dari Andra Namun, Andra segera menahan lengan Aina agar tidak pergi. "Maafkan aku." Ia langsung mencium bibir Aina tanpa meminta persetujuan lagi. Aina yang terkejut dengan perbuatan Andra, hanya bisa membelalakkan mata sambil berusaha mendorong. Tetapi semakin didorong, Andra malah semakin mendalami ciumannya dan mengeratkan tangan di pinggang Aina sehingga ia hanya bisa menggenggam baju Andra. Cukup lama Andra mencium Aina, seolah ia sedang melepaskan semua hasrat yang sudah beberapa hari ia tahan. Hingga hampir kehabisan nafas, baru ia melepas ciumannya. Aina hanya bisa tertunduk malu setelah ciuman Andra terlepas. "Maafkan aku calon suamiku. Kau bukan yang pertama menciumku,” batinnya menyesali ciuman pertama yang direnggut Andra karena ia tidak tahu kalau sebelumnya Andra sudah pernah mencium. “Apa ini yang pertama?” tanya Andra melihat Aina terus saja menunduk. “Seharusnya kita tidak seperti ini, Pak. Kita bukan pasangan," jawabnya masih tak berani menatap Andra. Andra kembali menyadarkan tubuhnya ke pintu dan menarik Aina untuk duduk di sampingnya. “Bukankah kita pasangan kencan?" Mendengar ucapan Andra, Aina memejamkan mata. “Kenapa aku merasa seperti direndahkan!” batin Aina. “Setelah kencan kita selesai, kau akan bagaimana?” tanya Andra setelah cukup lama mereka saling diam. “Mungkin saya akan mencari pekerjaan tambahan lagi, atau saya akan mencari pria yang sedang patah hati, lalu akan mengajaknya kencan," gurau Aina di tengah rasa groginya dan sesalnya. Andra langsung menatap Aina sinis. "Baiklah kalau begitu aku akan mabuk lagi!" “Ish ... saya sudah tidak berniat menolong Bapak lagi.” “Apa kau bisa tidak memanggilku bapak selain di kantor. Aku ini belum terlalu tua, cukup panggil saja namaku!" “Maaf, Pak, saya tidak bisa. Bapak ini bos saya." “Aku bosmu saat di kantor, tapi di luar kantor aku ini pasanganmu!” “Apa pasangan? Apa dia tidak salah? Aku harus harus senang atau tersinggung?" ujar aina membatin “Oh, iya, aku baru ingat! Besok adalah pernikahan Fina. Aku harus datang dan tidak bisa berkencan denganmu. Bagaimana?" “Baiklah, tidak apa-apa," jawaban Aina. "lagi pula besok aku akan bersama Adi,“ batinnya. Setelah sama-sama mengantuk, Aina menggelar plastik yang tadi ia jadikan alas. Dan akhirnya mau tidak mau mereka melewati malam dengan tidur di rooftop. “Kenapa Fina langsung menuruti perintahku untuk memindahkan semua kardus ke gudang?” gerutu Andra menyalahi orang lain saat ia tidur hanya beralaskan plastik. Saat Aina tidur, Andra lagi-lagi mencuri ciuman darinya, bahkan ia memeluk Aina selama tidur. Ia tidak peduli jika bajunya kotor dan punggungnya sedikit sakit karena tidur hanya beralaskan plastik. Beruntung ketika pagi tiba, Andra bangun lebih dulu. Jadi Aina tidak tahu, jika ia memeluknya semalaman. Setelah bangun tidur, Aina tidak pulang lagi ke kostnya. Ia meminjam seragam Tari yang ada di loker. Sedangkan Andra kembali ke apartemen untuk mengganti baju. “Apa kau mau aku belikan sarapan?” tawar Andra. “Tidak usah, Pak, nanti saya akan sarapan bersama Adi." “Jangan panggil aku bapak!” pinta Andra. “Tapi ini di kantor, Pak!” “Kau ini!" omel Andra. kemudian mereka kembali ke tujuan dan aktivitas masing-masing. ***** Sudah tiga jam lalu Andra masuk ke ruangan dan terus melamun sampai detik ini, membayangkan kejadian semalam ketika ia mencium Aina dan tidur dengan Aina ada di pelukannya. “Apa benar yang Aina bilang, jika aku bukan mencintai Fina, tapi mencintai pelayanannya, dan itu sebabnya aku begitu cepat melupakan Fina lalu mencintai dia? Entahlah, tapi saat berada di dekatnya aku selalu nyaman. Apa ini yang namanya jatuh cinta?” oceh Andra. Kemudian Andra membuka laci meja kerjanya untuk mengambil bingkai foto pemberian Aina. “Hei ... gadis kelas bawah, bagaimana jika aku benar-benar mencintaimu? Apa kamu mau? Ah ... kau ini, kenapa membuat kencan yang terlalu singkat? kenapa hanya lima belas hari? Kenapa tidak satu bulan atau satu tahun saja?” oceh Andra sambil memandangi foto mereka seolah ia sedang memarahi Aina sungguhan. Dan sepanjang hari ini, Andra lebih banyak menghabiskan waktu kerjanya dengan membayangkan Aina dan kencan yang sudah mereka lewati. **** Malam ini, Adi dan Aina baru saja kembali dari pasar malam. Mereka menaiki semua wahana dan membeli beberapa barang yang mereka sukai di sana. Sebelum pulang, Adi mampir ke tempat Aina terlebih dahulu untuk terus bercerita dan bercanda seperti biasa di depan kostan. Tidak jarang Adi merangkul Aina dan menggodanya saat gurauan mereka terasa konyol. Beberapa kali juga Aina menyandarkan kepala di bahu Adi dan benar-benar terlihat manja saat topik bahasan mereka mulai serius. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan kebersamaan mereka, karena memang sepeti itulah mereka ketika sedang berdua. Namun, tidak biasa bagi sepasang mata yang menatap mereka dari kejauhan sejak tadi. Setiap tawa dan sentuhan yang Adi berikan pada Aina, seperti bensin yang di siramkan ke api hingga langsung menyulut emosinya. **** Saat ini Adit dan Andra sedang menghadiri resepsi pernikahan Fina. Adi ingin mengambil makanan sebelum duduk di salah satu dari puluhan meja di sekitar mereka. “Ndra, tunggu di sini, ya. aku mau ambil makan dulu,” pamit Adit "Ya!“ Tidak lama Adit kembali dengan membawa seporsi makanan yang ia ambil di sudut ballroom hotel. “Kamu kenapa tidak makan, Ndra?” tanya Adit sambil sibuk mengaduk makanannya. “Sedang tidak ingin." “Sedang tidak ingin atau patah hati?“ ledek Adit. “Kenapa patah hati? Aku justru ikut senang Fina sudah menemukan jodohnya." “Tapi, sejak tadi tatapan matamu tidak berhenti memandang Fina!” “Dia cantik sekali, Dit.” binar kekaguman terlihat jelas di mata Andra. “Makannya, perasaan itu diungkapkan, bukan disimpan. Akhirnya kamu didahului orang lain.” “Dulu aku terlalu takut Fina menolak lalu menjauh setelah tahu perasaanku.” “Kau terlalu banyak memikirkan resiko sebelum melangkah, Ndra. Sekarang, jadikan kisahmu dengan Fina ini pelajaran, agar ke depannya kau bisa lebih berani mengambil langkah." Mendengar nasihat Adit, Andra kembali teringat pada Aina. "Dit, apa kau pernah jatuh cinta?” “Pernah!“ “Dengan siapa?" “Denganmu!” jawab Adit santai. “Aku serius!“ “Apa kau lupa, Bagaimana aku akan jatuh cinta jika kau selalu ada di sampingku?” “Dit, jika aku jatuh cinta lagi, apa kau mau mendukungku?” “Aku ini temanmu bukan ibumu. Tidak perlu kau meminta izinku. Siapa pun wanita yang kau cintai, aku pasti akan mendukung." “Apa kau juga akan membantuku, jika ibuku ikut campur lagi seperti dulu?” “Pasti! Aku akan membantu sebisaku!" jawab Adit hingga tiba-tiba Adit mengerutkan dahinya. "Apa kau sedang jatuh cinta lagi? Cepat sekali kau bangkit. Apa ini tidak terlalu cepat?” selidiknya. “Entahlah, aku juga tidak tahu jatuh cinta atau bukan. Tetapi yang jelas dia tidak tertarik denganku!" Uhuuk ... uhuuk .... Adit langsung batuk mendengar sahabat yang lagi-lagi jatuh cinta pada wanita yang tidak mencintai dirinya. Andra langsung menyodorkan segelas minuman kepada Adit. “Pelan-pelan Dit, aku tidak akan meminta makananmu," ledeknya Adit langsung menyambar gelas yang disodorkan Andra untuk mendorong makanan yang berkumpul di tenggorokan. “Kenapa nasib percintaanmu buruk sekali? Dan kenapa kau selalu mencintai wanita yang tidak mencintaimu. Kau bukan pria buruk rupa!” seru Adit setelah meminum satu gelas penuh. “Kali ini aku akan mempertahankan dia, Dit. Bukankah cinta itu memberi untuk mempertahankan? Aku akan membuat dia mencintaiku!” “Siapa dia?” tanya Adit penasaran. “Si Gadis messum itu," ucap Andra penuh keyakinan. “Maksudmu gadis manis itu?!" selidik Adit, takut salah mengira. Pasalnya beberapa hari lalu Andra terlihat sangat tidak mau bahkan marah ketika ia menggoda Andra jatuh cinta padanya “Iya!“ “Apa kau yakin?” Andra hanya membalas dengan senyuman tanpa memastikan dengan kata-kata. ***** Setelah acara pernikahan Fina selesai, Adit dan Andra berpisah di lobi hotel untuk ke kediaman masing-masing. Saat di jalan menuju apartemen, Andra melewati pohon tempat di mana ia dan Aina berteduh beberapa hari lalu. Ia kembali teringat pada Aina dan memutuskan berhenti untuk membeli dua porsi ayam geprek di tempat yang sama saat mereka makan sebelum kehujanan. Setelah membeli ayam geprek, Andra langsung melajukan mobilnya menuju tempat kost Aina karena ia ingin makan bersama. “Dia sedang apa sekarang?” ucap Andra sambil menatap dua porsi ayam geprek di sampingnya. Tepat di tempat sekarang Andra memarkirkan mobil, ia melihat pemandangan yang membuatnya emosi saat melihat wanita yang seharian ini menguasai pikiran sedang bersenda gurau dengan pria lain. “Aina tidak pernah sedekat itu denganku!” ucapnya saat melihat Aina merebahkan kepalanya di bahu Adi. "Dia bahkan selalu menjaga jarak dan terlihat takut padaku!" gerutunya kesal. Andra semakin emosi, ketika Adi merangkul Aina dan Aina malah terlihat semakin manja. "Menjijikkan!" ucap Andra, kesal. lalu memundurkan mobilnya dan kembali ke apartemen. Kedekatan Adi dan Aina membuat mood Andra buruk seketika, hingga ia memutuskan untuk pulang tanpa memberitahu kedatangannya. Begitu tiba lobi apartemen, Andra memberikan dua porsi ayam geprek yang tadi ia beli pada security. “Dasar gadis manja!” umpat Andra begitu memasuki kamar dan berkacak pinggang. “Denganku di selalu terlihat takut dan menjaga jarak! Tapi kenapa dengan pria itu dia begitu manja?” Andra langsung melempar kunci mobil begitu melihat gantungan yang kemarin Aina berikan. “Bukankah dia tahu, kalau pria itu tidak mencintainya? Kenapa dia masih saja mau berdekatan? Dasar gadis bodoh, bodoh, bodoh!” umpat Andra tanpa henti. malam ini Andra tidur dengan emosi yang siap meledak sewaktu-waktu. Apalagi tidurnya tidak benar-benar nyenyak yang semakin membuat emosinya memuncak. Bayangan saat Aina menyandarkan kepalanya di bahu Adi dan tawa lepas mereka terus berkeliaran di otaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD