"Kita itu dilahirkan sama, untuk terus kuat dan belajar menerima semua hal menjadi lebih baik."
***
Ketika Agal datang dan melihat Dinda seperti waktu berjalan sangat lambat tidak pernah terpikir bahwa semua yang kita anggap tidak akan bertemu ternyata hari ini dipertemukan kembali, meski dengan hari yang berbeda dan perasaan yang masih sama ataukah sudah berbeda.
"Gagal," sapa Nana yang sangat gembira Agal hadir di sini, tapi Agal malah berjalan ke arah Dinda.
Nana masih bisa tertawa meskipun sudah jelas Agal pergi ke arah perempuan lain.
"Na, itu suami lo nyamperin cewek lain dan lo masih santai sambil ketawa gini, " omel Ani yang tidak terima jika Nana dibuat seperti itu.
"Gapapa, itu kan cuman teman Agal. "
"Nana, zaman sekarang semua itu berawal dari teman, lo tau kan dari teman bisa jadi lawan dan dari lawan bisa jadi dekatan, jadi jangan terlalu kasih kepercayaan lebih, " jelas Ani dengan wajah ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya, lagian kenapa kalo cuma temen seharunya kan lo duluan yang dia samperin.
"Reygan sama lo juga awalnya berteman Na, tapi lihat sekarang gimana Reygan bener-bener suka, " tambah Aji membawakan air minum untuk kedua sahabatnya karena juga memperhatikan suami ngobrol dengan perempuan lain juga butuh tenaga.
Dinda tampak tertawa ketika berbicara dengan Agal, tidak biasanya juga Agal membalas tawa orang lain dengan begitu bebas. Melihat itu Nana segera menghampiri keduanya.
"Gagal, kok enggak samperin Nana dulu tadi? " tanya Nana ketika sudah berhadapan dengan Dinda.
"Ini mau ketemu Dinda dulu, udah lama enggak ngobrol. "
"Kamu sekarang tambah bahagia ya Gal, " ucap Dinda senang Melihat Agal yang sudah tumbuh dengan baik.
"Hehh iya Mbak Din, kan kalo yang sekarang kasih makan bukan nanyain makan, " sahut Nana sambil tertawa.
"Oh, iya Na, beruntung banget kamu dapetin Agal. "
"Iya Mbak, Nana ini dapatnya menang lotre, " balas Nana dengat tertawa.
"Maklum ya Din, emang anaknya kalo jawab suka aneh. "
"Itu, jam yang aku kasih sama kamu, masih sering dipake ya? " tanya Dinda memperhatikan jam di tangan Agal yang masih seria bertengger di sana.
Pantas saja waktu itu Nana lupa meletakkannya sehabis Agal pulang, dia marah sakali dengan Nana. Ternyata pemberian mantan kekasih, wajar saja sangat berharga.
Julian ternyata juga datang sambil membawakan bungan untuk Nana, ternyata selama ini dia mencari tahu tentang Nana dan kali ini dia melihat acara kali ini banyak sekali yang datang.
"Nana, penampilan puisi kamu tadi bagus sekali, " puji Julian yang sudah lama memantau sejak Agal belum datang.
"Kok bisa ada disini Pak Julian? " tanya Nana penasaran.
"Panggil Ko Jul aja, tua banget gue dipanggi Pak. "
Agal merasa aneh jika Julian ada di sini, lagian untuk apa juga dia datang ke sini sementara perusahaan dirinya tidak ada hubungannya sama sekali dengan dunia literasi.
"Oh okee Ko Jul, lebih enak manggil Bapak, " balas Nana tertawa.
"Kalo bapak buat anak-anak kita gapapa. "
"Ehem, " balas Agal yang sengaja berdehem kencang agar Julian mengerti posisi.
"Bercanda Gal, jangan serius banget, gue juga enggak bakal ngerebut dari lo, kecuali kalo emang lo udah mau pensiun jadi suami, gue mah siap buat terus ada sama Nana. "
"Ngomong apa sih Ko Jul, udah jangan kurang sajen, " jawab Nana sudah mau pamit karena Reygan memanggilnya untuk evaluasi.
Tapi ternyata Dinda memperhatikan Nana dengan seksama, wajar saja banyak yang sayang Nana anaknya sangat friendly dan Nana mampu mencairkan suasana.
"Agal, aku boleh bicara sebentar? " tanya Dinda mengajak Agal untuk minggir dari atas panggung terlebih dahulu.
"Boleh Din, " Jawab Agal mengikut Dinda balik.
"Aku masih sayang sama Agal. "
Satu kalimat yang diucapkan Dinda mampu membuat Agal membisu, dia bimbang sebenarnya jauh di dalam hatinya dia masih sangat ingin bersama Dinda tapi lebih dari setengahnya menolak.
"Kamu yang ninggalin aku Gal, " lanjut Dinda menangis, karena Agal benar-benar tega meninggalkannya.
"Saya lihat kamu selingkuh Din, " balas Agal yang mengingat sebelum dia memutuskan untuk meninggalkan Dinda, tepat hari itu dia ingin melamar kekasihnya, tetapi sayang saat di depan rumah dia melihat Dinda sedang bersama laki-laki lain.
Jujur saja saat ini Dinda benar-benar menyesal sudah membuat Agal tidak percaya kepada dirinya. Tapi semua itu adalah tentang bagaimana Allah memperlihatkan kepada hambanya ada yang mesti diperbaiki.
"Agal, kita bisa perbaikin semuanya dari awal, aku tahu kamu enggak sayang sama Nana 'kan? "
"Tapi kamu jahat Din. "
Dinda memeluk Agal di tempat yang agak sepi namun ternyata Aji melihat itu dan langsung menarik Agal dengan paksa.
Agal segera melepaskan pelukan itu, karena menurutnya ini salah. Dia sudah punya istri dan ini di tempat umum.
"Dinda, jangan gini. " balas Agal tidak setuju dengan sikap Dinda yang seperti itu.
"Kenapa Gal?
"Saya sudah punya istri dan kisah kisah kita enggak bisa bertahan lagi Din. "
"Aku bakal terus nunggh kamu kok Gal. "
Untuk kali ini perbuatan Agal sudah keterlaluan, apalagi Nana tidak pernah selingkuh dengan orang lain. Langsung saja Nana mendatangi pria itu dan izin dari rapat evaluasi.
"Kalo belum bisa mencintai Nana, jangan buat dia sakit hati. Banyak yang sayang sama Nana, " ucap Aji tidak setuju jika Agal bermesraan dengan perempuan lain.
"Maaf Ji, ini saya dan Dinda memang baru bertemu dan tidak ada maksud apa-apa, " jelas Agal meluruskan.
"Udah, gue mau balik lagi ke tempat evaluasi, harapan gue lo bisa berpikir Gal. Enggak sekali atau dua kali kaya gini, cuekkin Nana, dan ini malah pelukkan sama perempuan lain di depan orang banyak.
Aji melihat Nana yang masih sibuk evaluasi dengan Bu Gendut dan yang lain memang anaknya ceria jadi sepanjang rapat dia malah menjawab Bu Gendut dengan kata-kata yang spontan.
Dia memang anak yang ceria, sampai kadang orang-orang beruntung malah sering mengecewakan dan membuat Nana sakit.
"Gue udah kesel Ni, walaupun Nana anaknya enggak pernah protes tapi bukan berarti bisa seenaknya. "
"Iya sih, bener banget Ji, " balas Ani yang tidak setuju dengan sikap Agal bukan berarti karena orang lain mencintai dia, maka bisa seenaknya saja.
"Apalagi kan, gue tau dari Nana kalo misalnya Agal itu orang yang taat agama jadinya ga mungkin dia seenaknya gitu. "
"Nah itu, tapi susah juga Sih kalo misalnya mereka emang sama-sama suka, sementara sama Nana Agal itu ga suka. "
Keduanya memang berdiri di belakang jadinya sambil berbisik agar tidak kedengaran oleh Bu Gendut yang memang sedang menjalaskan. Jika acara kali ini sudah selesai.
Sementara Dinda memang sebagai juri tamu dan bukan panitia tidak masalah jika tidak ikut evaluasi.
***
Ini Reygan memang tidak tahu berita tadi karena dia yang bertugas untuk memberikan serrifikat cetak yang masih harus diambil sebelum anak-anak pulang untuk dibagikan.
"Na, gue bagiin ini dulu ya, " ucap Reygan memberikan beberapa lembar stiker yang dia buat untuk memotivasi anak-anak agar lebih mencintai dunia literasi.
"Wah keren juga Gan, " balas Nana tersenyum memperhatikan stiker yang sangat keren itu.
"Alhamdulillah Gal, jadi seneng kalo misalnya bagus, " balas Agal dengan tawanya yang begitu hangat.
Mereka akhirnya saling membantu untuk membagikan stiker itu kepada anak-anak sementara Nana mengucapkan terima kasih dan memberikan semangat.
Agal masih menunggu Nana pulang di sudut kursi sambil sesekali memperhatikan kedekatan keduanya, belum lagi Reygan sangat melindungi Nana kadang jika anak-anak itu berlarian Reygan segera meminggirkan posisi Nana.
Dinda sudah pulang beberapa menit yang lalu karena sudah ada telepon dari mamanya untuk pulang.
Mungkin bagi Agal tidak ada lagi perasaan suka untuk Dinda karena melihat Nana dengan orang lain dia jadi lebih cemburu.
"Na, udah selesai? " tanya Agal yang menghampiri Nana ke tempatnya membagikan stiker.
"Sebentar lagi selesai, Gagal capek ya? " tanya Nana khawatir, meskipun sikap Agal dingin kepada Nana tapi tidak pernah sekalipun Nana mengeluhkan itu, dia akan selalu sabar dan dengan sabar selalu mendukung Agal.
"Lapar Na, " jawab Agal jujur.
"Gan, Nana pulang dulu ya. Maafin enggak bisa bantuin sampe abis, " jawab Nana dengan senyuman.
"Iya gapapa Na, hati-hati ya Na, Gal. "
"Iya, makasih Gan, " jawab Agal lalu menggenggam tangan Nana untuk pulang.
Nana juga berpamitan kepada Bu Gendut, Aji, dan Ani yang memperhatikan keduanya dengan doa baik agar selalu menjadi lebih baik, apalagi Aji dan Ani mereka berharap Agal tidak pernah mengecewakan Nana.
"Maafin ya lama nungguinnya, " ucap Nana tulus.
"Gapapa Na. "
Mereka pun memasuki mobil dan membelah jalanan ibu kota sambil sesekali Nana bersenandung ria mengikuti alunan lagu yang memang dia hafal.
"Na, jangan pernah pergi dari saya ya, " ucap Agal tiba-tiba dan itu membuat Nana jadi terdiam dan tertawa.
"Kok malah ketawa? " tanya Agal dengan pandangan bingung.
"Abis aneh aja kok tiba-tiba bilang gitu? " tanha Nana memandang Agal yang fokus menyetir.
"Saya sayang kamu. "
"Wah Gagal lagi ngungkapin perasaan sama Nana? " tanya Nana penasaran karena tidak biasanya Agal jadi sangat manis seperti ini.
"Iya, saya sayang banget sama Nana. "
"Ini bukan karena merasa bersalah tadi udah meluk Mbak Dinda? " tanya Nana memastikan. Sebenarnya tadi Nana melihat pada saat evaluasi tetapi karena orang ramai dia tidak ingin masalah rumah tangga jadi konsumsi publik.
"Saya beneran sayang sama Nana.
"Nana, juga sayang sama Gagal, " balas Nana tersenyum.
Untuk hari ini Agal memang ingin memulai semuanya dari awal, sampai di sepenjang perjalanan es batu itu menggenggam erat tangan Nana seolah tidak ingin satu detik pun terlewatkan.
"Hari ini kita makan dulu ya, laper banget. "
"Iya Es batunya Nana. "
Mereka akhirnya makan di sebuh rumah makan yang cukup ramai dan berisikan banyak sekali orang yang makan di sana.
Ternyata ini adalah kedai soto kesukaan Agal, dia jika lapar akan memesan dua porsi soto dengan banyak ayam karena memang sotonya sangat enak.
Nana mulai duduk dan ternyata penjual soto ini sudah sangat mengenal Agal.
"Wah, bareng siapa Kapten? " tanya bapak penjualnya sangat ramah dan melihat Agal yang masih tersenyum membuat dia ikut tersenyum.
"Bareng istri saya Pak. Ini kenelin Nana, " balas Agal tersenyum ramah.
"Wah, cantik banget istri Kapten. Udah lama enggak ke sini ternyata udah nikah. "
"Kok enggak dateng waktu itu ke acara pernikahannya Pak? "
"Oalah iya, waktu itu bapak kira bukan Kapten. "
"Hehhe astaga iya Pak."
"Maaf ya Kapten. "
"Enggak papa Pak."
"Nana Pak, " ucap Nana memperkenalkan diri sebelum ditanya.
"Neng Nana cantik sekali ya, " puji Bapak tulus.
"Terima kasih Bapak."
Mereka akhirnya makan dengan soto masing-masing, ternyata memang enak sekali. Nana sampai ingin menambah lagi karena enak.
Soto kali ini dengan perempuan spesial yang baru saja Agal nyatakan perasaannya. Nana yang sabar unruk terus membuat Es batu mencair dan akhirnya pertahanan lelaki itu sudah luluh.
"Besok saya terus yang anterin," ucap Agal melakukan pernyataan bukan pertanyaan.
"Iya Sayang. "
"Enggak boleh sama laki-laki lain. "
Mulai jiwa-jiwa possesivenya keluar apalagi sekarang dia sudah sangat menyayangi Nana.