Pasar Malam

2029 Words
Aku berhenti bergerak karena heran dengan pertanyaannya. Apa dia masih tertarik dengan kencan ini, setelah aku membuat dia kesusahan semalam? Aku sendiri justru ingin mengakhirinya. Kemudian aku membalikkan badan dengan tetap menunduk takut dan berkata, "Maaf, Pak, kita hentikan saja kencan ini. Saya akan menghapus video itu. Saya tidak mau menyusahkan Bapak lagi. Saya takut Bapak kesusahan seperti tadi malam." “Apa dua hari ini aku terlihat kesusahan?” Aku langsung mendongakkan wajah mendengar ucapannya “Apa ini? Apa dia masih ingin meneruskannya?” batinku. "Bapak yakin?" "Apa pertanyaanku tidak meyakinkan?" Aku diam sejenak untuk berpikir. “Eee ... baik, Pak. Malam ini di dekat tempat kost saya ada pasar malam dan juga beberapa permainan. Apa Bapak mau mencobanya?” tawarku. “Baiklah, sepertinya menarik." Aku langsung tersenyum lebar mendengar ucapannya yang terlihat penasaran dengan tawaranku. “Tapi aku tidak tahu tempat tinggalmu.” “Nanti seperti biasa saya akan menunggu Bapak di halte depan, Pak." “Tidak perlu, ini, 'kan dekat dengan tempat tinggalmu, seharusnya aku saja yang ke sana!" "Benar juga," pikirku. “Begini saja, Pak, nanti malam mobil Bapak melaju ke arah tempat kita makan semalam, nanti saya akan menunggu Bapak di pinggir jalan," usulku. “Apa dekat dari sana?” “Tidak, Pak, tapi itu searah dengan jalan menuju kostan saya!” “Baiklah.” "Kalau begitu saya permisi, Pak!" panitku. Aku tersenyum bahagia dibalik pintu saat meninggalkan ruangan Pak Andra. Untungnya tidak ada Bu Fina di meja kerjanya. Jika ada, mungkin dia akan menganggapku seperti orang tidak waras. ***** Saat ini, Aina sedang bersiap-siap untuk menunggu Andra di pinggir jalan yang sudah disepakati. Jeans sebatas lutut, dipadukan kaos dengan lengan sebatas siku, menjadi outfit untuk kencan di hari ketiga ini, yang menunjukkan kesan santai. Namun, tetap terlihat rapi. Setelah itu ia segera keluar dari kost menuju jalan raya. Tetapi, sudah dua puluh menit menunggu di pinggir jalan, Andra belum datang juga hingga membuat Aina berpikir buruk. “Apa dia tidak jadi datang?” tanya Aina saat mulai kesal menunggu. Setelah setengah jam menunggu, terdengar suara klakson yang mengagetkan Aina. Ia langsung menghampiri mobil yang baru saja mengagetkannya. “Bapak, parkiran saja mobil Bapak di ujung jalan sana, di depan kostan saya!” perintah Aina. Andra langsung menjalankan mobilnya sesuai yang diarahkan Aina, sedangkan Aina jalan mengekori di belakang mobil Andra. “Bapak mau ke tempat saya dulu?” tawar Aina. “Apa boleh?” “Tentu saja boleh, Pak, tapi ...." “Kenapa?” tanya Andra penasaran. “Tempat saya kecil, apa Bapak yakin mau ke sana?” “Memangnya aku mau bermain sepak bola di tempatmu?” ucap Andra, datar. “Benar juga, sih!” gumam Aina. "Ya sudah mari, Pak!" Mereka berjalan beriringan menuju tempat kost seperti sepasang kekasih, tapi tidak bergandengan. “Apa kau sendiri di sini?” tanya Andra ketika sudah duduk di dalam kostan Aina. Mata Andra terus menyusuri semua sudut ruangan yang mungkin ukurannya empat kali lipat lebih kecil dari kamarnya. Tidak ada barang mewah yang Andra lihat. Di dalamnya hanya ada kasur singel tanpa ranjang, lemari plastik dan beberapa peralatan memasak. Bahkan, kipas anginnya sudah tidak memiliki pelindung depan. “Iya, Pak. Eee ... Bapak mau minum apa?” “Kopi saja." “Maaf, kopi tidak ada, Pak." “Soft drink?” “Tidak ada juga,” jawab Aina dengan kekehan malu “Jus?” “Jus tidak ada juga.” “Lalu?” “Hanya ada air putih, Pak.” kekehnya lagi. “Ya sudah,” jawab Andra pasrah. "Kenapa dia menawarkan pilihan jika tidak ada yang dipilih?" gerutu Andra. Aina langsung menuju dapur kecilnya, mengambil minum untuk disuguhkan pada Andra. Andra yang memang sangat lelah, langsung meminum air yang Aina suguhkan. “Apa Bapak ingin menaruh jas di sini sebelum kita berangkat?” tanya Aina setelah Andra selesai minum. "Aku akan membawa jasku." "Kenapa tidak ditaruh saja?" “Untuk berjaga-jaga." “Berjaga-jaga dari apa?” tanya Aina, heran. “Jika hujan tiba-tiba datang lagi dan kali ini aku membawa jas yang lebih mahal dari yang kemarin,” ucap Andra, sombong. Sedangkan Aina hanya memutar bola matanya menanggapi kenarsisan Andra. Selama perjalanan, keduanya lebih banyak diam karena merasa belum terlalu dekat dan tidak tahu topik apa yang dibahas karena keseharian mereka yang sangat bertolak belakang. Saat mereka tiba di pasar malam, Aina langsung mengajak Andra bermain lempar kaleng. Di mana mereka harus menjatuhkan semua kaleng yang di susun seperti piramida dengan tiga kali lemparan. “Pak tolong pegang ini!” Perintah Aina sambil memberikan dompetnya. “Berani sekali dia menyuruhku!” batin. Andra saat menanggapi dompet Aina. Braak .... Braak .... Braak .... “Ish ... payah sekali!" remeh Andra melihat tidak ada satu kaleng pun yang jatuh setelah tiga kali lemparan. "Sini, biar aku saja yang melempar, dan pegang ini!" Andra membuka jas dan menyerahkan semua yang ia pegang pada Aina. "Kita lihat!" tantang Aina Braak ...braaak ... braaaak .... “Ayo, Pak! Bapak pasti bisa!" ujar Aina menyemangati Andra karena sudah enam kali gagal dan hanya mengenai satu kaleng. Padahal penampilan Andra sudah benar-benar berantakan dengan tiga kancing kemeja yang dibuka dan tangan kemeja digulung sebatas siku, juga rambut yang sudah tak tentu arah. "Ayo Andra! Jangan jatuhkan harga dirimu di depan wanita hanya karena tidak bisa merobohkan kaleng-kaleng itu," ucap Andra, menyemangati diri sendiri Tiba-tiba, segerombolan anak kecil menertawakan Andra yang selalu tidak tepat sasaran pada lemparannya. “Aaa Ha ... ha ... ha, Om payah. Ha ... ha ...,” ledek si Anak kecil di samping Andra. Andra langsung menoleh ke sumber suara dan melihat empat anak kecil menertawakan dirinya. “Hei, apa kau bisa melakukannya?” tantang Andra pada si Anak kecil. “Kalau aku bisa, Om akan berikan apa pada kami?” Si Anak balik menantang. “Baiklah, jika kau bisa menjatuhkan kaleng-kaleng itu, aku akan memberi uang untukmu dan teman-temanmu.” “Tidak perlu seperti itu, Pak!” larang Aina. “Sudah biarkan saja. Aku ingin melihat apakah anak kecil ini bisa mengalahkan aku?” Andra langsung membeli tiga bola lagi untuk diberikan pada anak-anak itu. “Pegang ini. Jika sampai ketiga bola ini habis, tapi kau belum menjatuhkan kaleng-kaleng itu, maka kau harus di hukum berdiri dengan satu kaki, dan kedua tanganmu memegang telinga,” ucap Andra kepada anak kecil yang meledeknya tadi. Andra memberikan tiga bola untuk melempar, tapi Si anak kecil malah mengembalikan dua bola itu. "Aku tidak butuh banyak-banyak, Om!" “Sombong sekali. Coba buktikan!" tantang Andra. BRAAAK .... Andra dan Aina membelalakkan matanya dan saling memandang sejenak saat satu lemparan anak kecil itu langsung menjatuhkan belasan kaleng di depannya. “Bagaimana, Om, apa kami sudah bisa mendapatkan hadiahnya?” tagih si Anak kecil sambil menarik celana Andra agar dia mensejajarkan tingginya. Andra langsung berjongkok sambil merogoh sakunya. “Kau hebat! Ini, ambil hadiahmu, dan bagikan kepada temanmu. Ingat, jangan jajan sembarangan!” pesan Andra pada anak itu. Anak-anak itu pun pergi dengan bersorak kegirangan mendapat uang dari Andra. “Ini, Pak, hadiahnya." Seorang lelaki menghampiri mereka dan memberikan boneka beruang yang cukup nyaman untuk dipeluk. “Terima kasih," ucap Aina, ramah. Melihat Aina yang kerepotan memegang jas, dompet, dan boneka, Andra langsung mengambil jasnya lalu memakaikan pada Aina. “Cantik juga," pujinya. Tentu Aina langsung tersenyum lebar mendengar Andra memujinya. “Bukan kau yang cantik, tapi jasku!" celetuk Andra karena tidak mau Aina tahu ia memujinya. “Ish ..., ” desis Aina dan mengganti senyum lebarnya dengan tatapan sinis. Setelah itu, Aina mengajak Andra untuk menaiki kincir lalu beberapa wahana lainnya. Aina menemukan sisi lain dari seorang Andra saat melihatnya tertawa lepas. Dia yang bisanya berwajah kaku dan selalu menunjukkan kesan serius, kini sangat berbeda dengan tawa lepasnya. Apalagi ketika Andra menunjukkan ekspresi ketakutan saat mereka menaiki biang lala dan berada di titik tertinggi. Andra terus menggenggam jemari Aina seperti anak kecil yang meminta perlindungan pada ibunya, benar-benar seperti bukan Andra yang ia kenal. “Apa dia tidak pernah ke tempat hiburan sebelumnya sampai seekspresif ini? Entah kenapa aku mulai tertarik dengan Pak Andra yang seriang ini. Ah ... tidak Aina, tidak mungkin Pak Andra akan melirikmu!” monolog Aina, berperang dengan batinnya sendiri. Puas menaiki beberapa wahana, Aina mengajak Andra untuk melihat berbagai macam gantungan kunci di salah satu lapak yang ada di dekat mereka “Tunggu, Pak! mana kunci mobil Bapak?” tanya Aina. “Untuk apa?” “Sudah sini berikan saja. Saya tidak akan membawa kabur mobil Bapak!” Andra langsung memberikan kunci mobilnya meskipun dengan rasa penasaran. "Bagus tidak?” tanya Aina sambil menunjukkan kunci mobil Andra yang sudah dikaitkan dengan gantungan berbentuk mobil yang terbuat dari kayu. Andra hanya membalas dengan senyuman sambil memperhatikan kunci mobilnya. Dari senyum Andra, Aina menganggap Andra suka dengan pilihannya dan langsung membeli gantungan kunci itu. “Pak! Apa bapak mau menaiki itu?” ajak Aina, saat menunjukkan sebuah permainan berbentuk perahu yang diayunkan ke kiri dan kanan. “Ayo, siapa takut!” tantang Andra dengan langsung menarik tangan Aina menuju wahana Awalnya Andra terlihat baik-baik saja dan tetap tertawa riang, tapi di tengah-tengah permainan, Andra mulai terlihat panik dan langsung menggenggam tangan Aina kuat-kuat. Aina yang sedang asyik menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya, tidak menyadari perubahan ekspresi Andra, sampai tiba-tiba Andra menyandarkan keningnya di bahu dan satu tangannya memeluk pinggang Aina dengan sangat erat. “Bapak kenapa?" “Aku sudah tidak kuat. Aku ingin turun." Tapi wahana itu tidak bisa berhenti di tengah jalan, mau tidak mau Andra harus bertahan sampai berhenti. Hingga permainan berakhir, Andra tidak melepaskan pelukannya pada Aina, malah semakin lama semakin erat dan membuat Aina panik. "Semoga Pak Andra baik-baik saja." Dan begitu turun dari wahana, Andra langsung berjalan cepat ke tempat sepi untuk memuntahkan semua isi perutnya. Ia menyesal menaiki wahana yang menurutnya menarik di awal, tapi menyiksa hingga akhir. Hueek ... hueek .... “Ini minum dulu, Pak.” Aina menawarkan teh hangat yang ia beli barusan, lalu memijat tengkuk Andra yang sepertinya masih ingin memuntahkan lagi isi perutnya. "Terima kasih," ucap Andra sambil menerima minuman dari Aina. “Ayo, Pak, kita pulang saja!” ajak Aina dan tidak tega melihat Andra benar-benar pucat. ••••• Setibanya di kost, Aina menyuruh Andra berbaring di kasur singgelnya. Ia langsung membuka kancing baju Andra untuk mengoleskan minyak angin ke perut dan dadanya. “Minum ini dulu, Pak, agar mualnya berkurang,” tawar Aina ambil membantu Andra bangun untuk minum air hangat. Setelah itu, Aina langsung memijat-mijat kepala Andra agar rasa pusing yang mungkin dia rasakan bisa berkurang. Cukup lama Andra terbaring dengan mata terpejam hingga Aina khawatir karena yang terlalu lama diam. “Pak, Bapak tidak apa-apa?” tanya Aina sambil menepuk-nepuk pipi Andra, tapi tak ada balasan darinya. "Aduh! bagaimana ini? Apa jangan-jangan dia?!” Aina langsung berpikir buruk dan ingin mendengarkan detak jantung Andra untuk memastikan kondisinya, tetapi saat ia ingin mendekatkan telinga ke d**a Andra, tiba-tiba dia bergerak dan langsung menindihnya. “Apa kau ingin memberiku napas buatan?” tanya Andra saat berada di atas Aina. “Ti-idak, Pak," jawab Aina gugup dengan posisi intim. “Apa kau tertarik padaku?” “Ti-tidak, Pak.” “Kenapa?” “Ti-tidak, Pak." “Apa aku tidak menarik bagimu?” "Ti—tidak, Pak." "Apa yang membuatmu tidak tertarik?" Aina tidak bisa menjawab lagi. Ia hanya bisa menunjukkan wajah tegangnya saat Andra semakin mendekat hingga hidung mereka bersentuhan dan .... Ting ... ting ... ting .... "Neng Aina, siomay ndaaaak?!" teriak seseorang di depan kost menawarkan dagangannya. Aina langsung mendorong Andra agar ia bisa bangun. “Pak, itu siomay langgannan saya. Saya mau membelinya.” Ia langsung berdiri dan berlari meninggalkan Andra di tempat tidur. “Huuhh, selamet ... selamet." "Banyak sekali makanan langganannya!” gerutu Andra, lalu melirik kancing kemejanya. “Sepertinya dia ingin memperkosaku barusan," ujarnya membalikan fakta. Tidak lama kemudian Aina datang dengan dua porsi siomay dan langsung menyuguhkan di depan Andra. "Apa ini?” tanya Andra, heran. “Siomay, Pak. Apa Bapak tidak tahu?” “Aku tahu, tapi aku tidak pernah memakannya?” “Ini, coba dulu,” tawar Aina menyodorkan satu sendok siomay ke mulut Andra. Andra langsung membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Aina. "Bagaimana, Pak?” “Enak juga. Tolong beli tiga porsi lagi!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD