“Bapak, lapar?”
“Bukankah tadi aku mengeluarkan semua makanan yang ada di perutku? Jadi, sekarang perut benar-benar kosong!” kilah Andra.
“Baiklah, spesial untuk Bapak, jangankan tiga porsi, sepuluh porsi pun saya akan belikan,” goda Aina.
Andra menujukan senyuman manisnya.
“Apa kau sedang menggombaliku?”
“Ya, anggap saja begitu!” jawab Aina sambil menaikkan kedua bahunya.
Kemudian Andra benar-benar menghabiskan empat porsi siomay yang Aina pesankan. Setelah itu ia bergegas pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, meskipun ia masih ini berlama-lama di kostan.
Selama perjalanan, Andra merasa senang dengan kencannya malam ini. Walaupun sempat ada insiden mual yang memalukan, tapi entah perasaan apa yang sedang dirasa hingga ia sudah tidak sabar menunggu kencan berikutnya.
“Besok dia akan mengajakku ke mana lagi? Aku benar-benar tidak sabar menunggu besok. Dasar OG bodoh, kenapa membuatku aneh seperti ini?" ocehnya dalam perjalanan pulang.
Begitu tiba di rumah, Andra langsung membaringkan tubuh di atas kasur king sizenya setelah membersihkan diri. Kini, Andra tidur sambil memainkan kunci mobil seperti anak kecil yang sedang memainkan mobil mainan.
“Kenapa kunci mobilku tiba-tiba menjadi spesial?” ucapnya sambil terus memainkan kunci.
Andra kembali mengingat-ingat saat demam kemarin malam. Ketika Aina benar-benar merawatnya, membelai rambutnya saat ia tidur di paha, dan menyandarkan kepalanya di bahu saat perjalanan pulang ke apartemen, hingga memeluknya sebelum tidur.
“Apa ini rasanya punya kekasih?” gumamnya dengan mata berbinar
Dan sepanjang malam Andra terus mengingat-ingat segala perhatian Aina hingga mengantuk saat sudah memasuki waktu dini hari.
*****
Pagi ini, Andra bangun dengan semangat dan ingin cepat-cepat tiba di kantor. Bahkan, hari ini ia datang tiga puluh menit lebih awal serta melaju lebih cepat dari biasanya.
Saat tiba di basemen kantor, Andra bertemu Adit yang juga baru datang. “Pagi, Pak Manajer," sapanya.
Adit langsung mengerutkan dahinya mendengar sapaan Andra yang begitu ramah pagi ini. “Kau kenapa?” tanyanya bingung.
“Kenapa apanya?” Andra balik bertanya.
“Kau tidak salah makan, 'kan?”
“Memangnya kenapa?”
“Apa kau sedang bahagia pagi ini? Apa kau memenangkan tender besar kemarin?"
“Tidak, bukankah hidup itu harus selalu penuh kebahagiaan,“ jawab Andra sambil terus tersenyum.
Adit semakin heran mendengar jawaban ramah Andra yang tidak seperti biasanya. “Sungguh, aku lebih baik melihat kau yang dingin dari pada seperti ini. Kau seperti orang yang kerasukan hantu taman lawang!"
“Kenapa? Apa aku terlihat lebih tampan dengan wajah ramah seperti ini?" Andra meraba dadda Adit layaknya wanita panggilan.
“Menjijikkan!” Adit langsung mendorong Andra dan meninggalkannya menuju lift.
“Mas, tunggu aku!” teriak Andra mengejar Adit dan mereka berdua berjalan dengan saling dorong layaknya anak remaja yang sedang bercanda.
Karena Andra berangkat tiga puluh menit lebih awal dan melaju dengan cepat maka, ketika ia tiba di ruangan, Aina masih membersihkan ruangannya.
“Pagi, Pak," sapa Aina sambil membungkuk hormat seperti biasa.
“Pagi."
Aina terkejut mendengar Andra membalas sapaannya. “Dia membalas sapaanku? Apa aku tidak salah dengar? ada apa dengannya? Atau mungkin telingaku yang salah?” batin Aina.
Saat duduk di meja kerjanya, Andra tak henti-hentinya tersenyum dengan sebelah tangannya menunjang kepalanya. Aina yang merasa diperhatikan menjadi agak risih dengan tatapan Andra, tapi takut untuk berbalik apa lagi bertanya.
“Apa ini efek terlalu banyak makan siomay semalam?” gumam Aina, pelan.
Kemudian Aina buru-buru menyelesaikan tugas agar bisa segera keluar dari ruangan karena semakin risih dengan tatapan Andra.
“Permisi, Pak," pamitnya.
“Iya, hati-hati, ya!” balas Andra tetap tersenyum.
“Apa hati-hati? Apa dia pikir aku pamit mau pergi jauh? Dasar aneh!" batin Aina.
Begitu sampai di ruangan khusus OB, Aina melihat Tari dan Adi sedang sarapan bersama.
“Eh, Na, sarapan bareng, yuk!" ajak Tari.
“Boleh?” tanya Aina semangat karena memang tadi ia belum sempat sarapan.
“Kaga!" jawab Adi ketus kerena merasa terganggu dengan kedatangan Aina.
“Bodo amat! Gue bakalan tetep sarapan di sini, Wee ...,” balas Aina sambil menjulurkan lidahnya.
Tari hanya bisa tersenyum melihat kekonyolan interaksi dua sahabat itu.
“Eh, Di, apa lo udah mulai kerja di hotel?”
“Udah!“
“Syukurlah kalo udah. Gimana, nyaman gak kerja di sana?"
“Enggak terlalu. Mungkin karena gue anak baru, jadi masih banyak yang asing buat gue."
“Di, lo udah lama gak maen ke tempat gue. Apa enggak kangen berduaan sama gue?”
“Kangen juga, sih!”
“Ya udah, ajak Tari sekalian main ke kostan gue. Mumpung di sana lagi ada pasar malam, nanti kita cobain semua wahananya!" ajak Aina.
“Ok, besok malam jadwal gue off di hotel. Gue ke kostan lo, deh!"
“Ayo, Tar, ikut kita, yuk!” ajak Aina.
“Yah ... maaf, Na, besok malam aku enggak bisa. Aku udah ada janji mau ke tempat temenku," tolak Tari.
Adi terlihat kecewa mendengar penolakan Tari padahal ia berharap pujaan hatinya itu mau ikut.
“Ya udah, kita berdua aja gimana, Di?"
“Gue, sih, ok aja!"
“Ok, Deal! besok malam, ya!” ujar Aina meyakinkan.
"Sip!"
Setelah itu mereka menghabiskan waktu sarapan bersama dengan beberapa OB dan OG lainnya yang juga baru tiba dari pekerjaan masing-masing. Dan seperti beberapa hari sebelumnya, Adi lebih banyak bekerja dengan Tari dan Aina lebih banyak dengan OB lainnya, termasuk juga waktu makan siang. Sudah hampir seminggu Adi tidak makan siang bersama Aina, tapi waktu pulang mereka masih sering bersama walaupun Adi lebih condong kepada Tari.
****
Fina sudah mulai cuti hari ini, dan Dewi yang menggantikan selama Fina cuti. Sebagian Schedule Andra sudah di susun Fina dari beberapa hari yang lalu. Dan selama Fina cuti, Dewi hanya perlu memberikan dokumen-dokumen yang perlu ditandatangani saja. jadi, Andra tidak terlalu kewalahan saat Fina tidak ada.
Tok ... tok ....
“Masuk!" teriak Andra. "Siapa yang datang ke ruanganku di jam istirahat?" gumamnya.
“Permisi, Pak," sapa Aina saat membuka pintu.
“Aina? Ada apa ke ruanganku? Apa kau tidak makan siang?”
“Sudah tadi, Pak," jawaban Aina sambil mengambil sesuatu di paper bag yang ada di genggamannya." Saya punya sesuatu untuk Bapak!”
“Sesuatu? Apa itu?"
“Ini!“ Aina menaruh satu bingkai foto di meja Andra.
“Kapan kau mengambilnya?” tanya Andra melihat foto dirinya yang sedang duduk kelelahan setelah memakan siomay semalam, lalu di sisi depan ada Aina dengan dua jari di sebelah pipi kanan dan satu mata dikedipkan.
“Semalam saat Bapak selesai makan siomay," jawab Aina sambil mengambil sesuatu di paper bagnya lagi. "Itu untuk Bapak dan ini untuk saya." Aina menunjukkan foto Andra seorang diri sedang melihat ke arah lain.
Andra tersenyum melihat foto dirinya yang diambil secara diam-diam. "Lalu kapan kamu mengambil foto itu?"
"Ini saya ambil waktu Bapak menunggu siomay yang kedua datang.”
“Baiklah, akan aku simpan di sini,” ucap Andra seraya meletakkan bingkai foto pemberian Aina di atas meja kerjanya.
“Jangan di situ, Pak! Nanti ada yang lihat. Apa kata orang jika tahu Bapak bersama seorang OG!” larang Aina.
Mendengar ucapan Aina, Andra sedikit terenyuh. Rasa yang mulai ada di hati membuatnya ia lupa siapa Aina dan siapa dirinya
“Lalu, aku harus simpan di mana?”
“Simpan di laci meja saja,” usul Aina.
“Baiklah, Kenapa kau memberikanku foto?”
“Sebagai pengingat suatu saat nanti, kalau kita pernah dekat, Pak!” ucap Aina penuh senyum bangga.
Mendengar kata pernah dekat senyum Andra memudar.“Pernah? Apa dia berniat menjauh setelah kencan selesai?” batin Andra.
“Ya sudah, Pak, saya permisi dulu. Saya takut nanti ada yang lihat saya di ruangan ini," pamit Aina lalu segera keluar dari ruangan Andra.
Andra tidak membalas pamit Aina karena fokus pada pikirannya. “Apa dia benar-benar tidak tertarik padaku?” tanyanya setelah Aina pergi.
•••••
Waktu sudah menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit. Baik Andra maupun Aina, mereka sedang bersiap-siap untuk kencan malam ini. Terlebih Andra yang benar-benar sudah tidak sabar. Maka dikencan kali ini, Andra sudah menunggu di halte bus lebih dulu.
Dari seberang jalan, Aina melihat Andra sudah duduk manis menunggunya di halte. “Tumben dia sudah duluan,” gumamnya sambil menyebrang.
“Ha—Hai,” sapa Andra, grogi. "Kita akan ke mana sekarang?”
“Kita akan makan malam romantis, Pak.”
“Romantis?!” tanya Andra heran.
“Iya, Pak, lihat ini!” Aina menujukan dua bungkus nasi yang ia bawa.
“Apa itu?!”
“Ini nasi padang, Pak.”
“Apa makan nasi padang termasuk romantis?”
“Bukan makanannya yang membuat romantis, tapi suasana dan tempatnya, Pak."
“Tempat? Memang kita mau makan di mana?”
“Mari ikut saya, Pak!" ajak Aina sambil menarik pergelangan tangan Andra menuju ke lift kantor.
Melihat tangannya di genggam, Andra senyum-senyum sendiri padahal ini bukan yang pertama kali Aina menggenggam tangannya.
“Tunggu! Aku ingin menaruh jas dan dasiku di mobil. Kau tunggu di sini!” pinta Andra.
"Baiklah."
Empat menit kemudian Andra menghampiri Aina, lalu kembali melangkah menuju lift dan langsung menekan tombol angka 60, lantai paling atas.
“Kenapa kau mengajakku ke sini?” tanya Andra heran begitu sampai di rooftop kantor.
“Bapak tunggu dulu di sini, saya akan menyiapkan semuanya.”
“Baiklah," jawab Andra dengan tatapan semakin heran.
Andra berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana memperhatikan Aina mengeluarkan plastik bermotif bunga lalu menggelar plastik itu di lantai rooftop, kemudian meletakan dua lilin di atas plastik dan tidak lupa menaruh dua bungkus nasi yang ia bawa.
“Sudah selesai! Bagaimana, Pak! apa Bapak suka?” ujar Aina.
Andra mendengus melihat apa yang Aina suguhkan. "Apa ini yang namanya makan malam romantis?”
“Bukankah makan malam romantis itu seperti ini, Pak? Di atas ketinggian. Di temani lilin dan bintang-bintang," jawab Aina dengan wajah bangga..
Kemudian mereka duduk beralaskan plastik yang Aina gelar, lalu ia menyiapkan makanan untuk Andra dan dirinya.
Saat Andra ingin makan, tiba-tiba Aina menghentikan pergerakan tangannya. "Tunggu, Pak!”
Seketika Andra menutup kembali mulutnya yang sudah terbuka. “Ada apa?!" tanyanya
“Pak, untuk menambah kesan romantis, bagaimana jika kita saling menyuapi?” ide Aina
Andra menjawab dengan dengusan sambil tersenyum. “Baiklah."
Aina melebarkan senyumnya mendengar persetujuan Andra. Lalu mereka saling menyuapi hingga makanan mereka habis.
Ide konyol Aina ini membuat Andra semakin tertarik dengannya dan ia tak melepaskan pandangan dari Aina sedikit pun, tapi di hati kecilnya, ia masih memungkiri jika ia sudah jatuh cinta pada Aina.“Tidak mungkin aku mencintainya secepat ini!” batinnya saat menyuapi Aina.
Setelah selesai, Aina segera merapikan tempat makan tadi agar bisa segera turun. dari rooftop. Namun, saat Andra membuka satu-satunya pintu masuk yang ada rooftop, pintu tidak bisa dibuka. Berkali-kali Andra menaik turunkan handle, pintu tetap tidak terbuka.
“Apa sudah dikunci?” gumam Andra.
“Ada apa, Pak?” tanya Aina melihat Andra tetap diam di depan pintu.
“Sepertinya pintunya sudah dikunci!”
“Apa?!” raut wajah Aina berubah panik lalu ikut mencoba membuka pintu. “Bagaimana ini, Pak? Bukankah ini baru jam sembilan malam kenapa sudah dikunci?”
“Mungkin semua divisi sudah pulang."
“Lalu kita bagaimana?”
“Tunggu sebentar!” Andra langsung merogoh semua sakunya, tapi tidak menemukan benda yang dicari. “Sial!“ umpatnya.
“Kenapa, Pak?” tanya Aina melihat Andra sedikit emosi.
“Ponselku tertinggal di jas,” jawab Andra frustrasi.
“Apa kita akan bermalam di sini, Pak?”
“Sepertinya begitu!”
Aina kembali merasa bersalah karena membuat Andra susah lagi. “Maafkan saya, Pak,” ucap Aina takut sambil menunduk.
Mendengar perkataan Aina, Andra langsung mengerutkan dahinya. "Kenapa meminta maaf?”
“Lagi-lagi karna kencan ini, Bapak jadi kesusahan,” sesalnya.
“Hei ... aku tidak menyalahkanmu, sini!" ucap Andra lembut sambil menarik Aina untuk sama-sama bersandar di pintu rooftop.
“Apa Bapak menyesal dengan kencan malam ini?”
“Sejak awal aku tidak pernah menyesal berkencan denganmu."
Aina langsung berani menatap wajah Andra. “Benarkah?!”
“Iya. Apa kau tahu? Hanya denganmu aku bisa bersikap sesuai diriku sendiri!"
“Maksud, Bapak?”
“Seperti yang kau tahu, aku adalah pewaris tunggal keluarga Prayoga. Ayahku adalah anak tunggal sama sepertiku. Prayoga Grup adalah bisnis yang di bangun kakekku dari nol lalu di teruskan oleh ayahku dan setelah ayah meninggal, aku yang menjadi penerusnya. Sejak kecil aku sudah di didik bagaimana bersikap layaknya seorang CEO. Cara makan seorang pemimpin, cara bicara, gaya bahasa, cara duduk, berjalan, senyum itu semua sudah harus aku lakukan sejak kecil. Bahkan dalam pergaulan pun, aku harus mengikuti aturan ayah dan ibuku, termasuk persahabatanku dengan Adit. Bisa kamu bayangkan sekaku apa hidupku?"
“Apa Bapak tidak jenuh?”
“Entahlah. Sejak dulu aku sudah terbiasa seperti ini, bahkan ayahku sudah mengajarkanku cara bernegosiasi sejak kecil. Ayah dan ibuku selalu menyuruh orang untuk mengikutiku ke mana pun aku pergi. Ketika aku kuliah, aku mencintai seorang gadis. Aku sempat mendekati gadis itu tapi orang-orang suruhan ayah-ibuku memberitahu mereka. Menurut mereka, keluarga gadis itu tidak setara denganku. Lalu dengan koneksinya mereka membuat pekerjaan dan usaha kedua orang tua gadis itu bangkrut hingga meninggalkan Jakarta. Sejak itu aku tidak berani menyukai seorang gadis, dan hanya Adit lah yang selalu menemaniku. Lalu sekarang kau wanita satu-satunya yang berani mendekatkan diri padaku, hingga membuat aku seekspresif mungkin. Aku melupakan cara tertawa, bicara dan makanku yang seharusnya elegan."
Mendengar cerita Andra, Aina hanya menganggukkan kepala. “Bukankah, Bapak menyukai Bu Fina?”