"Kesabaran itu ada, ketika kita merasa cukup atas apa yang telah Allah berikan, kadang kita merasa bahwa hidup ini hanyalah permainan dimensi semesta. Kita seringkali tidak merasa bersyukur atas apa yang telah dimiliki, merasa kurang dan melihat bahwa hidup orang lain lebih menyenangkan dari apa yang kita punya sekarang, jadi teruslah merasa bahwa sabar itu merupakan tabungan untuk mencapai kebahagiaan di hidup ini."
-Agal-
***
Jika mentari mampu untuk tetap bersinar, dikala hujan saja takut untuk menerabas, kali ini Nana masih memikirkan sebenarnya apa yang dikejar di dunia ini kadang kita meminta lebih dan kadang juga tidak merasa cukup.
Nana duduk di tempat kerjanya sembari meminum teh yang telah disiapkan, masih terasa panas dan aroma asapnya melebur di udara.
Dia melihat ke kursi samping di mana Ani juga sedang sibuk untuk mendata semua laporan, tidak ketinggalan Aji yang juga membawa banyak sekali bingkisan untuk dibagikan ke anak-anak yang mengikuti lomba cipta puisi serta cerpen di belakangnya ada Reygan yang membawa makan siang untuk semua panitia yang terlibat.
"Na, nanti lo cek juga ya, anak-anak yang ikut lomba cipta puisi dan cerpen, " ucap Aji yang masih sibuk untuk menyiapkan semua persyaratan cipta puisi.
Nana segera pergi ke tempat yang Aji sampaikan, di sana mana mulai mendatangi satu persatu peserta yang sudah mendaftarkan dirinya ternyata di sana banyak sekali yang sudah mengantri untuk mendapatkan giliran.
Untuk kali ini jurinya adalah Nana, Bu Gendut, Dinda. Mereka pun mulai bersiap dari pembukaan yang melibatkan banyak sekali orang. PJ setiap mata lomba dan juri sudah di siapkan. Nana dan Dinda duduk berdua di atas kursi.
"Kamu beneran istrinya Agal ya?" tanya Dinda ketika mereka duduk berdua.
Nana pun tersenyum mendapatkan pertanyaan dari Dinda. " Iya bener Mbak, saya memang istrinya Agal."
Dinda mengaggukan kepalanya tanda mengerti, untung saja Dinda tidak banyak bertanya lagi, mereka sibuk mempersiapkan lomba cipta puisi yang pesertanya sudah banyak.
"Alhamdulillah pesertanya banyak dan acara ini pasti sangat bisa membuat anak-anak lebih mencintai dunia literasi. "
Nana mulai semangat untuk mencatat, lalu dia berdiri sejenak namun tiba-tiba dia terjatuh seperti ada kaki orang lain yang mengganjal, namun Nana tidak mau suuzhon, mungkin dia saja yang salah sasaran. Tidak mungkin juga Dinda melakukan hal-hal seperti itu.
"Na, lo gapapa 'kan? " tanya Reygan segera membantu Nana, dia memegang tangan Nana dan mambantu menuntun Nana untuk duduk terlebih dahulu di kursi.
Sementara Bu Gendut juga berdiri melihat keadaan Nana apakah tidak apa-apa.
"Gapapa Bu Gen, Nana mah kuat, ini kan cuma biru dikit.
Aji yang melihat dari belakang merasa aneh dengan Dinda apalagi gayanya yang seolah tidak terjadi apa-apa tambah saja membuat Aji curiga.
"Kenapa Ji? " tanya Ani yang masih memegang berkas memperhatikan arah panjang Aji.
"Gue curiga sama perempuan itu, ngeliat Nana kaya benci banget. "
"Wajar aja dia benci. Kan iri sama Nana. "
Karena kadang yang terlihat baik menyimpan banyak misteri, tidak bisa dipungkiri juga yang cantik juga kadang menipu, ada yang benar-benar dan tak jarang yang palsu jauh lebih banyak.
Bukan itu yang Aji lihat, tapi ada beberapa alasan yang membuat dia yakin bahwa Dinda memang tidak menyukai Lana.
"Na, ini kamu kok kaya gini penilaiannya, kab Bu Gendut udah bilang tadi kaya gini, " ucap Dinda yang membuat Nana jadi pusat perhatian.
Memang tadi ketika penjelasan penilaian Nana masih sibuk membersihkan luka di lututnya yang biru makanya tidak sempet, ketika pengumuman pemenang ternyata penilaian Nana sangat berbeda dan tidak dipakai.
"Nana, kita enggak bisa pakai penilaian yang ini soalnya berbeda jauh, jadi ibu mohon maaf ya, " ucap Bu Gendut jadi tidak enak hati.
Nana masih tersenyum. "Ah Enggak Papa Bu Gendut ku sayang, lagian kan kalo enggak bisa juga enggak mungkin dipaksain, " jawab Nana masih bisa tersenyum santai.
"Na, lo disuruh tampil bacaan puisi, " ucap Reygan dengan memegang tangan Nana. Anak-anak sudah semangat untuk menunggu Nana membacakan puisi karena memang Nana terkenal sebagai seorang novelis, penyair, termasuk salah satu sastrawan yang terkenal di daerahnya.
Kadang memang akan selalu saja ada yang tidak menyukai dan menghakimi sedemikian rupa, tapi percayalah akan selalu ada pelangi setelah hujan dan pasti akan selalu ada yang menyenangkan setelahnya.
"Terima kasih ya, buat kesempatan kali ini Kak Nana masih diizinkan buat tampil membacakan puisi di sini, maaf juga atas kesalahan Kaka Nana hari ini. "
Nana membuka sebuag kertas yang sudah dia lipat di dalam saku bajunya.
"Seperti hangat yang kadang tidak begitu menyenangkan
Ada saja yang akan mencela
Membuat rasa percaya diri hancur berantakkan
Dan menenggelamkan cerita dengan penuh kerapuhan.
Kita yang berdiri sering kali hanya debu
Tak berharap banyak, hanya saja ingin lebih baik
Dalam kehampaan, terus dipanjatkan doa agar senantiasa berguna
Pada kehangatan yang tiap hari menjelma gelap
Hanya ingin setitik cahaya mengobati perih
Tak khayal semua seperti fatamorgana
Yang hilang di sudut kota.
B
olehkan ada cerita yang ditambahkan lagi, tanpa jeda dan klausa
Selamat tenggelam dalam rayuan yang menjelma
Harapan yang siap pupus dan cerita yang tandus dimakan angin. "
Nana turun dari atas panggung dan mendapatkan tepukan tangan yang sangat meriah dari penonton, dia tidak pernah tampil mengecewakan karena Nana selalu mrnampilkan dengan penuh penjiwaan.
"Nana emang terbaik, " puji Reygan setelah Nana turun daru atas panggung, jujur saja Nana sekarang ingin beristirahat. Ternyata lelah juga dari sini seharian.
"Terima kasih Gan, " jawab Nana senang, Nana memang jarang mengeluh mau selelah apapun diringa tentu saja akan selalu tersenyum dan tidak mau membuat orang lain terbebani.
"Sama-sama, Nana. "
Kaki Nana masih sakit akibat jatuh tadi belum lagi kemarin waktu di pesta dia memang masih sakit jadinya ini rasa nyerinya lebih terasa.
Acara itu masih dilanjutkan dengan Dinda yang ingin terlihat lebih menonjol dari yang lain, semakin lama kenapa Dinda seperti bukan orang yang mereka kenal selama ini, jadi lebih ingin dilihat juga.
"Jadi untuk hari ini sebenarnya jurinya hanya dua karena tadi Mbak Nana melakukan kesalahan."
Penjelasan Dinda membuat orang-orang berbisik apa yang terjadi dan melihat ke arah Nana. Tapi yang ditatap malah santai memakan es cream sambil terus memperhatikan apa yang dibicarakam Dinda. Nanti saja pikir Nana menyimak, sekarang waktunya menutup telingat dengan pengeras suara. Kan kalo kita tidak bisa membungkam mulut orang banyak tapi kita bisa menyumpal telinga kita untuk tidak mendengarkan perkataan orang-orang yang menyakiti hati.
Acara itu terus berlanjut hingga pada peserta terakhir yang membaca puisi Karena dia dinobatkan sebagai pembaca terbaik. Namanya Gangga, dia memang bukan manusia yang sempurna tetapi tekadnya sangat kuat, dia bahkan memiliki kekurangan, tidak dengan tangan yang sempurna tetapi dia percaya setiap orang berhak memiliki mimpi.
"Jadi motivasi Adek Gangga menyukai dunia literasi apa kalo kami boleh tau? " tanya Aji sebelum Ganggan tampil.
"Mau buat Bapak bangga, " balas Gangga dengan senyuman yang sempurna.
"Kenapa harus melaui dunia puisi? "
"Karena Gangga pengen bapak bisa melihag daei surga kalo untaian sajak-sajak indah indah ini mengalir dan abadi bisa dilihat dan didengarkan orang banyak. "
"Masya Allah, karya kali ini benar-benar menyentuh hati, " puji Aji lagi.
Ani yang melihat itu menitihkan air mata mengingat ayahnha yang masih dipenjara, mau seberapa salah ayah, dia akan tetap menjadi seseorang yang sangat berarti bahkan tidak pernah ada kata mantan ayah meskipun dia bersalah.
Hari ini langit mendung seolah ikut menyaksikan jika setiap orang selalu ingin memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.
"Gangga selamat membacakan puisi dan kamu tetap harus jadi pribadi yang membanggakan dan luar biasa. "
Tepukan tangan bergemuruh di tempat perlombaan termasuk Nana yang tersenyum menyaksikan anak hebat itu yang mampu membuat Nana sadar jika kekurangan itu bukan suatu alasan untuk kita berhenti berkarya.
Gangga memang tidak memiliki kedua tangan yang sempurna tetapi dia masih memiliki anggota badan yang lengkap.
"Ku lukiskan sajak dalam rindu yang berpaut.
Ada gema yang tak bisa digapai
Hanya di dengar dan tak bisa digenggam
Ku lihat poteret vidio yang tersisa hanya kenangan yang bisa ku raih
Tak ada lagi raga yang bernyawa
Hanya tetes ai mata menemani kesedihan
Adakah rindu ini bisa terobati meski hanya sedetik?
Tanya yang semakin hari tak bisa dijawab karena ketika raga sudah dan ditemui
Semua hanyalah milik sang Pencipta dan kapan saja maut meraih tak ada lagi yang bisa diulang.
Ayah...hanya cinta yang abadi dan kasih sayang yang bertaut dalam jiwa raga
Semoga doa ini sampai kepadamu dan rindu ini menjadi peluk
Tak ada yang lain, selain berjuta cinta dalam tangis dan harapa doa.
Untuk ayah yang jauh dimata namun dekat dalam raga.
Karya Gangga Maulana. "
Tangis diakhir puisi yang membuat suasana haru makin menjadi, untuk semua anak yang masih memilki ayah, peluk erat dan ucapkan terima kasih, mungkin kita tidak bisa mengulang waktu yang sudah berakhir tapi masih banyak cinta yang bisa terus kita ungkapkan selama raga itu masih di pelupuk mata dan pandangan.
"Pengen pulang meluk papa Hanif, " ucap Nana pada Bu Gendut di sebelahnya, tidak masalah kakinya terluka hari ini. Tapi Nana rindu sekali dengan papa lucunya itu.
"Nanti sehabis pulang kerja langsung ke rumah Papa terus ucapkan terima kasih Na, " ucap Bu Gendut dengan memeluk Nana.
Hari ini memang Nana tidak aktif menjadi juri tapi anak-anak masih antri untuk dapat berfoto dengan Nana.
"Wah emang lo selebritis di mata anak-anak Na, " puji Aji yanh melihat anak-anak juga memberikan Nana permen dan jajanan.
"Duh, kan seharusnya Kaka Nana yang kasih kalian cemilan. "
"Hari ini Kak Nana udah buat kami semangat untuk terus mencintai dunia literasi, " ucap Afifah yang memberikan Nana bingkisan Yupi.
"Makasih ya Pah, nanti kita main-main lagi ya. "
"Na, itu pangeran lo udah jemput, " teriak Ani yang melihat Agal sudah berjalan mendekat ke arah meraka.
"Wah, itu suaminya Kak Nana ganteng banget, " puji Afifah yang masih kecil dan membuat Nana tertawa, lagian anak kecil sudah tau saja yang mana yang ganteng pikir Nana.
Di sanalah Dinda bertemu lagi dengan Agal, pandangan Agal kepada Dinda tidak bisa dipungkiri seperti banyak hal yang belum tersampaikan.